KETIKA ANAK PETANI MEMIMPIN DESA
Roman Epik tentang Cita-Cita, Pengabdian, dan Perjalanan Hidup Seorang Pemimpin Desa
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Di ujung timur Pulau Jawa, di mana matahari pertama kali menyapa bumi sebelum perlahan bergeser ke barat, terbentang sebuah desa yang nyaris terlupakan oleh peta dan waktu. Namanya Desa Suka Maju, sebuah nama yang penuh harap, seperti doa yang dipanjatkan para leluhur ketika pertama kali membabat hutan dan mendirikan gubuk-gubuk sederhana di tepi sungai. Namun selama berpuluh-puluh tahun, harapan itu hanya tinggal harapan. Suka Maju tetap terpencil, tetap tertinggal, seperti buku tua yang tersimpan rapi di rak paling tinggi, tak pernah tersentuh, tak pernah terbaca.
Di desa itulah, pada 17 Agustus 1950, tepat lima tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, seorang bayi lahir dengan tangis yang memecah kesunyian. Bukan di rumah sakit dengan lampu terang dan peralatan modern, bukan pula di tangan bidan bersertifikat. Ia lahir di rumah panggung berdinding anyaman bambu, beratap rumbia yang telah lapuk dimakan usia, di pangkuan seorang dukun beranak yang tangannya lebih terbiasa memijat daripada memegang buku. Bayi itu lahir di tengah kesederhanaan yang nyaris tak bersisa, di pangkuan kemiskinan yang sudah turun-temurun menjadi takdir keluarganya.
Orang tuanya, sepasang petani penggarap yang tak punya sawah sejengkal pun, menamainya Joko Prasetyo. Joko artinya pemuda. Prasetyo berarti setia. Sebuah nama yang sarat harapan: semoga ia tumbuh menjadi pemuda yang setia. Setia kepada Tuhan, setia kepada orang tua, setia kepada tanah kelahirannya. Setia kepada cita-cita yang kelak akan menuntunnya melintasi jalan panjang penuh liku.
Tak ada yang istimewa dari kelahiran itu. Tak ada nujum yang meramalkan masa depannya. Tak ada pertanda langit yang menyala atau bintang jatuh yang menandai lahirnya seorang calon pemimpin. Desa Suka Maju terlalu kecil untuk dihiraukan oleh dunia. Terlalu terpencil untuk dilirik oleh pemerintah. Terlalu miskin untuk diperhitungkan oleh siapa pun. Bayi itu hanyalah satu dari sekian banyak anak petani yang lahir setiap tahun di desa-desa pelosok Nusantara, yang biasanya tumbuh, bekerja di sawah, lalu mati tanpa meninggalkan jejak.
Tapi sejarah tidak pernah memilih jalan yang lurus. Takdir suka bermain dengan cara-cara yang tak terduga. Kadang ia memilih orang-orang besar dari istana megah dan keluarga ningrat. Namun tak jarang pula ia merengkuh mereka yang lahir di gubuk reyot, yang masa kecilnya diisi dengan lumpur sawah dan keringat orang tua, yang mimpinya hanya setinggi pucuk ilalang di pinggir sungai.
Joko adalah salah satu dari mereka yang direngkuh takdir. Bukan karena ia jenius, bukan pula karena ia beruntung. Melainkan karena di dalam dadanya tersimpan api yang tak pernah padam, api keingintahuan, api cita-cita, api cinta pada tanah kelahirannya. Ia tumbuh dengan mata yang terus terbuka, dengan telinga yang terus mendengar, dengan hati yang terus merasakan denyut kehidupan desanya. Ia melihat bagaimana ayahnya membanting tulang dari subuh hingga petang, namun tetap tak bisa keluar dari jerat kemiskinan. Ia melihat bagaimana ibunya menghemat nasi hingga sebiji-sebiji, namun tetap harus berhutang ke tetangga ketika musim paceklik tiba. Ia melihat bagaimana teman-temannya putus sekolah karena orang tua tak mampu membayar uang bulanan. Ia melihat bagaimana desanya terus terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan.
Dan di dalam hati kecilnya, muncullah pertanyaan-pertanyaan yang tak biasa diajukan oleh anak seusianya: Mengapa desaku begini-begini saja? Mengapa kami selalu tertinggal? Mengapa anak-anak desa tak bisa sekolah tinggi seperti anak-anak kota? Siapa yang akan mengubah semua ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengendap, terus tumbuh, terus mencari jawaban. Dan ketika ia dewasa, ketika ia telah merasakan pahit getirnya perjuangan, ketika ia telah melihat dunia luar yang lebih maju dan modern, pertanyaan-pertanyaan itu menjelma menjadi sebuah keputusan bulat: Aku harus kembali. Aku harus mengabdi. Aku harus mengubah desaku.
Keputusan itu tidak mudah. Di zaman ketika semua orang berlomba-lomba meninggalkan desa demi kehidupan kota yang gemerlap, ia memilih pulang. Di saat teman-teman sebayanya sibuk melamar kerja di pabrik-pabrik atau merantau ke negeri orang, ia memilih membuka kelas gratis di beranda rumahnya. Ketika banyak pemuda desa malu mengaku sebagai anak petani, ia justru bangga turun ke sawah dan berbagi ilmu dengan para petani tua.
Perjalanannya panjang. Dari seorang bocah yang setiap pagi menyeberangi sungai dengan rakit bambu, menjadi kepala desa termuda di kecamatannya. Dari seorang anak petani yang tak punya sepatu, menjadi pemimpin yang membangun jalan aspal sepanjang lima kilometer. Dari seorang murid yang belajar di bawah atap bocor, menjadi tokoh yang mendirikan perpustakaan dan sekolah. Dari seorang pemuda yang bermimpi sendiri, menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya.
Ini bukan kisah tentang kesempurnaan. Joko punya banyak kekurangan, banyak kesalahan, banyak momen keraguan. Ia pernah hampir menyerah, pernah ingin lari dari tanggung jawab, pernah merasa tak mampu memikul beban sebesar itu. Tapi setiap kali ia jatuh, selalu ada tangan-tangan yang mengulurkan pertolongan, orang tuanya, gurunya, sahabatnya, istrinya, dan warga desanya. Mereka adalah pilar-pilar yang menopangnya ketika ia hampir roboh.
Ini adalah roman tentang cita-cita dan pengabdian. Tentang seorang anak desa yang berani bermimpi besar di tengah keterbatasan. Tentang perjuangan mewujudkan mimpi itu dengan keringat, air mata, dan darah. Tentang bagaimana kemiskinan bukanlah penghalang untuk menjadi berguna. Tentang bagaimana pendidikan dan ketekunan bisa mengubah takdir seseorang dan bahkan takdir sekian banyak orang.
Ini juga kisah tentang Indonesia yang tersembunyi. Tentang desa-desa yang selama ini luput dari perhatian, tentang orang-orang kecil yang berjuang dalam sunyi, tentang perubahan yang lahir bukan dari istana megah, melainkan dari tanah berlumpur dan rumah-rumah sederhana. Di negeri ini, ada jutaan Joko yang masih berjuang. Ada jutaan desa Suka Maju yang masih menanti perubahan. Dan di setiap desa itu, selalu ada secercah harapan—bahwa suatu hari, dari tanah yang paling tandus sekalipun, akan tumbuh pohon yang rindang dan berbuah lebat.
Kisah ini saya persembahkan untuk mereka. Untuk para pemuda desa yang memilih pulang, bukan pergi. Untuk para guru yang mengajar dengan ikhlas di tengah keterbatasan. Untuk para petani yang membanting tulang tanpa kenal lelah. Untuk para pemimpin desa yang bekerja diam-diam, tanpa sorot kamera, tanpa puja-puji, hanya demi satu hal: membuat kampung halamannya sedikit lebih baik dari kemarin.
Selamat membaca. Semoga kisah tentang Joko Prasetyo ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi. Karena di setiap sudut negeri ini, selalu ada cerita yang layak ditulis. Dan di setiap hati yang peduli, selalu ada ruang untuk perubahan.
BAB I
DESA YANG TERTINGGAL OLEH WAKTU
Matahari tepat di atas ubun-ubun ketika Joko Prasetyo—yang kini akrab dipanggil Wahyu—menghentikan langkahnya. Usianya tujuh puluh lima tahun. Rambutnya telah memutih sempurna, jalannya mulai lambat dengan bantuan tongkat kayu jati pemberian Pak Karman, mantan kepala desa yang kini telah berusia sembilan puluh lima tahun. Tapi matanya masih teduh memandang hamparan sawah yang menguning di hadapannya.
Ia melepas topi anyaman bambu yang setia menemaninya sejak subuh tadi. Keringat membasahi pelipisnya yang mulai ditumbuhi uban, namun senyumnya tetap hangat.
"Pak, kenapa Bapak berhenti?" tanya seorang pemuda yang berjalan di belakangnya.
Joko tersenyum. "Lihat, Nak. Sawah kita menguning. Tiga minggu lagi panen raya."
Pemuda itu, Raka namanya, anak dari adik Joko, lahir tahun 1995, kini berusia tiga puluh tahun, menggaruk kepala yang tidak gatal. "Iya, Pak. Tapi kenapa Bapak sampai berhenti? Biasanya Bapak tidak pernah berhenti kalau sudah di sawah. Kata warga, Bapak itu pekerja keras, pantang menyerah."
"Hari ini istimewa," jawab Joko perlahan. "Tepat hari ini, lima belas tahun yang lalu, aku pensiun sebagai kepala desa. Dua puluh lima tahun aku mengabdi, dari tahun 1981 sampai 2006. Dan hari ini, aku ingin merenung sejenak."
Raka terdiam. Ia tahu lelaki di depannya ini bukan sembarang orang. Joko Prasetyo adalah kepala desa yang telah memimpin mereka selama dua periode awal, lalu menjadi penasehat untuk dua periode berikutnya, dan terus aktif membangun desa hingga usianya senja. Empat puluh lima tahun pengabdian, membawa perubahan yang tak terbayangkan sebelumnya. Namun hari ini, di tengah sawah yang menguning, ia hanyalah seorang petani tua yang sedang merenung.
"Ceritakan, Pak," pinta Raka. "Ceritakan bagaimana dulu desa kita ini? Waktu saya kecil, saya sering dengar cerita dari orang tua, tapi saya ingin dengar langsung dari Bapak."
Joko menarik napas panjang. Ia menunjuk ke arah timur, di mana kabut tipis masih menyelimuti perbukitan. "Duduklah dulu, Nak. Ini akan panjang."
Mereka duduk di pematang sawah. Joko mengeluarkan rokok daun dari saku celananya, kebiasaan lama yang tak bisa ditinggalkan, lalu menyalakannya perlahan. Asap tipis mengepul, terbawa angin yang berhembus sepoi-sepoi.
"Dulu, Nak... desa ini benar-benar di ujung peta. Bukan hanya secara geografis, tapi juga secara waktu. Ketika kota-kota sudah sibuk dengan gedung bertingkat dan lampu lalu lintas, kita masih bergelut dengan lumpur dan kegelapan malam yang pekat. Tahun 1950, saat aku lahir, Indonesia baru merdeka lima tahun. Keadaan masih sangat susah. Tapi yang lebih susah adalah tahun 1960-an, ketika aku mulai besar."
"Separah itu, Pak?"
"Lebih parah dari yang bisa kamu bayangkan. Waktu kamu lahir tahun 1995, listrik sudah mulai masuk. Waktu kamu kecil, jalan sudah mulai diaspal. Tapi aku... aku lahir di zaman ketika lampu minyak tanah adalah kemewahan. Ketika beras harus dihemat sebiji-sebiji. Ketika sepatu adalah barang mewah yang hanya dipakai ke sekolah, itu pun kalau tidak bolong."
Raka terdiam. Ia mencoba membayangkan kehidupan yang digambarkan pamannya. Sulit. Ia lahir di tahun ketika desa sudah mulai berubah. Listrik sudah masuk, meski belum merata. Jalan sudah mulai diperbaiki, meski masih banyak lubang. Sekolah sudah direnovasi, meski belum semegah sekarang.
"Tapi Bapak bisa mengubahnya," kata Raka kemudian.
Joko tersenyum pahit. "Aku tidak sendiri, Nak. Ada ribuan tangan yang membantu. Ada Pak Karman, Pak Kades yang dulu, yang menjadi mentorku. Ada Ibu Sumarni yang meminjamkan buku. Ada Budi yang selalu mendukung sejak kecil sampai sekarang. Ada warga yang percaya padaku. Tanpa mereka, aku tidak akan jadi apa-apa."
"Tapi Bapak yang memulai, Pak. Bapak yang punya mimpi."
"Mimpi memang penting, Nak. Tapi tanpa kerja keras, mimpi hanya angan-angan. Lihat sawah ini. Dulu, ayahku, kakekmu Wahyono, hanya penggarap. Tidak punya sejengkal tanah sendiri. Sekarang, sawah ini milik kita. Bukan warisan, tapi hasil keringat bertahun-tahun."
Raka mengangguk. "Pak, aku ingin seperti Bapak. Aku ingin mengabdi di desa ini."
Joko menoleh. Ia memandangi keponakannya dengan tatapan tajam, mencari sesuatu di mata itu. Kejujuran? Keraguan? Atau hanya keinginan sesaat?
"Kamu baru pulang dari Surabaya. Kuliah di universitas negeri, jurusan pertanian. Lulus dengan nilai cum laude. Banyak tawaran kerja di kota. Perusahaan-perusahaan besar ingin merekrutmu. Kenapa kamu memilih pulang?"
Raka tersenyum. "Karena saya ingat pesan Bapak waktu saya kecil. Waktu saya pamit mau merantau kuliah tahun 2013, Bapak bilang: 'Pergilah, Nak. Cari ilmu sebanyak-banyaknya. Tapi jangan lupa pulang. Desa ini butuh orang pintar seperti kamu.' Saya tidak pernah lupa pesan itu, Pak."
Joko terharu. Ia tidak menyangka keponakannya masih mengingat percakapan dua belas tahun lalu. Ia memeluk Raka erat.
"Terima kasih, Nak. Kamu membuatku ingat, bahwa perjuangan ini tidak sia-sia."
Mereka duduk di pematang hingga matahari mulai condong ke barat. Joko bercerita panjang lebar. Tentang masa lalu, tentang perjuangan, tentang orang-orang yang telah berpulang. Dan Raka mendengarkan dengan saksama, menyimpan setiap kata dalam hatinya.
Hujan turun tanpa ampun. Bukan hujan biasa, tapi hujan deras yang sudah mengguyur sejak subuh. Jalan setapak yang biasanya keras, kini berubah menjadi lumpur licin yang setiap langkah terasa seperti melawan gravitasi.
Seorang bocah laki-laki berlari memasuki rumah panggung sederhana dengan atap rumbia yang bocor di sana-sini. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya lepek, bajunya penuh lumpur. Ia menggigil kedinginan.
"Ibu! Ibu!" teriaknya sambil berlari ke dapur.
Seorang perempuan muda, Sri namanya, lahir tahun 1925, kini berusia tiga puluh lima tahun, segera menyambutnya dengan handuk usang yang sudah bertambal di sana-sini. Wajahnya panik bercampur cemas.
"Joko, Nak! Kenapa kau kehujanan? Tadi ibu bilang jangan main jauh-jauh! Ini sudah sore, hujan deras begini, kamu main ke mana saja?" suara Sri setengah berteriak, bukan karena marah, tapi karena khawatir.
Joko, usia sepuluh tahun, menggigil sambil menjawab, "Tapi Bu, aku mau lihat sungai! Kata teman-teman, air sungai besar sekali kalau hujan. Aku penasaran!"
Sri menghela napas panjang. Dengan gerakan cepat namun lembut, ia membersihkan tubuh anaknya dengan handuk kasar. "Dasar anak petani, penasaranannya keterlaluan. Kalau kamu sakit, bagaimana? Ayahmu belum pulang, masih di sawah. Ibu harus ngurus kamu sendirian."
"Tapi aku kepingin lihat, Bu. Teman-teman bilang sungainya bisa banjir besar. Sampai naik ke daratan."
Sri menggeleng. "Banjir besar bukan untuk ditonton, Nak. Itu bahaya. Kalau kamu hanyut, bagaimana? Ibu sama ayah mau cari ke mana?"
Di luar, suara gemericik air hujan bercampur dengan deru angin yang menerpa dinding bambu. Kadang terdengar suara dedaunan meliuk-liuk, kadang juga suara ranting patah.
Sementara itu, di dapur, seorang lelaki bertelanjang dada sedang memperbaiki tungku yang padam. Asap memenuhi ruangan kecil itu, membuat matanya perih dan berair. Ia bersin beberapa kali.
"Sri! Apinya mati! Kayunya basah kena bocor!" teriaknya dari dapur.
Sri, istrinya, segera masuk ke dapur dengan Joko yang masih menggigil meski sudah dilap handuk. "Sudah, Pak. Biar kusulut lagi. Kau mandi dulu, hujan-hujan begini enak mandi. Air hujan itu berkah, kata orang tua dulu."
Lelaki itu, Wahyono namanya, suami Sri, lahir tahun 1920, kini berusia empat puluh tahun, menggeleng. "Nanti dulu. Lebih baik kuperbaiki atap yang bocor. Nanti kalau makin besar, rumah kita kebanjiran. Kamu tahu sendiri, lantai rumah kita cuma bambu, kalau kebanjiran bisa ambruk."
"Tapi Pak, hujannya masih deras. Nanti kau sakit. Siapa yang akan cari nafkah kalau kamu sakit?"
"Lebih baik sakit daripada rumah ambruk," jawab Wahyono singkat, lalu mengambil seikat bambu dan daun rumbia yang disimpan di kolong rumah. "Kita tidak punya uang untuk bangun rumah baru. Jadi rumah ini harus dijaga."
Joko memperhatikan ayahnya dari balik pintu. Ia melihat ayahnya menaiki tangga bambu yang licin karena hujan. Tubuh kekar itu bergerak hati-hati di atas atap yang licin. Beberapa kali kakinya selip, tapi ia selalu bisa menjaga keseimbangan.
"Bu, kenapa ayah tidak pakai tali pengaman?" tanya Joko polos.
Sri tersenyum getir. "Kita tidak punya tali pengaman, Nak. Ayahmu hanya modal nekat dan doa."
"Kenapa rumah kita bocor?"
"Karena atapnya sudah tua. Rumbia itu harus diganti setiap lima tahun. Tapi kita belum punya uang untuk beli rumbia baru. Ayahmu coba menambal yang bolong-bolong dulu."
"Kenapa tidak beli genteng, Bu? Rumah Pak Kades kan genteng."
Sri tertawa kecil, meski ada getir di dalamnya. "Genteng? Joko, Nak... genteng itu mahal. Untuk sampai ke kota saja kita harus menyebrangi sungai dengan rakit. Kalau hujan begini, sungai banjir. Tidak ada yang bisa keluar masuk desa. Mau beli genteng, harus bawa lewat rakit. Kalau rakitnya tenggelam, gentengnya pecah. Rugi."
Joko mengerutkan kening. "Berarti kita terkepung air, Bu?"
Sri memeluk anaknya. "Iya, Nak. Kita terkepung air. Tapi air juga yang memberi kita hidup. Lihat sawah ayahmu di seberang sungai, subur karena air. Padi bisa tumbuh karena air. Jadi, air itu kawan sekaligus lawan."
Di luar, hujan mulai reda. Derasnya berkurang, tinggal gerimis. Wahyono turun dari atap dengan tubuh basah kuyup dan berlumur lumpur. Ia duduk di beranda sambil memandangi sungai yang mulai meluap. Airnya coklat keruh, membawa batang-batang bambu dan kayu hanyut.
"Airnya besar sekali," gumamnya. "Rakit hanyut semalam. Besok tidak bisa ke sawah."
Joko keluar dan duduk di samping ayahnya. "Yah, kenapa rakitnya hanyut?"
"Karena tali tambatnya putus. Rakit itu cuma diikat ke pohon randu. Kalau air besar, talinya bisa putus. Besok bapak harus buat rakit baru."
"Berarti besok tidak bisa ke sawah?"
"Tidak bisa, Nak. Kecuali lewat jalan setapak utara. Tapi jalannya lumpur, susah."
Joko diam. Ia memandangi sungai yang deras. Matanya mengikuti arus yang membawa segala sesuatu. Lalu tiba-tiba, sebuah pertanyaan meluncur dari bibir mungilnya.
"Yah, kenapa kita tidak buat jembatan saja?"
Wahyono menoleh. Ia tersenyum melihat polosnya anak semata wayangnya. "Jembatan, Nak? Kau tahu berapa biaya bikin jembatan?"
"Berapa, Yah?"
"Mahal. Sangat mahal. Butuh semen, butuh besi, butuh tenaga ahli. Semua itu harus didatangkan dari kota. Sementara untuk ke kota saja kita harus menyebrangi sungai. Mau bawa semen, harus pakai rakit. Rakit tidak kuat bawa semen banyak."
"Tapi kalau jadinya, kan enak. Tidak perlu naik rakit lagi."
Wahyono tertawa. "Iya, Nak. Pasti enak. Tapi untuk sampai ke jembatan, butuh perjuangan panjang."
"Jadi kita tidak bisa kemana-mana kalau sungai banjir?"
"Bisa, Nak. Tapi harus memutar. Jalan setapak di utara itu, kalau hujan begini lumpurnya sampai selutut. Sepeda tidak bisa lewat. Jadi ya, kita tunggu sampai sungai surut."
"Berapa lama?"
"Biasanya sehari. Kalau hujannya besar, bisa dua hari."
Joko diam. Ia memandangi sungai yang deras. Di kejauhan, ia melihat sawah ayahnya di seberang. Padi yang baru ditanam tergenang air.
"Yah, aku ingin sekali membangun jembatan," kata Joko lirih. Suaranya hampir tidak terdengar, tapi Wahyono mendengarnya jelas.
Wahyono mengusap kepala anaknya. "Nanti kalau kau besar, kalau kau sekolah tinggi, mungkin kau bisa membangun jembatan itu."
"Betul, Yah?"
"Betul, Nak. Tapi untuk bisa membangun jembatan, kau harus sekolah. Harus pintar. Harus tahu bagaimana membuat jembatan yang kuat. Harus tahu menghitung kekuatan beton, harus tahu membaca gambar teknik."
"Tapi sekolahku cuma sampai kelas tiga, Yah. Kata Bu Guru, setelah kelas tiga, aku harus sekolah di kampung sebelah."
Wahyono menghela napas panjang. Ia memandangi anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cinta, harap, dan rasa bersalah. Cinta karena ia sangat menyayangi anak ini. Harap karena ia ingin anaknya hidup lebih baik. Rasa bersalah karena ia tidak bisa memberi lebih.
"Iya, Nak. Sekolah lanjutan memang di kampung sebelah. Setiap pagi kau harus menyebrangi sungai dengan rakit."
"Tapi kalau hujan?"
"Kau harus lebih pagi berangkat. Sebelum hujan turun."
"Kalau sungai banjir?"
"Kau tunggu sampai surut. Atau kau lewat jalan setapak di utara."
"Jauh, Yah?"
Wahyono menghela napas. "Jauh, Nak. Tiga kali lipat dari jalan biasa. Tiga jam jalan kaki. Kalau lewat rakit, cuma setengah jam."
Joko diam. Ia menghitung dalam hati. Tiga jam. Ia harus bangun jam satu pagi kalau sungai banjir. Tapi ia tidak berkata apa-apa.
"Yah, aku tidak takut jauh. Yang penting aku bisa sekolah," katanya kemudian.
Wahyono memeluk anaknya. Matanya basah. Ia tidak tahu apakah ini kebanggaan atau kesedihan. Mungkin keduanya.
Mereka duduk di beranda hingga senja. Hujan benar-benar reda. Langit barat berwarna jingga. Burung-burung pipit beterbangan pulang ke sarang.
"Lihat, Nak. Burung-burung itu pulang ke rumahnya. Mereka punya rumah di pohon-pohon itu," kata Wahyono.
"Rumah mereka lebih bagus dari rumah kita, Yah?" tanya Joko polos.
Wahyono tertawa. "Bukan soal bagus atau tidak, Nak. Rumah adalah tempat pulang. Burung pulang ke sarang, ayam pulang ke kandang, manusia pulang ke rumahnya masing-masing. Yang penting ada tempat pulang."
"Berarti kita beruntung, Yah. Kita punya tempat pulang."
"Iya, Nak. Kita beruntung."
Malam turun. Mereka masuk ke rumah. Lampu minyak dinyalakan. Cahayanya temaram, tapi cukup untuk makan malam. Lauknya hanya tempe goreng dan sambal. Tapi bagi mereka, itu adalah makanan mewah.
Wahyono sudah bangun. Ia mengambil cangkul yang bersandar di dinding bambu, lalu duduk di beranda mengasahnya dengan sabut kelapa. Bunyi gesekan kres... kres... kres... memecah kesunyian.
Di dapur, Sri sudah bangun lebih dulu. Ia menyalakan tungku dengan kayu bakar, menanak nasi dalam periuk tanah liat. Asap mengepul, memenuhi ruangan. Tapi ia sudah terbiasa. Matanya tidak lagi perih.
"Pagi-pagi sudah mengasah cangkul, Pak?" sapa Sri sambil membawakan segelas air hangat dalam cangkir kaleng penyok.
Wahyono menerima gelas itu. "Iya, Bu. Hari ini mau nandur di sawah belakang. Tanahnya masih keras. Kalau cangkulnya tumpul, bisa patah. Ganti cangkul baru mahal."
Sri duduk di samping suaminya. "Pak, kapan kita ke pasar? Beras sudah mau habis. Joko juga butuh sepatu baru. Yang lama sudah bolong. Besok kan masuk sekolah lagi."
Wahyono berhenti mengasah. Ia memandangi istrinya. Wajahnya letih, tapi matanya penuh harap.
"Sabarlah, Bu. Habis panen nanti, kita jual gabah. Semoga harga bagus."
"Tapi Pak, kemarin Pak Kades bilang, harga gabah lagi turun. Banyak petani yang kelabakan. Mereka jual murah karena butuh uang cepat. Kalau tidak jual, gabah bisa busuk."
"Iya, Bu. Itu yang aku pikirkan. Mungkin kita jual nanti setelah harga naik."
"Tapi beras kita habis, Pak. Joko juga harus bayar uang sekolah bulan depan. Sudah dua bulan belum bayar. Bu Guru baik, tapi kita juga harus malu."
Wahyono menghela napas panjang. "Aku pinjam dulu ke Pak Kades, Bu. Beliau baik. Pasti mau bantu."
"Jangan, Pak. Hutang kita sama Pak Kades belum lunas. Dua bulan lalu pinjam untuk beli pupuk. Belum kita bayar."
"Lalu bagaimana?"
Mereka terdiam. Hening. Hanya suara jangkrik dari sawah yang terdengar sayup.
"Yah, Bu!"
Joko keluar dari kamar sambil mengucek mata. Rambutnya acak-acakan, pipinya masih merah bekas tidur.
"Joko, Nak. Kok sudah bangun? Masih pagi," sapa Sri.
"Aku mau ikut ke sawah, Yah!" seru Joko bersemangat.
Wahyono tersenyum. "Kau tidak sekolah, Nak?"
"Hari Minggu, Yah. Libur." Joko berlari mendekat. "Aku mau bantu ayah nandur. Seperti minggu lalu."
"Oh iya, lupa bapak. Ayo, kau ikut bantu bapak nandur. Tapi janji, kalau capek bilang. Jangan dipaksa."
Joko berjingkrak kegirangan. "Iya, Yah! Aku janji!"
Sri memandangi suami dan anaknya dengan senyum. Meski hidup susah, kebersamaan ini adalah kebahagiaan.
Mereka berangkat ketika matahari baru muncul di ufuk timur. Jalan setapak menuju sungai masih becek karena hujan semalam. Joko yang hanya memakai sandal jepit harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Beberapa kali kakinya masuk ke lumpur.
"Yah, kenapa kita tidak punya sawah di dekat rumah saja?" tanya Joko sambil berpegangan pada tangan ayahnya.
Wahyono menjelaskan dengan sabar. "Karena tanah di dekat rumah milik orang lain, Nak. Dulu kakekmu hanya punya sawah di seberang sungai itu. Itu pun warisan dari buyut, cuma seratus meter persegi. Sisanya kita sewa dari Pak Karto."
"Pak Karto yang punya tanah?"
"Iya. Dia punya tanah luas di sini. Kita petani hanya penggarap. Setiap panen, hasilnya dibagi dua. Separuh untuk pemilik tanah, separuh untuk kita."
"Kenapa harus dibagi, Yah? Kan kita yang kerja."
"Karena tanahnya bukan milik kita, Nak. Itu aturannya. Petani penggarap dapat setengah, pemilik tanah dapat setengah."
"Tapi ayah kerja keras dari pagi sampai sore."
Wahyono tersenyum pahit. "Itulah hidup, Nak. Tidak selalu adil. Tapi kita harus tetap bersyukur. Setidaknya kita bisa makan dari hasil kerja sendiri."
Mereka tiba di sungai. Rakit sederhana dari bamboo, buatan baru karena yang lama hanyut, masih tertambat di pohon randu dengan tali ijuk. Wahyono menaiki rakit itu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Joko.
"Pegangan erat-erat, Nak. Airnya agak besar. Duduk di tengah, jangan di pinggir."
Rakit itu bergerak perlahan melawan arus. Joko memandangi air sungai yang berwarna coklat keruh. Di beberapa tempat, ia melihat ikan-ikan kecil berenang.
"Yah, kalau aku besar nanti, aku akan buat jembatan di sini," kata Joko tiba-tiba.
Wahyono tersenyum. "Bagus, Nak. Nanti kalau ada jembatan, kita tidak perlu naik rakit lagi."
"Dan tidak perlu takut tenggelam."
"Kau takut tenggelam, Nak?"
Joko mengangguk pelan. "Sedikit, Yah. Tapi kalau sama bapak, aku tidak takut. Bapak kan bisa berenang."
Wahyono tertawa. "Bapak juga takut, Nak. Tapi karena bapak harus bertanggung jawab sama kamu, bapak berani."
Mereka tiba di seberang. Sawah mereka terletak tidak jauh dari tepi sungai. Hamparan hijau membentang sejauh mata memandang. Di sana-sini, petani lain sudah mulai bekerja. Ada yang mencangkul, ada yang menanam, ada yang memperbaiki pematang.
"Kita mulai dari sini, Nak," kata Wahyono sambil melepas baju. "Kau ikuti cara bapak menanam. Satu lubang, satu bibit. Jangan terlalu dalam, jangan terlalu dangkal."
Joko mengamati dengan seksama. Ia melihat ayahnya membungkuk, membuat lubang dengan jari telunjuk, lalu memasukkan bibit padi. Gerakannya begitu cepat dan tepat. Hanya butuh beberapa detik untuk satu lubang.
"Ayah, kenapa harus pakai jari? Kenapa tidak pakai alat?" tanya Joko.
"Alat apa, Nak?"
"Yang seperti di gambar buku. Ada alat tanam padi. Kayak garu tapi buat nanam. Namanya apa ya... aku lupa."
Wahyono tertawa. "Itu mahal, Nak. Petani sini tidak punya uang beli alat. Lagipula, pakai jari sudah biasa. Cepat juga. Bapak sudah hafal."
"Tapi kalau pakai alat, kan bisa lebih cepat?"
"Iya, Nak. Tapi alat itu berat. Susah dibawa ke sawah. Lagipula, kita harus lewat sungai. Rakit tidak kuat bawa alat berat. Bisa tenggelam."
Joko diam. Ia kemudian membungkuk dan mulai menanam. Jari-jari kecilnya memasukkan bibit ke dalam lumpur. Beberapa kali ia salah, terlalu dalam atau terlalu dangkal. Tapi Wahyono sabar membetulkan.
"Jangan terlalu dalam, Nak. Nanti akarnya susah tumbuh. Jangan terlalu dangkal, nanti hanyut kena air."
Joko mencoba lagi. Kali ini lebih baik. Ia tersenyum bangga.
Hari semakin panas. Matahari membakar punggung mereka. Joko mulai lelah. Tangannya pegal. Punggungnya sakit. Keringat mengucur deras.
"Yah, aku capek," katanya lirih.
"Iya, Nak. Istirahat dulu. Minum dulu. Duduk di bawah pohon itu."
Mereka duduk di pematang sawah di bawah rindangnya pohon asem. Wahyono mengeluarkan nasi bungkus dari tas anyaman. Daun pisang dibuka, terlihat nasi putih dengan lauk tempe goreng dan sambal terasi. Tapi bagi mereka, itu adalah makanan mewah.
"Yah, kita kerja di sawah tiap hari, tapi kenapa kita tetap miskin?" tanya Joko tiba-tiba sambil mengunyah.
Wahyono tersedak. Batuk-batuk. Ia tidak menyangka anaknya akan bertanya hal itu. Tapi ia berusaha tenang.
"Jawabannya susah, Nak. Tapi bapak coba jelaskan. Kita kerja di sawah, tapi sawah ini bukan milik kita sendiri. Sebagian milik Pak Karto yang kita sewa. Hasilnya dibagi dua. Setelah dibagi, kita beli pupuk, beli bibit. Sisanya buat makan sehari-hari. Kadang pas, kadang kurang."
"Kenapa tidak punya sawah sendiri?"
"Karena tanah di desa ini kebanyakan milik tuan tanah dari kota. Mereka beli murah dulu, sekarang harganya mahal. Petani sini tidak sanggup beli."
"Tapi kenapa mereka beli tanah sini?"
"Untuk investasi, Nak. Mereka tidak kerja di sawah, tapi mereka punya sawah. Petani yang kerja, dapatnya sedikit. Itu sistem yang tidak adil, tapi sudah terjadi bertahun-tahun."
Joko mengerutkan kening. Ia mencoba memahami penjelasan ayahnya yang rumit.
"Jadi, orang kaya makin kaya, orang miskin makin miskin?"
Wahyono tersenyum pahit. "Kurang lebih begitu, Nak. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa berubah. Lihat Pak Kades. Dulu dia juga petani. Sekarang dia punya sawah sendiri. Karena dia sekolah tinggi, jadi pintar, lalu jadi kades. Sekarang dia bisa beli tanah."
"Aku ingin seperti Pak Kades, Yah. Aku ingin sekolah tinggi."
"Bagus, Nak. Bapak akan kerja keras agar kau bisa sekolah tinggi. Bapak akan cangkul sawah ini sampai bapak tua, asal kamu sekolah."
"Tapi Yah, sekolah mahal."
"Tidak apa-apa. Bapak akan cari uang. Bapak akan kerja tambahan. Yang penting kamu sekolah."
Mereka makan dalam diam. Di kejauhan, sekelompok burung pipit beterbangan di atas sawah yang mulai menguning.
"Yah, burung itu makan padi kita?"
"Iya, Nak. Mereka juga butuh makan."
"Kenapa tidak kita usir?"
"Sudah diusir pakai orang-orangan sawah. Tapi mereka pintar, tahu itu cuma boneka. Sekarang mereka sudah berani."
"Kenapa tidak pakai jaring?"
"Jaring mahal, Nak. Lagipula, burung itu juga makhluk Tuhan. Mereka juga berhak makan. Kita harus berbagi."
Joko tertawa. "Ayah baik sekali sama burung."
"Karena ayah juga makhluk Tuhan, Nak. Sama seperti mereka. Kita semua sama di mata Tuhan. Yang membedakan hanya ketakwaan dan amal."
Matahari semakin tinggi. Mereka kembali bekerja. Joko menanam dengan semangat baru. Setiap bibit yang ia tanam, ia bayangkan akan tumbuh menjadi padi yang menghidupi mereka. Setiap lubang yang ia buat, ia bayangkan adalah masa depannya yang cerah.
Sekolah Dasar Negeri Suka Maju terletak di tengah desa, persis di samping balai desa. Bangunannya sederhana, dinding papan yang sudah lapuk, lantai semen yang retak-retak, atap seng yang berkarat. Di sana-sini, seng-seng itu bolong, sehingga kalau hujan, murid-murid harus pindah-pindah menghindari bocoran.
Halaman sekolah berupa tanah berpasir. Kalau hujan, becek. Kalau kemarau, berdebu. Di tengah halaman, ada tiang bendera dari bambu yang sudah melengkung. Bendera merah putih yang dikibarkan setiap Senin sudah kusam, tapi masih berkibar dengan gagah.
Joko duduk di bangku kelas tiga. Ia termasuk murid yang rajin, selalu datang pagi-pagi meskipun harus berjalan kaki dua kilometer dari rumahnya. Bajunya lusuh, tapi bersih. Bukunya dibungkus kertas bekas, tapi tidak ada yang robek.
"Joko, kamu sudah mengerjakan PR matematika?" tanya seorang guru, Ibu Sumarni, ketika masuk kelas.
Ibu Sumarni adalah guru yang paling disenangi murid-murid. Usianya sekitar tiga puluh tahun, lahir tahun 1930, berjilbab rapi, selalu tersenyum. Ia asli dari desa ini, lulusan SPG, dan memilih mengabdi di kampung halaman daripada mengajar di kota.
"Sudah, Bu," jawab Joko bangga.
"Coba kumpulkan."
Joko mengeluarkan buku tulisnya dari tas anyaman. Sampulnya sudah lecek, beberapa halaman sobek. Tapi isinya penuh dengan coretan angka yang rapi. Ia menulis dengan pensil yang tinggal pendek, hampir seukuran jari kelingking.
Ibu Sumarni memeriksa sebentar. Matanya berbinar. "Bagus, Joko. Semua benar. Kamu memang pintar matematika. Nilai seratus."
Joko tersenyum senang. Di sebelahnya, Budi, teman sebangkunya, sedang mengerjakan PR dengan tergesa-gesa. Keringat di dahinya mengucur. Tangannya gemetar.
"Jok, pinjam dong," bisik Budi. "PR-ku belum selesai. Ibu Sumarni galak kalau lihat PR kosong."
Joko menggeleng. "Nanti ketahuan Bu Guru. Kamu tahu sendiri, Bu Sumarni itu teliti."
"Sebentar aja. Nilaiku jelek terus kalau tidak nyontek. Aku malu, Jok."
"Makanya belajar, Bud. Jangan main terus."
"Belajar? Di rumah aku bantu orang tua jualan di pasar sampai malam. Kapan belajarnya? Kamu pikir enak jadi anak penjual sayur?"
Joko diam. Ia tahu Budi juga anak petani, bahkan lebih miskin darinya. Ayah Budi hanya buruh tani yang tidak punya sawah sendiri. Ibunya berjualan sayur keliling dengan pikulan.
"Ya sudah, nanti aku ajarin kamu sepulang sekolah," kata Joko. "Di bawah pohon mangga. Seperti biasa."
"Bener, Jok?"
"Iya. Tapi kamu harus janji mau belajar beneran. Jangan cuma main."
Budi mengangguk bersemangat. "Janji! Aku janji!"
Bel masuk berbunyi. Kring... kring... kring... Suara bel dari kaleng bekas yang dipukul dengan paku. Murid-murid segera masuk ke kelas masing-masing.
Ibu Sumarni berdiri di depan kelas. "Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang cita-cita. Siapa yang tahu apa itu cita-cita?"
Seorang murid, anak perempuan paling depan, mengacungkan tangan. "Cita-cita itu keinginan, Bu."
"Bagus, Siti. Keinginan apa?"
"Keinginan jadi orang sukses, Bu. Jadi orang besar."
Ibu Sumarni tersenyum. "Nah, sekarang ibu mau tanya satu per satu. Apa cita-cita kalian? Mulai dari Andi."
Ia menunjuk murid pertama di deretan kiri. Andi, anak laki-laki gemuk dengan rambut ikal, berdiri.
"Saya ingin jadi tentara, Bu. Biar bisa nembak-nembak."
Semua tertawa. Ibu Sumarni tersenyum. "Bagus, Andi. Tapi jadi tentara itu bukan cuma nembak-nembak. Harus disiplin, harus kuat, harus pintar. Sanggup?"
"Sanggup, Bu!"
Ia menunjuk murid berikutnya. "Siti?"
Siti berdiri dengan malu-malu. "Saya ingin jadi guru, Bu. Seperti Ibu."
Ibu Sumarni terharu. Matanya berkaca-kaca. "Wah, bagus sekali. Ibu doakan Siti jadi guru yang baik. Guru yang sabar, guru yang menginspirasi."
Giliran Joko tiba. "Joko, cita-citamu apa?"
Joko berdiri. Matanya menerawang ke luar jendela. Di kejauhan, ia melihat sawah ayahnya yang menguning. Burung-burung pipit beterbangan. Ia ingat percakapan dengan ayahnya tentang jembatan.
"Saya ingin jadi pemimpin, Bu," jawabnya mantap.
Kelas menjadi hening. Beberapa murid saling pandang. Ibu Sumarni mengerutkan kening. "Pemimpin? Maksudmu kepala desa?"
"Bisa jadi, Bu. Atau bupati. Atau presiden. Pokoknya saya ingin memimpin. Ingin membangun desa ini."
"Wah, hebat sekali. Tapi jadi pemimpin itu susah, Joko. Harus bertanggung jawab, harus adil, harus pintar. Harus berani mengambil keputusan. Kamu siap?"
"Siap, Bu. Asal saya sekolah tinggi. Asal saya banyak belajar."
Ibu Sumarni mengangguk bangga. "Bagus, Joko. Ibu yakin kamu bisa. Tapi ingat, jadi pemimpin bukan untuk mencari kekayaan. Bukan untuk mencari hormat. Tapi untuk melayani rakyat."
"Itu yang saya mau, Bu. Saya mau melayani desa saya."
Di luar kelas, seorang lelaki tua melintas dengan sepeda ontel butut. Rantainya berisik, bunyi kletek-kletek. Ia berhenti di depan sekolah, lalu memarkir sepedanya di pohon randu. Itu adalah Pak Kades, Kepala Desa Suka Maju, yang sudah menjabat belasan tahun. Namanya Karman, lahir tahun 1915, kini berusia empat puluh lima tahun.
"Permisi, Bu Guru," sapa Pak Kades dari pintu. Suaranya berat, penuh wibawa.
Ibu Sumarni segera keluar. "Ada apa, Pak Kades?"
"Ada surat dari kecamatan, Bu. Tentang bantuan buku untuk sekolah. Tolong diterima."
Ibu Sumarni menerima amplop coklat itu. "Terima kasih, Pak Kades. Silakan masuk. Anak-anak pasti senang melihat Bapak."
"Tidak usah, Bu. Saya mau ke sawah dulu. Ada rapat petani. Irigasi mau diperbaiki." Pak Kades melambaikan tangan lalu pergi. Sepeda ontelnya berderit-derit.
Ibu Sumarni kembali ke kelas dengan wajah berseri-seri. "Anak-anak, kabar baik! Kita akan dapat bantuan buku dari kecamatan. Buku pelajaran baru!"
Murid-murid bersorak. Mereka sangat menyukai buku, meskipun koleksi di sekolah sangat terbatas. Hanya ada beberapa judul, itu pun sudah lusuh.
"Bu, bukunya apa saja?" tanya Siti.
"Buku pelajaran, buku cerita, mungkin juga buku pengetahuan. Kata Pak Kades, ada buku ensiklopedia juga."
"Ensiklo... apa, Bu?"
"Ensiklopedia. Buku yang berisi pengetahuan tentang segala hal. Tentang dunia, tentang hewan, tentang tumbuhan, tentang sejarah."
"Wah, asyik!"
Joko juga ikut bersorak. Tapi pikirannya melayang pada Pak Kades. Ia mengagumi lelaki itu. Sederhana, ramah, dan selalu dekat dengan rakyat. Tidak sombong meski jadi pemimpin.
Sepulang sekolah, Joko dan Budi duduk di bawah pohon mangga di pinggir lapangan desa. Mereka mengerjakan PR matematika dengan alat seadanya, papan triplek bekas sebagai meja, ranting sebagai alat tulis di tanah untuk berhitung.
"Bud, ini cara menghitung luas. Kamu lihat, persegi panjang ini panjangnya 5, lebarnya 3. Berapa luasnya?"
Budi mengerutkan kening. "5 dikali 3?"
"Betul. Jadi 15."
"Berarti luas itu panjang kali lebar?"
"Iya, Bud. Kamu sudah pintar."
Budi tersenyum senang. "Jok, kamu pintar banget. Nanti kalau kamu jadi pemimpin, aku mau jadi ajudanmu."
Joko tertawa. "Ajudan? Aku kan belum tentu jadi pemimpin. Masih lama."
"Pasti. Aku yakin. Kamu beda dari yang lain. Kamu rajin, pintar, baik hati. Siapa lagi yang cocok jadi pemimpin kalau bukan kamu?"
"Ah, Bud. Kamu ini. Nanti kalau aku jadi pemimpin, kamu jadi apa?"
"Jadi apa aja. Yang penting bisa bantu kamu. Bisa ikut membangun desa ini."
Joko terharu. Ia memandangi sahabatnya yang sederhana ini. Budi memang tidak pintar di sekolah, tapi ia punya hati yang baik.
"Makasih, Bud. Kita sama-sama ya. Sama-sama berjuang."
Mereka melanjutkan belajar sampai matahari mulai condong ke barat. Joko harus segera pulang untuk membantu ibunya.
"Makasih, Jok. Besok aku traktir es," kata Budi.
"Es? Kamu punya uang?"
"Punya sedikit. Dari hasil bantu ibu jualan. Dapat receh."
"Ya sudah, kalau gitu. Tapi jangan dipaksa. Kita minum air putih juga cukup."
"Tidak, Jok. Kamu sudah banyak bantu aku. Biar aku yang traktir."
Joko berjalan pulang dengan langkah ringan. Ia melewati sawah-sawah yang mulai menguning. Ia melewati sungai yang airnya mulai surut. Ia melewati rumah-rumah panggung sederhana seperti rumahnya.
Sesampai di rumah, ibunya sedang menjemur padi di halaman. Gabah basah dihamparkan di atas tikar pandan, dijemur di bawah sinar matahari sore. Ayam-ayam berkeliaran, sesekali dikejar Sri.
"Joko, sana cuci kaki. Nanti makan malam," sapa Sri tanpa menoleh.
"Iya, Bu. Ayah mana?"
"Masih di sawah. Katanya mau perbaiki pematang yang jebol. Airnya meluap kemarin."
Joko duduk di beranda. Ia memandangi langit senja yang mulai jingga. Di kejauhan, ia melihat asap mengepul dari beberapa rumah, pertanda para ibu mulai memasak malam.
"Bu, aku tadi ditanya Bu Guru tentang cita-cita," kata Joko tiba-tiba.
Sri menghentikan kegiatannya. Ia menoleh, memandangi anaknya. "Lalu? Kau jawab apa?"
"Aku bilang mau jadi pemimpin. Seperti Pak Kades."
Sri tersenyum. Tangannya membersihkan gabah dari kerikil kecil. "Bagus, Nak. Tapi jadi pemimpin itu berat."
"Aku tahu, Bu. Tapi aku mau coba."
"Bukan coba, Nak. Tapi harus sungguh-sungguh. Kalau hanya coba, nanti tengah jalan menyerah."
Joko mengangguk mantap. "Aku akan sungguh-sungguh, Bu. Demi Ayah, demi Ibu, demi desa ini."
Sri memeluk anaknya. Matanya basah. Ia tidak tahu apakah ini kebanggaan atau kekhawatiran. Yang ia tahu, anaknya yang masih kecil ini sudah berpikir jauh ke depan. Jauh melampaui usianya.
"Tapi Bu, aku takut," bisik Joko.
"Takut apa?"
"Takut gagal. Takut tidak bisa. Takut mengecewakan."
Sri melepaskan pelukannya. Ia memandangi mata Joko yang bening.
"Dengar, Nak. Rasa takut itu wajar. Semua orang punya rasa takut. Tapi jangan biarkan rasa takut menghentikanmu. Gunakan rasa takut itu sebagai bahan bakar untuk terus maju. Kau mengerti?"
Joko mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti.
Malam turun dengan cepat di desa Suka Maju. Setelah hari gelap, hanya lampu minyak yang menerangi rumah-rumah. Listrik belum masuk ke desa mereka. Kabel-kabel listrik hanya berhenti di kecamatan, sepuluh kilometer dari sana.
Wahyono duduk di beranda bersama keluarganya. Lampu minyak di sampingnya memberi cahaya temaram. Mereka menikmati malam yang tenang ditemani suara jangkrik dan kodok dari sungai.
"Pak, tadi Joko bilang mau jadi pemimpin," kata Sri memulai percakapan.
Wahyono menoleh ke arah anaknya yang duduk di dekat ibunya. "Pemimpin? Wow, hebat sekali anak kita. Pemimpin apa, Nak?"
"Aku mau kayak Pak Kades, Yah," timpal Joko. "Yang baik sama rakyat. Yang mau turun ke sawah. Yang mau dengerin keluhan warga."
Wahyono tersenyum. "Pak Kades memang baik, Nak. Tapi jadi pemimpin itu tidak mudah. Banyak yang mau jadi pemimpin, tapi sedikit yang mau melayani."
"Maksud Ayah?"
"Banyak orang jadi pemimpin karena ingin kaya, ingin dihormati, ingin berkuasa. Tapi sedikit yang jadi pemimpin karena ingin membantu rakyat. Kalau kau mau jadi pemimpin, ingatlah selalu: pemimpin itu pelayan, bukan penguasa."
Joko merenungkan kata-kata ayahnya. "Tapi Yah, kalau pemimpin itu pelayan, kenapa banyak yang sombong?"
Wahyono tertawa. "Karena mereka lupa. Mereka terlena dengan kekuasaan. Itu sebabnya kau harus sekolah tinggi, Nak. Supaya punya wawasan luas, supaya tidak mudah terlena."
"Dan supaya bisa membangun jembatan?"
"Iya, Nak. Supaya bisa membangun jembatan, membangun jalan, membangun sekolah. Semua itu butuh ilmu."
"Tapi Yah, aku masih kecil. Masih lama."
"Memang masih lama. Tapi perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah. Kau sudah melangkah. Sekarang teruslah berjalan."
Di kejauhan, terdengar suara beduk dari masjid desa. Dug... dug... dug... Waktunya Isya. Mereka segera mengambil air wudhu dan pergi ke masjid.
Masjid desa juga sederhana. Dindingnya dari bambu anyam, lantainya dari tanah yang dipadatkan, atapnya dari rumbia. Tapi jamaahnya selalu ramai. Setelah shalat, mereka biasanya berkumpul sebentar untuk ngobrol.
"Wahyono, bagaimana panen tahun ini?" tanya seorang petani tua, Mbah Karto, lahir tahun 1890, kini berusia tujuh puluh tahun, yang duduk di serambi masjid.
"Alhamdulillah, lumayan Pak. Tapi harga gabah lagi turun. Kata Pak Kades, karena panen raya di mana-mana."
"Iya, itu masalahnya. Petani selalu rugi kalau harga turun. Tapi kalau tidak panen, juga rugi."
"Kenapa tidak jual nanti kalau harga naik?" tanya Joko polos dari samping ayahnya.
Semua tertawa. Mbah Karto mengelus kepala Joko. "Nak, kalau disimpan lama-lama, gabah bisa rusak. Dimakan tikus, dimakan kutu. Lagipula, kami butuh uang cepat. Anak-anak butuh bayar sekolah, istri butuh belanja. Mau tidak mau harus jual."
Joko mengangguk-angguk. Ia mulai paham bahwa menjadi petani itu tidak mudah. Banyak sekali risiko dan ketidakpastian.
"Anakmu ini cerdas, Wahyono," kata Mbah Karto. "Sekolahkan tinggi-tinggi. Jangan seperti kita. Biar dia jadi orang pintar, jadi pemimpin. Mungkin dia bisa mengubah nasib petani."
"Iya, Pak. Itu cita-cita saya. Asal ada rezeki."
"Rezeki itu pasti ada, yang penting usaha. Dan doa. Jangan lupa, orang tua harus selalu mendoakan anaknya."
Mereka berbincang sampai larut malam. Tentang sawah, tentang harga gabah, tentang pupuk yang mahal, tentang irigasi yang kurang. Joko mendengarkan dengan seksama. Di telinganya yang masih muda, semua keluhan itu terekam rapi.
Suatu hari nanti, ia akan menjawab semua keluhan itu.
Sepulang dari masjid, Joko merebahkan diri di tikar pandan. Ibunya sudah menyiapkan bantal dari kain bekas berisi kapuk. Di sampingnya, ayahnya sudah terlelap karena lelah. Dengkurnya halus, teratur.
"Bu, besok aku sekolah lagi ya," katanya lirih.
"Iya, Nak. Istirahat yang cukup. Besok ibu bangunin."
"Bu, kita akan selalu begini? Miskin terus?"
Sri tertegun. Ia memandangi anaknya dalam gelap. Cahaya lampu minyak sudah padam. Hanya sinar bulan yang masuk lewat celah dinding bambu.
"Mungkin tidak selamanya, Nak. Kalau kau sekolah tinggi, kalau kau jadi pemimpin, mungkin kita bisa berubah."
"Aku akan berusaha, Bu. Sungguh."
"Bapak dan Ibu percaya, Nak. Sekarang tidur."
Joko memejamkan mata. Dalam tidurnya, ia bermimpi tentang jembatan besar yang menghubungkan desanya dengan dunia luar. Jembatan dari beton kokoh, bukan rakit bambu. Ia bermimpi tentang jalan aspal yang mulus, bukan jalan lumpur. Ia bermimpi tentang listrik yang menerangi setiap rumah, bukan lampu minyak. Ia bermimpi tentang sekolah yang bagus, bukan atap bocor.
Mimpi itu masih jauh. Tapi ia yakin, suatu hari nanti, mimpinya akan menjadi nyata. Desa Suka Maju tidak akan selamanya tertinggal oleh waktu. Perubahan akan datang.
Dan ia, Joko, anak petani miskin itu, akan menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Joko terbangun di tengah malam oleh suara tangisan. Bukan tangisan keras, tapi isakan tertahan yang berusaha disembunyikan. Ia membuka mata perlahan. Di kamar sebelah yang hanya terpisah sekat anyaman bambu, ia mendengar suara ibunya.
"Pak, beras sudah hampir habis. Mungkin cukup untuk tiga hari lagi," bisik Sri di antara isak tangisnya.
Wahyono menghela napas panjang, napas yang berat seperti menahan beban seluruh dunia. Joko bisa membayangkan raut wajah ayahnya di balik kegelapan; kerutan di dahi yang semakin dalam, mata yang sayu meski berusaha tegar.
"Sabarlah, Bu. Lusa aku ke sawah Pak Kades. Beliau minta tolong bantu panen. Nanti kita dibayar dengan beras. Mungkin sepuluh liter."
"Tapi Pak, itu belum cukup. Joko butuh sepatu baru. Yang lama sudah bolong. Besok dia masuk sekolah, jalan dua kilometer. Nanti kakinya lecet."
Wahyono diam. Hening yang begitu pekat hingga Joko bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Atau mungkin itu detak jantung ibunya? Atau ayahnya? Di kegelapan, semua suara terdengar lebih nyata.
"Aku sudah bicara sama Mbah Karto," suara Wahyono akhirnya terdengar, berat dan dalam. "Beliau bersedia meminjamkan sepatu bekas cucunya. Tapi kita harus mengambil besok pagi ke rumahnya."
"Sepatu bekas, Pak?"
"Lebih baik daripada bolong, Bu. Cucu Mbah Karto sudah lulus SD, sepatunya masih bagus. Beliau orang baik, mau memberi."
Sri tidak menjawab. Hanya suara isak yang semakin tertahan. Joko merasakan sesuatu mengganjal di dadanya. Ia tidak tahu persis apa itu, mungkin kesedihan, mungkin juga kemarahan. Kenapa mereka harus hidup begini? Kenapa harus meminjam sepatu bekas? Tapi ia masih terlalu kecil untuk merumuskan semua pertanyaan itu.
"Bu," panggil Joko tiba-tiba.
Hening di kamar sebelah. Lalu suara Sri berbisik, "Joko? Kok bangun, Nak?"
Joko bangkit dari tikar pandannya. Dalam gelap, ia meraba-raba mencari dinding bambu, lalu mengikuti suara ibunya. Ia masuk ke kamar orang tuanya—sebuah ruangan yang lebih kecil dari kamarnya, hanya cukup untuk tikar ukuran dua orang.
Di sana, dalam cahaya bulan yang masuk lewat celah-celah dinding, ia melihat ibunya duduk bersandar, wajahnya basah oleh air mata. Ayahnya duduk di samping, tangan kekarnya memegang bahu istrinya.
"Joko, kenapa belum tidur?" tanya Wahyono lembut.
"Aku dengar Ibu nangis."
Sri buru-buru menyeka air matanya dengan ujung kebaya lusuh. "Tidak, Nak. Ibu tidak nangis. Ibu cuma... cuma kemasukan debu."
"Bohong, Bu. Aku dengar Ibu bilang beras habis. Aku dengar Ibu bilang sepatuku bolong."
Sri dan Wahyono saling pandang. Di remang-remang, mereka melihat mata anak mereka yang berbinar, bukan karena bahagia, tapi karena menahan air mata.
"Joko, Nak..." Sri meraih tangan anaknya. "Ibu minta maaf. Ibu tidak bisa memberi yang terbaik untukmu."
Joko menggeleng kuat-kuat. Air matanya tumpah. "Tidak, Bu. Ini bukan salah Ibu. Ini bukan salah Ayah. Aku yang minta maaf. Aku merepotkan."
Wahyono menarik anaknya ke dalam pelukan. Tubuh kekar itu bergetar. Joko merasakan sesuatu yang hangat jatuh di kepalanya, air mata ayahnya. Untuk pertama kalinya ia melihat ayahnya menangis. Lelaki yang setiap pagi mencangkul sawah dengan penuh semangat, yang setiap siang bekerja di bawah terik matahari tanpa mengeluh, yang setiap malam memimpin doa dengan suara mantap, lelaki itu menangis.
"Joko, Nak, dengar," bisik Wahyono di sela isaknya. "Kau tidak pernah merepotkan. Kau adalah anugerah terbesar dalam hidup kami. Ibu dan Ayah hanya sedih karena tidak bisa memberi yang cukup. Tapi kami janji, kami akan berusaha lebih keras lagi. Kami akan bekerja apa saja asal kau sekolah."
"Tapi Yah, berat. Aku lihat Ayah kerja dari pagi sampai malam, tapi kita tetap begini."
Wahyono melepaskan pelukannya. Ia memegang pundak kecil Joko dengan kedua tangannya. Matanya, yang basah oleh air mata, menatap tajam ke mata anaknya.
"Dengar, Nak. Ini penting. Jangan pernah mengukur keberhasilan dari seberapa banyak harta. Ukurlah dari seberapa besar usaha dan keikhlasan. Ayah dan Ibu mungkin tidak bisa memberimu sepatu baru, tapi kami bisa memberimu doa yang tidak pernah putus. Doa itu lebih mahal dari sepatu mana pun. Mengerti?"
Joko mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia merasakan kekuatan dalam kata-kata ayahnya. Kekuatan yang membuatnya percaya bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja.
"Ibu, besok aku pakai sepatu bolong dulu," kata Joko kemudian. "Nanti kalau ada rezeki, beli yang baru. Tapi kalau tidak ada, tidak apa-apa. Yang penting aku sekolah."
Sri memeluk anaknya erat-erat. "Nak, Nak... anak baik. Ibu janji, suatu hari nanti Ibu akan belikan sepatu baru yang bagus. Ibu akan beli yang kulit, biar awet."
"Tapi Bu, sepatu kulit mahal."
"Tidak apa-apa. Nanti kalau panen raya, kita jual gabah banyak. Lalu beli sepatu kulit."
Joko tersenyum. Dalam hatinya, ia tahu itu hanya mimpi. Tapi biarlah mimpi itu ada. Setidaknya memberi harapan di malam yang kelam.
Malam itu, mereka bertiga tidur berdekatan di kamar orang tua. Joko di tengah, diapit ayah dan ibunya. Kehangatan tubuh mereka mengusir dingin malam. Joko mendengar ayahnya berdoa dalam hati, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Ia juga mendengar ibunya mengucap istigfar berulang-ulang.
Sebelum tidur, Joko berbisik, "Ya Allah, tolong ibu dan ayahku. Tolong beri mereka kekuatan. Tolong jadikan aku anak yang berbakti. Aamiin."
Di luar, angin malam berdesir membawa aroma tanah basah. Burung hantu bersahutan di kejauhan. Kodok-kodok di sawah bernyanyi tanpa lelah. Alam sedang bertasbih dengan caranya sendiri. Dan di rumah panggung sederhana itu, sebuah keluarga kecil sedang bertahan melawan kerasnya hidup.
Sepulang sekolah, Joko tidak langsung pulang. Ia ingat pesan Ibu Sumarni untuk menemuinya di ruang guru. Ia berjalan menuju ruangan sederhana di ujung barat sekolah—sebuah bilik papan dengan satu meja dan dua kursi.
"Joko, masuk," sapa Ibu Sumarni ramah.
Joko masuk dengan hati-hati. Ia duduk di kursi yang ditunjuk.
"Ini, Nak. Ibu punya buku matematika tambahan. Dulu Ibu dapat dari guru Ibu waktu masih SPG. Sekarang Ibu pinjamkan padamu. Baca dan pelajari. Nanti kalau sudah, kembalikan."
Joko menerima buku itu dengan tangan gemetar. Sampulnya sudah lusuh, beberapa halaman menguning, tapi isinya masih utuh. Buku matematika untuk SMP, jauh di atas levelnya yang masih SD kelas tiga.
"Bu, ini buku SMP. Apa saya bisa?"
"Kamu pasti bisa, Joko. Ibu lihat kamu punya bakat matematika yang luar biasa. Jangan sia-siakan. Pelajari pelan-pelan. Kalau ada yang tidak paham, tanyakan pada Ibu."
Joko memeluk buku itu erat-erat. "Terima kasih, Bu. Saya akan jaga buku ini baik-baik."
"Ibu tahu, Nak. Sekarang pulang. Ibu mau tutup ruangan."
Joko berpamitan. Ia berlari kecil meninggalkan sekolah. Di tangannya, buku itu terasa sangat berharga, lebih berharga dari apapun yang pernah ia miliki.
Di tengah jalan, ia bertemu dengan seseorang yang tidak asing. Sepeda ontel butut dengan suara berderit. Pak Kades.
"Lho, Joko? Kok masih di sini? Sudah pulang sekolah?" sapa Pak Kades sambil menghentikan sepedanya.
"Sudah, Pak. Baru dari ruang Bu Sumarni. Beliau pinjami buku."
Pak Kades turun dari sepeda. Ia mendekati Joko dan melihat buku itu. Matanya berbinar.
"Wah, buku matematika. Kamu suka matematika, Joko?"
"Suka, Pak. Angka-angka itu indah. Kalau dihitung, semuanya teratur."
Pak Kades tertawa. "Filsafat sekali kamu, kecil-kecil sudah ngomong gitu. Sini, duduk dulu. Bapak mau ngobrol sebentar."
Mereka duduk di bawah pohon randu di pinggir jalan. Pak Kades mengeluarkan rokok daun, lalu menawarkan pada Joko yang menggeleng cepat.
"Belum umur, Pak. Saya masih kecil."
"Bagus. Jangan merokok. Bapak ini sudah terlanjur, susah berhentinya."
Pak Kades menyalakan rokoknya. Asap mengepul tipis. Matanya menyipit memandang Joko.
"Joko, Bapak dengar dari Ibu Sumarni, kamu anak pintar. Nilai-nilaimu bagus. Cita-citamu mau jadi pemimpin, ya?"
Joko mengangguk malu-malu. "Iya, Pak. Tapi masih jauh."
"Tidak ada yang jauh kalau kau mulai dari sekarang. Bapak dulu juga anak petani miskin. Orang tua Bapak cuma punya sawah sepetak. Tapi Bapak sekolah keras. Lalu jadi guru, lalu jadi kades. Semua butuh proses."
"Berapa lama Bapak sekolah?"
"Sampai SMA, Nak. Itu pun susah. Harus ke kota, tinggal di kos. Orang tua jual sawah untuk biaya. Tapi hasilnya, Bapak bisa jadi kades. Bisa bantu desa ini."
Joko merenung. "SMA di kota, Pak? Jauh?"
"Jauh. Tiga puluh kilometer dari sini. Harus naik rakit dulu, lalu naik bus. Dulu jalannya belum bagus seperti sekarang. Makanya Bapak ingin banget ada jembatan. Biar anak-anak desa bisa sekolah ke kota dengan mudah."
"Pak, aku juga ingin bangun jembatan."
Pak Kades tersenyum. "Bagus, Nak. Tapi jembatan itu mahal. Perlu dana besar, perlu tenaga ahli, perlu izin pemerintah. Tidak bisa asal bangun."
"Lalu bagaimana caranya, Pak?"
"Dengan menjadi pemimpin yang baik. Kalau kau jadi pemimpin, kau bisa mengajukan usulan ke pemerintah. Bikin proposal, minta anggaran. Tapi kau harus punya ilmu untuk itu. Harus tahu bagaimana cara membuat proposal, harus tahu mekanisme pemerintahan. Itu semua dipelajari di sekolah."
Joko mengangguk-angguk. Ia mulai memahami bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar keinginan, tapi butuh persiapan panjang.
"Pak Kades, apakah berat jadi pemimpin?"
Pak Kades menghela napas panjang. Rokoknya hampir habis. Ia membuang puntungnya, lalu mematikan dengan ujung sepatu.
"Berat, Nak. Sangat berat. Kau harus siap menerima kritik dan cacian. Harus siap dituduh macam-macam. Harus siap bekerja keras tanpa kenal lelah. Tapi kalau kau ikhlas, semua terasa ringan."
"Pernah Bapak menyesal?"
"Pernah. Banyak kali. Tapi setiap kali melihat senyum warga, setiap kali melihat anak-anak bisa sekolah, setiap kali melihat sawah terairi dengan baik, semua penyesalan itu hilang. Lalu semangat datang lagi."
Joko terdiam. Ia mencoba membayangkan menjadi Pak Kades. Berat, tapi mulia.
"Pak, aku mau tanya. Bagaimana caranya jadi pemimpin yang baik?"
Pak Kades tersenyum. Ini pertanyaan yang sering ia dengar, tapi jarang dari anak sekecil Joko.
"Pertama, kau harus jujur. Jangan pernah korupsi, meski sedikit. Kedua, kau harus adil. Jangan pilih kasih. Ketiga, kau harus dekat dengan rakyat. Dengarkan keluhan mereka. Keempat, kau harus pintar. Belajar terus, jangan pernah berhenti. Kelima, kau harus berani. Berani mengambil keputusan sulit demi kebaikan bersama."
Joko menghafal dalam hati. Jujur, adil, dekat, pintar, berani. Lima kunci menjadi pemimpin baik.
"Pak Kades, apakah Bapak mau mengajari saya?"
Pak Kades terkaget. Tidak pernah ada anak kecil memintanya menjadi guru. Ia terharu.
"Mau, Nak. Siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan kalau bukan kalian? Nanti kalau kau punya waktu, datanglah ke rumah Bapak. Bapak punya banyak buku. Bisa kau pinjam."
Mata Joko berbinar. "Bener, Pak? Saya boleh pinjam buku Bapak?"
"Boleh. Asal kau jaga baik-baik. Dan kau baca sampai paham."
"Janji, Pak. Saya akan jaga dan baca."
Matahari mulai condong ke barat. Pak Kades harus pergi ke balai desa untuk rapat. Ia naik sepeda ontelnya.
"Joko, ingat pesan Bapak. Jangan pernah menyerah. Hidup ini perjuangan. Kalau kau lelah, istirahat sebentar. Lalu lanjutkan lagi. Jangan pernah berhenti."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Joko memandangi Pak Kades yang menjauh dengan sepeda bututnya. Di matanya, lelaki itu seperti pahlawan. Sederhana, rendah hati, tapi berwibawa.
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Joko langsung menuju rumah Pak Kades. Rumah itu tidak jauh dari balai desa, sebuah rumah panggung semi permanen, lebih besar dari rumah-rumah lain, tapi tetap sederhana. Dindingnya dari papan kayu jati, atapnya genteng tanah liat, lantainya dari semen. Di halaman, ada pohon mangga besar yang rindang.
Joko ragu-ragu di depan pagar bambu. Ia belum pernah ke rumah Pak Kades. Takut mengganggu. Tapi ingat janji kemarin, ia memberanikan diri.
"Assalamu'alaikum," sapa Joko pelan.
Tidak ada jawaban. Ia ulangi lagi, lebih keras.
"Wa'alaikumsalam. Siapa itu?"
Seorang perempuan paruh baya keluar dari dapur. Wajahnya ramah, memakai daster lusuh dan jilbab sederhana. Itu Ibu Kades, istri Pak Karman.
"Saya Joko, Bu. Mau ketemu Pak Kades. Beliau bilang kemarin, boleh pinjam buku."
Ibu Kades tersenyum. "Ooo Joko. Masuk, Nak. Pak Kades baru pulang dari sawah. Sedang mandi. Duduk dulu di teras."
Joko masuk dengan hormat. Ia duduk di bangku bambu di teras. Matanya mengamati sekeliling. Rumah Pak Kades bersih dan rapi. Di dinding teras, tergantung beberapa foto hitam putih, foto keluarga, foto Pak Kades saat pelantikan, foto presiden Soekarno.
Tak lama, Pak Kades keluar dengan pakaian bersih. Rambutnya masih basah. Ia tersenyum melihat Joko.
"Joko, sudah datang? Bagus, bagus. Mari masuk ke dalam."
Joko mengikuti Pak Kades masuk ke ruang tamu. Di sana, ia melihat sesuatu yang membuatnya terkesima. Rak buku! Rak buku besar dari kayu jati, penuh dengan buku-buku. Puluhan, mungkin ratusan. Joko tidak pernah melihat buku sebanyak itu seumur hidupnya.
"Ini... ini semua buku, Pak?" tanyanya terbata-bata.
Pak Kades tertawa. "Iya, Nak. Ini koleksi Bapak dari dulu. Ada buku pelajaran, buku cerita, buku agama, buku pengetahuan umum. Silakan lihat."
Joko mendekati rak buku itu dengan gemetar. Jari-jarinya menyusuri punggung buku-buku itu satu per satu. Ensiklopedia Indonesia, Ilmu Pengetahuan Populer, Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, Biografi Tokoh Dunia, Buku Pintar Matematika, dan masih banyak lagi.
"Pak, saya boleh pinjam yang mana?"
"Boleh semuanya. Tapi baca satu-satu, Nak. Jangan sekaligus. Nanti pusing."
Joko tersenyum. Ia memilih sebuah buku, Buku Pintar Matematika untuk SMP. Sampulnya tebal, halamannya banyak. Ia membukanya pelan-pelan, mencium aroma kertas yang khas.
"Kamu suka matematika ya?" tanya Pak Kades sambil duduk di kursi.
"Suka, Pak. Angka-angka itu tidak pernah bohong. Kalau dua tambah dua, ya empat. Tidak bisa tiga."
Pak Kades tertawa. "Filsafatmu itu lho, hebat. Tapi benar juga. Angka itu jujur. Lain dengan manusia, kadang suka bohong."
Joko ikut duduk. "Pak, saya mau tanya. Apa semua pemimpin harus pintar matematika?"
"Tidak harus. Tapi matematika melatih logika. Pemimpin harus punya logika yang baik supaya tidak mudah ditipu. Kalau ada orang yang memberi usulan, kau bisa hitung untung ruginya. Kalau ada yang laporan keuangan, kau bisa periksa benar salahnya."
Joko mengangguk-angguk. "Berarti matematika penting ya, Pak."
"Sangat penting. Tapi yang lebih penting adalah akhlak. Sehebat apapun matematikamu, kalau akhlakmu buruk, kau akan jadi pemimpin zalim."
Joko merenung. "Pak Kades, bagaimana cara punya akhlak baik?"
"Pertama, kau harus punya guru. Orang tua, guru di sekolah, kiai di masjid. Kedua, kau harus banyak membaca. Buku-buku agama, buku-buku biografi orang saleh. Ketiga, kau harus bergaul dengan orang baik. Lingkungan sangat mempengaruhi."
"Di desa kita, siapa orang baik, Pak?"
Pak Kades tersenyum. "Banyak. Orang tuamu itu baik. Ibu Sumarni itu baik. Mbah Karto itu baik. Para petani yang jujur itu baik. Kau bisa belajar dari mereka."
Percakapan mereka terputus ketika Ibu Kades keluar membawa dua gelas teh manis hangat dan sepiring pisang goreng.
"Ini, Nak. Makan dulu," sapa Ibu Kades ramah.
Joko malu-malu. "Terima kasih, Bu."
Ia minum tehnya sedikit. Manis. Sangat manis. Di rumah, mereka jarang minum teh karena gula mahal. Kadang mereka minum air putih atau air tajin, air rebusan beras.
"Pak Kades, rumah Bapak punya listrik ya?" tanya Joko melihat lampu listrik di langit-langit.
"Iya, Nak. Sejak tahun lalu. Listrik masuk sampai rumah Bapak. Tapi belum sampai ke rumah-rumah warga. Biayanya mahal untuk pasang kabel."
"Berapa biayanya, Pak?"
"Untuk satu rumah, sekitar lima puluh ribu. Itu belum termasuk biaya langganan bulanan. Petani sini tidak mampu."
Joko menghela napas. Lima puluh ribu adalah uang yang sangat besar. Ayahnya bisa panen tiga kali untuk mendapat sebanyak itu.
"Pak, listrik itu penting ya?"
"Sangat penting, Nak. Dengan listrik, anak-anak bisa belajar malam tanpa lampu minyak. Ibu-ibu bisa menjahit malam hari. Bapak-bapak bisa dengar radio, tahu berita. Tapi ya itu, mahal."
"Suatu hari nanti, saya ingin listrik masuk ke semua rumah."
Pak Kades tersenyum. "Kamu punya mimpi besar, Joko. Jembatan, listrik, sekolah bagus. Tapi ingat, semua butuh proses. Jangan terburu-buru. Nikmati setiap langkah."
Joko mengangguk. Ia menghabiskan teh dan pisang gorengnya. Lalu berpamitan.
"Pak Kades, saya pinjam buku ini dulu. Nanti saya kembalikan kalau sudah selesai."
"Bawa saja, Nak. Tidak usah buru-buru. Bacalah dengan teliti."
Joko berjalan pulang dengan buku di tangan. Hatinya berbunga-bunga. Hari ini ia mendapat harta karun, buku dari Pak Kades. Di rumah, ia akan membaca sampai malam.
Malam itu, Joko belajar dengan semangat baru. Buku pinjaman dari Pak Kades dibuka di halaman pertama. Ia membaca tentang bilangan bulat, bilangan prima, faktorisasi, KPK, FPB. Semua dijelaskan dengan detail dan contoh-contoh.
Lampu minyak di sampingnya mulai redup. Minyak tanah hampir habis. Sri menambah sedikit dari botol cadangan.
"Joko, matanya nanti rusak. Terlalu dekat dengan lampu," tegur Sri.
"Iya, Bu. Tapi kalau jauh, tulisannya tidak kelihatan."
Sri menghela napas. Ia menggeser lampu sedikit, lalu memberikan sehelai kain untuk alas buku.
"Pakai ini. Biar bukunya tidak kena jelaga."
Joko menurut. Ia terus membaca hingga matanya berat. Jam menunjukkan pukul sepuluh, waktu yang sangat larut. Di desa, semua orang sudah tidur.
"Joko, tidur," perintah Wahyono tegas.
"Iya, Yah. Sebentar lagi."
Tapi 'sebentar' itu setengah jam lagi. Akhirnya, Wahyono mematikan lampu paksa.
"Heh, bapak matikan lampunya, lho," gerutu Joko setengah bercanda.
"Tidur. Besok kan sekolah. Nanti ngantuk di kelas, dimarahi Bu Guru."
Joko merebahkan diri di tikar. Tapi pikirannya masih aktif. Ia mengulang-ulang pelajaran yang baru dibaca. FPB dari 12 dan 18 adalah 6. KPK dari 4 dan 6 adalah 12. Angka-angka itu berputar di kepala.
Di sampingnya, ayahnya sudah terlelap dengan dengkur halus. Ibunya masih beres-beres di dapur. Joko memejamkan mata. Ia berdoa dalam hati.
"Ya Allah, mudahkan aku belajar. Jadikan aku anak pintar. Supaya bisa membangun desa ini. Aamiin."
Esok harinya, Joko bangun lebih pagi dari biasanya. Jam menunjukkan pukul tiga. Masih gelap gulita. Ia meraba-raba mencari lampu minyak. Dinyalakan. Api kecil menyala.
Diam-diam, ia mengambil buku dan mulai membaca lagi. Halaman tentang pecahan. 1/2 + 1/3 = 5/6. 2/3 x 3/4 = 1/2. Asyik.
Wahyono bangun jam setengah empat untuk shalat Subuh. Ia kaget melihat lampu menyala di ruang tengah. Dikiranya lupa dimatikan. Tapi ternyata Joko sedang belajar.
"Joko? Jam setengah empat kau sudah bangun?"
Joko tersentak. "Iya, Yah. Aku ingin belajar lebih banyak."
Wahyono mendekat. Ia mengelus kepala anaknya. "Nak, kau ini keterlaluan. Belajar boleh, tapi jangan sampai lupa istirahat. Nanti sakit."
"Aku tidak sakit, Yah. Aku senang belajar."
Wahyono tersenyum. Ia tidak bisa marah. Dalam hati, ia justru bangga. Anaknya punya semangat luar biasa.
"Ya sudah, kalau begitu. Nanti habis Subuh, bantu ayah sebentar di sawah. Setelah itu kau bisa belajar lagi."
"Iya, Yah."
Mereka shalat Subuh berjamaah. Joko jadi imam karena hafalannya paling banyak. Suaranya lantang meski kecil. Wahyono dan Sri mengikuti dari belakang, khusyuk.
Seusai shalat, mereka sarapan sederhana, nasi sisa semalam dengan kuah sayur bening. Lauknya hanya tempe goreng setengah. Tapi mereka makan dengan penuh syukur.
"Ayah ke sawah dulu. Kau cuci piring, bantu ibu. Lalu kau bisa belajar," pesan Wahyono.
"Iya, Yah."
Setelah ayahnya pergi, Joko membantu ibunya membereskan rumah. Ia menyapu lantai bambu yang berdebu, mencuci piring di sungai, lalu menjemur pakaian. Baru setelah itu ia bisa belajar lagi.
Matahari mulai naik. Joko duduk di beranda dengan buku di tangan. Cahaya pagi cukup terang, lebih baik daripada lampu minyak. Ia membaca dengan tekun.
Sri memperhatikan dari dapur. Ia tersenyum bangga. Anaknya berbeda. Anaknya punya masa depan cerah. Ia hanya bisa berdoa agar semuanya lancar.
"Bu, aku ke sekolah dulu," pamit Joko jam setengah tujuh.
"Iya, Nak. Hati-hati. Bawa bekal."
Joko menerima bungkusan daun pisang dari ibunya. Isinya nasi dan sambal. Sederhana, tapi cukup.
BAB II
LAHIR DI TENGAH KESEDERHANAAN
Malam itu bulan purnama bersinar terang. Cahayanya menerangi desa Suka Maju yang sunyi. Hanya suara jangkrik dan kodok yang terdengar dari sungai. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Di rumah panggung sederhana dengan dinding bambu dan atap rumbia, sepasang suami istri muda sedang menanti kelahiran anak pertama mereka. Suasana tegang namun penuh harap.
Wahyono, saat itu baru berusia tiga puluh tahun, lahir tahun 1920, duduk gelisah di beranda. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Ia memandangi langit yang bertabur bintang, seolah mencari jawaban di antara kerlip cahaya itu.
Di dalam, istrinya Sri terbaring lemah di atas tikar pandan. Perutnya besar, siap melahirkan. Seorang dukun beranak, Mbah Karti namanya, sedang mendampingi. Usianya sudah enam puluh tahun, lahir tahun 1890, tapi tangannya masih cekatan. Sudah puluhan bayi ia lahirkan.
"Bu, sebentar lagi," suara Mbah Karti terdengar dari dalam. "Tenang, Bu. Jangan tegang. Ibu harus rileks."
Wahyono menggigit bibir. Tangannya basah oleh keringat. Ia ingin masuk, tapi dilarang oleh Mbah Karti sejak awal.
"Kamu tunggu di luar saja, Le. Tidak baik laki-laki melihat proses kelahiran. Itu pantangan. Nanti bisa sial."
"Tapi Mbah, saya ingin mendampingi istri saya. Dia pasti takut."
"Sudah, sudah. Saya yang akan urus. Doa saja yang banyak. Minta sama Tuhan. Itu lebih berguna."
Wahyono pasrah. Ia kembali duduk di beranda, memandangi langit malam yang cerah. Bulan purnama bundar sempurna. Bintang-bintang bertaburan seperti permata di atas beludru hitam.
"Ya Allah, ya Tuhanku," bisiknya lirih, hampir tidak terdengar. "Berikan keselamatan kepada istriku dan anakku. Selamatkan mereka. Jadikan anak ini anak yang sholeh, yang berbakti kepada orang tua, yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Aku tidak punya apa-apa, Tuhan. Aku hanya petani miskin. Tapi aku berjanji akan mendidiknya sebaik mungkin."
Di kejauhan, seekor burung hantu bersuara. Hooo... hooo... Wahyono tersentak. Ia memandang ke arah suara itu. Burung hantu terbang, meninggalkan ranting pohon randu.
Di dalam, Sri menahan sakit. Tangannya mencengkeram tikar pandan erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Rambutnya basah, lepek.
"Ibu kuat, Bu. Sebentar lagi," ucap Mbah Karti lembut sambil memijat perut Sri dengan minyak kelapa. "Anaknya sudah siap lahir. Ibu harus kuat."
"Kalau bisa selamatkan bayinya, Mbah," pinta Sri lirih. Suaranya lemah. "Saya tidak masalah. Yang penting bayinya selamat."
"Jangan bicara begitu, Bu. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kalian berdua harus selamat. Ibu masih muda, masih panjang umur. Anak ini sudah ditunggu-tunggu."
Sri mengangguk lemah. Ia memikirkan suaminya di luar sana yang pasti sangat cemas. Ia memikirkan bayi yang akan segera lahir ke dunia. Ia berdoa dalam hati, memohon keselamatan.
Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Wahyono semakin gelisah. Ia mondar-mandir di beranda. Kayu-kayu berderit setiap kali ia melangkah. Beberapa tetangga yang mendengar kabar mulai berdatangan. Mereka duduk di halaman, ikut menunggu.
"Le, bagaimana keadaan istrimu?" tanya seorang tetangga, Pak Joyo, yang tinggal tidak jauh dari rumah Wahyono.
"Masih di dalam, Pak. Belum lahir. Sudah dua jam lebih."
"Semoga lancar. Istriku dulu melahirkan anak pertama sampai tiga hari. Capek sekali. Tapi alhamdulillah selamat."
Wahyono tambah cemas. Tiga hari? Tidak, ia tidak ingin istrinya mengalami itu. Ia tidak sanggup melihat Sri menderita lama.
Tiba-tiba, terdengar suara tangisan bayi dari dalam. Waaaaa... waaaaa... waaaaa... Tangisan nyaring yang memecah keheningan malam. Suara itu bagaikan musik yang paling indah di telinga Wahyono.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" teriak Wahyono sambil berlari ke dalam.
Ia segera berlari, tanpa menghiraukan larangan Mbah Karti. Di depannya, Mbah Karti sedang membersihkan seorang bayi mungil yang baru lahir dengan kain bersih. Bayi itu masih berlumuran darah, tapi sudah menangis keras. Tangan mungilnya bergerak-gerak.
Sri terbaring lelah dengan senyum tipis di bibir. Wajahnya pucat, tapi matanya bersinar bahagia.
"Ini anakmu, Le. Laki-laki," kata Mbah Karti sambil menyerahkan bayi yang sudah dibungkus kain.
Wahyono menerima bayinya dengan tangan gemetar. Ia hampir tidak percaya. Bayi mungil itu begitu ringan, begitu kecil. Ia menatap wajah mungil itu dengan takjub. Mata bayi itu masih terpejam, rambutnya tipis, kulitnya kemerahan. Hidungnya mungil, bibirnya mungil, semuanya mungil.
"Ini anakku," bisiknya. "Ini darah dagingku. Ini bagian dari diriku dan Sri."
Air matanya menetes. Ia tidak bisa menahan haru.
Sri meraih tangan suaminya dengan lemah. "Pak, bagaimana wajahnya?"
Wahyono mendekatkan bayi itu ke wajah Sri. "Cantik, Bu. Seperti ibunya. Alisnya seperti ibunya, hidungnya juga."
Sri tersenyum. "Laki-laki kok cantik."
"Tampan maksudku. Maaf, Bu. Aku terlalu bahagia." Wahyono tertawa kecil.
Mereka tertawa bersama, meskipun Sri masih lemah. Mbah Karti menggeleng-geleng melihat pasangan muda yang begitu bahagia. Ia tersenyum, ikut terharu.
"Nanti malam ini juga harus diadzankan, Le," kata Mbah Karti. "Biar tumbuh jadi anak sholeh. Biar setan menjauh."
"Iya, Mbah. Nanti saya adzankan sendiri. Sekarang juga."
Wahyono kemudian memangku bayinya. Dengan suara bergetar, ia mengumandangkan adzan di telinga kanan bayinya. Suara adzan itu menggema di rumah sederhana itu, seolah menjadi awal dari perjalanan panjang seorang manusia.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Bayi itu terkejut, lalu menangis lagi. Tapi Wahyono terus membaca hingga selesai.
Setelah adzan, ia membaca doa. "Ya Allah, jadikanlah anak ini anak yang sholeh, yang mencintai-Mu dan dicintai-Mu. Jadikan ia penyejuk hati orang tuanya. Jadikan ia pemimpin yang adil, yang membawa kebaikan bagi banyak orang. Jadikan ia bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara."
Mbah Karti tersenyum mendengar doa Wahyono. "Pemimpin katamu, Le? Besar sekali doamu."
Wahyono tersipu. "Hanya harapan, Mbah. Yang penting ia jadi anak sholeh. Jadi anak yang berbakti."
"Iya, Le. Tapi jangan takut berharap besar. Tuhan Maha Mendengar. Siapa tahu doamu dikabulkan."
Di luar, tetangga-tetangga yang menunggu bersorak gembira ketika mendengar tangisan bayi. Mereka bertepuk tangan, bersyukur semuanya selamat.
"Selamat, Le! Selamat!" teriak Pak Joyo dari luar.
Wahyono keluar sebentar, menunjukkan bayinya. "Ini anakku, Pak. Laki-laki. Istriku selamat."
"Alhamdulillah. Selamat, Le. Moga jadi anak sholeh."
Tetangga-tetangga itu pulang satu per satu, membawa kabar baik. Besok pagi, seluruh desa akan tahu bahwa keluarga Wahyono telah dikaruniai seorang anak laki-laki.
Pagi harinya, rumah Wahyono dipenuhi tetangga yang datang bersilaturahmi. Mereka datang berbondong-bondong, membawa berbagai hadiah sederhana, ada yang membawa beras satu liter, gula setengah kilogram, telur satu keranjang kecil, bahkan ada yang membawa ayam hidup.
"Selamat, Le. Selamat, Bu," ucap mereka bergantian sambil menyerahkan bawaan.
Wahyono dan Sri menerima ucapan itu dengan haru. Mereka tidak menyangka akan mendapat perhatian sebanyak ini. Di desa yang miskin ini, solidaritas antar warga sangat kuat. Setiap kelahiran, setiap kematian, setiap peristiwa penting selalu dirayakan bersama.
"Nak, kasih nama apa?" tanya seorang tetua desa, Mbah Joyo, yang kemarin ikut menunggu.
Wahyono dan Sri berpandangan. Mereka sudah berdiskusi tentang nama anak mereka selama berbulan-bulan, sejak Sri hamil tujuh bulan.
"Kami ingin memberi nama Joko, Pak," jawab Wahyono dengan sopan. "Joko Prasetyo."
"Joko Prasetyo? Artinya apa, Le?"
"Joko itu pemuda, Pak. Prasetyo itu setia. Harapannya, anak ini tumbuh jadi pemuda yang setia, setia kepada Tuhan, setia kepada orang tua, setia kepada tanah kelahirannya. Setia kepada cita-citanya. Dan karena ia lahir tepat pada hari kemerdekaan, 17 Agustus, kami berharap ia juga setia pada nusa dan bangsa."
Tetua itu mengangguk setuju. "Nama yang bagus. Penuh makna. Semoga tumbuh sesuai namanya. Jangan seperti anak-anak sekarang, banyak yang durhaka."
Mereka kemudian menggelar doa bersama. Seorang modin, sebutan untuk penghulu atau pemimpin doa di desa, memimpin pembacaan tahlil dan doa. Rumah sederhana itu penuh sesak oleh warga yang duduk bersila di lantai bambu. Beberapa duduk di beranda, beberapa di halaman.
Joko kecil terbaring di samping ibunya. Ia tidur pulas, tidak terganggu oleh keramaian di sekitarnya. Sesekali ia menggerakkan tangannya, atau mengernyitkan dahi, seolah sedang bermimpi. Tangannya mungil, kukunya kecil sempurna.
Setelah acara doa selesai, para tetangga berpamitan pulang satu per satu. Mereka meninggalkan rumah Wahyono dengan perasaan bahagia. Kelahiran seorang bayi selalu membawa harapan baru di desa yang tertinggal ini.
"Pak, kita punya anak," kata Sri lirih ketika mereka berdua saja. Suaranya penuh syukur.
"Iya, Bu. Kita punya anak. Titipan Tuhan yang paling berharga."
"Apa kita bisa memberinya kehidupan yang layak? Apa kita bisa menyekolahkannya sampai tinggi?"
Wahyono memeluk istrinya dengan lembut. "Kita akan berusaha sekuat tenaga, Bu. Asal kita sehat, asal kita mau bekerja keras, Tuhan pasti memberi jalan. Jangan pesimis."
Tiba-tiba Joko menangis. Tangisnya nyaring, seolah protes karena ditinggal sendirian di tikar. Tangannya meronta-ronta.
Sri segera menggendongnya dan memberinya ASI. Bayi itu langsung tenang, menghisap dengan lahap.
"Dia lapar, Pak," kata Sri sambil tersenyum.
Wahyono mengamati istrinya menyusui. Ada keharuan di dadanya. Ia melihat kedamaian di wajah Sri, meskipun hidup mereka serba kekurangan. Meskipun besok mereka mungkin harus berhutang lagi.
"Bu, besok aku ke sawah lebih pagi. Mumpung musim tanam, aku bisa kerja lebih keras. Mungkin bisa nambah penghasilan."
"Jangan lupa istirahat, Pak. Jangan sampai sakit."
"Iya, Bu. Aku akan jaga kesehatan. Demi kalian berdua."
Malam turun lagi. Rumah rumbia itu kembali sunyi, hanya ditemani suara jangkrik dan sesekali tangis Joko yang minta ganti popok atau minta disusui. Wahyono dan Sri bergantian menjaganya. Mereka tidak mengeluh. Justru sebaliknya, mereka bahagia. Tangis Joko adalah musik yang paling indah di telinga mereka.
Tahun-tahun berlalu. Joko tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Ia mulai bisa berjalan pada usia sepuluh bulan, sebuah prestasi yang membuat Wahyono dan Sri bangga. Ia mulai bisa berbicara pada usia satu tahun. Kata pertamanya adalah "Ayah" dan "Ibu" yang membuat Wahyono dan Sri menangis haru.
Kini, di usia lima tahun, Joko sudah bisa berlari-lari kecil, sudah bisa mengucapkan kalimat sederhana. Ia aktif, selalu ingin tahu tentang segala hal.
Ketika Joko berusia lima tahun, ia sudah mulai diajak ayahnya ke sawah. Bukan untuk bekerja, tapi untuk mengenal lingkungan tempat ia akan dibesarkan. Wahyono menggendongnya di pundak, melewati pematang sawah yang sempit.
"Yah, itu apa?" tanya Joko sambil menunjuk seekor burung yang bertengger di orang-orangan sawah.
"Itu burung pipit, Nak. Dia suka makan padi."
"Kenapa dia makan padi? Kan punya kita."
Wahyono tertawa. "Padi itu milik semua makhluk, Nak. Burung juga butuh makan. Mereka juga makhluk Tuhan. Kita harus berbagi."
"Tapi kalau habis dimakan burung, kita tidak punya padi."
"Makanya kita buat orang-orangan sawah. Biar burung takut. Lihat yang di sana, pakai baju bekas dan topi jerami."
Joko memandangi orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami dan baju bekas. "Itu tidak seram, Yah. Cuma boneka. Masa burung takut sama boneka?"
"Memang. Tapi burung tidak tahu itu boneka. Mereka pikir itu manusia."
"Kalau aku jadi burung, aku pasti tahu itu boneka. Aku akan tetap makan padi."
Wahyono tertawa terbahak-bahak. Anaknya ini benar-benar kritis. Tidak mudah dibohongi.
Setelah Joko berusia lima tahun, ia mulai diajari membantu pekerjaan ringan di sawah. Misalnya, mengumpulkan rumput untuk pakan ternak, atau mengambil air minum untuk ayahnya di kendi kecil.
"Yah, kapan aku boleh nanam padi?" tanya Joko suatu hari ketika melihat ayahnya sedang menanam.
"Nanti kalau sudah besar, Nak. Sekarang masih kecil, nanti lumpurnya dalam, bisa bahaya. Bisa masuk ke dalam lumpur."
"Aku sudah besar, Yah. Lima tahun. Lihat, aku tinggi."
Wahyono tersenyum. "Lima tahun itu masih kecil, Nak. Nanti tujuh tahun, boleh. Itu pun harus hati-hati."
Joko cemberut. Bibirnya manyun. Tapi kemudian ia melihat sesuatu di pematang sawah.
"Yah, itu apa?"
Wahyono menoleh. Seekor ular sedang melintas di pematang, melata dengan tenang. Panjangnya sekitar satu meter, warna hijau kecoklatan.
"Itu ular sawah, Nak. Jangan dekati, dia bisa menggigit. Kalau kena gigitannya, bisa sakit."
Joko menurut. Ia memandangi ular itu dari kejauhan dengan rasa ingin tahu. Ular itu melata dengan tenang, lalu masuk ke dalam semak-semak di pinggir sawah.
"Yah, ular itu makan apa?"
"Katak, tikus, kadang anak burung. Pokoknya hewan-hewan kecil."
"Berarti ular itu membantu kita? Karena dia makan tikus yang suka makan padi?"
Wahyono tertegun. Ia tidak menyangka anaknya bisa berpikir sejauh itu. Di usia lima tahun, Joko sudah bisa membuat koneksi logis.
"Iya, Nak. Kamu benar. Ular itu membantu kita. Dia memakan tikus yang suka merusak tanaman. Makanya jangan dibunuh kalau tidak mengganggu. Biarkan saja."
Joko mengangguk. Ia mulai memahami bahwa alam ini memiliki keseimbangan. Setiap makhluk punya peran masing-masing.
Pada sore hari, setelah pulang dari sawah, Joko biasanya bermain dengan anak-anak tetangga. Mereka bermain sepak bola dengan bola dari anyaman bambu, bola plastik terlalu mahal. Atau bermain petak umpet di antara rumah-rumah penduduk.
"Jok, besok main lagi ya," kata Budi, teman sebaya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Budi lahir tahun 1950, sama dengan Joko.
"Iya, Bud. Tapi aku harus bantu ibu dulu."
"Bantu apa?"
"Jemur padi, bersihin halaman, kasih makan ayam."
"Kok banyak banget kerjaan rumahmu?"
Joko tersenyum. "Biasa, Bud. Anak petani harus kerja keras. Kata ayahku, besok kalau sudah besar, kita bisa istirahat."
Mereka berpisah ketika matahari mulai terbenam. Joko pulang ke rumah, mencuci kaki dan tangan di sumur dengan gayung bambu, lalu masuk ke dapur membantu ibunya.
"Bu, aku bantu apa?"
"Bantu iris bawang, Nak. Tanganmu sudah cuci?"
"Sudah, Bu."
Joko duduk di dapur dengan papan alas dan sebilah pisau dapur yang agak besar untuk ukuran tangannya. Dengan hati-hati ia mengiris bawang merah. Matanya perih, tapi ia tahan. Air matanya menetes, tapi ia terus mengiris.
"Bu, kenapa kalau iris bawang matanya perih?"
"Karena bawang mengeluarkan gas yang membuat mata perih, Nak. Namanya gas... apa ya... ibu lupa."
"Berarti kalau kita pakai kacamata, tidak perih?"
Sri tertawa. "Bisa jadi. Tapi kita tidak punya kacamata."
"Nanti kalau aku besar, aku beli kacamata buat ibu. Biar tidak perih kalau iris bawang. Juga buat ayah."
Sri terharu. Anaknya ini selalu memikirkan orang lain, bahkan untuk hal sekecil itu.
"Terima kasih, Nak. Ibu tunggu."
Setiap malam, sebelum tidur, Wahyono selalu bercerita kepada Joko. Ceritanya bermacam-macam, tentang nabi-nabi, tentang pahlawan nasional, tentang petani yang sukses, atau sekadar dongeng binatang yang penuh pesan moral.
"Yah, cerita lagi," pinta Joko setiap malam sambil merapat ke ayahnya.
"Mau cerita apa?"
"Cerita tentang orang jujur. Yang kemarin belum selesai."
Wahyono tersenyum. "Baik, Nak. Dengarkan."
Ia memulai cerita dengan suara dalam. "Dahulu kala, di sebuah desa tidak jauh dari sini, ada seorang petani miskin. Ia punya sawah kecil di pinggir sungai. Sawahnya cuma seratus meter persegi, tapi ia rawat dengan sepenuh hati. Suatu hari, ketika mencangkul, ia menemukan emas batangan. Besar, kira-kira sebesar kepalan tangan."
"Wah, beruntung sekali petani itu," kata Joko dengan mata berbinar.
"Tapi petani itu tidak langsung mengambil emasnya. Ia berpikir, ini pasti milik seseorang. Ia mencari tahu siapa pemilik emas itu. Ternyata, emas itu jatuh dari perahu saudagar kaya yang hanyut beberapa hari lalu. Saudagar itu sedang dalam perjalanan ke kota."
"Kenapa tidak diambil saja, Yah? Kan bisa buat beli banyak barang. Beli sawah, beli rumah."
"Karena itu bukan haknya, Nak. Emas itu milik saudagar. Petani itu sadar, kalau ia mengambil yang bukan haknya, rezekinya akan hilang. Tuhan tidak memberkati harta haram."
"Lalu saudagarnya senang?"
"Saudagar itu sangat senang. Ia tidak menyangka akan bertemu orang jujur seperti petani itu. Ia memberi hadiah kepada petani itu, sawah yang luas, rumah yang bagus, dan uang yang banyak. Petani itu menjadi kaya, tapi dengan cara yang halal."
Joko merenungkan cerita ayahnya. "Jadi orang jujur itu pasti dapat balasan?"
"Iya, Nak. Mungkin tidak langsung, mungkin tidak berupa harta. Tapi orang jujur akan selalu dihormati orang. Hidupnya tenang, tidurnya nyenyak, tidak dihantui rasa bersalah."
"Tapi Yah, banyak orang jujur yang tetap miskin. Seperti kita."
Wahyono menghela napas. "Iya, Nak. Itu benar. Tapi kemiskinan bukan karena kejujuran. Banyak faktor lain. Yang penting, kita tetap jujur. Karena kejujuran adalah harga diri. Orang boleh miskin, tapi tidak boleh kehilangan kejujuran."
Pelajaran lain yang diajarkan Wahyono adalah tentang kerja keras.
Suatu sore, setelah pulang dari sawah, Wahyono duduk di beranda sambil mengelap keringat. Joko duduk di sampingnya.
"Lihat tangan bapak, Nak," kata Wahyono suatu hari sambil menunjukkan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan.
Joko memegang tangan ayahnya. Kasar, keras, penuh garis-garis dalam.
"Kenapa tangan bapak kasar?"
"Karena bapak bekerja keras setiap hari. Mencangkul, menanam, memotong padi, membajak sawah. Tangan ini tidak pernah mengeluh. Tangan ini bangga karena bisa memberi makan kita semua. Tangan ini yang membuat kita bisa hidup."
"Aku mau punya tangan seperti bapak," kata Joko.
"Kamu akan punya, Nak. Tapi bukan tangan yang kasar karena mencangkul, tapi tangan yang halus karena memegang buku. Bapak ingin kamu sekolah tinggi, jadi orang pintar. Bapak tidak ingin kamu susah seperti bapak."
"Tapi bapak tidak susah, kan?"
Wahyono tertawa. "Bapak susah, Nak. Tapi bapak bahagia. Susah dan bahagia itu beda. Orang bisa susah tapi bahagia, bisa kaya tapi sengsara. Yang penting hati kita bersih."
Sri juga mengajarkan banyak hal kepada Joko, terutama tentang kesederhanaan.
"Bu, kenapa kita tidak beli baju baru? Yang ini sudah kekecilan," keluh Joko suatu hari sambil menunjukkan bajunya yang sudah sempit di ketiak.
Sri memandangi baju Joko yang memang sudah tidak muat. "Nanti kalau panen, Nak. Sekarang kita harus hemat. Uangnya buat bayar sekolah."
"Tapi teman-teman punya baju baru. Budi punya baju baru dari pasar."
Sri memeluk Joko. "Nak, baju baru itu boleh jadi menyenangkan. Tapi yang lebih penting adalah hati yang baru. Hati yang bersih, yang tidak iri, yang tidak dengki. Baju bisa koyak, tapi hati yang bersih akan abadi. Orang tidak akan mengingat bajumu, tapi mereka akan mengingat perilakumu."
Joko terdiam. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya pada ibunya.
Pelajaran paling berharga datang ketika Joko berusia sembilan tahun. Saat itu, Wahyono jatuh sakit. Demam tinggi selama tiga hari. Tubuhnya panas seperti bara. Sri kebingungan karena tidak punya uang untuk berobat ke mantri.
"Pak, bagaimana ini? Demammu tidak turun-turun," kata Sri cemas sambil mengompres suaminya dengan air dingin.
"Sabarlah, Bu. Mungkin ini cobaan."
Joko mendengar percakapan itu dari balik pintu. Ia melihat ayahnya terbaring lemah, ibunya cemas. Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke luar rumah, menuju rumah Pak Kades di ujung desa. Dengan napas tersengal, ia mengetuk pintu.
"Pak Kades! Pak Kades!" teriaknya keras.
Pak Kades keluar dengan kaget. Wajahnya masih mengantuk. "Ada apa, Nak? Jam sepuluh malam begini, ada apa?"
"Bapak saya sakit, Pak. Demam tinggi. Sudah tiga hari tidak turun. Ibu tidak punya uang untuk beli obat. Tolong, Pak."
Pak Kades tidak bertanya lagi. Ia segera mengambil tasnya yang berisi obat-obatan sederhana. "Ayo, Nak. Kita ke rumahmu. Cepat."
Mereka berjalan cepat dalam gelap. Joko memegang senter minyak, menerangi jalan.
Sesampai di rumah, Pak Kades langsung memeriksa Wahyono. Ia mengukur suhu, memeriksa denyut nadi, melihat lidah.
"Ini demam berdarah, Le. Harus segera ke puskesmas. Bahaya kalau tidak ditangani."
"Tapi Pak, saya tidak punya uang," kata Sri lirih.
"Tidak apa-apa. Saya punya sedikit tabungan. Pakai dulu. Nanti kalau punya uang, bayar. Yang penting nyawa dulu."
Wahyono bangkit duduk dengan susah payah. "Terima kasih, Pak Kades. Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Bapak."
"Tidak usah membalas, Le. Yang penting kamu sehat. Anakmu tadi datang ke rumahku minta tolong. Dia sangat cemas, lari-lari tengah malam. Dia anak yang baik, berani minta tolong demi orang tuanya."
Wahyono memandangi Joko dengan haru. Anaknya yang masih kecil itu sudah berani meminta tolong demi kesembuhan ayahnya. Ia memanggil Joko mendekat.
Setelah Pak Kades pergi dengan janji akan datang lagi besok, Wahyono memanggil Joko. "Nak, sini."
Joko mendekat. "Iya, Yah?"
"Kamu tadi ke rumah Pak Kades?"
"Iya, Yah. Aku takut ayah kenapa-kenapa. Aku takut ayah... ayah..."
Wahyono memeluk anaknya erat. "Terima kasih, Nak. Kamu sudah berani minta tolong. Itu tidak mudah. Banyak orang dewasa yang malu minta tolong. Tapi ingat, suatu hari nanti, kamu harus bisa menolong orang lain seperti Pak Kades menolong kita. Itulah gunanya jadi pemimpin."
Joko mengangguk. "Aku akan jadi seperti Pak Kades, Yah. Menolong orang yang susah. Tidak pilih-pilih."
"Bagus, Nak. Itulah gunanya jadi pemimpin. Bukan untuk kaya, bukan untuk dipuji, bukan untuk berkuasa. Tapi untuk menolong yang lemah, untuk membela yang tertindas."
Sejak saat itu, tekad Joko semakin kuat. Ia ingin menjadi pemimpin. Bukan pemimpin yang sombong, tapi pemimpin yang melayani. Seperti Pak Kades. Seperti yang diajarkan ayah dan ibunya.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, Wahyono mengajak Joko menyeberang dengan rakit.
"Ayo, Nak. Ayah akan tunjukkan sawah kita di seberang," kata Wahyono sambil menggandeng tangan Joko menuju tepi sungai.
Joko memandangi rakit itu dengan campuran rasa takut dan penasaran. Rakit itu sederhana, lima batang bambu besar yang diikat erat dengan rotan, membentuk semacam lantai terapung. Di atasnya, hanya ada selembar tikar pandan usang untuk duduk.
"Ini tidak akan tenggelam, Yah?" tanya Joko ragu.
Wahyono tertawa. "Tidak, Nak. Bambu itu berongga, jadi bisa mengapung. Lihat, itu rakit bapak sudah bertahun-tahun, tidak pernah tenggelam. Kecuali kalau kelebihan muatan. Tapi kita berdua ringan."
Joko masih ragu. Kakinya gemetar saat menginjak rakit. Bambu itu terasa goyah, bergoyang mengikuti gerakan air.
"Pegangan erat-erat, Nak. Duduk di tengah, jangan di pinggir," perintah Wahyono sambil mendorong rakit dengan sebatang bambu panjang.
Rakit itu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Joko menoleh ke belakang, melihat desanya semakin menjauh. Ia lalu menatap air sungai yang berwarna coklat keruh. Di beberapa tempat, ia bisa melihat pusaran air kecil yang berputar-putar.
"Yah, itu apa? Airnya muter-muter."
"Itu pusaran, Nak. Namanya olakan. Di bawahnya biasanya ada batu besar atau lubang. Kalau kamu jatuh di situ, bisa tersedot ke bawah. Makanya jangan main di sungai sendirian."
Joko mengangguk, meskipun rasa penasarannya justru semakin besar. Ia membayangkan apa yang ada di bawah pusaran itu. Mungkin ikan-ikan besar. Mungkin batu-batu licin. Mungkin makhluk halus seperti yang sering diceritakan teman-temannya.
Setelah sekitar dua puluh menit, rakit mencapai seberang. Joko melompat ke daratan dengan perasaan lega sekaligus bangga. Ia sudah menyeberangi sungai!
"Ini sawah kita, Nak," kata Wahyono sambil menunjuk hamparan hijau di hadapan mereka. "Sebagian milik Pak Karto yang kita sewa. Sebagian kecil milik kita sendiri, warisan dari kakekmu."
Joko memandangi sawah itu. Padi yang baru ditanam tampak seperti rumput-rumput kecil yang tertata rapi. Di sela-sela tanaman, air menggenang setinggi mata kaki. Beberapa burung beterbangan, mungkin mencari serangga.
"Yah, kenapa kita tidak punya sawah sendiri semuanya?" tanya Joko dengan polosnya.
Wahyono menghela napas. Ia tahu pertanyaan ini akan muncul suatu hari.
"Karena dulu kakekmu cuma punya sedikit tanah, Nak. Tanah di desa ini kebanyakan milik tuan tanah dari kota. Mereka beli murah puluhan tahun lalu. Sekarang harganya mahal, petani seperti kita tidak sanggup beli."
"Berarti kita kerja untuk orang lain, Yah?"
"Bisa dibilang begitu. Tapi jangan salah sangka, Pak Karto itu orang baik. Sewanya tidak mahal. Beliau juga sering memberi bantuan kalau kita kesulitan."
Joko diam. Ia berjalan di pematang sawah, merasakan lumpur yang basah di sela-sela jari kakinya. Sandal jepitnya ia lepas dan gantungkan di pematang.
"Yah, enak ya kalau jalan di lumpur?"
Wahyono tersenyum melihat anaknya yang mulai menikmati sawah. "Lumpur itu memberi kehidupan, Nak. Di dalam lumpur ada banyak zat hara yang dibutuhkan padi. Kalau tanahnya keras, padi susah tumbuh."
"Berarti lumpur itu baik?"
"Baik, asal tidak berlebihan. Kalau terlalu banyak lumpur, malah jadi rawa. Padi juga tidak bisa tumbuh."
Joko mengangguk-angguk. Ia mulai memahami bahwa dalam hidup, segala sesuatu harus seimbang. Tidak boleh terlalu sedikit, tidak boleh terlalu banyak.
Sepanjang hari itu, Joko membantu ayahnya mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela-sela padi. Tangannya yang kecil cekatan memilah mana padi dan mana rumput. Beberapa kali ia salah mencabut, tapi Wahyono sabar membetulkan.
"Itu padi, Nak. Jangan dicabut. Lihat, daunnya lebih lebar sedikit dari rumput. Warnanya juga lebih hijau tua."
"Rumputnya mana, Yah?"
"Itu, yang daunnya kecil-kecil, merambat. Itu namanya rumput teki. Sukar dicabut, akarnya dalam."
Joko mencoba mencabut rumput teki. Akarnya memang dalam, kuat mencengkeram tanah. Ia harus menarik keras-keras sampai hampir jatuh.
"Wah, kuat sekali, Yah."
"Iya, rumput itu kuat bertahan. Kadang kita bisa belajar dari rumput. Kuat menghadapi segala cuaca, tahan banting. Tapi kalau di sawah, dia musuh. Harus dibasmi."
Sore hari, mereka pulang dengan rakit. Joko sudah lebih berani. Ia bahkan berani duduk di pinggir rakit sambil memasukkan kakinya ke air.
"Hati-hati, Nak. Ada lintah," peringat Wahyono.
Joko langsung menarik kakinya cepat-cepat. "Lintah? Yang suka hisap darah?"
"Iya. Di sungai ini banyak. Mereka suka menempel di kaki, lalu hisap darah. Tidak sakit, tapi darah bisa keluar terus kalau tidak segera dihentikan."
Joko merinding. Ia membayangkan binatang hitam licin itu menempel di kakinya. Ia memutuskan untuk tidak memasukkan kaki lagi.
Tahun itu adalah tahun paceklik terparah yang pernah dialami desa Suka Maju. Kemarau panjang melanda sejak April hingga November. Sawah-sawah mengering, padi gagal panen. Sungai menyusut hingga tinggal setengah dari biasanya. Bahkan di beberapa tempat, orang bisa menyeberang tanpa rakit karena air hanya setinggi lutut.
Rumah Wahyono, seperti rumah-rumah lainnya, mulai kekurangan beras. Persediaan yang ditabung dari panen terakhir sudah habis. Setiap hari, mereka hanya makan sekali, itu pun dengan porsi yang sedikit.
"Bu, aku lapar," kata Joko suatu malam sambil memegangi perutnya yang kosong.
Sri menelan ludah. Hatinya perih mendengar keluhan anaknya. Tapi ia harus tegar.
"Sabarlah, Nak. Besok pagi ibu masak bubur. Pakai sedikit beras, dicampur singkong. Insya Allah kenyang."
"Tapi kenapa kita tidak punya beras, Bu?"
"Karena kemarau, Nak. Sawah kita kering. Tidak bisa panen. Ayahmu sudah berusaha cari air, tapi sumur juga kering."
Joko tidak menjawab. Ia hanya berbaring di tikar, memejamkan mata, berusaha tidur meski perutnya keroncongan.
Wahyono yang baru pulang dari mencari air di sungai, yang kini tinggal sedikit, duduk di beranda dengan lesu. Tangannya kotor, bajunya basah oleh keringat dan air sungai.
"Pak, bagaimana?" tanya Sri sambil membawakan segelas air putih, air sungai yang direbus agar aman diminum.
"Air masih ada, Bu. Tapi payau. Asin. Tidak enak diminum. Tapi terpaksa, daripada tidak sama sekali."
"Berapa jauh kau cari?"
"Sampai ke hulu. Dua jam jalan kaki. Di sana airnya masih agak bersih. Tapi sekarang sudah mulai surut juga."
Sri duduk di samping suaminya. Mereka saling berpandangan dengan tatapan cemas. Bagaimana nasib mereka ke depan? Berapa lama kemarau ini akan berlangsung?
Tiba-tiba, terdengar suara dari luar. Seseorang datang dengan senter minyak.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Wahyono. "Siapa itu?"
Sosok itu mendekat. Ternyata Pak Karto, pemilik tanah yang disewa Wahyono. Di tangannya, ia membawa sebuah karung kecil.
"Le, ini buat kalian," kata Pak Karto sambil meletakkan karung itu di teras. "Beras lima liter. Tidak banyak, tapi cukup untuk beberapa hari."
Wahyono tertegun. Ia hampir tidak percaya.
"Pak Karto, ini... ini terlalu banyak. Saya masih punya utang sewa ke Bapak. Bagaimana nanti bayarnya?"
"Tidak usah dipikirkan dulu. Yang penting kalian selamat dulu. Musim paceklik begini, kita harus saling bantu. Nanti kalau panen sudah baik, baru kita bicara lagi."
Air mata Wahyono menetes. Ia memeluk Pak Karto erat.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Tidak usah berkata apa-apa. Yang penting, nanti kalau kamu sudah mampu, bantu juga orang lain. Itu balasan yang paling baik."
Setelah Pak Karto pergi, Sri keluar dari dapur. Ia melihat karung beras itu dan langsung menangis.
"Pak, ini berkah. Tuhan tidak meninggalkan kita."
"Iya, Bu. Tuhan mengirim rezeki lewat Pak Karto."
Joko yang terbangun karena keributan, keluar dan melihat karung beras. Matanya berbinar.
"Bu, ada beras? Kita bisa makan?"
"Iya, Nak. Besok pagi ibu masakkan nasi yang banyak."
Malam itu, mereka bersujud syukur. Dalam kesederhanaan dan kekurangan, mereka masih merasakan kasih sayang sesama manusia.
Paceklik berlangsung hingga Desember. Selama berbulan-bulan, mereka bertahan dengan bantuan dari tetangga, saudara, dan orang-orang baik seperti Pak Karto. Wahyono bekerja serabutan—mencari kayu bakar di hutan, menjualnya ke kecamatan, kadang menjadi buruh bangunan di desa tetangga. Sri menjahit pakaian tetangga dengan mesin jahit kaki pinjaman, mendapat upah seadanya.
Joko, meski masih kecil, ikut membantu. Ia mencari daun singkong di kebun kosong untuk dimasak, mencari belut di sawah yang mulai mengering, atau sekadar menjaga adik-adik tetangga yang orang tuanya bekerja.
Suatu sore, ketika sedang mencari kayu bakar di hutan kecil dekat desa, Joko bertemu dengan Mbah Karto yang sedang duduk di bawah pohon.
"Joko, sedang apa?"
"Mencari kayu, Mbah. Buat jualan. Ayah butuh uang beli beras."
Mbah Karto tersenyum. "Anak baik. Sini, duduk dulu. Mbah mau ngobrol."
Joko duduk di samping Mbah Karto. Lelaki tua itu mengeluarkan sepotong singkong rebus dari bawaannya, lalu membaginya dua.
"Makan, Nak."
Joko menerima dengan ragu. "Tapi ini punya Mbah."
"Tidak apa-apa. Mbah kenyang. Makanlah."
Joko memakan singkong itu dengan lahap. Manis, gurih, meski tanpa garam. Baginya, itu adalah makanan paling lezat saat itu.
"Joko, Mbah dengar kamu pintar di sekolah."
Joko mengangguk malu-malu. "Biasa saja, Mbah."
"Ibu Sumarni bilang, kamu suka matematika. Nilaimu selalu bagus."
"Iya, Mbah. Saya suka angka."
"Bagus. Orang pintar itu aset desa. Tapi ingat, jadi pintar saja tidak cukup. Harus punya hati. Harus peduli sama orang lain. Seperti Pak Karto yang membantu kalian."
"Pak Karto memang baik, Mbah."
"Ia. Dia itu tuan tanah, tapi tidak sombong. Sewanya murah. Suka membantu. Itu contoh pemimpin sejati. Meskipun dia bukan kepala desa, dia pemimpin di hati warga."
Joko merenung. Ia ingat pesan ayahnya tentang Pak Kades. Sekarang ia mendapat pelajaran baru tentang Pak Karto. Bahwa pemimpin tidak selalu yang punya jabatan. Bisa juga orang biasa yang peduli pada sesama.
"Mbah, apa saya bisa jadi seperti Pak Karto?"
"Bisa, Nak. Asal kamu punya niat. Tapi jangan hanya jadi seperti Pak Karto. Jadilah lebih baik. Jadilah orang yang bisa mengubah desa ini jadi lebih maju. Sehingga tidak ada lagi paceklik seperti ini. Sehingga tidak ada lagi anak-anak kelaparan seperti sekarang."
Joko terdiam. Ia memandangi hutan di sekitarnya. Pohon-pohon kering karena kemarau. Tanah retak-retak. Sungai di kejauhan menyisakan aliran kecil. Paceklik benar-benar membuat mereka menderita.
"Mbah, kenapa paceklik bisa terjadi?"
"Karena alam, Nak. Karena Tuhan. Tapi juga karena kita. Hutan-hutan di hulu mulai gundul ditebang. Mata air mulai kering. Kita tidak menjaga alam dengan baik. Akibatnya, kemarau panjang seperti ini."
"Berarti kita yang salah?"
"Kita semua. Termasuk Mbah. Tapi sekarang yang penting, kita harus bertahan. Nanti kalau hujan turun, kita tanam lagi. Kita perbaiki lagi."
Joko mengangguk. Ia menyimpan semua pelajaran ini dalam hatinya. Suatu hari nanti, ia akan mengingatnya. Suatu hari nanti, ia akan melakukan sesuatu untuk mencegah paceklik terjadi lagi.
Hujan pertama turun di pertengahan Desember. Deras, mengguyur tanpa ampun. Seluruh desa bersorak gembira. Anak-anak berlarian di hujan, tertawa-tawa. Orang dewasa menangis haru. Akhirnya, setelah berbulan-bulan menderita, hujan datang.
Wahyono berdiri di beranda, membiarkan tubuhnya basah oleh percikan air. Air matanya bercampur air hujan.
"Alhamdulillah," bisiknya. "Engkau masih sayang pada kami, Tuhan."
Sri keluar dengan membawa baskom, menampung air hujan untuk diminum dan dimasak.
"Pak, kita selamat," katanya sambil menangis.
"Iya, Bu. Kita selamat."
Joko ikut keluar. Ia membuka mulutnya, menampung air hujan. Rasanya segar, manis, berbeda dengan air sungai yang payau.
"Bu, enak!" teriaknya.
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lahir dari kelegaan. Tawa yang lahir dari harapan baru.
Malam itu, hujan terus turun. Angin bertiup kencang. Atap rumbia bocor di sana-sini. Mereka harus memindahkan tikar beberapa kali. Tapi tidak ada yang mengeluh. Hujan adalah berkah. Hujan adalah kehidupan.
"Pak, besok kita bisa tanam lagi?" tanya Joko sebelum tidur.
"Iya, Nak. Besok kita siapkan lahan. Lusa kita tanam. Semoga panennya bagus."
"Aku ikut bantu, Yah."
"Tentu, Nak. Kau pasti bantu ayah."
Joko tertidur dengan senyum di bibir. Dalam mimpinya, ia melihat sawah yang hijau, padi yang menguning, dan panen yang melimpah. Tidak ada lagi kelaparan. Tidak ada lagi paceklik.
Di antara teman-teman sekelasnya, yang paling akrab dengan Joko adalah Budi. Budi adalah anak seorang buruh tani yang juga miskin, bahkan lebih miskin dari Joko. Ayah Budi hanya buruh lepas yang tidak punya sawah sama sekali. Ibunya berjualan sayur keliling dengan pikulan.
Meski demikian, Budi adalah anak yang baik hati, jujur, dan setia kawan. Ia selalu membela Joko jika ada yang mengejeknya. Ia juga selalu berbagi bekal, meskipun bekalnya sendiri pas-pasan.
Suatu hari, ketika jam istirahat, Joko dan Budi duduk di bawah pohon mangga di halaman sekolah. Mereka membuka bekal masing-masing. Joko membawa nasi dengan sambal dan ikan asin. Budi membawa nasi dengan tempe goreng setengah.
"Jok, nanti pulang sekolah, aku mau ke sungai. Mau cari ikan," kata Budi sambil mengunyah.
"Sendirian?"
"Bareng teman-teman kampung. Ada yang punya jala. Mau dipinjemin."
"Hati-hati, Bud. Sungai lagi besar. Musim hujan begini, arus deras."
"Tenang, Jok. Aku sudah biasa. Dari kecil main di sungai."
Joko tidak bisa melarang. Tapi dalam hati ia cemas. Sungai di musim hujan memang berbahaya. Banyak anak yang tenggelam karena arus deras.
Sepulang sekolah, Joko langsung pulang ke rumah. Ia membantu ibunya sebentar, lalu belajar. Sore harinya, ia mendengar kabar yang tidak mengenakkan.
"Joko! Joko!" teriak seseorang dari luar.
Joko keluar. Ternyata Mbah Joyo, tetangganya, datang dengan wajah cemas.
"Ada apa, Mbah?"
"Budi! Budi tenggelam di sungai! Sekarang dibawa ke rumahnya. Masih belum sadar!"
Joko terperanjat. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju rumah Budi. Jaraknya cukup jauh, sekitar satu kilometer. Ia berlari sekuat tenaga, melewati pematang sawah, melewati kebun, melewati rumah-rumah tetangga.
Sesampai di rumah Budi, ia melihat kerumunan orang. Budi terbaring di tikar, tubuhnya pucat, bibirnya membiru. Ibunya menangis tersedu-sedu. Beberapa tetangga mencoba memberikan pertolongan pertama.
"Bud! Bud!" teriak Joko sambil mendekat.
Budi tidak bergerak. Matanya terpejam. Dadanya naik turun lemah, tanda ia masih bernafas, tapi sangat lemah.
"Kenapa bisa begini?" tanya Joko pada seorang tetangga.
"Katanya dia ke tengah, ke air dalam. Terus keseret arus. Temannya lihat, langsung tolong. Tapi dia sudah keburu masuk air banyak."
Joko menangis. Ia memegang tangan Budi yang dingin. "Bud, bangun. Aku di sini. Jangan mati, Bud. Kita masih harus sekolah bareng. Kita masih harus jadi sukses bareng."
Tiba-tiba, Budi batuk. Air keluar dari mulutnya. Ia batuk keras, lalu matanya terbuka sedikit.
"Jok... Jok..." bisiknya lemah.
"Bud! Bud! Alhamdulillah, kau selamat!"
Budi tersenyum tipis. "Airnya... dingin sekali, Jok. Aku takut."
Ibu Budi memeluk anaknya erat. "Nak, Nak... jangan pernah ke sungai lagi. Ibu takut kehilangan kamu."
Malam itu, Joko tidak pulang. Ia meminta izin pada orang tuanya untuk menjaga Budi. Mereka berdua berbaring di tikar yang sama, saling bercerita.
"Jok, tadi aku lihat cahaya terang," kata Budi lirih. "Waktu di dalam air. Waktu aku hampir mati. Aku lihat cahaya. Terang sekali. Terus ada suara bilang, 'Kembalilah, belum waktunya'."
"Mungkin Tuhan masih sayang sama kamu, Bud. Mungkin kamu masih punya misi di dunia."
"Misiku apa, Jok? Aku kan cuma anak miskin, tidak pintar seperti kamu."
"Jangan bilang gitu, Bud. Setiap orang punya misi. Kamu mungkin jadi orang baik. Kamu mungkin jadi orang yang bisa menolong orang lain. Itu misi mulia."
Budi terdiam. Ia merenungkan kata-kata Joko.
"Jok, makasih ya sudah jagain aku."
"Iya, Bud. Kamu sahabatku. Aku akan selalu ada untukmu."
Malam itu, persahabatan mereka semakin erat. Mereka berjanji akan saling menjaga, saling mendukung, apapun yang terjadi.
Suatu hari di tahun 1962, seorang petugas dari kecamatan datang ke desa Suka Maju. Ia membawa kabar bahwa semua warga harus memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Sebuah dokumen resmi yang membuktikan identitas seseorang.
Warga desa berkerumun di balai desa. Mereka antre untuk difoto dan didata. Joko ikut bersama ayahnya.
"Nama lengkap?" tanya petugas.
"Wahyono bin Karto," jawab Wahyono.
"Tempat, tanggal lahir?"
"Blitar, 12 Agustus 1920."
"Pekerjaan?"
"Petani."
Petugas itu menulis dengan rapi di formulir. Lalu giliran Joko.
"Nama?"
"Joko Prasetyo bin Wahyono."
"Tempat, tanggal lahir?"
"Blitar, 17 Agustus 1950."
Petugas itu mengangkat alis. "Tanggal 17 Agustus? Hari kemerdekaan?"
"Iya, Pak," jawab Wahyono bangga. "Anak saya lahir pas hari proklamasi. Tanggal merah."
"Wah, berarti anak istimewa. Lahir di hari kemerdekaan. Semoga jadi pejuang juga, ya, Nak."
Joko tersenyum. Ia tidak menyangka tanggal lahirnya istimewa. 17 Agustus, hari di mana Indonesia merdeka.
Setelah selesai didata, mereka difoto dengan kamera besar yang ditutupi kain hitam. Joko deg-degan. Ini pertama kalinya ia difoto.
Selesai, mereka pulang dengan membawa sewawan kertas, tanda jadi bahwa data mereka sudah tercatat. KTP-nya akan jadi beberapa minggu lagi.
"Yah, aku lahir di hari kemerdekaan?" tanya Joko di perjalanan pulang.
"Iya, Nak. 17 Agustus 1950. Tepat lima tahun setelah Indonesia merdeka."
"Berarti aku anak kemerdekaan?"
"Bisa dibilang begitu. Kau lahir di zaman merdeka, tidak seperti ayah yang lahir di zaman penjajahan. Kau harus bersyukur."
"Aku bersyukur, Yah. Tapi apa hubungannya dengan hari kemerdekaan?"
Wahyono berpikir sejenak. "Mungkin ini pertanda, Nak. Bahwa kau harus memperjuangkan kemerdekaan juga. Bukan kemerdekaan dari penjajah, tapi kemerdekaan dari kebodohan, kemerdekaan dari kemiskinan, kemerdekaan dari keterbelakangan. Itu perjuangan yang tidak kalah berat."
Joko merenung. Ia mengerti apa yang dimaksud ayahnya. Kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat bisa hidup layak, bisa sekolah, bisa berobat, bisa bekerja dengan baik.
"Yah, aku akan perjuangkan itu."
"Ayah percaya, Nak."
Malam itu, Joko menulis di buku catatannya. Buku bekas pemberian Ibu Sumarni. Ia menulis dengan pensil pendeknya.
"17 Agustus 1950. Hari lahirku. Aku lahir di hari kemerdekaan. Mungkin ini takdir. Aku harus memperjuangkan kemerdekaan desaku dari keterbelakangan. Aku harus membangun jembatan, membangun jalan, membangun sekolah. Aku harus jadi pemimpin."
Ia membaca tulisannya berulang-ulang. Lalu menyimpan buku itu di tempat aman, di bawah tumpukan bajunya.
Suatu malam, Wahyono mengajak Joko ke balai desa. Ada rapat warga untuk membahas perbaikan irigasi. Joko awalnya enggan, ia ingin belajar, tapi ayahnya memaksa.
"Ikut, Nak. Kau harus tahu bagaimana rakyat bermusyawarah. Itu pelajaran berharga."
Joko menurut. Mereka berjalan ke balai desa dengan senter minyak. Malam itu gelap, bulan sedang tidak bersinar. Hanya suara jangkrik yang menemani.
Di balai desa, puluhan warga sudah berkumpul. Mereka duduk bersila di lantai semen, membentuk lingkaran. Lampu petromaks menyala terang di tengah, mendesis pelan. Asapnya mengepul, bau minyak tanah menyengat.
Pak Kades duduk di kursi kayu sederhana, memimpin rapat. Di sampingnya, ada sekretaris desa yang siap mencatat.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu," Pak Kades membuka rapat. "Malam ini kita berkumpul untuk membahas perbaikan irigasi. Saluran air di Desa Suka Maju sudah banyak yang rusak. Sawah-sawah kekeringan di musim kemarau. Kita harus perbaiki bersama."
Seorang warga mengangkat tangan. "Pak Kades, bagaimana dengan biayanya? Kita tidak punya uang."
"Biaya akan ditanggung bersama. Pemerintah desa punya dana sedikit. Sisanya kita gotong royong. Tenaga dari kita, material dari kita yang punya."
Warga lain angkat bicara. "Saya punya bambu, Pak. Bisa buat saluran."
"Saya punya batu, Pak. Dari sungai."
"Saya bisa bantu angkut."
Satu per satu warga menawarkan bantuan. Ada yang punya bahan, ada yang punya tenaga. Semangat gotong royong begitu kuat.
Joko memperhatikan dengan seksama. Ia melihat bagaimana Pak Kades memimpin rapat dengan sabar, mendengarkan setiap pendapat, lalu merumuskan kesimpulan. Ia juga melihat bagaimana warga berdiskusi dengan hangat, saling menghargai perbedaan pendapat.
"Ini namanya demokrasi, Nak," bisik Wahyono. "Semua orang punya hak bicara. Keputusan diambil bersama. Itulah cara kita mengelola desa."
"Tapi kalau ada yang tidak setuju, Yah?"
"Dimusyawarahkan lagi. Dicari jalan tengah. Yang penting semua pihak merasa dihargai. Tidak ada yang dipaksakan."
Joko mengangguk. Ia mulai memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal memerintah, tapi juga soal mendengarkan. Bukan hanya soal memberi perintah, tapi juga soal merangkul semua golongan.
Rapat berlangsung hingga larut malam. Akhirnya, mereka mencapai kesepakatan. Perbaikan irigasi akan dimulai minggu depan. Setiap kepala keluarga wajib menyumbang tenaga atau bahan. Mereka yang tidak bisa, boleh menyumbang makanan untuk para pekerja.
"Bagus, bagus," kata Pak Kades puas. "Kita sudah sepakat. Sekarang, mari kita tutup dengan doa."
Seorang modin memimpin doa. Semua warga mengangkat tangan, memohon kelancaran. Suasana khusyuk menyelimuti balai desa yang sederhana itu.
Sepulang rapat, Joko berjalan di samping ayahnya. Pikirannya penuh dengan apa yang baru disaksikan.
"Yah, aku suka rapat tadi."
"Kau suka? Kenapa?"
"Karena semua orang bicara. Semua didengar. Tidak ada yang dimarahi. Pak Kades sabar sekali."
"Karena itu tugas pemimpin, Nak. Sabar, mendengar, merangkul. Kalau pemimpin suka marah-marah, rakyat takut bicara. Akhirnya banyak masalah tidak ketahuan."
"Aku ingin jadi pemimpin seperti Pak Kades."
"Jadilah lebih baik, Nak. Jadilah pemimpin yang lebih sabar, lebih adil, lebih pintar. Belajar dari Pak Kades, tapi juga perbaiki kekurangannya. Setiap orang punya kekurangan."
Joko mengangguk. Ia menyimpan semua pelajaran ini dalam hatinya.
Usia tiga belas tahun, Joko sudah dianggap cukup dewasa untuk membantu orang tua secara lebih serius. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, ia membantu ayahnya di sawah. Mencabut rumput, memberi pupuk, atau sekadar menjaga tanaman dari hama.
Setelah pulang sekolah, ia membantu ibunya di rumah. Menyapu, mencuci piring, memberi makan ayam. Kadang ia juga mencari rumput untuk kambing tetangga dengan upah seadanya.
"Joko, apa tidak capek?" tanya Sri suatu hari.
"Capek, Bu. Tapi ini demi masa depan."
"Kau ini, bicaranya seperti orang dewasa."
"Kata ayah, anak petani harus mandiri. Tidak boleh manja. Kalau manja, nanti susah hidupnya."
Sri tersenyum bangga. Anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan bertanggung jawab.
Suatu hari, ketika sedang membantu ayahnya di sawah, Joko melihat sesuatu yang menarik. Seorang petani menggunakan alat baru, sejenis garu besi yang ditarik sapi. Alat itu membajak sawah dengan cepat, jauh lebih efisien dari cangkul manual.
"Yah, lihat itu. Alatnya canggih."
"Iya, Nak. Itu bajak singkal. Pakai sapi. Petani yang punya sapi bisa lebih cepat mengolah sawah."
"Berapa harga sapinya, Yah?"
"Mahal, Nak. Bisa seharga satu tahun panen. Kita belum punya uang sebanyak itu."
Joko merenung. Ia membayangkan jika keluarganya punya sapi. Ayahnya tidak perlu membajak manual, tidak perlu capek-capek. Sawah bisa digarap lebih cepat, hasil panen bisa lebih banyak.
"Yah, nanti kalau aku sudah besar, aku belikan sapi buat ayah."
Wahyono tertawa. "Nanti dulu, Nak. Sekarang fokus sekolah dulu. Nanti kalau sudah sukses, baru beli sapi. Bukan cuma sapi, traktor juga bisa."
"Traktor? Itu apa, Yah?"
"Mesin pembajak sawah. Pakai bahan bakar. Lebih cepat dari sapi. Tapi lebih mahal. Hanya petani kaya yang punya."
"Di kota ada ya, Yah?"
"Ada. Di desa lain juga ada. Tapi di desa kita belum ada. Mungkin nanti, kalau sudah maju."
Joko membayangkan dirinya mengendarai traktor di sawah. Membajak dengan cepat, selesai dalam hitungan jam. Itu pasti menyenangkan.
Kemandirian Joko juga terlihat dalam hal belajar. Ia tidak pernah minta diajari terus-menerus. Ia lebih suka mencari tahu sendiri. Jika ada pelajaran yang sulit, ia akan membaca buku referensi, bertanya pada kakak kelas, atau mencari informasi dari sumber lain.
"Joko, kenapa tidak minta diajari ayah?" tanya Wahyono suatu hari.
"Percuma, Yah. Ayah kan tidak sekolah tinggi. Mending saya cari sendiri."
Wahyono tersenyum pahit, tapi juga bangga. Anaknya sudah bisa belajar mandiri.
Kemandirian Joko juga terlihat dalam hal ekonomi. Di usia tiga belas tahun, ia sudah punya penghasilan sendiri. Dari hasil mencari belut, mencari kayu bakar, atau membantu tetangga, ia bisa mengumpulkan uang.
Uang itu ia tabung di celengan bambu. Kadang untuk membeli buku, kadang untuk membeli peralatan sekolah, kadang untuk membantu orang tua.
"Bu, ini buat beli beras," katanya suatu hari sambil menyerahkan uang seratus rupiah.
Sri terkejut. "Dapat dari mana, Nak?"
"Dari jual belut. Kemarin dapat banyak. Lupa bilang."
Sri menangis haru. Anaknya yang masih kecil sudah berpikir untuk membantu ekonomi keluarga.
Tahun 1963 juga menjadi tahun penting bagi Joko. Ia lulus dari kelas lima dan naik ke kelas enam. Nilainya selalu bagus, selalu masuk tiga besar. Ibu Sumarni bangga padanya.
"Joko, kamu punya potensi besar. Jangan sia-siakan," pesan Ibu Sumarni di akhir tahun ajaran.
"Iya, Bu. Saya akan terus belajar."
"Tahun depan kamu kelas enam. Setelah lulus, kamu harus lanjut ke SMP. Ibu sudah bicara dengan Pak Kades. Ada beasiswa untuk anak berprestasi. Kamu harus dapat."
Joko mengangguk mantap. Ia tahu ini kesempatan emas. Beasiswa adalah satu-satunya jalan baginya untuk bisa lanjut sekolah. Tanpa beasiswa, ia harus putus sekolah dan membantu orang tua di sawah selamanya.
Malam itu, ia berdoa khusus. "Ya Allah, tolong aku. Beri aku kemudahan dalam ujian. Jadikan aku juara. Agar bisa dapat beasiswa. Agar bisa sekolah tinggi. Agar bisa membangun desa ini. Aamiin."
Di luar, angin malam berdesir. Bintang-bintang bertaburan di langit. Alam seolah ikut mendengarkan doa seorang anak petani yang bermimpi besar.
BAB III
MIMPI SEORANG ANAK DESA
Pagi itu, Joko datang lebih awal ke sekolah. Jam baru menunjukkan pukul setengah enam, matahari belum terbit. Ia ingin membersihkan kelas sebelum teman-temannya datang. Ia mengambil sapu lidi dari sudut ruangan, lalu mulai menyapu.
Ketika sedang asyik menyapu, Ibu Sumarni masuk. Ia kaget melihat Joko.
"Joko, kamu sudah datang? Jam baru enam," sapa Ibu Sumarni heran.
"Iya, Bu. Saya mau bersihkan kelas dulu. Kemarin banyak debu, anginnya kencang."
Ibu Sumarni tersenyum. Anak ini benar-benar istimewa. Di usianya yang baru tiga belas tahun, ia sudah punya inisiatif seperti ini.
"Bagus, Joko. Tapi jangan lupa sarapan."
"Sudah, Bu. Cuma nasi sisa kemarin. Tapi sudah saya goreng, jadi nasi goreng."
Ibu Sumarni menghela napas. Ia tahu keluarga Joko miskin. Tapi anak ini tidak pernah mengeluh, selalu semangat, selalu ceria, tidak pernah malu dengan keadaannya.
"Joko, sini ibu ajak bicara."
Joko mendekat. Ibu Sumarni duduk di bangku kayu yang tidak rata itu, lalu menepuk tempat di sampingnya.
"Joko, ibu lihat kamu anak yang pintar dan rajin. Ibu bangga punya murid seperti kamu."
Joko tersipu. "Terima kasih, Bu. Ibu juga guru yang baik."
"Tapi ibu ingin tanya. Cita-citamu jadi pemimpin desa, betul?"
"Betul, Bu."
"Kenapa bukan jadi guru? Atau dokter? Atau insinyur? Atau pilot?"
Joko berpikir sejenak. Matanya memandang ke luar jendela, ke arah sawah yang mulai terlihat di kejauhan.
"Karena desa saya butuh pemimpin, Bu. Pemimpin yang mau merubah desa ini. Ayah saya bilang, pemimpin yang baik itu seperti Pak Kades. Melayani rakyat, bukan minta dilayani. Saya ingin seperti itu."
Ibu Sumarni terkesan. "Ayahmu bijak sekali. Tapi Joko, jadi pemimpin desa itu tidak mudah. Kamu harus sekolah tinggi, harus punya ilmu banyak. Di desa kita, sekolahnya cuma sampai SD. Kalau mau lanjut, harus ke kampung sebelah. Itu pun jalannya susah."
"Saya tahu, Bu. Tapi saya tidak takut susah. Ayah saya bilang, untuk jadi orang besar, harus berani susah dulu."
"Bagus. Ibu akan bantu kamu semampu ibu. Ibu punya buku-buku bekas dari kota. Dulu ibu sekolah di SPG di kota, dapat banyak buku. Nanti ibu pinjamkan. Kamu boleh baca di rumah."
Mata Joko berbinar. "Bener, Bu? Boleh?"
"Bener. Tapi kamu harus janji, rajin membaca. Dan rajin membantu teman-teman. Jangan pelit ilmu."
"Saya janji, Bu."
Sejak itu, setiap pulang sekolah, Joko selalu singgah ke rumah Ibu Sumarni. Rumah itu sederhana, tapi penuh dengan buku. Ada buku pelajaran, buku cerita, majalah bekas, bahkan koran. Bagi Joko, itu adalah harta karun.
"Bu, ini buku apa?" tanya Joko suatu hari sambil memegang buku tebal dengan sampul bergambar pahlawan.
"Itu buku tentang sejarah, Joko. Tentang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah."
Joko membuka halaman pertama. Matanya langsung terpaku pada gambar-gambar pahlawan. Ada Soekarno dengan peci hitamnya, Hatta dengan kacamata bundar, Diponegoro dengan sorban dan jubah, Pattimura dengan senjata tradisional.
"Mereka ini pahlawan, Bu?"
"Iya. Mereka berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah. Mereka rela berkorban harta, jiwa, raga demi bangsa ini."
"Berarti mereka pemimpin?"
"Betul. Mereka pemimpin bangsa. Mereka berani, cerdas, dan rela berkorban untuk rakyat. Mereka tidak takut mati."
Joko membaca dengan tekun. Ia terpesona oleh kisah-kisah perjuangan itu. Dalam hatinya, ia membayangkan suatu hari nanti, ia juga akan berjuang. Bukan melawan penjajah, tapi melawan kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan.
"Bu, aku boleh pinjam buku ini?"
"Boleh, Joko. Tapi jaga baik-baik. Itu buku kesayangan ibu."
"Iya, Bu. Aku akan menjaganya."
Suatu hari, ketika mampir ke rumah Ibu Sumarni, Joko menemukan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di meja ruang tamu, tergeletak selembar kertas besar berlipat-lipat dengan tulisan-tulisan rapi dan gambar-gambar hitam putih. Itu adalah koran.
"Bu, ini apa?" tanya Joko sambil memegang koran itu dengan hati-hati, seolah memegang benda paling berharga di dunia.
"Itu koran, Joko. Namanya Kompas. Ibu langganan dari kota. Dikirim setiap minggu lewat pos."
"Koran? Untuk apa?"
"Untuk membaca berita. Tentang apa yang terjadi di dunia. Di luar desa kita, di luar kecamatan, di luar kabupaten, bahkan di luar negeri."
Mata Joko berbinar. Ia membuka halaman depan. Di sana terpampang berita tentang presiden Soekarno yang sedang berkunjung ke Jepang. Ada foto hitam putih presiden dengan setelan jas rapi, berdiri di samping pesawat.
"Bu, ini presiden kita?"
"Iya, itu Pak Soekarno. Beliau sedang ke Jepang. Jepang itu negara maju di Asia. Jauh sekali dari sini."
"Jepang? Di mana, Bu?"
Ibu Sumarni mengambil peta dunia yang digantung di dinding ruang tamunya. Peta itu sudah kusam, lipatannya hampir putus, tapi masih bisa dibaca.
"Lihat, ini Indonesia. Ini pulau Jawa. Ini desa kita, kira-kira di sini." Ibu Sumarni menunjuk titik kecil di peta. "Nah, ini Jepang. Jauh sekali, kan?"
Joko tercengang. Ia tidak pernah membayangkan dunia seluas ini. Selama ini, dunianya hanya sebatas desa Suka Maju, sawah-sawah di sekitarnya, sungai yang membelah desa, dan pasar kecamatan yang kadang dikunjungi. Ternyata, di luar sana ada dunia yang begitu luas.
"Bu, apa yang ada di Jepang?"
"Banyak. Gedung-gedung tinggi, kereta api cepat, teknologi canggih. Mereka sudah maju. Kita masih tertinggal."
"Kenapa kita tidak bisa seperti mereka, Bu?"
Ibu Sumarni tersenyum pahit. "Karena kita baru merdeka delapan belas tahun, Joko. Jepang sudah maju sejak lama. Tapi kita bisa mengejar, asal rakyatnya pintar dan mau bekerja keras."
Joko membaca koran itu dengan saksama. Ia tidak mengerti banyak kata, tapi Ibu Sumarni dengan sabar menjelaskan setiap istilah asing. Inflasi, investasi, teknologi, diplomasi, semua kata baru itu masuk ke dalam kamus pribadinya.
"Bu, boleh saya pinjam koran ini kalau sudah selesai Ibu baca?"
"Boleh, Joko. Ibu malah senang kalau ada yang baca. Tapi ingat, koran itu harus dikembalikan. Ibu kumpulkan untuk arsip."
"Arsip? Apa itu?"
"Kumpulan dokumen. Nanti kalau kamu besar, kamu bisa lihat kembali apa yang terjadi di masa lalu. Koran itu catatan sejarah."
Sejak hari itu, setiap minggu Joko selalu mampir ke rumah Ibu Sumarni untuk membaca koran. Ia duduk di pojok ruang tamu, berjam-jam membaca, sesekali bertanya jika ada yang tidak dimengerti. Ibu Sumarni dengan sabar menjawab semua pertanyaannya.
Suatu minggu, koran memberitakan tentang pembangunan waduk besar di Jawa Barat. Joko membaca dengan takjub.
"Bu, waduk itu apa?"
"Bendungan besar, Joko. Untuk menampung air. Kalau musim hujan, air ditampung. Kalau musim kemarau, air dialirkan ke sawah-sawah. Jadi petani bisa tanam sepanjang tahun, tidak tergantung musim."
"Wah, enak sekali. Di desa kita, kalau kemarau panjang, sawah kering. Padi gagal panen. Petani susah."
"Itu karena kita belum punya irigasi yang baik, Joko. Saluran air kita masih sederhana. Tapi suatu hari nanti, pemerintah akan bangun. Semoga."
Joko membayangkan desanya punya waduk. Air melimpah sepanjang tahun. Sawah-sawah hijau terus. Tidak ada lagi paceklik. Tidak ada lagi anak-anak kelaparan seperti yang ia alami beberapa tahun lalu.
"Bu, bagaimana caranya supaya desa kita dapat waduk?"
"Harus diusulkan, Joko. Pak Kades harus membuat proposal ke pemerintah kabupaten, lalu ke provinsi, lalu ke pusat. Tapi itu tidak mudah. Banyak desa lain juga butuh. Harus ada prioritas."
"Berarti kita harus bersaing?"
"Iya, Joko. Itulah hidup. Kita harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Tidak ada yang gratis."
Joko merenung. Ia mulai memahami bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya. Harus ada perjuangan. Harus ada yang memperjuangkan. Dan ia ingin menjadi salah satu dari mereka yang memperjuangkan perubahan.
Koran-koran bekas itu menjadi bacaan favorit Joko. Ia membaca tentang pembangunan di kota-kota besar, tentang kemajuan teknologi, tentang politik dan pemerintahan. Setiap minggu, pengetahuannya bertambah.
Suatu hari, ia membaca berita tentang seorang kepala daerah yang korupsi. Ia tercengang.
"Bu, ini kepala daerah korupsi? Mencuri uang rakyat?"
"Iya, Joko. Itu berita sedih. Pejabat yang seharusnya melayani rakyat, malah mencuri uang rakyat."
"Kenapa bisa begitu, Bu?"
"Karena tidak takut Tuhan, Joko. Karena serakah. Karena lupa diri. Itu sebabnya kamu harus punya iman yang kuat kalau mau jadi pemimpin. Jangan sampai tergoda oleh harta."
"Tapi Bu, jadi pemimpin kan kerjanya berat. Masa gajinya tidak cukup?"
"Gaji pemimpin desa memang kecil, Joko. Tapi itu bukan alasan untuk korupsi. Lebih baik hidup sederhana tapi jujur, daripada kaya tapi korupsi. Neraka itu panas."
Joko mengangguk mantap. "Saya tidak akan korupsi, Bu. Saya janji."
"Semoga kamu tetap istiqomah, Joko. Jangan sampai kekuasaan melupakanmu pada janji ini."
Kata-kata Ibu Sumarni terpatri dalam hati Joko. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menjadi kepala desa, ia selalu ingat percakapan ini. Ia selalu ingat janjinya untuk tidak korupsi. Dan ia menepatinya, sampai akhir hayat.
Di desa Suka Maju, ada seorang petani tua yang sangat dihormati. Namanya Mbah Karto. Usianya sudah tujuh puluh tiga tahun, lahir tahun 1890, tapi ia masih kuat bekerja di sawah. Pengalamannya tentang pertanian tidak tertandingi. Ia tahu kapan waktu tepat menanam, kapan waktu memupuk, kapan waktu memanen. Ia juga tahu tanda-tanda alam—kalau burung tertentu bersuara, akan turun hujan; kalau langit merah di sore hari, besok panas terik.
Joko sering mendatangi Mbah Karto. Ia ingin belajar banyak dari petani tua itu.
"Mbah, kok padi Mbah bisa lebih hijau dari punya ayah?" tanya Joko suatu hari ketika melihat sawah Mbah Karto yang tampak lebih subur.
Mbah Karto tersenyum memperlihatkan giginya yang tinggal setengah. "Rahasia, Nak. Mau tahu?"
"Mau, Mbah!"
"Pupuknya beda. Mbah pakai pupuk kandang, bukan pupuk kimia. Pupuk kandang lebih lambat, tapi lebih baik untuk tanah. Tanah jadi gembur, tidak keras."
"Pupuk kandang? Kotoran hewan?"
"Iya. Kotoran kerbau, sapi, kambing. Difermentasi dulu, lalu disebar ke sawah. Hasilnya, tanah subur alami."
"Kenapa ayah tidak pakai pupuk kandang?"
"Karena ayahmu tidak punya ternak, Nak. Pupuk kandang harus punya ternak dulu. Atau beli dari tetangga yang punya ternak."
Joko mengangguk. "Berarti kalau kita punya ternak, kita bisa hemat pupuk?"
"Bisa. Dan ternak juga bisa dijual kalau butuh uang. Petani yang cerdas, tidak hanya mengandalkan sawah. Harus punya usaha sampingan. Ternak, kolam ikan, atau dagang."
Joko menyimpan nasihat itu. Suatu hari, ia akan punya ternak. Kambing atau sapi. Ia akan belajar beternak dari Mbah Karto.
Minggu berikutnya, Joko datang lagi. Kali ia ingin belajar tentang irigasi.
"Mbah, bagaimana cara mengairi sawah dengan baik?"
Mbah Karto membawanya ke saluran irigasi kecil di dekat sawahnya. Air mengalir perlahan, jernih.
"Lihat, Nak. Air harus diatur. Jangan terlalu banyak, jangan terlalu sedikit. Kalau terlalu banyak, padi bisa busuk. Kalau terlalu sedikit, padi kering. Harus pas."
"Bagaimana cara mengaturnya?"
"Pakai pintu air sederhana. Dari papan atau bambu. Bisa dibuka sedikit atau banyak, sesuai kebutuhan. Tapi itu hanya untuk irigasi sederhana. Kalau mau lebih baik, perlu irigasi teknis dari pemerintah."
"Desa kita belum punya irigasi teknis, Mbah?"
"Belum, Nak. Masih tradisional. Tergantung hujan dan sungai. Makanya kalau kemarau panjang, susah."
Joko merenung. Ia teringat koran yang dibacanya tentang waduk dan irigasi teknis. Suatu hari nanti, ia ingin desanya punya itu.
"Mbah, apa susah jadi petani?"
Mbah Karto tertawa. "Susah? Sangat susah, Nak. Tapi mulia. Petani memberi makan orang banyak. Tanpa petani, kalian tidak akan makan nasi."
"Tapi kenapa petani miskin, Mbah?"
Mbah Karto terdiam. Pertanyaan itu sulit dijawab. Ia menghela napas panjang.
"Karena sistem, Nak. Petani hanya penghasil, bukan penentu harga. Yang menentukan harga adalah tengkulak, pedagang besar, pemerintah. Petani hanya menerima. Kalau harga naik, mereka senang. Kalau turun, mereka gigit jari."
"Tapi kenapa tidak melawan, Mbah?"
"Melawan? Dengan apa? Petani tidak punya modal, tidak punya organisasi kuat. Mereka kerja sendiri-sendiri, tidak bersatu. Makanya gampang dipecah belah."
Joko terdiam. Ia membayangkan jika petani bersatu. Membentuk koperasi, menjual hasil bersama, menentukan harga sendiri. Pasti hidup mereka lebih baik.
"Mbah, nanti kalau saya besar, saya ingin petani bersatu. Ingin punya koperasi. Ingin harga gabah ditentukan petani sendiri, bukan tengkulak."
Mbah Karto memandang Joko dengan takjub. Anak kecil ini berpikir jauh ke depan. Ia mengusap kepala Joko.
"Nak, kamu istimewa. Punya mimpi besar. Tapi ingat, jalan ke sana panjang dan berat. Banyak yang akan menghalangi. Tapi jangan menyerah. Mbah dulu juga punya mimpi seperti itu. Tapi Mbah sudah tua, tidak sempat mewujudkannya. Mungkin kamu yang akan mewujudkannya."
Joko terharu. "Mbah, saya akan berusaha. Doakan saya."
"Tentu, Nak. Mbah selalu mendoakan generasi muda seperti kamu."
Tidak semua perjalanan Joko mulus. Di sekolah, ia sering mendapat ejekan dari teman-temannya, terutama dari anak-anak yang lebih mampu.
"Joko, baju kamu sobek!" ledek seorang anak, Rudi namanya, anak saudagar kaya di desa, lahir tahun 1950.
Joko menunduk. Bajunya memang sudah usang. Ada sobek kecil di bagian siku, hasil jahitan ibunya mulai longgar.
"Joko anak miskin! Joko anak miskin!" teriak yang lain.
Joko mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia memukul mereka. Tapi ia ingat pesan ayahnya: jangan mudah marah, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan.
Ia berjalan menjauh, memilih duduk di bawah pohon mangga sendirian. Air matanya menetes, meski ia berusaha menahannya.
Budi, sahabatnya, datang mendekat.
"Jok, jangan didengar omongan mereka. Mereka itu sombong."
"Aku tahu, Bud. Tapi sakit juga. Kenapa mereka ejek aku?"
"Karena mereka iri. Kamu lebih pintar dari mereka. Nilaimu selalu bagus. Mereka tidak terima."
"Aku tidak pernah sombong, Bud. Aku selalu bantu mereka kalau kesulitan."
"Itu masalahnya. Mereka tidak suka kamu baik hati. Mereka ingin kamu marah, ingin kamu balas. Tapi kamu tidak pernah. Itu yang membuat mereka semakin kesal."
Joko tersenyum. Budi selalu bisa menghiburnya.
"Makasih, Bud. Kamu sahabat terbaik."
"Kita sahabat, Jok. Sampai kapanpun."
Ejekan itu tidak berhenti. Bahkan semakin menjadi. Suatu hari, Rudi dan kawan-kawannya menyembunyikan sepatu Joko. Joko kebingungan mencari, sementara bel masuk sudah berbunyi.
"Joko, kenapa belum masuk?" tegur Ibu Sumarni.
"Sepatu saya hilang, Bu."
Ibu Sumarni melihat ke arah Rudi yang menyeringai. Ia sudah tahu siapa pelakunya.
"Rudi, kembalikan sepatu Joko."
"Saya tidak tahu, Bu. Mungkin sepatunya lari sendiri." Rudi dan teman-temannya tertawa.
Ibu Sumarni marah. "Rudi, jangan main-main. Ini sekolah, bukan pasar. Kalau tidak segera kembalikan, Ibu panggil orang tuamu."
Rudi ketakutan. Ia segera mengeluarkan sepatu Joko dari balik semak-semak.
"Ini, Bu. Cuma bercanda."
"Bercanda yang tidak lucu. Minta maaf pada Joko."
Rudi dengan ogah-ogahan minta maaf. "Maaf, Jok."
Joko menerima sepatunya. "Iya, nggak apa-apa."
Tapi di dalam hatinya, ia sakit. Bukan karena sepatunya disembunyikan, tapi karena perlakuan tidak adil yang diterimanya.
Sepulang sekolah, Joko menangis di rumah. Sri kaget melihat anaknya menangis.
"Joko, kenapa? Sakit?"
Joko menceritakan semuanya. Sri memeluknya erat.
"Nak, di dunia ini akan selalu ada orang yang tidak suka padamu. Bisa karena iri, bisa karena beda. Tapi jangan biarkan mereka mengubahmu jadi orang jahat. Tetaplah baik, tetaplah rendah hati. Tuhan melihat semuanya."
"Tapi Bu, sakit."
"Iya, Nak. Sakit itu wajar. Tapi jangan berlarut. Bangkit lagi. Buktikan bahwa kamu lebih baik dari mereka. Caranya, dengan tetap berprestasi. Dengan tetap membantu sesama. Mereka akan malu sendiri."
Joko mengangguk. Ia bangkit, mengusap air matanya.
"Iya, Bu. Aku akan buktikan."
Esok harinya, ketika ulangan matematika, Joko mendapat nilai seratus. Rudi mendapat nilai tiga puluh. Ibu Sumarni mengumumkan nilai di depan kelas.
"Selamat untuk Joko, nilai seratus. Pertahankan."
Semua bertepuk tangan, termasuk Rudi dengan wajah masam. Joko tersenyum. Ia tidak perlu membalas ejekan dengan ejekan. Cukup dengan prestasi, ia sudah membungkam mereka.
Malam itu, Joko terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi aneh. Dalam mimpinya, ia melihat desa Suka Maju berubah total. Jalan-jalan beraspal mulus. Rumah-rumah warga sudah tembok, bukan bambu. Sawah-sawah diairi irigasi modern. Anak-anak sekolah berseragam rapi, naik sepeda atau diantar orang tua dengan motor.
Ia melihat dirinya sendiri, sudah dewasa, berdiri di balai desa yang megah. Memakai kemeja putih dan celana hitam. Di dadanya, tersemat tanda jabatan kepala desa. Warga-warga tersenyum padanya, memberi hormat.
"Pak Kades, terima kasih sudah membangun desa ini," kata seorang warga.
Joko tersenyum. "Sama-sama. Ini berkat kerja sama kita semua."
Ia terbangun. Keringat dingin membasahi dahinya. Mimpi itu begitu nyata. Ia bisa merasakan kebahagiaan dalam mimpinya.
"Ya Allah, apakah itu pertanda?" bisiknya.
Ia bangkit dari tikar. Berjalan ke luar rumah. Bulan sedang tidak bersinar, langit gelap tanpa bintang. Mungkin akan turun hujan.
Joko duduk di beranda. Pikirannya melayang ke masa depan. Ia membayangkan dirinya dua puluh tahun lagi, usia tiga puluh tiga. Mungkin sudah menikah, mungkin sudah punya anak. Mungkin sudah jadi kepala desa, atau mungkin jadi guru seperti Ibu Sumarni.
"Apakah mimpiku akan terwujud?"
Ia ingat kata-kata ayahnya: "Mimpi itu penting, Nak. Tapi tanpa kerja keras, mimpi hanya angan-angan."
Ia ingat kata-kata Ibu Sumarni: "Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah."
Ia ingat kata-kata Pak Kades: "Jadi pemimpin itu berat, tapi mulia."
Ia ingat kata-kata Mbah Karto: "Petani harus bersatu, baru bisa sejahtera."
Semua kata-kata itu berputar di kepalanya. Memberinya semangat. Memberinya keyakinan.
"Ya Allah, tolong aku. Aku hanya anak petani miskin. Tapi aku punya mimpi besar. Beri aku kekuatan, beri aku jalan. Aku ingin membangun desa ini. Aku ingin membuat orang tuaku bangga. Aku ingin membalas kebaikan semua orang yang telah membantuku."
Doanya panjang, khusyuk. Hingga suara azan Subuh terdengar dari masjid. Ia segera bangkit, mengambil air wudhu, lalu bergegas ke masjid.
Usai shalat Subuh, Joko duduk di serambi masjid bersama para jamaah lain. Pak Kades ada di sana, juga Mbah Karto, juga ayahnya. Mereka mengobrol santai sambil menunggu matahari terbit.
"Joko, semalam saya lihat kamu duduk di beranda sendirian. Tidak tidur?" tanya Pak Kades.
Joko tersipu. "Saya mimpi, Pak. Lalu tidak bisa tidur."
"Mimpi apa?"
Joko menceritakan mimpinya. Semua yang hadir terkesima. Mereka tidak menyangka anak sekecil Joko punya mimpi sebesar itu.
"Wah, Joko, mimpi indah," kata Pak Kades. "Semoga jadi kenyataan."
"Aamiin," jawab Joko.
Mbah Karto mengelus kepala Joko. "Nak, kalau mimpimu itu jadi kenyataan, Mbah mungkin sudah tidak ada. Tapi Mbah senang, generasi muda seperti kamu ada."
"Jangan bicara begitu, Mbah. Mbah masih kuat. Nanti Mbah lihat desa ini maju."
Mbah Karto tertawa. "Mudah-mudahan, Nak. Mudah-mudahan."
Wahyono hanya tersenyum. Dalam hati, ia bangga pada anaknya. Tapi ia juga khawatir. Jangan-jangan mimpinya terlalu besar, terlalu tinggi. Nanti kalau gagal, bisa hancur. Tapi ia tidak berkata apa-apa. Biarlah anaknya bermimpi. Mimpi itu gratis. Yang penting, ia tetap membimbingnya.
Pagi itu, dalam perjalanan pulang dari masjid, Joko bertanya pada ayahnya.
"Yah, apa kita miskin?"
Wahyono tertegun. Pertanyaan itu tiba-tiba dan berat.
"Kenapa tanya begitu, Nak?"
"Teman-teman bilang kita miskin. Mereka ejek aku. Tapi aku tidak merasa miskin. Aku punya ayah, ibu, sekolah, teman. Apa itu miskin?"
Wahyono berpikir sejenak. "Miskin itu relatif, Nak. Secara materi, kita memang kurang. Tapi secara rohani, kita kaya. Kita punya iman, punya keluarga yang harmonis, punya semangat hidup. Itu lebih berharga dari harta."
"Tapi kenapa orang menilai miskin dari harta?"
"Karena kebanyakan orang hanya melihat yang kasat mata. Mereka tidak bisa melihat yang gaib. Tapi Tuhan melihat segalanya. Di mata Tuhan, orang kaya yang sombong lebih miskin dari orang miskin yang bersyukur."
Joko mengangguk. "Jadi aku tidak usah sedih kalau diejek miskin?"
"Tidak usah, Nak. Anggap saja angin lalu. Yang penting, kamu tetap semangat sekolah. Nanti kalau sudah sukses, kamu bisa bantu orang miskin lainnya. Itu lebih berarti."
"Seperti Pak Karto?"
"Betul. Pak Karto kaya, tapi rendah hati. Suka menolong. Itulah contoh orang kaya yang baik."
Mereka tiba di rumah. Sri sudah menyiapkan sarapan, nasi sisa semalam dengan sayur bening dan sambal. Sederhana, tapi penuh cinta.
"Joko, makan dulu. Nanti sekolah," kata Sri.
Joko makan dengan lahap. Ia tidak pernah mengeluh soal makanan. Apapun yang disediakan ibunya, ia terima dengan syukur.
Suatu hari, ketika sedang bermain di lapangan desa, Joko bertemu dengan Rudi dan teman-temannya. Rudi yang masih kesal karena kalah saing dalam ulangan, kembali meledek.
"Hei, Joko anak miskin! Katanya mau jadi kepala desa? Mimpi kali, ye!"
Teman-teman Rudi tertawa. Joko diam, mencoba mengabaikan.
"Kepala desa itu harus kaya, harus punya banyak uang! Kamu punya apa? Cuma baju sobek dan sepatu bolong!" Rudi melanjutkan ejekannya.
Joko masih diam. Tapi hatinya perih.
Budi yang ada di sampingnya, tidak bisa diam. "Rudi, jangan keterlaluan! Joko tidak ganggu kamu!"
"Diam kau, anak penjual sayur! Sama-sama miskin!"
Budi marah. Ia maju hendak memukul Rudi, tapi Joko menahannya.
"Bud, jangan. Biar saja."
"Tapi Jok, mereka..."
"Biar saja, Bud. Ayo kita pergi."
Mereka pergi meninggalkan Rudi dan kawan-kawannya yang masih tertawa. Joko berjalan cepat, menahan air mata.
Di bawah pohon randu di pinggir sungai, Joko akhirnya menangis. Budi duduk di sampingnya, ikut sedih.
"Jok, maafin aku. Tidak bisa bantu."
"Kamu sudah bantu, Bud. Dengan menemaniku."
"Tapi kenapa mereka jahat begitu?"
"Karena mereka tidak tahu, Bud. Mereka tidak tahu perjuanganku. Mereka tidak tahu mimpiku. Mereka hanya melihat dari luar."
Joko memandangi sungai yang mengalir. Airnya tenang, tidak peduli pada ejekan manusia.
"Bud, aku tidak akan berhenti bermimpi. Biar mereka tertawa. Biar mereka ejek. Aku akan buktikan suatu hari nanti."
"Aku percaya, Jok. Aku yakin kamu bisa."
Mereka duduk di sana hingga sore. Membicarakan masa depan, mimpi-mimpi, dan persahabatan.
Malamnya, Joko menulis di buku catatannya.
"Hari ini aku diejek lagi. Rudi bilang mimpiku tidak mungkin jadi kenyataan karena aku miskin. Tapi aku tidak percaya. Aku akan buktikan bahwa anak miskin juga bisa jadi pemimpin. Aku akan sekolah tinggi, aku akan kerja keras, aku akan bantu desa ini. Tuhan, tolong aku."
Ia membaca tulisannya berulang-ulang. Lalu menyimpannya di tempat aman.
Keesokan harinya, Ibu Sumarni memanggil Joko setelah pulang sekolah.
"Joko, ibu dengar kamu diejek Rudi kemarin."
Joko menunduk. "Iya, Bu. Tapi tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa? Kamu pasti sedih."
Joko diam. Ibu Sumarni mendekat.
"Dengar, Joko. Orang-orang seperti Rudi itu tidak akan pernah bisa menghargai mimpi orang lain karena mereka sendiri tidak punya mimpi. Mereka hanya bisa mengejek. Tapi ingat, orang besar sering diejek sebelum mereka terbukti besar. Nabi Muhammad juga diejek sebelum jadi rasul. Soekarno juga diejek sebelum jadi presiden."
Joko mendongak. "Bener, Bu?"
"Bener. Ejekan itu bumbu perjuangan. Semakin banyak yang mengejek, semakin besar kemungkinan kamu akan sukses. Asal kamu tidak menyerah."
"Ibu pernah diejek?"
Ibu Sumarni tersenyum. "Sering. Waktu ibu mau jadi guru, banyak yang bilang, 'Ngajar di desa terpencil, gaji kecil, susah'. Tapi ibu jalani saja. Sekarang ibu bahagia, bisa mengajar anak-anak seperti kamu."
"Bu, makasih ya sudah mengajar saya."
"Ibu juga makasih, Joko. Kamu murid yang membuat ibu bangga. Teruslah bermimpi. Ibu akan selalu mendukungmu."
Joko tersenyum. Dukungan dari Ibu Sumarni seperti air di padang pasir. Menyejukkan, menyegarkan.
Sepulang dari rumah Ibu Sumarni, Joko mampir ke rumah Pak Kades. Ia ingin menceritakan apa yang dialaminya.
Pak Kades mendengarkan dengan sabar. Setelah Joko selesai bercerita, ia berkata,
"Joko, dulu bapak juga sering diejek waktu kecil. Waktu bapak bilang mau jadi kades, banyak yang ketawa. 'Kamu anak petani, mau jadi kades? Mimpi!' Tapi bapak buktikan."
"Gimana caranya, Pak?"
"Dengan tidak peduli pada ejekan. Fokus pada tujuan. Setiap kali ada yang mengejek, bapak jadikan cambuk untuk lebih giat belajar. Bapak ingin buktikan bahwa mereka salah."
"Terus sekarang, Pak?"
Pak Kades tersenyum. "Sekarang mereka diam. Bahkan yang dulu mengejek, sekarang minta tolong. Itulah hidup. Orang akan menghormatimu kalau kamu berhasil. Jangan harap dihormati sebelum berhasil."
Joko mengangguk. "Pak, saya akan buktikan. Saya akan jadi kepala desa suatu hari nanti."
"Saya tunggu, Joko. Ingat, perjalanan masih panjang. Nikmati setiap langkahnya. Jangan terburu-buru. Yang penting konsisten."
Malam adalah waktu favorit Joko. Setelah shalat Isya, ia duduk di ruang tengah dengan lampu minyak di sampingnya. Nyala api kecil, hanya sebesar ibu jari, tapi cukup untuk membaca. Ia membuka buku-buku pinjaman dari Ibu Sumarni, Pak Kades, dan Pak Mansur, pedagang buku bekas di pasar yang pernah ditemuinya.
Matanya kadang perih karena terlalu dekat dengan lampu. Tangannya kadang kram karena terus menulis. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus membaca, terus menulis, terus belajar.
Suatu malam, Sri terbangun dan melihat lampu masih menyala. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Ia keluar dan melihat Joko masih belajar.
"Joko, tidur! Jam sebelas!"
"Sebentar, Bu. Tinggal sedikit."
"Sedikit terus. Nanti pagi kamu ngantuk di sekolah."
"Iya, Bu. Ini terakhir."
Sri menghela napas. Ia tidak tega melarang anaknya belajar. Tapi ia juga khawatir kesehatannya.
"Ya sudah. Tapi jangan terlalu malam. Ibu khawatir."
"Iya, Bu. Makasih."
Joko terus belajar hingga pukul setengah dua belas. Matanya sudah sangat berat. Ia memejamkan buku, lalu merebahkan diri di tikar. Tanpa sempat mengganti baju, ia langsung tertidur.
Esok harinya, ia bangun kesiangan. Matahari sudah naik. Ia terlambat ke sawah.
"Yah, maaf, aku bangun kesiangan."
Wahyono yang sudah dari subuh di sawah, tersenyum. "Tidak apa-apa, Nak. Ayah tahu kamu belajar sampai malam. Istirahat dulu, nanti baru ke sawah."
"Tapi Yah, pekerjaan banyak."
"Ayah bisa sendiri. Kau istirahat."
Joko memaksa ikut. Ia tidak enak hati melihat ayahnya bekerja sendirian. Mereka pergi ke sawah bersama, meski Joko masih mengantuk.
Sepanjang hari itu, Joko bekerja dengan setengah hati. Tubuhnya lelah, matanya berat. Beberapa kali hampir tertidur di pematang sawah.
"Joko, pulang saja. Istirahat," paksa Wahyono.
"Aku tidak apa-apa, Yah."
"Kamu capek. Pulang. Nanti sore baru ke sawah lagi."
Joko menurut. Ia pulang, mandi, lalu tidur. Tidur yang lelap hingga siang.
Ibu Sumarni mendengar kabar bahwa Joko hampir pingsan di sawah karena kelelahan. Ia datang ke rumah Joko sore harinya.
"Joko, ibu dengar kamu kecapekan."
Joko tersipu. "Iya, Bu. Maaf."
"Jangan maaf-maaf. Ibu hanya khawatir. Kamu harus jaga kesehatan. Belajar boleh, tapi jangan lupa istirahat. Tubuh juga perlu dijaga. Kalau kamu sakit, bagaimana mau belajar?"
"Iya, Bu. Saya akan atur waktu."
"Bagus. Kalau perlu, buat jadwal. Kapan belajar, kapan istirahat, kapan bantu orang tua. Semua harus seimbang. Jangan keterlaluan."
Joko mengangguk. Sejak saat itu, ia mulai mengatur jadwal. Belajar maksimal sampai jam sembilan malam. Setelah itu, tidur. Pagi, bangun subuh, shalat, lalu ke sawah. Siang sekolah. Sore bantu ibu. Malam belajar. Teratur, disiplin.
Sekolah mengadakan lomba dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan. Ada lomba baca puisi, lomba pidato, lomba cerdas cermat, dan lomba olahraga. Ibu Sumarni mendaftarkan Joko untuk lomba baca puisi.
"Joko, kamu ikut lomba baca puisi ya," kata Ibu Sumarni suatu hari.
Joko kaget. "Lomba baca puisi, Bu? Saya tidak bisa."
"Kamu bisa. Ibu lihat kamu suka membaca. Suaramu juga bagus. Coba saja."
"Tapi Bu, saya grogi kalau tampil di depan banyak orang."
"Itu biasa. Semua orang grogi. Tapi dengan latihan, grogi bisa diatasi. Ibu akan latih kamu."
Joko ragu, tapi ia tidak berani menolak Ibu Sumarni. Ia mulai berlatih setiap pulang sekolah. Ibu Sumarni memberinya teks puisi berjudul "Aku" karya Chairil Anwar. Puisi itu keras, penuh semangat, cocok dengan jiwa Joko yang memberontak pada kemiskinan.
"Aku mau begini aku mau begitu. Ingin ini ingin itu. Banyak sedikit. Aku mau begini aku mau begitu. Ingin ini ingin itu. Banyak sedikit." Joko membaca dengan suara bergetar.
"Jangan gemetar, Joko. Berdiri tegak. Suara keras. Hayati kata-katanya. Kau harus merasa jadi penyairnya."
Joko mencoba lagi. Kali ini lebih baik. Suaranya mulai mantap. Matanya berbinar.
"Bagus! Terus latihan."
Hari lomba tiba. Joko berdiri di belakang panggung, jantungnya berdegup kencang. Ia melihat peserta lain—anak-anak dari desa tetangga, berpakaian bagus, percaya diri. Ia memandang bajunya yang sudah usang. Rasa minder mulai datang.
"Joko, jangan takut," bisik Ibu Sumarni di sampingnya. "Kamu sudah latihan keras. Lakukan yang terbaik. Anggap saja penonton itu padi di sawah."
Joko tersenyum. Ia ingat nasihat Ibu Sumarni. Anggap penonton itu padi. Padi tidak akan mengejek.
Gilirannya tiba. Ia naik ke panggung dengan langkah mantap. Berdiri di depan mikrofon. Memandang penonton yang memenuhi halaman sekolah. Ratusan pasang mata menatapnya. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Assalamu'alaikum wr wb. Salam sejahtera untuk kita semua. Saya akan membacakan puisi berjudul 'Aku' karya Chairil Anwar."
Ia mulai membaca. Suaranya lantang, jelas. Kata demi kata ia lontarkan dengan penuh penghayatan. Tangannya bergerak mengikuti irama puisi. Matanya menyala-nyala.
"Kalau sampai waktuku, 'ku mau tak seorang kan merayu, Tidak juga kau..."
Ia membaca dengan penuh semangat. Penonton terpukau. Mereka tidak menyangka anak desa biasa bisa tampil sebagus itu.
Selesai membaca, Joko menunduk. Tepuk tangan meriah menggema. Ia tersenyum. Lega. Bahagia.
Pengumuman pemenang dilakukan sore harinya. Joko duduk tegang di antara peserta lain. Namanya disebut sebagai juara kedua. Ia tidak menyangka. Ia hanya ingin tampil baik, tidak menyangka menang.
"Selamat, Joko!" Ibu Sumarni memeluknya. "Kamu hebat!"
Joko tersenyum bahagia. Piala kecil dan uang pembinaan sepuluh ribu rupiah ia terima dengan haru. Uang itu akan ia berikan pada ibunya. Piala itu akan ia simpan sebagai kenangan.
Sepulang sekolah, ia berlari ke rumah. Menunjukkan piala dan uang pada orang tuanya.
"Bu! Yah! Aku juara!"
Wahyono dan Sri terharu. Mereka memeluk Joko bergantian.
"Anak hebat! Anak pintar!" puji Wahyono.
Sri menangis. Ia memandangi piala itu, lalu memandangi Joko. "Nak, ibu bangga sekali."
Malam itu, mereka makan malam dengan lauk istimewa, ayam goreng. Uang dari Joko dibelikan ayam oleh ibunya. Mereka makan dengan bahagia.
Sebuah radio tua tiba-tiba muncul di rumah Pak Kades. Itu adalah radio tabung, besar, dengan knop-kenop yang berkilau. Suaranya kadang berisik, kadang hilang, tapi bisa menangkap siaran dari mana-mana.
Joko terpesona pertama kali melihat radio itu. Ia mendekat, memandangi kotak ajaib yang bisa mengeluarkan suara manusia.
"Pak, ini bisa ngeluarin suara dari mana?" tanyanya takjub.
"Ini radio, Joko. Menangkap gelombang dari stasiun radio. Ada di Jakarta, Surabaya, bahkan luar negeri kalau malam."
"Luar negeri? Bisa?"
"Coba dengar." Pak Kades memutar knop. Suara berisik, lalu terdengar suara bahasa asing. "Ini siaran dari Australia. Bahasa Inggris."
Joko tercengang. Ia tidak mengerti bahasa Inggris, tapi ia kagum. Dari desa terpencil ini, ia bisa mendengar suara dari negeri seberang.
Setiap malam minggu, Joko diizinkan Pak Kades datang untuk mendengarkan radio. Ia mendengar berita-berita nasional, pidato-pidato pejabat, bahkan drama radio dan musik keroncong.
Suatu malam, radio menyiarkan pidato presiden. Joko mendengarkan dengan saksama. Presiden Soekarno berbicara tentang pembangunan, tentang pemerataan, tentang kesejahteraan rakyat.
"Pak, apa benar pemerintah mau bangun desa-desa?" tanya Joko setelah pidato selesai.
"Iya, Joko. Ada program pembangunan. Tapi desa kita belum masuk. Mungkin nanti."
"Kenapa belum masuk?"
"Karena banyak desa lain yang lebih parah. Mereka didahulukan. Tapi suatu hari, pasti giliran kita."
Joko menghela napas. Ia berharap giliran desanya segera tiba.
Dari radio, Joko belajar banyak hal. Ia tahu bahwa di luar sana ada dunia yang bergerak cepat. Ada teknologi baru, ada pembangunan di mana-mana. Sementara desanya masih stagnan, jalan masih becek, sekolah masih bocor.
"Kenapa kita tidak bisa seperti mereka?" tanyanya pada Pak Kades suatu hari.
"Kita bisa, Joko. Tapi butuh waktu. Butuh perjuangan. Dan butuh pemimpin yang mau berjuang untuk desanya."
"Aku akan jadi pemimpin itu, Pak."
Pak Kades tersenyum. "Aku tahu, Joko. Aku tahu."
Selain radio, buku-buku tetap menjadi jendela dunia utama bagi Joko. Melalui buku, ia mengenal tokoh-tokoh besar: Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, RA Kartini. Ia membaca biografi mereka, belajar dari perjuangan mereka.
Dari buku, ia juga belajar tentang geografi, tentang negara-negara lain. Amerika dengan patung liberty-nya. Jepang dengan teknologi canggihnya. Eropa dengan sejarah panjangnya. Ia membayangkan dirinya pergi ke tempat-tempat itu suatu hari nanti. Bukan untuk wisata, tapi untuk belajar. Lalu pulang, membangun desanya.
"Suatu hari nanti," bisiknya pada buku. "Suatu hari nanti."
Ini tahun terakhirnya di sekolah dasar. Setelah lulus, ia harus memilih: lanjut SMP atau berhenti.
Pilihan itu berat. Secara ekonomi, keluarganya tidak mampu membiayai SMP. Tapi secara mental, Joko tidak siap berhenti sekolah. Ia masih haus ilmu, masih ingin belajar.
Suatu malam, Wahyono memanggilnya.
"Joko, duduk. Ayah mau bicara."
Joko duduk di samping ayahnya. Wajah Wahyono serius.
"Nak, ayah tahu kamu ingin lanjut sekolah. Ayah juga ingin kamu lanjut. Tapi ayah tidak punya uang. Sawah kita hanya sewa. Hasilnya pas-pasan. Ibu juga tidak punya penghasilan tetap."
Joko menunduk. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
"Tapi ayah sudah bicara dengan Pak Kades. Beliau bilang, ada beasiswa untuk anak berprestasi. Syaratnya, kamu harus lulus ujian dengan nilai terbaik. Harus jadi juara umum."
Joko mendongak. Ada harapan.
"Ayah juga sudah bicara dengan Ibu Sumarni. Beliau bersedia memberikan les tambahan gratis untuk kamu. Asal kamu mau belajar keras."
"Aku mau, Yah! Aku mau belajar keras!"
"Tapi ingat, Nak. Ini kesempatan sekali. Kalau gagal, tidak ada kesempatan kedua. Kamu harus benar-benar fokus."
"Aku janji, Yah. Aku tidak akan mengecewakan."
Malam itu, Joko berdoa lebih khusyuk dari biasanya. Ia memohon pada Tuhan, agar diberi kemudahan dalam ujian. Agar bisa lulus dengan nilai terbaik. Agar bisa meraih beasiswa.
Bulan-bulan berikutnya, Joko belajar lebih keras dari sebelumnya. Setiap malam, ia belajar hingga larut. Setiap pagi, ia bangun lebih awal untuk mengulang pelajaran. Ibu Sumarni dengan sabar memberinya les tambahan sepulang sekolah.
"Joko, kamu harus kuasai matematika, IPA, dan bahasa Indonesia. Tiga mata pelajaran utama yang diujikan," kata Ibu Sumarni.
"Aku akan coba, Bu."
"Bukan coba, Joko. Tapi harus. Tidak ada kata coba. Hanya ada kata berhasil atau gagal. Dan kamu tidak boleh gagal."
Joko mengangguk mantap. Ia tahu ini saatnya. Perjuangan selama ini akan diuji. Mimpi-mimpinya akan dipertaruhkan.
Ujian akhir SD dilaksanakan pada bulan Mei 1963. Selama tiga hari, Joko mengerjakan soal-soal dengan saksama. Setiap jawaban ia tulis dengan hati-hati. Setiap hitungan ia periksa ulang. Ia tidak ingin ada kesalahan.
Hari terakhir ujian, ia keluar dari ruangan dengan perasaan lega bercampur cemas. Apakah jawabannya benar? Apakah cukup untuk jadi juara?
"Bagaimana, Jok?" tanya Budi.
"Entah, Bud. Semoga cukup."
"Pasti cukup. Kamu kan paling pintar."
Joko tersenyum. Budi selalu memberinya semangat.
Tiga minggu kemudian, pengumuman keluar. Joko bersama ayah dan ibunya pergi ke sekolah untuk melihat pengumuman. Jantungnya berdegup kencang.
Di papan pengumuman, tertulis daftar nama-nama lulusan. Joko mencari namanya. Joko Prasetyo... Joko Prasetyo... Di sana! Nama Joko Prasetyo tercantum di urutan pertama. Nilai: 8,5. Rata-rata tertinggi.
"Yah! Yah! Aku lulus! Aku juara!"
Wahyono memeluk anaknya. Air matanya tumpah. Sri menangis di sampingnya.
"Alhamdulillah, Nak. Alhamdulillah."
Ibu Sumarni yang ada di dekatnya, tersenyum bangga. "Selamat, Joko. Ibu bangga padamu."
Pak Kades yang datang untuk melihat pengumuman, ikut memberi selamat. "Selamat, Joko. Beasiswa untuk SMP sudah pasti. Kau akan sekolah gratis."
Joko menangis haru. Mimpinya mulai menjadi nyata. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
Malam itu, desa Suka Maju bergembira. Warga datang ke rumah Joko membawa ucapan selamat. Ada yang bawa makanan, ada yang bawa doa. Mereka bangga, anak desa mereka jadi juara.
Mbah Karto datang dengan tongkatnya. "Joko, Mbah bangga. Teruskan perjuanganmu. Jangan lupakan desa ini."
"Aku tidak akan lupa, Mbah. Janji."
Pak Mansur, pedagang buku dari pasar, juga datang. Ia membawa setumpuk buku untuk Joko.
"Ini hadiah, Joko. Untuk anak pintar."
Joko menerima buku-buku itu dengan haru. "Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."
Malam itu, Joko tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda, memandangi bintang-bintang.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau tidak pernah meninggalkanku. Engkau selalu memberiku jalan. Aku janji, aku akan terus berjuang. Aku akan sekolah tinggi. Aku akan jadi pemimpin. Aku akan membangun desa ini."
Ia memandang ke arah desa yang tenang. Rumah-rumah gelap, hanya sedikit lampu minyak yang masih menyala. Sawah-sawah terbentang luas, padi mulai menguning.
"Aku akan kembali, desaku. Dengan ilmu yang banyak, dengan mimpi yang nyata. Aku akan membangunmu menjadi lebih baik."
Angin malam berdesir, seolah menjawab doanya. Bintang-bintang berkedip, seolah memberi restu. Dan di rumah sederhana itu, seorang anak petani bermimpi besar. Mimpi yang akan segera menjadi kenyataan.
Sebelum Joko melanjutkan ke SMP di kecamatan, Ibu Sumarni memanggilnya untuk terakhir kalinya.
"Joko, duduklah."
Joko duduk di ruang tamu Ibu Sumarni yang sederhana. Di sekelilingnya, rak-rak buku penuh dengan koleksi.
"Joko, kamu akan pergi ke SMP. Jauh dari desa. Setiap hari harus menyeberang sungai, naik angkutan, jalan kaki. Itu tidak mudah. Tapi ibu yakin kamu bisa."
"Iya, Bu. Saya akan berusaha."
"Selain itu, ibu punya pesan. Di SMP nanti, kamu akan bertemu banyak orang. Dari berbagai latar belakang. Ada yang kaya, ada yang pintar, ada yang sombong, ada yang baik. Jangan terbawa arus. Tetaplah jadi dirimu sendiri. Tetaplah rendah hati."
"Iya, Bu."
"Jangan malu dengan asal-usulmu. Kau anak petani, itu mulia. Kau berjuang sendiri, tanpa bantuan siapa-siapa. Itu kebanggaan. Ceritakan pada teman-temanmu tentang desamu, tentang perjuanganmu. Mereka akan hormat padamu."
"Tapi Bu, kalau mereka ejek?"
"Biarkan. Orang yang mengejek belum tentu lebih baik darimu. Anggap saja ujian. Semakin banyak ejekan, semakin kuat mentalmu."
Joko mengangguk. Ia ingat semua nasihat Ibu Sumarni.
"Bu, terima kasih untuk semuanya. Untuk buku-bukunya, untuk lesnya, untuk nasihatnya. Saya tidak akan lupa."
Ibu Sumarni tersenyum. Air matanya menetes. "Joko, kamu murid kesayangan ibu. Ibu bangga padamu. Teruslah berjuang. Jangan pernah menyerah. Suatu hari nanti, ibu akan lihat kamu jadi pemimpin. Ibu akan lihat desa ini maju karena kamu."
Mereka berpelukan. Seorang guru dan muridnya. Seorang pembimbing dan anak didiknya. Seorang ibu dan anak desa yang bermimpi.
Joko pulang dengan langkah mantap. Di tangannya, ia membawa buku-buku hadiah dari Ibu Sumarni. Di hatinya, ia membawa pesan-pesan berharga. Esok, ia akan memulai babak baru dalam hidupnya. Babak sebagai siswa SMP. Babak sebagai perantau di negerinya sendiri. Babak sebagai pejuang mimpi.
Ia memandang desanya sekali lagi. Desa Suka Maju yang tenang, yang tertinggal oleh waktu. Tapi tidak akan lama lagi. Joko akan mengubahnya. Bersama Tuhan, bersama orang-orang baik, ia akan mewujudkan mimpinya.
"Aku datang, masa depan. Aku siap berjuang."
BAB IV
PERJALANAN MENUJU KESADARAN
Matahari belum terbit ketika Joko sudah berdiri di tepi sungai. Kabut tipis masih menyelimuti permukaan air, membuat sungai tampak misterius. Ia menggenggam senter minyak tembak di tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang tas selempang dari kain bekas yang dijahit ibunya.
Hari ini adalah hari pertama ia akan bersekolah di kampung sebelah. SMP Negeri 2 Kecamatan, namanya. Joko sudah lulus SD dengan nilai terbaik di desanya. Ibu Sumarni menangis haru ketika mengumumkan kelulusannya tiga minggu lalu.
"Joko, kamu juara kelas. Nilai tertinggi se-kecamatan," kata Ibu Sumarni dengan mata berkaca-kaca. "Ibu bangga sekali."
Joko tersenyum. Tapi di hatinya, ada kegelisahan. Ia harus melanjutkan sekolah ke kampung sebelah. Jaraknya cukup jauh, dan harus melewati sungai yang kadang banjir.
"Bu, saya harus sekolah di mana nanti?" tanya Joko setelah upacara kelulusan.
"Di kampung sebelah, Nak. SMP Negeri 2 Kecamatan. Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari sini. Tepatnya di Desa Makmur."
"Tujuh kilometer? Berarti saya harus naik apa?"
"Jalan kaki, Nak. Atau kalau ada yang punya sepeda, bisa naik sepeda."
"Kami tidak punya sepeda, Bu."
Ibu Sumarni menghela napas. "Ibu tahu. Tapi jangan menyerah. Banyak anak desa kita yang sekolah ke sana dengan jalan kaki. Berangkat pagi-pagi, pulang sore. Kamu pasti bisa. Toh kamu sudah biasa jalan kaki."
Joko mengangguk. "Saya akan coba, Bu. Asal ada niat, pasti ada jalan."
Malam harinya, keluarga Joko berkumpul di ruang tamu sederhana. Lampu minyak menyala temaram. Wahyono memanggil Joko untuk bicara serius.
"Nak, bapak mau bicara. Tentang sekolahmu."
"Iya, Yah."
"Bapak dan ibu bangga kamu lulus dengan nilai bagus. Juara kelas, nilai tertinggi se-kecamatan. Itu prestasi luar biasa untuk anak petani miskin seperti kita."
Joko tersenyum malu.
"Tapi bapak harus jujur. Bapak tidak punya uang untuk sekolahmu di kampung sebelah. Uang pendaftaran, uang SPP, beli buku, beli seragam... semua butuh uang. Sementara hasil panen kemarin cuma cukup buat makan sehari-hari."
Joko terdiam. Dadanya sesak. Ia menunduk, menatap lantai bambu.
"Tapi bapak tidak akan menyerah. Bapak sudah bicara dengan Pak Kades kemarin. Beliau bersedia membantu biaya sekolahmu. Asal kamu janji, belajar sungguh-sungguh. Jangan malas."
Joko mendongak. Matanya berkaca-kaca. "Ayah... Pak Kades mau bantu?"
"Iya. Beliau bilang, kamu anak pintar, sayang kalau tidak sekolah. Beliau akan bantu biaya SPP dan beli buku. Yang penting kamu rajin."
Joko menangis. Ia memeluk ayahnya. "Terima kasih, Yah. Terima kasih, Bu. Aku janji, aku akan belajar sungguh-sungguh. Aku tidak akan mengecewakan kalian dan Pak Kades."
Sri ikut menangis. Mereka berpelukan dalam tangis haru. Di tengah kemiskinan, harapan tetap bersemi.
Kini, di tepi sungai itu, Joko mengingat kembali percakapan itu. Ia menguatkan hatinya.
"Joko, siap?" sapa seseorang dari belakang.
Joko menoleh. Budi, sahabatnya, berdiri di sana dengan tas serupa. Ia juga akan sekolah di SMP yang sama.
"Bud? Kamu juga sekolah di sana?" tanya Joko heran.
"Iya. Ortu aku mau nyekolahin. Kata mereka, mending sekolah daripada nganggur di rumah."
"Tapi biayanya mahal, Bud."
"Aku dapat beasiswa dari sekolah. Soalnya nilai ujianku bagus juga. Lumayan, gratis."
"Wah, selamat, Bud!"
Mereka berpelukan. Dua sahabat yang akan memulai petualangan baru bersama.
Pak Darmo, tukang rakit, sudah siap di pinggir sungai. Rakit bambunya telah diperbaiki, tali ijuknya baru.
"Ayo, le. Cepat naik. Nanti kalian terlambat," seru Pak Darmo.
Joko dan Budi naik ke rakit. Mereka duduk di tengah, berpegangan erat. Pak Darmo mengayuh dengan galah bambu.
"Pegangan erat-erat. Airnya agak besar. Jangan main-main."
Rakit bergerak perlahan melawan arus. Di tengah sungai, Joko memandangi air coklat keruh yang mengalir deras. Ikan-ikan kecil kadang melompat.
"Jok, kamu takut?" tanya Budi.
"Sedikit. Tapi sama-sama Bud, jadi tidak terlalu takut."
Mereka tertawa. Rakit terus bergerak hingga tiba di seberang.
Setelah menyeberang, mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang mulai melebar. Matahari mulai terbit di ufuk timur. Udara pagi masih segar.
"Jauh ya, Jok," keluh Budi setelah berjalan setengah jam.
"Iya. Tapi kita harus kuat. Ini demi masa depan."
Mereka terus berjalan. Melewati sawah-sawah hijau, melewati kebun tebu, melewati perkampungan kecil. Sesekali mereka bertemu dengan anak sekolah lain yang juga berjalan kaki.
Setelah satu setengah jam berjalan, mereka tiba di perbatasan Desa Makmur. Di kejauhan, terlihat gedung sekolah yang lebih bagus dari SD mereka dulu.
"Itu sekolahnya, Bud," kata Joko takjub.
Bangunan itu berlantai dua, dinding tembok putih, atap genteng merah. Halamannya luas dengan pohon-pohon rindang. Pagar besi mengelilinginya. Gerbang besar dengan tulisan "SMP Negeri 2 Kecamatan".
"Ini sekolahku," gumam Joko takjub.
SMP Negeri 2 Kecamatan terletak di Desa Makmur, sebuah desa yang jauh lebih maju dari desa Suka Maju. Desa ini memiliki jalan aspal yang mulus, listrik yang menyala di setiap rumah, dan pasar tradisional yang ramai setiap hari. Bahkan ada beberapa toko kelontong yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Joko takjub melihatnya. Ia belum pernah melihat desa semaju ini sebelumnya.
Sepulang sekolah, ia sering berkeliling desa itu bersama Budi. Mereka melihat toko-toko yang menjual berbagai barang, sabun, gula, minyak, bahkan ada yang menjual radio. Mereka melihat rumah-rumah penduduk yang sudah tembok, bukan bambu. Mereka melihat anak-anak bermain sepeda di halaman rumah yang diaspal.
"Di desaku tidak ada yang seperti ini," gumam Joko suatu hari.
"Di desaku juga tidak," timpal Budi.
"Kita harus bisa membuat desa kita seperti ini, Bud."
"Bisa nggak ya, Jok? Butuh uang banyak."
"Pelan-pelan, Bud. Yang penting ada kemauan."
Suatu hari, ketika sedang duduk di kantin sekolah, ia bertemu dengan seorang teman sekelas—Rudi namanya. Rudi adalah anak dari Desa Makmur, rumahnya tidak jauh dari sekolah. Ia lahir tahun 1950, sama dengan Joko.
"Jok, kamu dari desa Suka Maju ya?" tanya Rudi sambil menyeruput es teh manis.
"Iya. Kamu tahu?"
"Tahu. Kata orang, desa kalian terpencil sekali. Jalan becek, listrik belum masuk, sungainya sering banjir."
Joko mengangguk sedih. "Iya, benar. Semua itu benar."
"Berarti kamu setiap hari jalan kaki jauh?"
"Iya. Berangkat jam empat pagi, pulang jam lima sore. Kalau hujan, bisa lebih parah."
Rudi terkesima. "Kok bisa kuat?"
"Terbiasa, Rud. Lagipula, ini demi masa depan. Kata ayahku, untuk jadi orang besar, harus mau susah dulu."
Rudi mengangguk. "Jok, kamu hebat. Aku saja yang tinggal dekat sini kadang malas kalau disuruh jalan ke sekolah. Padahal cuma lima belas menit."
Mereka kemudian berteman akrab. Rudi sering mengajak Joko ke rumahnya. Rumah Rudi cukup besar, dengan listrik, televisi, dan kulkas. Joko takjub melihatnya.
"Ini televisi, Jok. Bisa lihat gambar bergerak," jelas Rudi sambil menyalakan televisi hitam-putih.
Joko memandangi layar itu dengan takjub. Ada orang-orang sedang bernyanyi di layar. Suaranya keluar dari kotak di sampingnya.
"Wah, seperti bioskop ya?"
"Iya, mirip. Tapi ini di rumah. Bisa nonton setiap hari. Ada acara berita, film, hiburan."
Joko memandangi televisi itu dengan takjub. Ia membayangkan, suatu hari nanti, desanya juga punya listrik. Setiap rumah bisa menonton televisi, mendengar radio, dan menikmati terang di malam hari.
"Rud, apa susah pasang listrik?" tanya Joko.
"Kata ayahku, harus daftar ke PLN. Bayar biaya pasang dulu. Terus bayar listrik tiap bulan."
"Berapa biayanya?"
"Wah, aku tidak tahu persis. Yang jelas lumayan mahal. Tapi kalau sudah terpasang, enak. Bisa belajar malam, nonton TV, nyetrika pake setrika listrik."
Joko merenung. Ia sadar bahwa untuk mencapai kemajuan, desanya butuh banyak hal. Listrik, jalan aspal, air bersih, dan masih banyak lagi. Semua itu butuh biaya besar. Tapi ia yakin, suatu hari nanti, desanya akan seperti desa Makmur. Mungkin bahkan lebih baik.
Tiga tahun Joko menjalani sekolah di SMP Negeri 2 Kecamatan. Setiap hari ia berjalan kaki pulang pergi sejauh empat belas kilometer, tujuh kilometer pergi, tujuh kilometer pulang. Jika dihitung dalam seminggu, ia berjalan hampir seratus kilometer. Dalam sebulan, empat ratus kilometer. Dalam setahun, hampir lima ribu kilometer.
Hujan, panas, banjir, semua ia lalui. Sepatu bolong, baju basah, bekal habis, semua ia hadapi dengan tabah.
Suatu hari, ketika hujan turun sangat deras, Joko terpaksa berteduh di gubuk sawah milik petani yang tidak dikenalinya. Ia menunggu hujan reda, tapi hujan tidak kunjung reda. Bahkan semakin deras. Petir menyambar-nyambar di kejauhan.
Jam tangannya, hadiah dari Pak Kades, menunjukkan pukul setengah delapan. Ia sudah terlambat. Pelajaran pertama sudah dimulai.
"Ya Allah, bagaimana ini?" keluhnya.
Akhirnya, ia nekat meneruskan perjalanan. Hujan deras mengguyur tubuhnya. Jalanan becek, licin. Lumpur mencapai mata kaki. Beberapa kali ia terjatuh. Seragamnya penuh lumpur. Bukunya basah meski sudah dibungkus plastik.
Sesampai di sekolah, ia sudah basah kuyub. Rambutnya lepek, air mengucur dari ujung seragam. Teman-temannya menertawakan penampilannya yang kotor.
"Lihat Joko! Dasar anak desa! Becek-becekan!" ejek eko, anak orang kaya yang suka pamer.
Joko tidak peduli. Ia masuk kelas dan duduk di bangkunya. Beberapa tetes air jatuh dari rambutnya ke meja.
"Joko, kamu kenapa?" tanya guru matematika, Pak Hartono, lahir tahun 1940, yang baru masuk kelas.
"Saya terlambat, Pak. Maaf. Hujan deras, saya berteduh dulu di gubuk. Tapi hujannya tidak reda, jadi saya nekat jalan."
Pak Hartono memandangi Joko dengan iba. Ia tahu anak ini berjuang keras untuk sekolah. Setiap hari jalan kaki dari desa seberang.
"Duduklah, Joko. Lain kali kalau hujan, lebih pagi berangkat."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Usai pelajaran, Pak Hartono memanggil Joko ke ruang guru. Joko datang dengan perasaan was-was.
"Joko, bapak dengar kamu dari desa Suka Maju. Setiap hari jalan kaki?"
"Iya, Pak."
"Jauh sekali. Tujuh kilometer. Apa tidak capek?"
"Capek, Pak. Tapi saya tidak mau menyerah. Saya ingin sekolah tinggi, ingin jadi pemimpin desa saya. Orang tua saya miskin, mereka tidak bisa kasih apa-apa selain doa. Saya harus berjuang sendiri."
Pak Hartono tersenyum. "Pemimpin desa? Cita-cita yang bagus. Tapi untuk jadi pemimpin, kamu harus pintar. Tidak hanya pintar matematika, tapi juga pintar bergaul, pintar memahami orang, pintar mengambil keputusan."
"Saya akan belajar, Pak."
"Bagus. Kalau kamu butuh bantuan, bilang saja. Pak guru akan bantu semampu pak guru. Pak guru juga dari desa, tahu rasanya jadi anak desa di kota."
Joko mengangguk haru. Ia tidak menyangka akan mendapat perhatian dari guru-gurunya.
Setelah beberapa bulan berjalan kaki setiap hari, Joko mulai merasa kelelahan. Perjalanan pulang pergi empat belas kilometer setiap hari sangat menguras tenaga. Ia sering tertidur di kelas karena kelelahan.
Pak Hartono, gurunya, melihat kondisi Joko yang semakin memprihatinkan. Suatu hari, ia memanggil Joko.
"Joko, bapak lihat kamu semakin kurus dan pucat. Jangan-jangan kamu sakit?"
"Tidak, Pak. Hanya capek. Setiap hari jalan kaki tujuh kilometer pulang pergi. Kadang sampai rumah sudah malam, harus bantu orang tua dulu, baru belajar."
Pak Hartono menghela napas. "Kalau begitu, bagaimana kalau kamu kos di sini? Di dekat sekolah ada kos-kosan murah. Bapak kenal pemiliknya, orang baik. Kamu bisa tinggal di sana, tidak perlu bolak-balik."
"Tapi Pak, saya tidak punya uang untuk bayar kos."
"Kamu tidak usah bayar. Bapak yang akan bayar. Anggap saja ini investasi bapak untuk masa depan. Nanti kalau kamu sudah sukses, ganti dengan doa."
Joko menangis. Ia tidak menyangka ada orang sebaik Pak Hartono.
"Pak, saya tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih, Pak."
"Tidak usah berterima kasih. Yang penting, kamu belajar yang rajin. Jangan sia-siakan kesempatan ini."
Joko pindah ke kos-kosan di dekat sekolah. Kamar nomor 7, di lantai dua, dengan jendela menghadap ke lorong belakang pasar. Ukurannya hanya 2x3 meter, cukup untuk satu dipan tipis dari bambu, meja belajar kayu lapis yang goyang, dan lemari pakaian dari triplek. Di sudut, ada ember plastik untuk menampung air hujan karena atapnya bocor.
Namun bagi Joko, kamar ini adalah istana. Ini pertama kalinya ia punya ruang sendiri. Di desa, ia berbagi kamar dengan orang tuanya. Di sini, ia bisa belajar hingga larut tanpa mengganggu siapapun.
Penghuni kos lainnya beragam. Di kamar 1, ada Pak Sastro, pedagang ayam potong di pasar, usia empat puluh tahun, sudah berkeluarga tapi tinggal sendiri di kos karena istrinya di desa. Setiap pagi ia pergi ke pasar, pulang sore, lalu malamnya minum tuak di warung sebelah sambil main domino.
Di kamar 2, ada Mas Heru, mahasiswa IKIP, aktif di organisasi, sering membawa buku-buku tebal dan diskusi dengan teman-temannya sampai larut. Joko kadang ikut mendengarkan diskusi mereka dari balik pintu. Mereka membicarakan politik, ekonomi, pembangunan, dan hal-hal lain yang belum pernah Joko dengar sebelumnya.
"Kita ini generasi penerus bangsa," kata Mas Heru suatu malam, suaranya lantang hingga terdengar ke seluruh lorong. "Jangan cuma jadi penonton! Kita harus aktif! Mahasiswa itu agen perubahan!"
Joko terkesima. Agen perubahan. Kata-kata itu menggema di hatinya. Ia ingin jadi agen perubahan untuk desanya.
Di kamar 3, ada Pak Karman, pensiunan pegawai kantor pos, lahir tahun 1900, sudah tua, rambutnya putih semua. Ia jarang keluar, hanya duduk di beranda kos sambil baca koran bekas. Kadang ia mengajak Joko ngobrol.
"Nak, dari mana?" tanyanya suatu sore.
"Dari Suka Maju, Pak. Kecamatan Sumberrejo."
"Wah, jauh sekali. Di sana sudah ada listrik?"
"Belum, Pak. Masih lampu minyak."
Pak Karman menghela napas. "Saya dulu pernah ke sana, tahun limapuluhan. Jalan masih tanah, naik delman. Sekarang bagaimana?"
"Masih tanah, Pak. Tapi sudah ada rakit buat nyebrang sungai."
Pak Karman tersenyum. "Kamu sekolah di sini? SMP?"
"Iya, Pak. Kelas satu."
"Bagus. Sekolah yang rajin. Jangan seperti anak saya, putus sekolah, sekarang jadi preman di pasar."
Joko tidak berkomentar. Ia hanya tersenyum.
Di kamar 4, ada Mas Yanto, kernet bus antar kota, jarang di kos. Kadang seminggu tidak pulang. Kamarnya kosong, hanya dipenuhi baju kotor yang menggantung di mana-mana.
Di kamar 5 dan 6, kosong karena ditinggal penghuni lama. Belum ada yang menyewa.
Di kamar 7, Joko. Di kamar 8, ada Mas Budi, bukan Budi sahabatnya, tapi orang lain, tukang ojek, ramah, suka membantu. Sering ia menawari Joko tumpangan kalau mau ke sekolah.
"Jok, naik ojek aja. Gratis," katanya.
"Terima kasih, Mas. Tapi saya jalan kaki aja, biar sehat."
Mas Budi tertawa. "Kamu ini, hemat banget."
"Bukan hemat, Mas. Tapi saya nggak enak hati. Mas kan cari uang dari ojek."
"Ya sudah, kalau gitu. Tapi kalau butuh bantuan, bilang ya."
"Iya, Mas. Terima kasih."
Kehidupan kos mengajarkan Joko tentang keberagaman. Ia bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang, dengan berbagai karakter. Ada yang baik, ada yang cuek, ada yang ramai, ada yang pendiam. Semua memberi pelajaran berharga.
Suatu hari, Rudi mengajak Joko ke bioskop. Ini pertama kalinya Joko akan menonton film di gedung bioskop. Di desanya, hiburan hanya wayang kulit dan layar tancap kalau ada acara tujuh belasan.
"Jok, ayo nonton. Ada film bagus," ajak Rudi sambil menunjukkan poster film di koran.
Joko ragu. "Berapa harganya, Rud?"
"Dua ribu rupiah. Murah kok."
Joko menghitung uangnya. Uang sakunya pas-pasan. Dua ribu terlalu mahal. Tapi ia tidak enak menolak Rudi.
"Aku tidak punya uang, Rud."
Rudi tersenyum. "Aku traktir. Anggap hadiah ulang tahun."
"Ulang tahunku masih lama."
"Ya sudah, anggap hadiah pertemanan. Ayo, jangan nolak."
Joko akhirnya setuju. Mereka pergi ke bioskop "Garuda" di pusat kota. Gedungnya besar, dengan lampu-lampu warna-warni di bagian depan. Antrean panjang mengular di loket.
Joko takjub melihat semua itu. Ia belum pernah melihat gedung sebagus ini. Di dalam, kursi-kursi empuk berjejer rapi. Layar lebar membentang di depan. Lampu mulai redup, lalu film dimulai.
Film itu berjudul "November 1828", sebuah film sejarah tentang perang Diponegoro. Joko terpaku sejak menit pertama. Ia melihat bagaimana para pahlawan berjuang melawan penjajah. Bagaimana mereka rela berkorban demi tanah air. Air matanya menetes di beberapa adegan.
Usai film, mereka keluar dengan perasaan haru.
"Jok, kamu nangis?" tanya Rudi.
Joko mengusap matanya. "Iya, terharu. Melihat perjuangan mereka."
"Kamu patriotik sekali."
"Aku memang suka sejarah, Rud. Belajar dari pahlawan. Mereka rela mati demi bangsa. Aku hanya ingin berbakti pada desa. Jauh lebih kecil."
"Tapi sama-sama mulia, Jok. Tidak usah kecil hati."
Mereka berjalan menyusuri trotoar, menikmati suasana malam kota. Lampu-lampu jalan menyala terang. Warung-warung lesehan mulai berjualan. Bau sate dan gulai tercium dari mana-mana.
"Jok, kamu sudah punya rencana setelah lulus SMP?" tanya Rudi.
"Lanjut SMA, kalau bisa. Tapi nggak tahu, tergantung biaya. Orang tuaku miskin. Beasiswa susah. Mungkin aku kerja dulu."
"Semoga kamu dapat beasiswa, Jok. Kamu pantas dapat."
"Makasih, Rud. Doakan ya."
Di SMP, Joko memiliki akses ke perpustakaan yang jauh lebih lengkap dari perpustakaan desanya. Ribuan buku tersusun rapi di rak-rak. Ada buku pelajaran, buku cerita, buku sejarah, buku filsafat, buku politik, dan masih banyak lagi.
Joko seperti anak kecil yang masuk toko permen. Setiap jam istirahat, ia habiskan di perpustakaan. Ia membaca apa saja yang bisa dibaca. Kadang ia lupa waktu, hingga bel masuk berbunyi.
"Joko, kamu kok betah banget di perpustakaan?" tanya pustakawan, Bu Lies, suatu hari.
"Saya suka membaca, Bu. Di desa saya tidak ada perpustakaan. Hanya punya beberapa buku bekas."
Bu Lies tersenyum. "Kamu boleh pinjam buku sebanyak-banyaknya. Tapi harus dikembalikan tepat waktu."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Dari perpustakaan, Joko menemukan buku-buku yang mengubah cara pandangnya. Ia membaca buku-buku tentang perjuangan kemerdekaan, tentang tokoh-tokoh dunia, tentang berbagai ideologi. Ia juga membaca buku-buku tentang pertanian modern, tentang teknologi, tentang pembangunan.
Suatu malam, ia membaca buku "Di Bawah Bendera Revolusi" karya Soekarno. Buku itu tebal, berat, tapi ia baca hingga larut. Tentang nasionalisme, tentang perjuangan, tentang cita-cita kemerdekaan. Kepalanya pusing, tapi ia teruskan.
"Jok, jam satu pagi, kok masih baca?" tegur Mas Budi yang baru pulang ojek.
"Masih seru, Mas. Ini buku bagus."
"Buku apa?"
"Tentang perjuangan. Tentang Soekarno."
Mas Budi menggeleng. "Kamu ini beda. Anak-anak lain nongkrong, main, kamu baca buku tebal."
"Aku harus kejar ketertinggalan, Mas. Di desa, aku tidak punya akses buku. Sekarang ada, sayang kalau tidak dimanfaatkan."
"Ya sudah, lanjutkan. Tapi jangan lupa tidur."
Joko membaca hingga pukul tiga pagi. Matanya perih, tapi hatinya puas. Ilmu baru masuk ke dalam dirinya. Ia merasa semakin siap untuk memimpin desanya kelak.
Joko mulai sering ikut diskusi dengan Mas Heru dan teman-teman mahasiswanya. Mereka biasa berkumpul di warung kopi "Sari Rasa", tidak jauh dari kos.
Warung kopi itu sederhana, bangku kayu panjang, meja plastik, lampu neon yang kadang berkedip. Tapi diskusi di sana selalu hangat. Mereka membicarakan banyak hal: kebijakan pemerintah, pembangunan nasional, pemilu yang akan datang, hingga isu-isu internasional.
"Jok, kamu dari desa. Menurutmu, pembangunan sudah merata?" tanya Mas Heru suatu malam sambil mengaduk kopi tubruknya.
Joko berpikir sejenak. "Belum, Mas. Desa saya masih terpencil. Jalan becek, listrik belum masuk, sekolah masih bocor. Kalau itu ukurannya, pembangunan belum sampai ke kami."
"Lalu bagaimana solusinya?"
"Pemerintah harus lebih perhatikan desa. Jangan hanya fokus ke kota. Tapi desa juga harus berusaha, tidak bisa hanya menunggu bantuan."
"Betul. Itu namanya pembangunan partisipatif. Masyarakat dilibatkan, bukan jadi objek."
Teman lain, sebut saja Mas Doni, menimpali. "Tapi pemerintah juga harus tegas sama pejabat korup. Banyak uang pembangunan dikorupsi. Rakyat tidak merasakan."
"Iya. Korupsi itu kejahatan luar biasa," sahut Mas Heru. "Kita sebagai generasi muda harus melawan."
Joko mendengarkan dengan saksama. Ia baru tahu bahwa di kota, orang-orang bisa bebas berdiskusi tentang politik. Di desa, politik adalah hal tabu. Orang hanya tahu memilih, tanpa tahu visi-misi calon.
"Mas, bagaimana caranya melawan korupsi?" tanya Joko.
"Pertama, jangan korupsi. Kedua, awasi pejabat. Ketiga, laporkan kalau lihat. Tapi itu susah, karena aparat juga banyak yang main."
"Berarti harus jadi orang baik dulu?"
"Betul. Kita mulai dari diri sendiri. Kalau semua orang baik, korupsi akan berkurang."
Diskusi itu membekas di hati Joko. Ia berjanji pada diri sendiri: kalau jadi pemimpin, ia tidak akan korupsi. Ia akan jadi pemimpin yang bersih, melayani rakyat dengan tulus.
Malam-malam di warung kopi menjadi rutinitas baru Joko. Setiap Sabtu malam, ia bergabung dengan diskusi. Ia belajar banyak tentang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Pengetahuannya semakin luas. Cara pandangnya semakin terbuka.
"Jok, kamu pintar," puji Mas Heru suatu malam. "Kamu bisa jadi pemimpin hebat suatu hari nanti."
"Terima kasih, Mas. Doakan saya."
"Pasti. Tapi ingat, jadi pemimpin itu harus berani. Berani membela kebenaran, berani melawan ketidakadilan. Jangan jadi pengecut."
Joko mengangguk mantap.
Lebaran pertama Joko di perantauan. Ia pulang ke desa dengan perasaan campur aduk. Senang bisa bertemu keluarga, tapi sedih karena harus meninggalkan kos dan teman-teman.
Perjalanan pulang ditempuh dengan tiga kali ganti angkutan. Naik bemo dari kos ke terminal. Naik bus dari terminal ke kecamatan. Lalu naik ojek dari kecamatan ke desa. Total waktu tujuh jam.
Sesampai di desa, suasana berbeda. Rumah-rumah dihias ketupat dan lampu minyak. Anak-anak bermain petasan. Suara takbir berkumandang dari masjid. Joko tersenyum. Inilah kampung halamannya.
"Joko! Joko pulang!" teriak Budi yang melihatnya dari kejauhan.
Mereka berpelukan. Budi tidak melanjutkan sekolah. Ia memilih bekerja membantu orang tuanya berjualan di pasar. Tapi persahabatan mereka tetap erat.
"Jok, gimana kabarmu di kota?" tanya Budi.
"Baik, Bud. Banyak pengalaman baru."
"Ceritakan nanti. Sekarang pulang dulu. Orang tuamu pasti kangen."
Joko berjalan menuju rumahnya. Rumah panggung sederhana itu tampak bersih, dihiasi janur dan ketupat. Ayahnya duduk di beranda, memandangi jalan.
"Yah!" sapa Joko sambil berlari.
Wahyono berdiri. Matanya berkaca-kaca. "Joko, Nak... akhirnya pulang."
Mereka berpelukan. Tubuh Wahyono semakin kurus, rambutnya semakin putih. Tapi matanya masih bersinar.
"Di mana Ibu?"
"Di dapur. Masak rendang. Tahu kamu pulang, dia masak kesukaanmu."
Joko masuk ke dapur. Sri sedang sibuk mengaduk rendang di kuali tanah liat. Asap mengepul, bau rempah memenuhi ruangan.
"Bu."
Sri menoleh. Ia segera memeluk anaknya. Tangisnya pecah.
"Joko, Nak... Ibu kangen banget."
"Ibu, aku juga kangen."
Mereka berpelukan lama. Tangis haru bercampur bahagia.
Malam harinya, mereka makan bersama. Rendang, opor ayam, ketupat, sambal goreng ati, makanan mewah yang hanya ada saat Lebaran. Joko makan dengan lahap. Sudah berbulan-bulan ia tidak makan masakan ibu.
"Jok, ceritakan bagaimana kotamu," pinta Wahyono.
Joko bercerita panjang lebar. Tentang kos, tentang sekolah, tentang perpustakaan, tentang bioskop, tentang diskusi di warung kopi. Wahyono dan Sri mendengarkan dengan takjub.
"Wah, hebat sekali Nak. Banyak pengalaman baru," kata Sri.
"Iya, Bu. Tapi aku tetap kangen desa."
"Tentu, Nak. Ini rumahmu. Kampung halamanmu. Jangan lupakan."
"Tidak akan, Bu. Aku janji."
Selama liburan, Joko berkeliling desa. Ia melihat kondisi desa yang masih sama. Jalan masih becek. Sungai masih deras. Rakit masih jadi andalan. Sekolah masih bocor. Listrik belum masuk.
Ia bertemu dengan Ibu Sumarni. Gurunya itu sudah semakin tua. Rambutnya mulai memutih. Tapi semangat mengajarnya tidak pudar.
"Joko, gimana kabarmu?" sapa Ibu Sumarni.
"Baik, Bu. Saya sekolah di SMP. Kelas tiga."
"Ibu dengar kamu ranking terus. Bagus. Ibu bangga."
"Bu, saya ingin tanya. Apa desa kita tidak ada perubahan?"
Ibu Sumarni menghela napas. "Ada sedikit. Pak Kades sudah mengajukan proposal bantuan ke kabupaten. Tapi belum turun-turun. Mungkin tahun depan."
"Tapi Bu, dari dulu tahun depan terus."
"Itulah, Nak. Birokrasi lama. Tapi kita harus sabar. Yang penting terus berusaha."
Joko terdiam. Ia melihat anak-anak kecil bermain di halaman sekolah. Mereka tertawa riang, tidak memikirkan masa depan. Joko ingin masa depan mereka lebih baik. Ia ingin mereka sekolah di gedung yang layak, dengan buku-buku yang cukup, dengan guru-guru yang berkualitas.
"Bu, nanti kalau saya lulus, saya akan pulang ke sini. Membangun desa."
Ibu Sumarni tersenyum. "Ibu tunggu, Joko. Ibu yakin kamu bisa."
Ia juga bertemu dengan Pak Kades. Pak Kades sudah semakin tua. Jabatannya mungkin akan segera berakhir. Tapi semangatnya masih membara.
"Joko, gimana sekolahmu?" tanya Pak Kades.
"Baik, Pak. Banyak pengalaman."
"Bagus. Jangan lupakan desa ya."
"Tidak akan, Pak. Saya malah ingin cepat lulus dan pulang ke sini."
Pak Kades tertawa. "Masih satu tahun lagi, Joko. Nikmati dulu masa mudamu. Belajar yang rajin. Nanti kalau pulang, ilmu yang banyak."
"Pak Kades, apa yang paling Bapak inginkan untuk desa ini?"
Pak Kades berpikir sejenak. Matanya menerawang jauh.
"Listrik, Joko. Itu yang paling kuinginkan. Dengan listrik, anak-anak bisa belajar malam. Ibu-ibu bisa menjahit malam hari. Bapak-bapak bisa dengar radio, tahu berita. Listrik akan mengubah segalanya."
"Jembatan, Pak?"
"Itu juga. Tapi listrik dulu. Jembatan nanti menyusul."
Joko mengangguk. Ia mencatat dalam hati. Listrik dan jembatan. Dua hal yang akan ia perjuangkan.
Liburan Lebaran berlalu cepat. Joko harus kembali ke kota. Ia pamit pada orang tua, pada Ibu Sumarni, pada Pak Kades, pada Budi, pada semua yang dikasihinya.
"Joko, hati-hati di jalan. Belajar yang rajin. Jangan lupa ibadah," pesan Sri sambil menangis.
"Iya, Bu. Aku akan jaga diri."
"Joko, jadilah orang baik," pesan Wahyono. "Bukan hanya pintar, tapi juga baik."
"Iya, Yah. Aku ingat pesan Ayah."
Ia naik ojek menuju kecamatan. Di belakang, ia melihat desanya semakin menjauh. Tapi hatinya tetap di sana. Desa Suka Maju akan selalu di hatinya.
Setahun terakhir di SMP adalah masa-masa penuh tekanan. Ujian akhir semakin dekat. Persaingan semakin ketat. Setiap orang berjuang untuk masa depan mereka masing-masing.
Joko juga merasakan tekanan itu. Nilainya harus tetap bagus agar bisa lulus dengan baik. Tapi di luar itu, ia juga mencari jati diri. Siapa sebenarnya dirinya? Apa yang ia inginkan dalam hidup?
Suatu malam, ia duduk sendirian di atap kos. Dari atas, ia bisa melihat lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Indah, tapi juga asing. Ia merasa tidak sepenuhnya menjadi bagian dari kota ini. Di sisi lain, ia juga merasa mulai asing dengan desanya. Setiap pulang, ada jarak yang terasa. Teman-teman lamanya sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing. Beberapa sudah menikah, beberapa merantau ke kota lain, beberapa bekerja di sawah.
Joko merasa terombang-ambing. Tidak sepenuhnya di sini, tidak sepenuhnya di sana.
"Jok, melamun?" sapa Mas Budi yang naik ke atap.
"Iya, Mas. Banyak pikiran."
Mas Budi duduk di sampingnya. "Pikiran apa?"
"Tentang masa depan. Tentang jati diri. Kadang aku bingung, aku ini siapa."
Mas Budi tersenyum. "Itu wajar, Jok. Namanya juga remaja akhir. Masih mencari."
"Mas pernah ngalamin?"
"Pernah. Waktu seumuran kamu. Aku juga bingung. Kerja jadi kernet, jadi tukang ojek, rasanya hidup nggak jelas. Tapi lama-lama nemu juga jalannya."
"Jalannya apa, Mas?"
"Ya jadi tukang ojek. Bukan pekerjaan hebat, tapi halal. Bisa bantu orang. Kadang ada penumpang yang cerita tentang hidupnya. Aku jadi belajar banyak. Itu jalanku."
Joko merenung. "Berarti jati diri itu bisa ditemukan di mana saja?"
"Bisa. Tergantung kamu mau menerima atau tidak. Jati diri bukan sesuatu yang jadi, tapi yang ditemukan. Kamu jalan, cari, akhirnya nemu."
Percakapan itu memberi pencerahan. Joko tidak perlu terburu-buru. Ia masih muda. Waktu masih panjang. Yang penting, ia terus melangkah, terus belajar, terus mencari.
Beberapa minggu kemudian, ia mendapat kesempatan mengikuti lomba karya tulis tingkat kabupaten. Tema lombanya adalah "Pembangunan Desa". Joko langsung tertarik. Ia menulis tentang desanya, tentang potensi dan masalahnya, tentang solusi yang mungkin.
Ia menulis tentang pertanian, tentang irigasi, tentang pendidikan, tentang kesehatan. Ia menuangkan semua pengamatan dan pemikirannya selama ini. Tangannya menari di atas kertas, menuangkan ide-ide yang selama ini terpendam.
Seminggu kemudian, pengumuman keluar. Joko meraih juara pertama. Ia tidak percaya. Karya tulisnya diakui, dihargai. Ini pertama kalinya ia menang lomba di tingkat kabupaten.
"Selamat, Jok!" Rudi memeluknya. "Kamu hebat!"
"Terima kasih, Rud. Ini berkat dukunganmu juga."
"Jangan merendah. Ini hasil kerja kerasmu sendiri."
Hadiahnya berupa uang lima puluh ribu rupiah dan piagam penghargaan. Uang itu akan ia kirim ke orang tuanya. Piagam itu akan ia simpan sebagai kenangan.
Malam harinya, ia menulis surat untuk Ibu Sumarni.
"Ibu, saya menang lomba karya tulis. Saya menulis tentang desa kita. Saya ingin desa kita maju. Saya ingin membangun desa kita. Doakan saya ya, Bu. -Joko"
Ujian akhir SMP dilaksanakan. Joko mengerjakan soal-soal dengan tenang. Tiga tahun belajar, tiga tahun berjuang, semua akan ditentukan dalam beberapa hari ini.
Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, semua ia hadapi dengan persiapan matang. Ia ingat semua yang dipelajari, semua yang dibaca, semua yang didiskusikan.
Hari terakhir ujian, ia keluar dari ruangan dengan perasaan lega. Keringat dingin membasahi punggung. Tangan masih gemetar. Tapi ia sudah melakukan yang terbaik.
"Gimana, Jok?" tanya Rudi.
"Entah, Rud. Semoga cukup."
"Pasti cukup. Kamu kan paling pintar."
Mereka berpelukan singkat. Esok, mereka akan berpisah. Rudi akan melanjutkan SMA di kota kabupaten. Joko akan pulang ke desa. Tapi hari ini, mereka rayakan kebersamaan.
Pengumuman kelulusan sebulan kemudian. Joko datang ke sekolah dengan perasaan campur aduk. Di papan pengumuman, ratusan nama terpampang. Ia mencari namanya. Joko Prasetyo... Joko Prasetyo... Di sana! Nomor 7 dari atas. Lulus dengan nilai memuaskan.
"Alhamdulillah!" serunya.
Ia mencari Rudi. Rudi juga lulus. Mereka berpelukan di tengah kerumunan. Bahagia, haru, bangga.
"Jok, kita lulus!"
"Iya, Rud. Akhirnya."
Malam harinya, mereka rayakan di warung sate langganan. Sate kambing, lontong, dan es teh manis. Makanan mewah yang jarang mereka nikmati.
"Jok, kamu benar-benar akan pulang?" tanya Rudi.
"Iya, Rud. Sudah kuputuskan."
"Kapan berangkat?"
"Besok lusa. Aku harus siap-siap dulu."
Rudi menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Aku akan kangen kamu, Jok."
"Aku juga, Rud. Tapi ini bukan perpisahan. Ini awal perjuangan baru. Kita masih bisa berkirim surat, masih bisa bertemu nanti."
"Iya, kamu benar. Aku akan tunggu kabarmu."
Mereka makan dalam diam, menikmati sisa kebersamaan. Malam itu, bulan bersinar purnama.
Dua hari kemudian, Joko pamit pada semua teman di kos. Pada Mas Budi, pada Mas Heru, pada Pak Karman (pensiunan pos), pada semua yang pernah berbagi cerita.
"Jok, sukses ya di desa," pesan Mas Budi.
"Iya, Mas. Terima kasih untuk semuanya."
"Jangan lupa, kalau ke kota, mampir sini."
"Pasti, Mas."
Bus bergerak perlahan meninggalkan kota. Joko melambaikan tangan dari jendela. Ia meninggalkan kotanya, meninggalkan masa mudanya. Tapi ia tidak sedih. Ia justru bersemangat. Perjuangan baru menanti. Desa Suka Maju menanti.
Bus tua itu berhenti di terminal kecamatan. Joko turun dengan ransel di punggung dan koper kecil di tangan. Ia memandang sekeliling. Terminal itu masih sama seperti tiga tahun lalu, becek, kumuh, semrawut. Tapi kini ia melihatnya dengan mata berbeda. Mata seorang yang sudah melihat dunia luar, yang tahu bahwa terminal bisa lebih baik, lebih bersih, lebih teratur.
Ia naik ojek menuju desa. Jalanan masih becek, berlubang di sana-sini. Pengemudi ojek harus hati-hati melewati genangan. Joko memandangi sawah-sawah di kanan-kiri. Padi mulai menguning. Petani sedang sibuk mengusir burung.
"Mas, dari mana?" tanya pengemudi ojek.
"Dari SMP, Pak. Baru lulus."
"Wah, pinter. Terus mau ngapain?"
"Mau pulang ke desa. Mau bantu orang tua dulu."
"Bagus. Anak muda harus berbakti pada orang tua."
Mereka tiba di sungai. Rakit masih jadi andalan. Pak Darmo, tukang rakit, masih setia di sana. Ia tersenyum melihat Joko.
"Joko! Lulus SMP?" sapa Pak Darmo.
"Iya, Pak. Lulus."
"Selamat, Nak. Naik, biar saya antar."
Rakit bergerak perlahan. Joko memandangi air sungai yang mengalir tenang. Sungai ini tak pernah berubah. Airnya selalu mengalir, deras di musim hujan, surut di musim kemarau. Tapi bagi Joko, sungai ini adalah saksi bisu perjuangannya. Dulu, setiap pagi ia menyeberang untuk sekolah. Kini, ia kembali sebagai lulusan SMP yang siap mengabdi.
Sesampai di desa, ia disambut haru orang tuanya. Wahyono dan Sri menangis melihat anaknya pulang. Tiga tahun berpisah, tiga tahun kerinduan.
"Joko, Nak... akhirnya pulang," isak Sri.
"Iya, Bu. Aku pulang."
Mereka berpelukan lama. Wahyono hanya tersenyum, matanya basah.
Malam harinya, mereka mengadakan syukuran sederhana. Tetangga-tetangga datang membawa makanan. Ada yang bawa ayam goreng, ada yang bawa sambal goreng, ada yang bawa sayur lodeh. Mereka berkumpul di halaman rumah Joko, duduk di tikar pandan, makan bersama.
"Joko, gimana kotanya?" tanya seorang tetangga.
"Besar, Pak. Banyak gedung tinggi, banyak kendaraan. Tapi saya lebih suka desa."
"Kenapa?"
"Di sini tenang. Udaranya sejuk. Orang-orangnya ramah. Di kota, orang sibuk sendiri-sendiri."
Mereka tertawa. Senang mendengar Joko masih cinta desa.
Pak Kades datang dengan istrinya. Ia memeluk Joko erat.
"Joko, selamat datang. Bapak bangga kamu pulang. Anak muda seperti kamu harusnya jadi penerus."
"Siap, Pak. Saya ingin belajar dari Bapak."
"Belajar? Kamu sudah banyak belajar. Sekarang waktunya praktek. Bapak akan bimbing kamu."
Joko tersenyum. Harapannya mulai terwujud.
Beberapa hari setelah pulang, Joko duduk di tepi sungai, tempat ia biasa merenung sejak kecil. Ia memandangi air yang mengalir tenang, mengenang perjalanan tiga tahun terakhir.
Ia ingat perjuangan berat di SMP. Jalan kaki pulang pergi, hujan panas, rasa capek yang kadang membuatnya ingin menyerah. Tapi ia ingat juga kebaikan orang-orang: Pak Hartono yang membiayai kosnya, Mas Heru yang mengajaknya diskusi, Rudi yang menjadi sahabat, dan semua teman yang mendukungnya.
Ia juga ingat pelajaran berharga: bahwa dunia ini luas, bahwa perubahan mungkin terjadi, bahwa kemiskinan bukan takdir, bahwa pendidikan adalah kunci, dan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang melayani, bukan dilayani.
"Ya Allah, terima kasih untuk semua pengalaman. Terima kasih untuk setiap air mata, setiap tawa, setiap pelajaran. Aku bersyukur menjadi anak desa ini. Aku bersyukur bisa pulang dengan ilmu dan mimpi. Sekarang, bimbing aku untuk mengabdi. Jadikan aku pemimpin yang baik, yang adil, yang dicintai rakyat."
Di kejauhan, ayam jantan mulai berkokok. Fajar akan segera tiba. Hari baru, perjuangan baru. Joko siap melangkah. Desa Suka Maju menanti perubahan. Dan ia, anak petani miskin itu, akan menjadi bagian dari perubahan tersebut.
BAB V
KEMBALI KE DESA DAN MENGABDI
Bus tua dengan cat kusam berhenti di pertigaan pasar kecamatan. Pintu dibuka dengan suara berdecit. Joko turun dengan satu koper kecil berisi pakaian dan buku-buku. Kopernya sudah lusuh, bekas pemberian teman kos.
Ia memandang sekeliling. Masih sama seperti tiga tahun lalu, pasar ramai, becak lalu lalang, debu beterbangan, pedagang asongan berteriak menawarkan dagangan. Tidak ada perubahan berarti.
"Jok! Jok!"
Ia menoleh. Budi, sahabat kecilnya, melambai dari kejauhan sambil berlari. Mereka berpelukan erat di tengah debu terminal.
"Bud, apa kabar?" sapa Joko sambil melepas pelukan.
"Baik, Jok. Sehat. Lama tidak jumpa. Kok kamu pulang? SMA-nya gimana?"
"Aku tidak lanjut SMA, Bud. Aku pulang untuk selamanya."
Budi terkejut. Matanya membelalak. "Maksudmu? Emangnya nggak mau sekolah lagi?"
"Aku mau membangun desa, Bud. Nggak perlu nunggu sekolah tinggi."
"Tapi Jok..."
"Jelas nanti, Bud. Sekarang antar aku pulang. Aku kangen sama ibu dan ayah."
Mereka naik ojek menuju desa Suka Maju. Jalanan masih sama, tanah, becek, berlubang. Ojek harus berhati-hati melewati jalan yang rusak. Joko memandanginya dengan tatapan baru. Kali ini, ia tidak melihatnya sebagai penghalang, tapi sebagai tantangan yang harus diatasi.
Sesampai di rumah, orang tuanya sudah menunggu di beranda. Wahyono dan Sri berdiri di sana dengan wajah haru. Rambut mereka sudah mulai memutih.
"Ibu! Ayah!" Joko berlari memeluk mereka.
"Nak... Nak..." tangis Sri. Ia memeluk anaknya erat.
Wahyono hanya mengusap kepala anaknya. Matanya basah. "Sudah besar, Nak. Sudah dewasa."
Setelah tangis reda, mereka duduk di ruang tamu sederhana. Joko menceritakan pengalamannya di kota, tentang sekolah, tentang teman-teman, tentang kehidupan di perantauan.
"Jadi kamu tidak lanjut SMA?" tanya Wahyono dengan nada hati-hati.
"Tidak, Yah. Aku mau pulang. Mau bantu desa ini."
Wahyono dan Sri berpandangan. Mereka bingung sekaligus bangga. Bingung karena anaknya memilih jalan yang tidak biasa. Bangga karena anaknya punya niat mulia.
"Nak, apa yang bisa kamu lakukan? Kamu cuma lulusan SMP," kata Sri.
"Banyak, Bu. Aku bisa ngajar anak-anak desa. Bantu petani dengan ilmu pertanian yang kudapat. Aktif di karang taruna. Ikut kegiatan sosial. Pelan-pelan, pasti ada perubahan. Yang penting mulai."
Wahyono tersenyum. "Kamu sudah dewasa, Nak. Terserah kamu. Bapak dan ibu dukung. Asal kamu bahagia."
Joko memeluk mereka lagi. "Terima kasih, Yah. Terima kasih, Bu. Aku tidak akan mengecewakan kalian."
Keesokan harinya, Joko berkeliling desa. Ia ingin melihat perubahan selama tiga tahun ia tinggalkan. Tapi ternyata, tidak banyak yang berubah. Bahkan hampir tidak ada.
Jalan masih becek. Sekolah masih bocor. Sungai masih deras kalau hujan. Rakit masih jadi andalan. Sawah-sawah masih hijau. Petani masih bekerja dengan cara tradisional, menggunakan tenaga kerbau untuk membajak.
"Tidak berubah," gumamnya sedih.
Ia mampir ke rumah Pak Kades. Pak Kades sudah tua, rambutnya memutih sempurna. Jalannya sudah agak membungkuk. Tapi semangatnya masih sama. Matanya masih tajam.
"Joko! Kamu sudah pulang?" sapa Pak Kades dari beranda.
"Iya, Pak. Saya pulang untuk selamanya."
"Tidak lanjut SMA?"
"Tidak, Pak. Saya mau mengabdi di desa ini. Membangun desa bersama Bapak."
Pak Kades tersenyum lebar. "Bagus, Nak. Bapak tunggu sejak lama. Masuk, masuk."
Mereka duduk di beranda. Joko menceritakan rencananya dengan detail.
"Pak, saya mau aktif di karang taruna. Mau bantu anak-anak desa belajar di luar jam sekolah. Mau bantu petani dengan ilmu pertanian yang saya dapat di SMP, pemilihan bibit unggul, pemupukan tepat, pengendalian hama. Apa Bapak setuju?"
"Sangat setuju, Nak. Desa ini butuh anak muda seperti kamu. Yang mau pulang, bukan pergi ke kota. Yang mau bekerja, bukan cuma mengeluh."
"Tapi Pak, saya masih muda, belum berpengalaman. Saya takut salah."
"Tidak apa-apa. Pengalaman bisa dicari. Kesalahan bisa diperbaiki. Yang penting niatmu baik. Bapak akan bantu semampu bapak. Bapak akan dampingi."
Joko tersenyum lega. Dengan dukungan Pak Kades, ia yakin bisa melakukan banyak hal.
Joko memulai pengabdiannya dengan hal sederhana: mengajar anak-anak desa membaca, menulis, dan berhitung. Setiap sore, ia membuka kelas gratis di beranda rumahnya. Anak-anak datang dengan buku bekas dan alat tulis seadanya.
"Ayo, belajar yang rajin. Nanti kalau pintar, bisa sekolah tinggi seperti kakak," kata Joko pada anak-anak.
Anak-anak itu antusias. Mereka senang ada yang mau mengajar mereka gratis. Orang tua mereka juga senang, karena tidak perlu keluar biaya.
"Mas Joko, terima kasih ya," kata seorang ibu, Mbok Minah, lahir tahun 1920, yang mengantar anaknya.
"Sama-sama, Bu. Ini kewajiban saya. Saya juga dulu dibantu orang, sekarang giliran saya membantu."
"Moga Mas Joko panjang umur, murah rezeki."
"Amin, Bu. Terima kasih doanya."
Selain mengajar, Joko juga aktif membantu petani. Ia membagi ilmu tentang cara bertani yang lebih baik, pemilihan bibit unggul, pemupukan tepat waktu, pengendalian hama secara alami.
"Mas Joko, kamu tahu banyak ya," puji seorang petani, Pak Karto, lahir tahun 1920 yang dulu sempat meragukannya.
"Saya baca dari buku, Pak. Dapat ilmu dari sekolah. Kalau ada waktu, saya akan coba praktikkan di sawah saya dulu. Kalau berhasil, baru saya ajarkan ke yang lain."
"Wah, hati-hati. Jangan sampai gagal. Kalau gagal, rugi."
"Siap, Pak. Saya akan pelan-pelan."
Karang Taruna desa Suka Maju selama ini mati suri. Hanya ada nama di atas kertas, tapi tidak ada kegiatan nyata. Joko bertekad menghidupkannya kembali.
Ia mengumpulkan pemuda desa di balai pertemuan pada suatu malam minggu. Awalnya hanya sedikit yang dating, sekitar sepuluh orang. Tapi lambat laun, semakin banyak yang tertarik.
"Teman-teman, kita harus bangkit. Desa kita ini tertinggal, bukan karena tidak punya potensi, tapi karena kita tidak bersatu. Karang Taruna bisa jadi wadah kita untuk berbuat sesuatu."
"Lalu kita mau ngapain, Jok?" tanya seorang pemuda, eko, lahir tahun 1950, yang dikenal sebagai pemuda nakal.
"Banyak. Kita bisa gotong royong bersihkan desa. Kita bisa adakan turnamen olahraga. Kita bisa buat kelompok belajar untuk anak-anak. Kita bisa adakan pengajian rutin. Yang penting kita mulai."
Para pemuda itu setuju. Mereka mulai merencanakan kegiatan-kegiatan sederhana.
Hari Minggu, mereka gotong royong membersihkan jalan desa. Mereka memotong rumput liar, membersihkan selokan yang mampet, menimbun lubang di jalan. Warga desa melihatnya dengan takjub.
"Lihat, anak-anak muda itu kerja bakti," kata seorang warga.
"Iya, bagus ya. Jadi ingat zaman dulu. Dulu sering gotong royong, sekarang jarang."
Kegiatan lain yang dilakukan adalah turnamen voli antar RT. Warga desa antusias. Lapangan voli sederhana dibuat di tengah desa dengan net dari tambang plastik. Malam harinya, mereka nonton bareng pertandingan dengan lampu petromaks yang dipinjam dari balai desa.
"Mas Joko, ide bagus ini. Warga jadi kumpul, jadi akrab," kata Pak RT setempat.
"Iya, Pak. Ini cara kita mempererat persaudaraan. Jangan sampai kita terpecah belah."
Setahun berlalu. Joko semakin dikenal warga. Ia tidak hanya aktif di karang taruna, tapi juga di kegiatan keagamaan, posyandu, dan kelompok tani. Ia hadir di setiap acara desa, dari pernikahan hingga kematian.
Suatu hari, sekelompok warga datang ke rumahnya. Mereka dipimpin oleh Pak Kades. Wajah mereka serius, tapi ada senyum di bibir.
"Joko, kami ingin bicara," kata Pak Kades.
"Iya, Pak. Silakan masuk."
Mereka duduk di ruang tamu sederhana. Rumah itu masih sama, dinding bambu, lantai papan, atap rumbia. Tapi bersih dan rapi.
"Joko, kami melihat pengabdianmu selama ini. Kamu aktif, peduli, dan ikhlas. Warga desa percaya padamu. Tidak ada yang meragukan niat baikmu."
Joko tersipu. "Terima kasih, Pak. Tapi saya hanya melakukan kewajiban. Saya anak desa ini."
"Bukan, Joko. Kamu melakukan lebih dari kewajiban. Kamu melakukan pengabdian. Karena itu, kami punya rencana."
"Rencana apa, Pak?"
Pak Kades tersenyum. "Kami ingin kamu maju sebagai calon kepala desa pada pilkades tahun depan."
Joko terkejut. Hampir jatuh dari kursi. "Apa? Saya? Tapi saya masih muda, Pak. Umur saya baru 24 tahun? Maksud Bapak, dua tahun lagi?"
"Iya, dua tahun lagi. Tapi persiapan harus dari sekarang. Kamu harus lebih banyak turun ke masyarakat, dengarkan aspirasi mereka, bangun jaringan. Bapak akan dampingi."
Joko menarik napas panjang. Ia ingat mimpinya sejak kecil. Ia ingat percakapan dengan Ibu Sumarni di tepi sungai. Ia ingat nasihat Pak Kades di bawah pohon beringin. Ia ingat doa ayah dan ibunya. Kini, mimpi itu ada di depan mata.
"Baik, Pak. Saya bersedia. Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Warga harus doakan saya. Saya butuh dukungan dan doa dari semuanya. Saya tidak bisa sendiri."
Warga yang hadir tersenyum lega. Mereka bertepuk tangan.
"Setuju, Joko! Kami dukung kamu!"
Pak Kades memeluk Joko. "Selamat, Nak. Perjalananmu baru saja dimulai."
Joko tersenyum. Air matanya menetes. Ia tidak menyangka akan sampai di titik ini. Tapi ia sadar, ini bukan akhir. Ini awal dari perjuangan yang lebih besar.
Musim kemarau tahun itu terasa lebih panjang dari biasanya. Sawah-sawah mulai mengering, padi-padi yang baru ditanam tampak merana. Para petani gelisah, duduk di warung kopi sambil mengeluh.
"Air susah, Pak. Sumur mulai kering," keluh seorang petani, Pak Tumin, lahir tahun 1920.
"Iya, sungai juga surut. Irigasi kita cuma dari bambu, nggak cukup," timpal yang lain, Pak Karto.
Joko yang kebetulan lewat, ikut duduk di warung. Ia mendengar keluhan mereka dengan saksama.
"Pak, bagaimana kalau kita bikin kelompok tani?" usul Joko tiba-tiba.
Semua menoleh. "Kelompok tani? Buat apa, Jok?" tanya Pak Tumin.
"Supaya kita bisa kerja sama. Ngurus irigasi bareng-bareng. Beli pupuk bareng biar murah. Jual hasil panen bareng biar harga bagus. Petani di desa lain banyak yang sukses pakai kelompok tani."
Mereka berpandangan. Ide itu menarik, tapi baru. Belum pernah ada kelompok tani di desa Suka Maju.
"Kita bisa coba, Pak. Nggak ada ruginya. Paling-paling kita kumpul, diskusi, cari solusi bareng. Daripada mengeluh terus."
Pak Karto, petani paling tua dan paling dihormati, mengangguk. "Joko bener. Kita harus coba. Sudah puluhan tahun kita kerja sendiri-sendiri, hasilnya ya gini-gini aja. Mungkin kalau kerja sama, bisa lebih baik."
Maka, berdirilah Kelompok Tani "Tunas Harapan". Anggotanya dua puluh petani, mayoritas penggarap seperti ayah Joko. Mereka sepakat untuk iuran sukarela, rapat rutin setiap minggu, dan gotong royong memperbaiki irigasi.
Joko ditunjuk sebagai sekretaris. Ia bertugas mencatat hasil rapat, membuat proposal bantuan ke dinas pertanian, dan mencari informasi tentang teknologi pertanian baru.
"Jok, kamu ini pinter, jadi andalan kami," puji Pak Karto.
"Saya hanya ingin desa ini maju, Pak. Kalau petani sejahtera, desa juga sejahtera."
Dengan kelompok tani, mereka mulai membenahi irigasi. Saluran air dari sungai diperbaiki, dibuat dari bambu yang lebih besar dan lebih rapat. Air bisa mengalir lebih lancar ke sawah-sawah. Mereka juga belajar membuat pupuk organik dari kotoran ternak dan sisa tanaman. Pupuk kimia mahal, dan tanah mulai rusak karena terlalu sering pakai pupuk kimia.
"Lihat, Pak. Ini pupuk gratis. Bisa mengurangi biaya tanam," jelas Joko sambil menunjukkan tumpukan kompos.
"Wah, bagus. Kita bisa hemat," kata Pak Tumin.
Hasilnya mulai terlihat beberapa bulan kemudian. Padi-padi lebih hijau, lebih subur. Saat panen, hasilnya meningkat sekitar dua puluh persen. Para petani senang.
"Jok, terima kasih. Ide kelompok tanimu berhasil," kata Pak Karto di acara syukuran panen.
"Ini keberhasilan kita bersama, Pak. Saya cuma fasilitator."
Mereka makan bersama di balai desa. Nasi tumpeng, ayam ingkung, sambal goreng, dan lauk-pauk sederhana. Tertawa, bercanda, bahagia. Kelompok Tani "Tunas Harapan" resmi jadi kebanggaan desa.
Joko punya ide lain. Ia ingin mendirikan perpustakaan desa. Selama ini, anak-anak desa hanya mengandalkan buku teks dari sekolah. Tidak ada buku bacaan lain. Tidak ada majalah, koran, atau ensiklopedia.
"Aku ingin mereka punya akses ke dunia luar lewat buku," katanya pada Budi suatu hari.
"Tapi Jok, kita nggak punya buku. Mau pinjam dari mana?"
"Dari sumbangan. Aku punya koleksi buku dari SMP dan pinjaman dari Pak Kades. Lumayan banyak. Ibu Sumarni juga punya buku. Terus kita minta sumbangan ke warga yang punya buku bekas."
Budi mengangguk. "Oke, aku bantu."
Mereka mulai bergerak. Joko menulis surat edaran, meminta sumbangan buku bekas. Ia tempel di papan pengumuman desa, di masjid, di sekolah, di warung-warung. Budi membantu mengumpulkan buku dari rumah ke rumah.
Hasilnya lumayan. Terkumpul sekitar dua ratus buku. Tidak banyak, tapi cukup untuk memulai. Ada buku pelajaran, buku cerita anak, majalah bekas, beberapa novel, dan ensiklopedia anak yang sudah usang.
"Kita butuh tempat," kata Joko.
"Gimana kalau di bekas ruang kosong balai desa?" usul Budi.
Mereka menghadap Pak Kades. Pak Kades setuju. Ruang kosong di samping balai desa—bekas gudang—dibersihkan dan dicat ulang. Warga bergotong royong membuat rak buku sederhana dari kayu bekas. Beberapa meja dan kursi disumbangkan warga.
Perpustakaan Desa "Cahaya Ilmu" resmi dibuka pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 1970. Acaranya sederhana: potong tumpeng, doa bersama, dan pengguntingan pita oleh Pak Kades. Anak-anak desa sudah antre di depan pintu sejak pagi.
"Ini perpustakaan, Nak. Kalian boleh baca buku di sini, atau pinjam pulang. Tapi harus dijaga, jangan sampai rusak," jelas Joko pada anak-anak.
Mereka berhamburan masuk, mengambil buku-buku, lalu duduk di lantai atau di kursi yang tersedia. Wajah-wajah polos itu berseri-seri. Mereka belum pernah melihat buku sebanyak ini.
"Mas Joko, boleh pinjam buku cerita?" tanya seorang anak perempuan, Sari namanya, kelas tiga SD.
"Boleh. Tapi harus dikembalikan ya. Nama dan judul buku dicatat di buku pinjaman."
Sari mengangguk semangat. Ia memilih buku "Kancil dan Buaya", lalu mencatat di buku pinjaman dengan tulisan masih kaku.
Joko tersenyum melihatnya. Ia ingat dirinya dulu, ketika Ibu Sumarni meminjamkan buku pertama. Rasanya seperti mendapat harta karun. Ia ingin anak-anak desa merasakan hal yang sama.
Perpustakaan itu menjadi ramai setiap sore. Anak-anak datang setelah pulang sekolah. Mereka membaca, menggambar, atau sekadar mengerjakan PR di tempat yang lebih nyaman. Joko kadang membantu mereka yang kesulitan belajar.
"Mas Joko, ini PR matematika, susah," keluh seorang anak laki-laki, Bowo, kelas lima SD.
Joko mendekat. "Mana, coba lihat. Oh, ini soal pecahan. Gampang, Dik. Begini caranya..."
Ia menjelaskan dengan sabar. Bowo mengangguk-angguk, lalu mengerjakan sendiri. Wajahnya berseri begitu selesai.
"Terima kasih, Mas Joko!"
"Sama-sama. Rajin-rajin belajar ya."
Orang tua mereka juga senang. Di perpustakaan, anak-anak mereka terawasi, tidak berkeliaran, dan yang penting, mereka belajar.
"Mas Joko, terima kasih sudah mendirikan perpustakaan," kata Mbok Minah, ibu dari Sari. "Sari jadi rajin baca. Nilainya naik."
"Sama-sama, Bu. Ini untuk masa depan mereka."
Joko tidak puas hanya dengan kelompok tani dan perpustakaan. Ia ingin membantu petani lebih jauh. Ia ingat pelajaran di SMP tentang teknologi pertanian sederhana yang bisa diterapkan di desa.
Suatu hari, ia menemukan artikel di majalah bekas tentang sistem irigasi tetes. Sederhana: menggunakan drum bekas, selang kecil, dan pipa bambu. Air menetes perlahan ke akar tanaman, hemat air, cocok untuk musim kemarau.
"Pak, ini bisa dicoba di desa kita," kata Joko pada Pak Karto.
Pak Karto membaca artikel itu dengan saksama. "Wah, menarik. Tapi kita nggak punya drum bekas, selang, dan pipa."
"Kita bisa cari, Pak. Drum bekas dari pengepul barang bekas. Selang bisa beli di toko. Pipa bambu banyak di desa."
Mereka mencoba di sawah Pak Karto. Drum bekas diletakkan di tempat tinggi, diisi air dari sungai menggunakan pompa tangan sederhana. Selang kecil dihubungkan ke drum, lalu ke tanaman-tanaman di sawah. Air menetes perlahan, membasahi tanah di sekitar akar.
Hasilnya mengejutkan. Tanaman lebih segar, tidak layu meski kemarau. Air yang digunakan jauh lebih sedikit dibanding sistem genangan biasa.
"Ini hebat, Jok!" seru Pak Karto. "Kita bisa hemat air sampai setengahnya!"
Mereka kemudian mengadakan demonstrasi di kelompok tani. Petani-petani lain datang melihat, takjub. Beberapa langsung tertarik mencoba di sawah mereka.
"Tapi modalnya lumayan, Pak," kata seorang petani. "Drum, selang, pompa tangan. Nggak semua punya."
"Kita bisa gotong royong, Pak. Beli bareng, pakai bareng. Drum bisa dipakai bergantian. Selang bisa dibagi-bagi. Yang penting niat."
Akhirnya, mereka sepakat membeli dua drum bekas, pompa tangan, dan selang panjang. Uangnya dari iuran anggota kelompok tani. Sistem irigasi tetes mulai diterapkan di beberapa sawah.
Musim kemarau tahun itu tidak terlalu membuat cemas. Sawah-sawah tetap hijau, air tetap cukup. Petani mulai percaya bahwa teknologi sederhana bisa membantu mereka.
Joko juga memperkenalkan konsep tumpang sari. Menanam tanaman lain di sela-sela padi, seperti kacang panjang, jagung, atau kedelai. Hasilnya bisa dijual, menambah penghasilan.
"Pak, sawah tidak hanya untuk padi. Kita bisa tanam sayur di pinggir pematang. Atau setelah panen padi, kita tanam palawija. Tanah tidak nganggur, penghasilan tambah."
Pak Tumin mencoba di sawahnya. Ia tanam kacang panjang di pematang, dan jagung di lahan bekas panen. Beberapa bulan kemudian, ia panen kacang panjang dan jagung. Lumayan, dapat uang tambahan.
"Jok, idemu bagus," katanya. "Aku dapat uang tambahan tanpa perlu lahan baru."
"Syukurlah, Pak. Nanti kalau semua petani lakukan, desa kita bisa swasembada pangan. Tidak perlu beli sayur dari luar."
Keberhasilan kelompok tani mulai menarik perhatian. Hasil panen meningkat, petani mulai bisa menabung. Tapi ini juga menarik perhatian yang tidak diinginkan: para tengkulak.
Tengkulak adalah pedagang perantara yang biasa membeli gabah petani dengan harga murah, lalu menjualnya ke kota dengan harga tinggi. Selama ini, petani tidak punya pilihan. Mereka harus menjual ke tengkulak karena butuh uang cepat.
Salah satu tengkulak paling berpengaruh di kecamatan adalah Haji Dulah. Ia punya gudang besar di dekat pasar, lori untuk mengangkut gabah, dan hubungan dengan pedagang di kota. Ia juga punya anak buah yang disegani—preman-preman pasar.
Suatu hari, Haji Dulah datang ke desa Suka Maju dengan mobil pick-up bututnya. Ia langsung menuju rumah Pak Karto.
"Pak Karto, saya dengar panen kalian bagus tahun ini," sapa Haji Dulah dengan senyum lebar, memperlihatkan gigi emasnya.
"Alhamdulillah, Haji. Lumayan," jawab Pak Karto hati-hati.
"Saya mau beli gabah kalian. Harga lebih tinggi dari biasanya. Dua ratus per kilo. Biasanya kan seratus lima puluh."
Pak Karto terdiam. Harga itu memang lebih tinggi. Tapi ia tahu, di kota harga gabah bisa empat ratus per kilo. Haji Dulah mengambil untung terlalu besar.
"Maaf, Haji. Kami punya kelompok tani. Rencananya, gabah akan kami jual bersama ke koperasi di kecamatan. Harga di sana tiga ratus lima puluh."
Wajah Haji Dulah berubah. Senyumnya lenyap. Matanya menyipit.
"Koperasi? Kalian punya koperasi?"
"Baru rencana, Haji. Tapi kelompok tani sudah sepakat."
Haji Dulah tertawa sinis. "Kelompok tani? Kalian ini petani miskin, mau main koperasi? Modal apa? Relasi apa? Nanti malah rugi, gabah kalian busuk di gudang."
"Kami akan coba, Haji. Kalau gagal, baru kami jual ke Haji."
Haji Dulah tidak senang. Ia pergi dengan muka masam. Tapi sebelum pergi, ia berpesan, "Ingat, Pak Karto. Saya sudah lama berkecimpung di sini. Jangan coba-coba main belakang. Bisa berabe."
Ancaman itu membuat Pak Karto gelisah. Ia tahu Haji Dulah punya pengaruh besar. Bisa saja ia menyuruh preman-preman untuk mengganggu.
Malam harinya, kelompok tani mengadakan rapat darurat di rumah Pak Karto. Semua anggota hadir, termasuk Joko.
"Pak, kita tidak boleh takut," kata Joko tegas. "Ini hak kita sebagai petani. Kita boleh menjual ke siapa saja dengan harga terbaik. Tidak boleh ada paksaan."
"Tapi Jok, Haji Dulah itu punya preman. Bisa bahaya," kata seorang petani.
"Kalau kita bersatu, mereka tidak akan berani. Mereka hanya berani sama yang sendiri-sendiri. Kalau kita kompak, mereka gentar."
Pak Karto mengangguk. "Joko benar. Kita sudah bersatu di kelompok tani, jangan pecah karena ancaman. Kita harus berani."
Mereka sepakat untuk tetap menjual gabah ke koperasi. Besoknya, mereka mulai memanen dan mengangkut gabah ke gudang koperasi di kecamatan.
Haji Dulah tidak tinggal diam. Ia mengirim preman-preman untuk menghadang lori-lori petani di jalan. Tapi para petani sudah siap. Mereka bergerombol, saling menjaga. Preman-preman itu hanya bisa melihat dari kejauhan.
"Kalian akan menyesal!" teriak salah satu preman.
Tidak ada yang menjawab. Lori terus berjalan menuju koperasi.
Beberapa hari kemudian, kabar sampai ke telinga Haji Dulah bahwa petani Suka Maju berhasil menjual gabah ke koperasi dengan harga tiga ratus lima puluh. Ia marah besar. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena petani bersatu.
"Kelompok tani itu...," gerutunya sambil menghisap rokok. "Siapa yang memprakarsai?"
"Katanya anak muda, namanya Joko. Anaknya Wahyono, petani penggarap," lapor anak buahnya.
"Joko... ingat nama itu. Suatu hari kita urus."
Joko mendapat kabar tentang ancaman Haji Dulah. Ia tidak takut, tapi tetap waspada. Ia tahu, perjuangan ini tidak mudah. Banyak kepentingan yang akan terusik.
"Jok, hati-hati. Haji Dulah orang berpengaruh," pesan Pak Kades.
"Saya tahu, Pak. Tapi saya yakin, selama kita di jalan benar, Tuhan akan lindungi."
Cobaan datang bertubi-tubi.
Pertama, tuduhan korupsi. Seseorang melaporkan Joko ke polisi dengan tuduhan menggelapkan uang kelompok tani. Katanya, uang iuran anggota sebesar lima ratus ribu rupiah hilang. Joko dituduh mengambilnya.
Joko kaget bukan main. Ia tidak pernah mengambil uang itu. Semua transaksi dicatat rapi, diaudit setiap bulan. Tapi laporan tetap masuk.
Polisi datang ke desa. Joko diperiksa selama berjam-jam di balai desa. Warga berkumpul di luar, cemas.
"Joko, bagaimana ini?" tanya Sri cemas.
"Tenang, Bu. Saya tidak bersalah. Pasti ada yang fitnah."
Setelah pemeriksaan, ternyata uang itu tidak hilang. Hanya salah catat. Yang membuat laporan palsu adalah orang suruhan Haji Dulah. Tapi ia tidak bisa dituntut karena bukti tidak cukup.
"Kamu beruntung, Joko. Tapi lain kali hati-hati," kata polisi itu.
Kedua, isu miring tentang hubungannya dengan perempuan. Dikatakan bahwa Joko selingkuh dengan istri orang. Tidak ada bukti, tapi gosip menyebar cepat.
Joko sedih. Ia tahu ini juga ulah Haji Dulah. Tujuannya jelas: merusak reputasinya, membuat warga tidak percaya padanya.
"Jok, jangan sedih. Warga tahu kamu orang baik. Gosip itu tidak akan bertahan," hibur Budi.
"Tapi Bud, ini berat. Reputasi adalah segalanya. Kalau warga tidak percaya, bagaimana aku bisa memimpin?"
"Warga cerdas, Jok. Mereka tahu mana yang benar mana yang fitnah. Sabar saja."
Dan benar, warga tidak percaya pada gosip itu. Mereka kenal Joko sejak kecil. Mereka tahu ia anak saleh, tidak pernah macam-macam. Ibu-ibu PKK bahkan mengadakan pengajian khusus untuk mendoakan Joko.
Ketiga, usaha pertaniannya diganggu. Sawahnya dirusak orang di malam hari. Tanaman padi yang baru tumbuh dicabuti, dibiarkan layu. Joko hanya bisa pasrah.
"Siapa yang tega?" keluhnya.
"Pasti orang suruhan Haji Dulah. Mereka ingin kamu kapok," kata Wahyono.
"Tapi Yah, saya tidak akan kapok. Saya akan terus berjuang. Kalau saya berhenti, mereka menang."
Wahyono memeluk anaknya. "Kamu benar, Nak. Teruslah berjuang. Ayah bangga padamu."
Cobaan-cobaan itu justru membuat Joko semakin kuat. Ia sadar, perjuangan yang benar akan selalu ada ujian. Ia ingat kisah para nabi, para pahlawan, yang juga difitnah, dianiaya, tapi tetap teguh.
Ia terus bekerja. Kelompok tani semakin solid. Perpustakaan semakin ramai. Karang taruna semakin aktif. Warga semakin percaya padanya.
Suatu hari, Pak Kades memanggilnya.
"Joko, kamu sudah melewati banyak ujian. Kamu tetap teguh. Itu bukti kedewasaanmu. Bapak bangga."
"Terima kasih, Pak. Ini semua berkat doa dan dukungan warga."
"Pilkades tinggal beberapa bulan lagi. Kamu siap?"
Joko menarik napas. "Siap, Pak. Dengan segala risiko."
"Bagus. Mulai sekarang, kamu harus lebih banyak keliling, sapa warga, dengarkan aspirasi mereka. Jangan hanya di kelompok tani. Jangkau semua kalangan."
"Siap, Pak."
Joko mulai blusukan. Setiap sore, setelah mengajar anak-anak, ia berkeliling desa. Mendatangi rumah-rumah warga, ngobrol dengan mereka, mendengarkan keluhan dan harapan.
Ia mendatangi rumah Mbok Minah, janda tua yang hidup sebatang kara.
"Mbok, ada yang bisa saya bantu?" tanya Joko.
"Joko, Nak. Mbok cuma butuh air bersih. Sumur mbok kering. Tiap hari harus minta air ke tetangga."
"Saya catat, Mbok. Nanti kita usulkan pembuatan sumur bor."
Ia mendatangi rumah Pak Jum, petani miskin yang tak punya sawah.
"Pak, bagaimana kabar?"
"Biasa, Jok. Jadi buruh tani. Upah kecil, nggak cukup buat anak sekolah."
"Anak Bapak sekolah di mana?"
"Di SD sini. Kelas tiga. Tapi sering nggak masuk, nggak ada uang buat beli buku."
"Saya catat, Pak. Nanti kita wawanan bantuan."
Ia mendatangi rumah Slamet, pemuda pengangguran yang sering nongkrong di warung.
"Lam, ngapain? Nggak kerja?"
"Lha kerja apa, Jok? Di desa lowongan nggak ada. Mau ke kota, nggak punya modal."
"Gimana kalau ikut pelatihan di kecamatan? Ada program keterampilan. Nanti bisa buka usaha sendiri."
"Ah, masak iya? Aku bisa?"
"Bisa. Asal mau. Nanti aku bantu daftarkan."
Joko mencatat semua aspirasi itu dalam buku kecil. Ia ingin tahu persis apa yang dibutuhkan warganya. Bukan asumsi, bukan perkiraan, tapi data nyata.
"Jok, kamu ini seperti calon bupati saja," canda Budi suatu hari.
"Bukan, Bud. Ini cara sederhana. Kalau mau memimpin, harus kenal dulu yang dipimpin. Nggak bisa hanya di balai desa."
Suatu malam, Joko mengadakan pertemuan di balai desa. Ia memaparkan hasil blusukannya selama sebulan. Ada daftar panjang kebutuhan warga: air bersih, perbaikan jalan, bantuan pendidikan, lapangan kerja, posyandu, dan masih banyak lagi.
"Ini PR kita bersama, Pak, Bu. Kalau saya jadi kepala desa, ini yang akan saya perjuangkan. Tapi saya tidak bisa sendiri. Saya butuh bantuan semua. Gotong royong, kerja sama. Itu kunci."
Warga yang hadir bertepuk tangan. Mereka terkesan dengan keseriusan Joko. Ia tidak hanya janji-janji kosong, tapi punya data, punya rencana.
"Jok, kami percaya padamu," kata Pak Karto mewakili warga. "Kamu sudah buktikan dengan kelompok tani, dengan perpustakaan, dengan karang taruna. Kamu pantas jadi pemimpin kami."
Joko terharu. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin. Doakan saya."
Malam itu, ia pulang dengan hati berbunga-bunga. Dukungan warga semakin kuat. Ia yakin, dengan kebersamaan, desa Suka Maju bisa berubah.
Ibu Sumarni, guru SD yang dulu membimbing Joko, sudah pensiun. Tapi semangatnya tidak pudar. Ia sering datang ke perpustakaan desa, membantu Joko mengelola, kadang ikut mengajar anak-anak.
Suatu sore, ia memanggil Joko.
"Joko, duduk. Ibu mau bicara."
Joko duduk di samping gurunya. Ibu Sumarni sudah sangat tua. Rambutnya putih semua, kulitnya keriput. Tapi matanya masih tajam, masih berbinar.
"Joko, ibu lihat perjuanganmu. Ibu bangga. Kamu tidak berubah. Masih rendah hati, masih peduli pada sesama. Itu modal utama jadi pemimpin."
"Terima kasih, Bu. Ibu guru saya. Tanpa ibu, saya tidak akan seperti ini."
"Jangan bilang begitu. Kamu yang mau belajar. Ibu hanya memberi jalan."
Joko terdiam. Ia ingat masa kecilnya, ketika Ibu Sumarni meminjamkan buku pertama, ketika Ibu Sumarni membimbingnya membaca, ketika Ibu Sumarni menanamkan mimpi-mimpi besar.
"Bu, saya mau tanya. Apa ibu punya pesan untuk saya, kalau nanti jadi kepala desa?"
Ibu Sumarni tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
"Joko, jadi pemimpin itu seperti jadi guru. Kamu harus sabar, harus ikhlas, harus mendidik. Rakyat itu seperti murid. Ada yang pintar, ada yang bodoh. Ada yang nurut, ada yang nakal. Tapi semua harus diperlakukan sama. Jangan pilih kasih."
"Ingat juga, Nak. Kekuasaan itu sementara. Jabatan itu titipan. Suatu hari kamu akan turun, kembali jadi rakyat biasa. Karena itu, jangan sombong. Jangan korupsi. Jangan sakiti siapa pun. Tinggalkan kenangan baik."
Joko menangis. Ia memeluk gurunya.
"Ibu, terima kasih untuk semuanya. Saya tidak akan lupa pesan Ibu."
"Joko, ibu bangga padamu. Kamu adalah murid terbaik ibu. Teruslah berjuang. Ibu akan selalu mendoakanmu."
Beberapa bulan kemudian, Ibu Sumarni meninggal dunia. Usianya sudah sangat tua, sakit-sakitan. Tapi kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi Joko.
Di pemakaman, Joko menangis sejadi-jadinya. Ia kehilangan guru, ibu, sahabat. Tapi ia juga bersyukur, sempat berpamitan, sempat menerima pesan terakhir.
"Bu, saya akan terus berjuang. Saya akan jadi pemimpin seperti yang Ibu harapkan. Doakan saya di sana."
Musibah melanda. Pasar desa terbakar. Api berasal dari kios minyak tanah yang meledak. Dalam hitungan jam, seluruh pasar ludes. Puluhan pedagang kehilangan mata pencaharian.
Warga panik. Ada yang menangis, ada yang marah, ada yang putus asa. Pak Kades kewalahan menghadapi situasi.
Joko tidak tinggal diam. Ia segera menggerakkan Karang Taruna dan kelompok tani untuk membantu. Mereka mendirikan posko darurat, mengumpulkan sumbangan, mendata pedagang yang terkena musibah.
"Teman-teman, ini ujian bagi kita. Kita harus bantu saudara-saudara kita yang kesusahan. Jangan menunggu perintah. Bergerak sekarang!" seru Joko.
Pemuda-pemuda bergerak. Mereka membersihkan puing-puing, mendirikan tenda darurat, mengumpulkan makanan dan pakaian. Warga lain ikut membantu. Semangat gotong royong hidup kembali.
Joko juga mengirim surat ke dinas sosial dan PMI di kabupaten, meminta bantuan. Dalam dua hari, bantuan mulai berdatangan. Beras, mi instan, pakaian layak pakai, dan obat-obatan.
"Mas Joko, terima kasih. Kami tidak tahu harus bagaimana tanpa bantuan Mas," kata seorang pedagang, Bu Sri, dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, Bu. Ini tugas kita sebagai warga desa. Kita harus saling bantu."
Setelah situasi reda, Joko mengusulkan pembangunan kembali pasar yang lebih baik. Ia mengajak pedagang dan tokoh masyarakat untuk musyawarah.
"Pak, Bu, kita harus bangun pasar yang lebih bagus, lebih tertib, lebih aman. Jangan seperti dulu, semrawut dan rawan kebakaran."
"Tapi Jok, kita tidak punya uang," kata Pak Kades.
"Kita bisa minta bantuan ke kabupaten, provinsi, bahkan pusat. Saya sudah siapkan proposal. Tinggal kita ajukan bersama."
Mereka setuju. Proposal disusun, ditandatangani Pak Kades, lalu dikirim ke berbagai instansi. Tiga bulan kemudian, kabar gembira datang. Pemerintah kabupaten menyetujui bantuan untuk pembangunan pasar baru.
Warga desa bersorak. Mereka tidak menyangka usulan Joko diterima. Ini kali pertama desa mereka mendapat bantuan sebesar itu.
"Joko, kamu hebat!" puji Pak Kades. "Ini berkat kegigihanmu."
"Ini berkat kebersamaan kita, Pak. Saya hanya penyusun proposal. Yang menentukan adalah perjuangan bersama."
Pembangunan pasar dimulai. Joko aktif mengawasi, memastikan tidak ada penyelewengan. Ia juga melibatkan pemuda desa sebagai tenaga kerja, memberi mereka penghasilan, hingga pasar rampung..
BAB VI
PILKADES DAN TAKDIR KEPEMIMPINAN
Setelah menyatakan kesediaannya maju sebagai calon kepala desa, Joko tidak tinggal diam. Ia mulai mempersiapkan diri dengan serius. Setiap malam ia belajar tentang pemerintahan desa dari Pak Kades. Buku-buku tentang administrasi desa ia pinjam dari kecamatan.
"Pak, apa saja tugas kepala desa?" tanya Joko suatu malam.
"Banyak, Nak. Mengelola pemerintahan desa, melaksanakan pembangunan, membina masyarakat, dan memberdayakan warga. Semua harus dilakukan dengan baik."
"Bagaimana caranya agar sukses?"
"Yang pertama, kenali wargamu. Tahu masalah mereka, tahu harapan mereka. Kedua, buat program yang sesuai kebutuhan. Ketiga, jangan korupsi. Keempat, dekat dengan warga. Kelima, selalu belajar. Jangan pernah merasa paling pintar."
Joko mencatat semua nasihat itu di buku khusus. Ia sadar, jadi kepala desa tidak mudah. Tapi ia siap belajar.
Di samping belajar dari Pak Kades, Joko juga aktif turun ke masyarakat. Ia mendatangi warga satu per satu, mendengar keluhan dan harapan mereka.
"Pak, kalau Bapak jadi kepala desa, apa yang akan Bapak lakukan?" tanya seorang warga, Pak Juminten, lahir tahun 1930, ketika Joko berkunjung ke rumahnya.
"Yang pertama, saya akan perbaiki jalan desa. Biar tidak becek kalau hujan. Biar anak-anak bisa ke sekolah dengan nyaman. Lalu saya akan perjuangkan listrik masuk desa. Biar anak-anak bisa belajar malam. Juga akan perbaiki sekolah, biar tidak bocor."
Pak Juminten mengangguk senang. "Bagus, Pak. Saya dukung. Sudah lama kami menunggu perubahan."
Pendaftaran calon kepala desa dibuka pada bulan Maret. Joko mendaftar dengan didampingi Pak Kades dan puluhan warga. Ia menjadi calon termuda, baru 24 tahun.
Di ruang pendaftaran balai desa, ia bertemu calon-calon lain. Ada Pak Karto (bukan petani tua yang sama, tapi orang berbeda), mantan perangkat desa yang sudah berpengalaman, usianya 50 tahun, lahir tahun 1921. Ada Pak Sastro, pengusaha sukses dari kota yang pulang kampung, kaya raya, lahir tahun 1925. Ada Bu Murni, mantan guru yang dihormati, usianya 45 tahun, lahir tahun 1926. Mereka semua lebih tua dan lebih berpengalaman darinya.
"Joko, kamu yakin?" bisik Budi yang mendampinginya.
"Yakin, Bud. Ini panggilan hati. Saya tidak akan mundur."
Setelah mendaftar, Joko menerima nomor urut 4. Ia akan berkampanye selama sebulan ke depan.
Malam harinya, ia berkumpul dengan tim suksesnya, teman-teman karang taruna dan warga yang mendukung.
"Jok, kita harus siapkan strategi. Lawan kita berat-berat. Mereka punya uang, punya pengalaman, punya jaringan," kata Budi.
"Iya, Bud. Tapi kita punya modal: semangat dan dukungan warga akar rumput. Kita kampanye dengan cara sederhana, door to door. Sambangi warga satu per satu. Jangan pakai uang, pakai hati."
"Tapi itu melelahkan, Jok. Butuh waktu lama."
"Tidak apa-apa. Yang penting kita dekat dengan warga. Kita dengar keluhan mereka. Kita buktikan bahwa kita peduli."
Mereka menyusun jadwal kampanye. Setiap hari, Joko akan mengunjungi puluhan rumah warga. Ia akan mendengar, berdialog, dan menyampaikan visinya.
Kampanye dimulai. Joko berkeliling desa dengan berjalan kaki. Sesekali naik sepeda ontel pinjaman dari Budi. Ia menyambangi warga di sawah, di pasar, di rumah-rumah.
Reaksi warga beragam. Ada yang antusias, ada yang ragu.
"Mas Joko, kamu masih muda. Apa bisa memimpin?" tanya seorang ibu paruh baya di dapur rumahnya.
"Saya bisa, Bu. Memang saya muda, tapi saya punya semangat. Saya akan belajar dari yang berpengalaman. Saya akan dibantu perangkat desa. Yang penting, saya mau bekerja untuk desa ini."
"Tapi lawanmu berat-berat. Ada Pak Karto yang sudah lama jadi perangkat, tahu seluk-beluk desa. Ada Pak Sastro yang kaya, bisa kasih sembako ke warga. Ada Bu Murni yang dihormati."
"Saya tahu, Bu. Tapi saya tidak takut kalah. Yang penting saya sudah berusaha. Kalau Tuhan berkehendak, saya akan menang. Kalau tidak, saya akan tetap mengabdi."
Ibu itu tersenyum. "Kamu anak baik, Mas. Saya doakan sukses."
Di sisi lain, ada juga yang meragukan karena usia Joko.
"Muda amat. Apa tahu cara ngatur desa? Apa tahu cara ngatur anggaran?" sindir seorang warga, Pak Sarman, di warung kopi.
Joko tidak marah. "Saya memang muda, Pak. Tapi muda bukan berarti tidak bisa. Saya punya semangat, punya ide, dan punya niat baik. Saya juga belajar dari Pak Kades. Insya Allah, dengan bantuan warga, saya bisa."
Pak Sarman cuma mendengus. Tapi Joko tidak patah semangat.
Dukungan terbesar datang dari teman-teman karang taruna. Mereka bergerak massal, menyebarkan visi Joko ke seluruh desa.
"Mas Joko itu baik, aktif, peduli. Dia yang ngajarin kita gotong royong, bikin turnamen voli, ngajar anak-anak gratis. Dia pantas jadi kepala desa," kata mereka pada warga.
Berbeda dengan calon lain yang menggunakan pengeras suara dan spanduk besar, Joko memilih kampanye sederhana. Ia hanya menggunakan papan nama kecil dan selebaran yang dicetak seadanya di kecamatan.
Dalam setiap pertemuan, ia tidak menjanjikan yang muluk-muluk. Ia bicara apa adanya.
"Warga desa Suka Maju yang saya hormati. Saya Joko Prasetyo, anak petani, lahir dan besar di desa ini. Saya tahu betul keadaan desa kita, jalan becek, sekolah bocor, listrik belum masuk, air bersih susah. Saya ingin mengubah itu semua."
Warga mendengarkan dengan saksama.
"Saya tidak punya uang banyak seperti calon lain. Saya tidak punya pengalaman lama seperti calon lain. Tapi saya punya semangat, punya niat, dan punya keberanian. Saya ingin desa kita maju. Saya ingin anak-anak kita sekolah dengan nyaman. Saya ingin petani kita sejahtera."
Beberapa warga bertepuk tangan.
"Kalau saya terpilih, saya tidak akan korupsi. Saya akan transparan. Saya akan melibatkan warga dalam setiap keputusan. Saya akan menjadi kepala desa yang melayani, bukan dilayani."
Seorang warga tua, Mbah Joyo, lahir tahun 1895, berdiri dengan tongkatnya. "Mas Joko, saya percaya sama kamu. Kamu anak baik, rajin, dan sopan. Saya akan pilih kamu."
Joko tersenyum haru. "Terima kasih, Mbah. Doakan saya."
Masa kampanye berlangsung selama satu bulan penuh. Bulan itu menjadi bulan terpanjang dalam hidup Joko. Setiap hari ia harus berkeliling, menyapa warga, meyakinkan mereka bahwa ia layak dipilih. Tapi di balik itu semua, intrik dan politik uang mulai bermain.
Hari-hari pertama kampanye berjalan lancar. Joko bersama timnya, Budi, Slamet, dan beberapa pemuda karang taruna, berkeliling desa dengan berjalan kaki. Mereka menyusuri jalan setapak, melewati sawah, mendatangi rumah-rumah warga. Joko tak pernah lelah tersenyum dan menyapa.
"Assalamu'alaikum, Pak. Kulo Joko, nyuwun wekdal sekedap," sapanya setiap kali tiba di rumah warga.
Namun, memasuki minggu kedua, suasana mulai berubah. Warga yang tadinya ramah mulai menunjukkan sikap berbeda. Beberapa menghindar, beberapa hanya tersenyum sinis, beberapa menolak ditemui.
"Jok, kenapa ya warga pada ogah ditemui?" tanya Budi heran.
"Aku juga heran, Bud. Coba kita cari tahu."
Mereka mencari informasi dari warga yang masih ramah. Ternyata, tim sukses calon lain—terutama timnya Pak Sastro yang kaya raya—sudah lebih dulu bergerak. Mereka membagikan sembako, uang, dan janji-janji manis.
"Mas Joko, maaf ya. Saya sudah terima bantuan dari tim Pak Sastro. Katanya, kalau saya pilih beliau, nanti dapat tambahan," kata seorang warga, Mbok Minah, dengan wajah menyesal.
Joko tersenyum getir. "Tidak apa-apa, Mbok. Itu hak Mbok. Saya tidak bisa memaksa."
Tapi di dalam hati, ia sedih. Politik uang telah merusak demokrasi desa. Warga yang miskin dengan mudah tergiur oleh uang dan sembako.
Tak hanya politik uang, fitnah juga mulai bertebaran. Selebaran hitam ditempel di tempat-tempat strategis: di pohon dekat masjid, di papan pengumuman desa, bahkan di dinding sekolah. Isinya fitnah keji tentang Joko.
"JOKO PRASETYO: ANAK HARAM?! IBUNYA PERNAH JADI TUKANG SERVIS DI KOTA!"
Joko membaca selebaran itu dengan tangan gemetar. Ia tidak marah, tapi sedih. Ibunya—Sri—adalah wanita paling mulia yang dikenalnya. Ia tak pernah bekerja di luar desa, apalagi menjadi tukang servis. Fitnah itu sangat keji.
"Jok, ini keterlaluan!" Budi marah besar. "Kita harus lapor polisi!"
"Tenang, Bud. Kalau kita lapor, malah jadi ramai. Mereka justru senang. Lebih baik kita abaikan."
"Tapi Jok, ini soal harga diri ibumu!"
"Aku tahu, Bud. Tapi Tuhan tahu yang benar. Biarkan waktu yang membuktikan."
Joko pulang dengan hati berat. Ia memeluk ibunya yang menangis tersedu-sedu. Sri sudah membaca selebaran itu.
"Nak, Ibu tidak pernah... Ibu tidak pernah..." isaknya.
"Bu, aku percaya Ibu. Semua orang yang kenal Ibu juga percaya. Jangan hiraukan fitnah itu. Mereka hanya ingin menjatuhkan aku."
Sri mengangguk, tapi hatinya tetap perih. Fitnah begitu mudah dilontarkan, tapi bekasnya dalam.
Fitnah terus berlanjut. Kali ini tentang masa lalu Joko di kota. Dikatakan bahwa Joko pernah terlibat perkelahian, pernah masuk penjara, bahkan dituduh mencuri.
Joko hanya bisa tersenyum pahit. Ia memang pernah terlibat perkelahian, membela temannya yang dirampok, tapi itu di SMP, dan ia tidak pernah dipenjara. Tuduhan mencuri sama sekali tidak benar.
"Jok, ini gila. Mereka mau menghancurkan reputasimu," kata Budi.
"Biarkan, Bud. Orang pintar tidak akan percaya fitnah. Yang percaya hanya orang bodoh. Kita fokus pada kampanye saja."
Tapi Joko tidak bisa sepenuhnya mengabaikan. Fitnah itu menyebar cepat, mempengaruhi sebagian warga. Beberapa yang tadinya mendukung, mulai ragu.
"Mas Joko, apa benar Ibu saya dulu tukang servis?" tanya seorang pemuda, Karjo, dengan polos.
Joko menahan napas. "Karjo, kamu kenal ibuku? Kamu sering ke rumahku. Apakah ibuku pernah kerja di luar desa?"
Karjo menggeleng. "Tidak pernah, Mas. Ibu Sri di rumah terus."
"Nah, berarti itu fitnah. Mereka sengaja membuat cerita bohong untuk menjatuhkan aku."
Karjo mengangguk. "Maaf, Mas. Aku percaya Mas Joko."
Hari-hari berikutnya, politik uang semakin menjadi-jadi. Tim Pak Sastro membagikan uang lima ribu rupiah per kepala keluarga, plus sembako. Tim Pak Karto membagikan sarung dan mukena. Tim Bu Murni membagikan buku dan alat tulis gratis untuk anak sekolah.
Joko tidak punya uang untuk itu. Ia hanya mengandalkan ketulusan dan kerja keras. Beberapa tim suksesnya mulai putus asa.
"Jok, kita kalah telak. Mereka punya uang, kita tidak. Gimana ini?" keluh Slamet.
"Kita tidak boleh menyerah, Slam. Uang bukan segalanya. Warga masih punya hati nurani. Kita yakinkan mereka dengan program, bukan dengan uang."
"Tapi Jok, orang miskin butuh uang sekarang. Mereka tidak bisa menunggu janji."
Joko terdiam. Ia tahu Slamet benar. Kemiskinan membuat orang rentan terhadap politik uang. Tapi ia tidak mau menempuh jalan pintas.
"Aku tidak akan melakukan politik uang, Slam. Itu akan jadi beban di kemudian hari. Kalau aku menang karena uang, aku akan diatur oleh uang. Aku ingin menang karena didukung hati warga."
Slamet menghela napas. "Terserah kamu, Jok. Aku tetap dukung."
Suatu malam, Joko kedatangan tamu tak diundang. Seorang pria berpakaian rapi, mengaku sebagai utusan Pak Sastro. Ia membawa tas besar.
"Mas Joko, saya dari tim Pak Sastro. Pak Sastro ingin bertemu, ngobrol santai. Mungkin kita bisa kerja sama."
Joko curiga. "Kerja sama apa?"
"Pak Sastro tahu Mas Joko punya basis massa kuat di kalangan pemuda. Kalau Mas Joko mau mendukung Pak Sastro, Pak Sastro akan beri imbalan... katakanlah, sepuluh juta. Uangnya sudah saya bawa."
Joko terkejut. Sepuluh juta adalah uang yang sangat besar saat itu. Bisa untuk membeli sawah, membangun rumah, atau modal usaha.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya sudah mencalonkan diri, saya harus berjuang sampai akhir. Saya tidak bisa menjual suara pendukung saya."
Pria itu tersenyum sinis. "Pikir-pikir lagi, Mas. Sepuluh juta itu besar. Bisa untuk modal usaha, bisa untuk bantu orang tua. Siapa tahu Mas Joko kalah, nggak dapat apa-apa."
"Lebih baik kalah dengan hormat, daripada menang dengan curang. Saya sudah memutuskan, Pak."
Pria itu pergi dengan kecewa. Joko menolak tawaran yang menggiurkan. Malam itu, ia merenung panjang. Godaan itu besar, tapi ia harus kuat.
Keesokan harinya, Joko mendapat kabar bahwa beberapa tim suksesnya "dibeli" oleh tim Pak Sastro. Mereka menerima uang dan beralih mendukung calon lain.
"Salam, Karjo, mereka semua sudah digaji tim Pak Sastro," lapor Budi dengan wajah kesal.
Joko diam. Hatinya sakit, tapi ia berusaha tegar. "Biarkan, Bud. Mereka punya kebutuhan. Mungkin mereka butuh uang. Kita tidak bisa memaksa."
"Tapi Jok, ini pengkhianatan!"
"Namanya juga perjuangan, Bud. Ada yang bertahan, ada yang pergi. Yang penting kita tetap berjuang."
Tim suksesnya yang tersisa tinggal Budi dan beberapa pemuda karang taruna yang paling loyal. Tapi mereka tidak menyerah. Justru semakin bersemangat.
Puncak kampanye adalah kampanye terbuka di lapangan desa dan debat kandidat yang diadakan panitia. Semua calon diberi kesempatan menyampaikan visi-misi dan menjawab pertanyaan warga.
Hari kampanye terbuka, lapangan desa penuh sesak. Masing-masing calon mendapat giliran 30 menit. Joko tampil paling akhir.
Ketika gilirannya tiba, Joko naik ke panggung sederhana. Ia tidak membawa tim orkestra, tidak membawa hadiah undian, tidak membawa makanan gratis. Hanya sebuah pengeras suara dan sewawan kertas berisi catatan.
"Warga desa Suka Maju yang saya hormati," ia memulai dengan suara lantang.
"Saya Joko Prasetyo, anak petani, lahir dan besar di desa ini. Saya tahu betul keadaan kita. Jalan becek, sekolah bocor, listrik belum masuk, air bersih susah. Saya sendiri mengalami itu. Saya merasakan bagaimana susahnya jadi anak desa."
Warga terdiam, mendengarkan.
"Saya tidak punya uang banyak seperti calon lain. Saya tidak bisa bagi-bagi sembako. Tapi saya punya hati, punya semangat, punya niat tulus untuk membangun desa ini. Saya sudah buktikan dengan kelompok tani, dengan perpustakaan desa, dengan karang taruna. Saya bekerja bukan karena ingin dipuji, tapi karena saya peduli."
Beberapa warga bertepuk tangan.
"Kalau saya terpilih, saya akan perjuangkan listrik masuk desa. Saya akan perbaiki jalan. Saya akan bangun irigasi. Saya akan berantas buta huruf. Saya akan bantu petani dengan teknologi baru. Saya akan kelola anggaran dengan transparan. Tidak ada korupsi, tidak ada mark-up. Setiap rupiah akan dipertanggungjawabkan."
Tepuk tangan semakin riuh.
"Tapi saya tidak bisa sendiri. Saya butuh dukungan kalian. Saya butuh doa kalian. Saya butuh kerja sama kalian. Mari kita bangun desa ini bersama-sama. Gotong royong, seperti dulu. Percayakan pada saya. Saya tidak akan mengecewakan."
Joko mengakhiri pidatonya dengan membungkukkan badan. Warga bersorak, bertepuk tangan meriah. Banyak yang terharu, terutama ibu-ibu.
"Mas Joko, saya dukung!" teriak seorang ibu.
"Saya juga!" teriak yang lain.
Joko tersenyum. Ia turun dari panggung, lalu dikerumuni warga yang ingin bersalaman. Beberapa bahkan menangis memeluknya.
"Nak, kamu seperti anakku sendiri. Ibu akan pilih kamu," kata seorang tua—Mbok Darmi.
Joko terharu. Dukungan tulus seperti ini tak ternilai harganya.
Debat kandidat diadakan tiga hari kemudian di balai desa. Acaranya dipandu oleh Pak Kades sebagai moderator. Hadir ratusan warga, memadati balai desa hingga halaman.
Masing-masing calon diberi waktu menyampaikan visi-misi, lalu menjawab pertanyaan dari panelis dan warga.
Pak Karto, calon tertua, menyampaikan visinya dengan tenang. "Saya sudah puluhan tahun mengabdi sebagai perangkat desa. Saya tahu persis masalah desa ini. Saya akan lanjutkan program yang sudah berjalan, dengan perbaikan di sana-sini."
Pak Sastro, calon terkaya, tampil percaya diri. "Saya punya modal, punya jaringan. Saya bisa datangkan investor, buka lapangan kerja. Saya akan bangun desa ini seperti kota. Jangan ragu pilih saya."
Bu Murni, calon guru, berbicara lembut tapi tegas. "Pendidikan adalah kunci kemajuan. Saya akan fokus pada pendidikan anak-anak kita. Perbaiki sekolah, sediakan beasiswa, tingkatkan kualitas guru."
Giliran Joko. Ia tampil sederhana, tanpa persiapan berlebihan. Tapi kata-katanya mengena.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu. Saya mungkin yang termuda, paling miskin, paling tidak berpengalaman. Tapi saya punya keberanian untuk bermimpi, dan kemauan untuk bekerja keras. Saya tidak akan janji yang muluk-muluk. Saya akan mulai dari hal-hal kecil yang nyata: perbaiki jalan, perjuangkan listrik, bangun irigasi, berantas buta huruf. Saya akan transparan, tidak korupsi, dan melibatkan warga dalam setiap keputusan. Itu janji saya."
Warga bertepuk tangan. Beberapa pertanyaan diajukan pada Joko.
"Mas Joko, bagaimana caranya membangun jalan tanpa uang?" tanya seorang warga.
"Pertama, kita ajukan proposal ke pemerintah kabupaten. Kedua, kita gotong royong, karena kita punya tenaga. Ketiga, kita libatkan perusahaan swasta lewat CSR. Semua bisa dilakukan, asal ada kemauan dan kerja sama."
"Mas Joko, bagaimana meyakinkan PLN agar desa kita dapat listrik?"
"Saya sudah pelajari. PLN punya program listrik masuk desa. Tapi kita harus aktif mengusulkan, melobi, dan meyakinkan bahwa desa kita layak. Saya sudah punya data jumlah penduduk, potensi ekonomi, dan dukungan warga. Insya Allah, dengan kegigihan, listrik akan masuk."
Jawaban Joko meyakinkan. Warga mulai percaya bahwa pemuda ini serius, bukan hanya omong kosong.
Tiga malam menjelang pencoblosan, suasana desa semakin panas. Politik uang merajalela. Beberapa warga terang-terangan menunjukkan uang dan sembako dari calon tertentu.
Joko tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau menggunakan uang untuk mempengaruhi warga. Malam itu, ia duduk di beranda rumah, memandangi bintang-bintang.
"Jok, masih di luar?" Wahyono keluar, duduk di sampingnya.
"Iya, Yah. Banyak pikiran."
"Pikiran apa?"
"Tentang pemilihan. Tentang masa depan. Aku takut kalah, Yah. Tapi lebih takut lagi kalau menang dengan cara curang."
Wahyono mengelus kepala anaknya. "Nak, kemenangan sejati bukan diukur dari suara terbanyak. Tapi dari ketulusan hati. Kalau kamu kalah, itu bukan akhir dunia. Kamu masih muda, masih bisa berjuang dengan cara lain. Yang penting, kamu sudah melakukan yang terbaik dengan cara yang halal."
"Tapi Yah, aku ingin sekali mengubah desa ini. Aku ingin mewujudkan mimpi-mimpi itu."
"Tuhan tahu niatmu, Nak. Kalau itu baik, Tuhan akan beri jalan. Tapi kalau belum, mungkin ada hikmah di baliknya. Berserah dirilah."
Joko memeluk ayahnya. "Terima kasih, Yah. Aku jadi tenang."
Malam itu, ia shalat tahajud panjang. Ia memohon petunjuk dan kekuatan.
"Ya Allah, jika memang aku layak jadi pemimpin, beri aku kemenangan. Jika tidak, beri aku kekuatan untuk menerima kekalahan. Yang terpenting, jadikan aku hamba-Mu yang selalu bersyukur dan tidak putus asa."
Esok harinya, Budi datang dengan kabar gembira. "Jok! Ada perubahan! Beberapa warga yang tadinya menerima uang, sekarang balik dukung kita. Mereka sadar, uang itu hanya untuk sementara, tapi kepemimpinan yang baik untuk jangka panjang."
Joko terkejut. "Bener, Bud?"
"Iya. Mereka bilang, setelah mendengar debat kemarin, mereka yakin kamu yang paling tulus. Mereka akan pilih kamu, meskipun sudah terima uang dari calon lain."
Joko tersenyum. Ada secercah harapan.
H-1, suasana desa mencekam. Dua kubu saling curiga. Beberapa kali terjadi cekcok kecil di warung-warung. Polisi dari kecamatan diterjunkan untuk mengamankan situasi.
Joko memanggil timnya. "Teman-teman, kita tidak boleh terpancing. Jangan balas provokasi. Tetap tenang, tetap santun. Tunjukkan bahwa kita berbeda."
Mereka sepakat. Sepanjang hari, mereka hanya berkeliling, menyapa warga, dan mengingatkan untuk datang ke TPS besok.
Malam harinya, Joko tidak bisa tidur. Ia gelisah, cemas, tapi juga penuh harap. Ia membaca Al-Qur'an, berdoa, dan mencoba tenang.
Pukul tiga pagi, ia terbangun. Ia shalat malam, bermunajat pada Tuhan. Air matanya menetes.
"Ya Allah, serahkan semua pada-Mu. Apapun hasilnya, aku terima. Yang penting, aku sudah berusaha maksimal."
Pagi buta, warga sudah mulai berdatangan ke TPS. Antrean panjang mengular. Mereka datang dengan pakaian terbaik, seolah akan menghadiri pesta.
Joko datang ke TPS sekitar pukul delapan, bersama orang tuanya. Ia tersenyum pada warga, menyalami yang dikenalnya. Tidak ada tekanan, tidak ada ajakan. Ia hanya ingin mencoblos dengan tenang.
"Semoga yang terbaik, Mas Joko," doa seorang ibu.
"Aamiin, Bu. Terima kasih."
Ia masuk ke bilik suara, mencoblos dengan hati-hati. Kertas suara dimasukkan ke kotak. Ia keluar dengan perasaan lega.
"Selesai sudah," gumamnya. "Sekarang tinggal menunggu."
Sepanjang hari, Joko di rumah. Ia tidak keluar, tidak ingin mempengaruhi jalannya pencoblosan. Beberapa teman datang bergantian, melaporkan situasi.
"TPS 1 ramai, Jok. Suara kita bagus."
"TPS 2 juga, antusias warga tinggi."
"TPS 3 ada sedikit keributan, tapi sudah diredam polisi."
Joko hanya mengangguk. Ia terus berdoa.
Sore hari, pencoblosan ditutup. Petugas mulai menghitung suara di masing-masing TPS. Joko memilih menunggu di rumah, tidak ikut berkerumun. Ia ingin hasilnya datang dengan sendirinya.
Pukul tujuh malam, Budi datang berlari. Wajahnya berseri-seri.
"Jok! Jok! Kita unggul sementara! Tiga TPS sudah masuk, kita unggul 100 suara!"
Joko terkejut. "Serius, Bud?"
"Serius! Tapi masih ada dua TPS lagi. Kita tunggu."
Jantung Joko berdegup kencang. Dua jam terakhir menjadi jam-jam paling menegangkan dalam hidupnya.
Pukul sembilan malam, semua suara masuk. Budi datang lagi, kali ini sambil menangis.
"Jok... Jok... kita menang! 650 suara! Unggul 150 suara dari Pak Karto di posisi kedua!"
Joko terpaku. Ia tidak bisa berkata-kata. Air matanya mengalir deras. Ia memeluk Budi erat-erat.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih..."
Wahyono dan Sri keluar dari dalam rumah. Mereka ikut menangis mendengar kabar itu. Seluruh keluarga berpelukan, bersyukur.
Tidak lama kemudian, warga mulai berdatangan ke rumah Joko. Mereka datang berbondong-bondong, membawa makanan, membawa ucapan selamat. Rumah Joko yang kecil itu penuh sesak.
"Pak Kades! Pak Kades! Selamat!" teriak mereka.
Joko keluar, tersenyum, melambaikan tangan. Ia tidak menyangka akan mendapat sambutan sebesar ini.
"Terima kasih, warga desa Suka Maju! Terima kasih atas kepercayaannya! Saya tidak akan mengecewakan!"
Malam itu, desa berpesta. Warga menyalakan obor, berkeliling desa, bersorak-sorai. Joko hanya bisa tersenyum dan bersyukur.
Sepekan setelah pemilihan, Joko dilantik secara resmi oleh Bupati Blitar di pendopo kabupaten. Acaranya sederhana tapi khidmat. Joko mengenakan jas hitam—pinjaman dari Pak Kades—yang agak kebesaran, tapi ia tetap tampak gagah.
Istri Pak Kades, Bu Kades, membantu memakaikan selempang kepala desa. Joko tersenyum haru. Ia ingat, dulu ia hanya anak kecil yang sering main di halaman rumah Pak Kades. Kini, ia resmi menjadi penerusnya.
"Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala desa dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Pancasila dan UUD 1945, serta berbakti kepada masyarakat, nusa, dan bangsa."
Suaranya lantang, tegas. Ia berjanji pada dirinya sendiri: tidak akan pernah ingkar.
Usai pelantikan, ia kembali ke desa dengan didampingi rombongan. Di perbatasan desa, ribuan warga sudah menanti. Mereka menyambut dengan sorak-sorai dan taburan bunga.
"Selamat datang, Pak Kades!" teriak mereka.
Joko turun dari mobil, berjalan di tengah-tengah warga. Ia menyalami satu per satu, mencium tangan para orang tua. Air matanya tak terbendung.
"Terima kasih, warga sekalian. Saya tidak akan pernah melupakan kepercayaan ini. Mari kita bangun desa ini bersama-sama."
Malam harinya, diadakan selamatan sederhana di balai desa. Warga membawa makanan, duduk bersama, makan bersama. Suasana akrab dan penuh kehangatan.
Pak Kades, sekarang mantan kades, memberi sambutan.
"Warga sekalian, hari ini kita menyaksikan sejarah. Seorang anak muda, anak petani, yang berjuang dengan tulus, kini menjadi pemimpin kita. Ini bukti bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Dia selalu memberi jalan bagi hamba-Nya yang tulus."
Joko menangis di sampingnya. Ia memeluk Pak Kades.
"Pak, tanpa Bapak, saya tidak akan sampai di sini."
"Bukan saya, Nak. Tapi Tuhan. Saya hanya alat-Nya."
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Joko duduk di beranda rumahnya. Ia memandangi desa yang mulai terlelap. Lampu minyak di rumah-rumah mulai padam. Tapi di hatinya, ada api yang berkobar, api semangat untuk mengabdi.
"Yah, Bu, doakan aku. Aku akan bekerja keras untuk desa ini."
Wahyono memeluk anaknya. "Kami selalu mendoakanmu, Nak. Tapi ingat, jadi pemimpin itu berat. Banyak cobaan. Banyak godaan. Jaga imanmu, jaga hatimu."
"Aku ingat, Yah. Aku tidak akan lupa dari mana aku berasal. Aku anak petani, anak desa. Aku akan selalu rendah hati."
Sri menangis di sampingnya. "Ibu bangga, Nak. Ibu bangga punya anak sepertimu."
Malam itu, Joko tidak bisa tidur. Ia menulis di buku catatannya.
"Hari ini, 12 Agustus 1974, aku resmi menjadi Kepala Desa Suka Maju. Usiaku 24 tahun. Ini adalah amanah besar dari Tuhan dan warga. Aku berjanji: tidak akan korupsi, tidak akan sombong, tidak akan lupa pada rakyat. Aku akan bekerja keras, siang dan malam, untuk membangun desa ini. Listrik, jalan, air bersih, irigasi, pendidikan, semua akan aku perjuangkan. Tolong aku, Ya Allah. Jangan biarkan aku tersesat."
Keesokan harinya, serah terima jabatan dilaksanakan di balai desa. Pak Kades, sekarang sebut saja Pak Karim, menyerahkan dokumen dan aset desa kepada Joko.
"Pak Kades baru, ini semua aset desa. Uang kas, inventaris, dokumen penting. Saya serahkan dengan penuh tanggung jawab. Semoga Bapak bisa mengelola lebih baik dari saya."
Joko menerima dokumen itu dengan hati-hati. "Terima kasih, Pak Karman. Saya mohon bimbingannya. Saya masih baru, banyak yang tidak tahu."
"Bapak akan baik-baik saja. Percaya diri. Saya akan selalu siap membantu."
Joko kemudian memperkenalkan perangkat desa yang akan membantunya. Ada Pak Karman sebagai sekretaris desa (anak Pak Kades dulu ), Pak Tumin sebagai kepala urusan pemerintahan, Bu Rum sebagai kepala urusan pembangunan, dan Pak Dasuki sebagai kepala urusan umum.
"Perangkat desa yang terhormat, saya mohon kerja samanya. Mari kita bekerja bersama, gotong royong, untuk kemajuan desa ini. Saya terbuka untuk kritik dan saran. Jangan sungkan-sungkan."
Mereka semua setuju. Suasana akrab dan penuh harap.
Setelah serah terima, Joko mengadakan rapat pertama dengan perangkat desa. Agenda utamanya adalah menyusun program kerja jangka pendek dan jangka panjang.
"Pak Karman, tolong siapkan data-data desa. Jumlah penduduk, mata pencaharian, tingkat pendidikan, potensi desa, dan masalah-masalah yang ada. Kita perlu data akurat untuk menyusun program."
"Baik, Pak Kades. Saya akan kumpulkan dalam minggu ini."
"Pak Tumin, tolong koordinasi dengan RT/RW. Buat jadwal pertemuan rutin. Saya ingin silaturahmi ke semua RT dalam bulan pertama ini."
"Siap, Pak Kades."
"Bu Rum, tolong inventarisir usulan pembangunan dari warga. Jalan mana yang paling rusak, irigasi mana yang perlu diperbaiki, sekolah mana yang perlu renovasi. Kita akan susun prioritas."
"Baik, Pak Kades."
"Pak Dasuki, tolong urus administrasi dan surat-menyurat. Saya butuh proposal untuk berbagai bantuan. Kita akan jemput bola, jangan hanya menunggu."
"Siap, Pak Kades."
Rapat berjalan lancar. Joko senang melihat semangat perangkat desa. Mereka tampak antusias dengan pemimpin baru yang enerjik.
Program pertama Joko adalah blusukan. Ia ingin mengenal warganya secara langsung, bukan hanya dari data. Setiap sore, setelah urusan kantor selesai, ia berkeliling desa dengan berjalan kaki.
Ia mendatangi rumah-rumah warga, duduk di beranda, ngobrol santai. Tidak ada protokol, tidak ada formalitas. Ia hanya ingin mendengar.
"Pak Kades, mampir," sapa seorang ibu, Mbok Sum, lahir tahun 1925, yang sedang menjemur padi di halaman.
"Mari, Mbok. Lagi apa?"
"Lagi jemur padi, Pak. Alhamdulillah, panen lumayan."
Joko duduk di kursi bambu. Mbok Sum membawakan air putih dalam gelas bekas selai.
"Pak Kades, saya dengar Bapak mau perjuangkan listrik. Bener?"
"Bener, Mbok. Saya sudah urus. Mudah-mudahan dua tahun lagi masuk."
"Wah, senangnya. Saya sudah tua, ingin lihat listrik sebelum mati."
Joko tersenyum. "Mbok masih panjang umur. Nanti Mbok bisa nonton TV, pakai kulkas, setrika listrik."
Mbok Sum tertawa. "Ah, Pak Kades ini bisa aja."
Di rumah lain, Joko bertemu dengan Pak wawan, seorang petani miskin yang hanya punya sawah sewaan.
"Pak, bagaimana hasil panen?"
"Alhamdulillah, lumayan, Pak Kades. Tapi harga gabah turun terus. Susah."
"Kita akan atasi itu, Pak. Dengan kelompok tani dan koperasi, kita akan jual gabah langsung ke pembeli, tanpa tengkulak. Harganya pasti lebih baik."
"Wah, bagus itu, Pak. Saya dukung."
Setiap kunjungan, Joko mencatat keluhan dan harapan warga dalam buku kecil. Buku itu menjadi panduannya dalam menyusun program.
Selain warga biasa, Joko juga menemui para tokoh desa: para tetua adat, tokoh agama, guru, dan perangkat desa pensiunan. Ia ingin mendapat masukan dari semua lapisan.
Pertama, ia menemui Mbah Joyo, tetua adat tertua, lahir tahun 1895.
"Mbah, saya mohon doa restu. Saya masih muda, banyak kurang. Mbah tolong bimbing."
Mbah Joyo tersenyum ompong. "Nak, kamu sudah dipilih warga. Itu bukti mereka percaya. Jangan sia-siakan. Jaga adat istiadat, jangan ditinggal. Tapi juga buka diri untuk kemajuan. Seimbangkan."
"Siap, Mbah. Saya akan jaga."
Kedua, ia menemui Pak Kyai Sholeh, tokoh agama yang sangat dihormati, lahir tahun 1920.
"Pak Kyai, saya mohon doa dan bimbingan. Saya ingin desa ini maju, tapi juga ingin warganya tetap beriman."
Pak Kyai tersenyum. "Nak, dunia dan akhirat harus seimbang. Bangun fisik, tapi jangan lupa bangun spiritual. Saya dukung program-programmu. Yang penting, jangan lupa Allah."
"Siap, Pak Kyai. Saya akan selalu ingat."
Ketiga, ia menemui Pak guru Supardi, pensiunan kepala SD, lahir tahun 1910.
"Pak Guru, saya mohon masukan tentang pendidikan di desa kita."
Pak Supardi menghela napas. "Pak Kades, pendidikan di desa kita masih tertinggal. Sekolah kekurangan guru, buku minim, fasilitas rusak. Tolong perhatikan."
"Saya akan perhatikan, Pak. Mohon bantuannya. Saya ingin Bapak jadi ketua tim pendidikan desa. Membantu merumuskan program peningkatan mutu sekolah."
Pak Supardi terkejut. "Saya? Tapi saya sudah pensiun."
"Pensiun bukan berarti berhenti berkarya, Pak. Ilmu dan pengalaman Bapak sangat dibutuhkan."
Pak Supardi tersenyum. "Baik, Pak Kades. Saya bersedia."
Setelah dilantik, Joko dihadapkan pada ekspektasi tinggi warga. Mereka berharap perubahan cepat. Setiap hari, warga datang ke kantor desa dengan berbagai permintaan.
"Pak Kades, tolong perbaiki jalan depan rumah saya. Sudah rusak parah."
"Pak Kades, anak saya mau sekolah, minta surat keterangan tidak mampu."
"Pak Kades, tolong bantu saya mengurus KTP."
"Pak Kades, kapan listrik masuk?"
Joko melayani semua dengan sabar. Ia tidak pernah marah, tidak pernah mengeluh. Tapi di dalam hati, ia kewalahan.
"Pak Karman, bagaimana ini? Warga banyak sekali yang datang," keluhnya suatu sore.
"Tenang, Pak Kades. Ini wajar. Mereka ingin kenal, ingin dekat, ingin minta tolong. Tapi Bapak harus bisa memilah mana yang prioritas, mana yang bisa didelegasikan."
"Bagaimana caranya, Pak?"
"Pertama, Bapak harus punya jadwal tetap. Misalnya, pagi untuk administrasi, siang untuk turun lapangan, sore untuk menerima warga. Kedua, Bapak harus delegasikan tugas ke perangkat desa. Tidak semua harus Bapak tangani sendiri."
Joko mengangguk. "Saran bagus, Pak. Saya akan atur."
Mulai minggu berikutnya, Joko menerapkan sistem itu. Pagi di kantor, menandatangani surat, rapat dengan perangkat. Siang turun lapangan, memantau pembangunan, blusukan. Sore menerima warga, mendengarkan keluhan dan permintaan. Malam istirahat atau menghadiri undangan warga.
Sistem itu berjalan efektif. Warga tetap bisa bertemu, tapi Joko tidak kewalahan. Perangkat desa juga lebih aktif, karena banyak tugas didelegasikan.
Tidak semua berjalan mulus. Ada warga yang kecewa karena permintaannya tidak segera dipenuhi.
"Pak Kades, saya minta bantuan minggu lalu, kok belum ada kabar?" protes Pak Sastro, bukan calon kepala desa, tapi warga biasa, dengan nada tinggi.
Joko menjelaskan dengan sabar. "Maaf, Pak. Bantuan yang Bapak minta sedang diproses. Tapi karena anggaran terbatas, harus menunggu giliran. Ada prioritas yang lebih mendesak."
"Saya juga mendesak, Pak Kades. Rumah saya mau rubuh!"
Joko memeriksa catatan. Rumah Pak Sastro memang sudah tua, tapi belum termasuk kategori darurat. Ada warga lain yang rumahnya lebih parah.
"Pak, maaf. Rumah Bapak memang perlu diperbaiki. Tapi prioritas kami adalah warga yang rumahnya sudah ambruk. Setelah itu, giliran Bapak. Sabar ya, Pak."
Pak Sastro kecewa, tapi ia mengerti. Ia pergi dengan perasaan campur aduk.
Cobaan lain datang dari tim sukses yang kecewa karena tidak mendapat imbalan. Beberapa orang yang tadinya membantu Joko selama kampanye, kini menagih janji.
"Pak Kades, saya kan sudah bantu Bapak dari awal. Masa saya tidak dapat apa-apa?" protes Iwan yang dulu sempat pindah ke tim Pak Sastro, lalu balik lagi di akhir, dengan nada kesal.
Joko menarik napas. "Slamet, kamu mau apa? Jabatan? Uang?"
"Ya setidaknya proyek, Pak Kades. Saya kan butuh kerja."
"Slamet, saya tidak bisa janji proyek. Semua proyek harus melalui prosedur, lelang terbuka. Kamu bisa ikut lelang kalau punya kemampuan. Tapi saya tidak bisa jamin."
Slamet kecewa. "Berarti Bapak ingkar janji?"
"Slamet, saya tidak pernah janji apa-apa selama kampanye. Saya hanya minta didukung. Kalau kamu mau proyek, ikuti prosedur. Jangan pakai jalur belakang. Itu tidak baik."
Slamet pergi dengan muka masam. Joko sedih, tapi ia tidak mau berkompromi dengan KKN.
Untuk mengatasi kekecewaan, Joko mengadakan pertemuan terbuka dengan warga setiap bulan. Ia menyampaikan laporan perkembangan desa, menjelaskan kendala yang dihadapi, dan menerima masukan.
"Warga sekalian, saya mohon maaf jika ada permintaan yang belum terpenuhi. Anggaran terbatas, tapi kami berusaha maksimal. Yang penting, semua dilakukan dengan transparan, tidak ada korupsi. Saya akan pertanggungjawabkan setiap rupiah."
Warga yang hadir bertepuk tangan. Mereka mulai percaya bahwa pemimpin muda ini berbeda.
"Pak Kades, kami percaya. Teruskan perjuangan," kata Pak Karto, mantan calon kepala desa yang kini menjadi pendukung setia.
Joko tersenyum. "Terima kasih, Pak. Dukungan Bapak sangat berarti."
Pertemuan rutin itu menjadi ajang silaturahmi sekaligus kontrol sosial. Warga bisa bertanya langsung, mengkritik langsung, dan mendapat jawaban langsung. Ini membuat kepercayaan warga semakin kuat.
Bulan-bulan pertama menjabat, Joko banyak belajar dari kesalahan. Ia pernah salah prioritas, salah alokasi anggaran, dan salah dalam mengambil keputusan. Tapi ia tidak pernah mengulangi kesalahan yang sama.
"Pak Karman, saya kemarin salah mengalokasikan dana. Uang untuk perbaikan jalan, saya pakai untuk beli alat tulis kantor. Padahal alat tulis masih cukup," akunya suatu hari.
"Tidak apa-apa, Pak Kades. Namanya juga belajar. Tapi ke depannya, harus lebih teliti. Setiap pengeluaran harus sesuai rencana."
"Iya, Pak. Saya akan buat catatan ketat. Setiap rupiah harus tercatat."
Sejak itu, Joko membuat buku kas pribadi. Setiap pengeluaran, sekecil apapun, ia catat. Ia ingin menjadi teladan dalam transparansi.
Kesalahan lain adalah dalam hal komunikasi. Joko pernah membuat keputusan tanpa melibatkan warga, akibatnya warga protes.
"Pak Kades, kenapa pembangunan got di kampung saya dihentikan?" protes seorang warga.
Joko kaget. Ia tidak tahu proyek itu dihentikan mandor karena kehabisan bahan.
"Maaf, Pak. Saya belum dapat laporan. Saya akan cek segera."
Setelah dicek, ternyata mandor mengambil bahan untuk proyek lain tanpa koordinasi. Joko marah, tapi ia juga sadar, ini karena lemahnya koordinasi.
Sejak itu, ia mewajibkan laporan mingguan dari semua pelaksana proyek. Setiap minggu, ia mengadakan rapat koordinasi untuk memantau perkembangan.
Di tengah kesibukan, keluarga tetap menjadi sandaran. Wahyono dan Sri selalu ada, memberi dukungan moral dan doa.
"Nak, jangan lupa makan. Jangan lupa istirahat. Kesehatan itu penting," pesan Sri setiap kali Joko pulang larut malam.
"Iya, Bu. Aku ingat."
Wahyono kadang memberi nasihat bijak. "Nak, jadi pemimpin itu seperti jadi bapak. Harus sabar, harus penyayang, harus adil pada semua anak. Jangan pilih kasih."
"Iya, Yah. Aku selalu ingat nasihatmu."
Keluarga juga menjadi tempat curhat. Saat Joko lelah, putus asa, atau kecewa, ia selalu pulang ke rumah. Pelukan ibu, nasihat ayah, selalu bisa menguatkannya.
Suatu malam, Joko pulang dengan wajah lesu. Hari itu ia menghadapi banyak protes dan kritik.
"Ibu, Ayah, aku capek. Rasanya ingin menyerah."
Sri memeluknya. "Nak, capek itu wajar. Tapi jangan menyerah. Ingat, banyak warga yang berharap padamu. Mereka memilihmu karena percaya. Jangan sia-siakan kepercayaan itu."
Wahyono menimpali. "Nak, perjuangan memang berat. Tapi lihatlah ke belakang, berapa banyak yang sudah kamu capai. Jalan desa mulai mulus. Listrik akan masuk. Sekolah mulai diperbaiki. Itu semua berkat kerjamu. Jangan berhenti sekarang."
Joko tersenyum. Orang tuanya selalu bisa menguatkan.
"Terima kasih, Yah, Bu. Aku akan terus berjuang."
Setahun menjabat, Joko mulai melihat hasil kerjanya. Jalan desa mulai diaspal, meski belum sempurna. Sekolah direnovasi, atap baru, lantai baru. Listrik dalam proses. Koperasi desa berkembang. Kelompok tani semakin solid.
Suatu sore, ia duduk di beranda rumah, memandangi desa yang mulai berubah. Ia ingat perjalanan panjang yang sudah dilaluinya. Dari anak petani miskin, menjadi kepala desa termuda. Dari bocah yang bermimpi di tepi sungai, menjadi pemimpin yang mewujudkan mimpi.
"Ya Allah, terima kasih. Engkau beri aku kesempatan untuk mengabdi. Jaga desa ini, lindungi warganya. Berkahi setiap langkahku. Jangan biarkan aku sombong. Jadikan aku pemimpin yang amanah."
Angin sore berhembus sepoi. Sawah menguning di kejauhan. Burung-burung beterbangan pulang ke sarang. Desa Suka Maju, yang dulu tertidur, kini mulai bangun.
Dan Joko, anak petani itu, tersenyum bahagia.
BAB VII
PERUBAHAN YANG MULAI TERLIHAT
Hari pertama sebagai kepala desa, Joko datang ke balai desa pukul enam pagi. Langit masih gelap. Ia ingin memberi contoh disiplin pada perangkat desa.
Tapi balai desa masih sepi. Pintu terkunci rapat. Ia duduk di teras sambil menunggu, sesekali memandangi langit timur yang mulai merekah.
Pukul setengah delapan, seorang perangkat datang—Pak Wawan (Sekretaris Desa) namanya. Ia kaget melihat Joko sudah duduk di teras.
"Pak Kades, sudah datang? Jam baru setengah delapan."
"Iya, Pak. Saya dari tadi jam enam. Ingin lihat suasana pagi."
Pak Wawan malu. "Maaf, Pak. Saya terlambat. Biasanya saya datang jam delapan."
"Tidak apa-apa, Pak. Lain kali kita perbaiki bersama. Saya ingin balai desa buka jam tujuh pagi. Kita harus melayani warga dengan baik."
Pak Wawan mengangguk. Ia mulai respek pada kepala desa mudanya.
Waktu menunjukkan pukul delapan, semua perangkat datang. Joko mengumpulkan mereka di ruang rapat. Suasana agak canggung.
"Selamat pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Saya Joko, kepala desa baru. Saya masih muda, masih banyak belajar. Saya mohon bimbingan dari semuanya. Anggap saya anak buah di sini."
Perangkat desa tersenyum. Mereka lega kepala desanya rendah hati, tidak sombong.
"Saya ingin kita bekerja dengan baik. Yang pertama, saya minta data desa yang lengkap. Jumlah penduduk, mata pencaharian, tingkat pendidikan, potensi desa. Saya ingin tahu persis kondisi desa kita."
"Baik, Pak Kades. Nanti kami siapkan," jawab Pak Wawan.
"Yang kedua, saya ingin jadwal pelayanan yang jelas. Jam berapa buka, jam berapa tutup. Warga harus dilayani dengan ramah dan cepat. Jangan sampai ada yang marah-marah."
"Setuju, Pak."
"Yang ketiga, saya ingin kita bangun komunikasi yang baik. Kalau ada masalah, bicarakan. Jangan dipendam. Jangan main belakang. Kita ini tim."
Perangkat desa mengangguk setuju. Pertemuan pertama berlangsung lancar.
Setelah pertemuan, Joko berkeliling balai desa. Ia melihat ruangan yang kumuh, berkas berserakan di lantai, komputer tua berdebu tidak terpakai. Ia menghela napas.
"Pak Wawan, kenapa ini berantakan?"
"Maaf, Pak Kades. Selama ini kita kekurangan tenaga. Administrasi terbengkalai. Banyak berkas yang belum diarsip."
"Mulai hari ini, kita benahi. Saya minta semua berkas dirapikan, ruangan dibersihkan. Kalau perlu, kita minta bantuan karang taruna untuk gotong royong bersih-bersih."
"Baik, Pak."
Joko tidak hanya memerintah. Ia ikut turun tangan membersihkan ruangan. Ia menyapu, mengepel, merapikan berkas. Perangkat desa terkejut, lalu ikut membantu. Mereka bekerja bersama hingga sore.
"Hari ini kita lembur, Pak," kata Joko sambil tersenyum. "Saya traktir makan malam. Nasi pecel di pinggir pasar."
Perangkat desa tersenyum. Mereka senang bekerja dengan pemimpin muda yang enerjik dan mau turun tangan.
Seminggu menjabat, Joko mulai menemui tantangan berat. Administrasi desa ternyata sangat kompleks. Ada laporan pertanggungjawaban keuangan, perencanaan anggaran, pengelolaan aset desa, dan banyak lagi.
"Pak Wawan, ini laporan keuangan kemarin bagaimana?" tanya Joko suatu hari.
"Maaf, Pak. Laporan belum selesai. Kita kekurangan staf. Yang bisa hitung cuma saya."
"Tapi ini sudah lewat deadline. Kalau tidak dilaporkan ke kecamatan, bisa kena sanksi. Bisa kena tegur."
"Saya tahu, Pak. Tapi apa daya? Tenaga terbatas."
Joko menghela napas. Ia harus mencari solusi. Ia ingat teman SMP-nya yang kuliah administrasi negara di Malang. Ia menghubunginya lewat surat.
Tak lama kemudian, balasan surat datang. Temannya, Rudi, si anak Makmur, bersedia membantu.
Rudi datang ke desa akhir pekan itu. Ia membawa buku-buku dan contoh format administrasi.
"Jok, ini contoh pembukuan sederhana. Lihat, kolom pemasukan, kolom pengeluaran, kolom keterangan. Setiap transaksi harus dicatat. Nanti tinggal rekap."
Perangkat desa belajar dengan antusias. Mereka yang awalnya gagap dengan angka, mulai paham.
"Terima kasih, Rud. Kamu banyak bantu," kata Joko.
"Sama-sama, Jok. Suatu hari, kalau ada rezeki, aku mau bantu desamu lebih banyak lagi. Mungkin aku akan buka usaha di sini."
"Silakan, Rud. Desa ini terbuka untuk siapa saja."
Setelah pembukuan rapi, Joko menghadapi tantangan lain: birokrasi. Setiap program harus melalui proses panjang, musyawarah desa, perencanaan, pengajuan ke kecamatan, pencairan dana, pelaporan. Semua butuh waktu dan tenaga.
"Pak Kades, ini proposal bantuan jalan kita ditolak lagi," lapor Pak Wawan suatu hari.
"Tolak? Kenapa?"
"Katanya tidak sesuai format. Harus pakai format baru dari kabupaten."
Joko menghela napas. Ia harus sabar. Ia mempelajari format baru, memperbaiki proposal, lalu mengajukan lagi. Proses ini berulang berkali-kali.
Tapi Joko tidak menyerah. Ia terus belajar, terus memperbaiki. Pelan-pelan, ia mulai paham seluk-beluk birokrasi.
Memimpin bukan hanya soal administrasi. Joko juga harus berhadapan dengan dinamika antar perangkat desa dan anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Ada yang mendukung, ada yang tidak.
Suatu hari, terjadi perdebatan sengit dalam musyawarah desa. Pak Karto, mantan calon kepala desa yang kalah, kritis terhadap program Joko.
"Pak Kades, program jalan desa ini terlalu besar. Anggarannya tidak masuk akal. Saya rasa lebih baik pakai dana untuk yang lain," protesnya.
Joko tenang. "Pak Karto, anggaran itu sudah kita hitung dengan teliti. Ada survei dari dinas PU. Ini sesuai standar. Kalau terlalu murah, nanti kualitasnya jelek."
"Tapi saya rasa bisa lebih murah. Pakai tenaga gotong royong saja. Warga kan bisa kerja bakti."
"Gotong royong bisa, Pak. Tapi untuk pengerasan jalan, perlu alat berat. Itu tidak bisa gotong royong. Harus sewa."
Diskusi berlangsung alot, hampir dua jam. Joko harus bersabar menjelaskan. Ia tidak mau memaksakan kehendak. Ia ingin semua sepakat.
Akhirnya, setelah diskusi panjang, mereka mencapai mufakat. Program jalan desa disetujui dengan beberapa penyesuaian.
"Terima kasih, Pak Karto. Masukan Bapak sangat berharga," kata Joko di akhir rapat.
Pak Karto tersenyum. Ia mulai respek pada kepala desa muda yang sabar dan tidak emosian.
Di luar musyawarah, Joko juga menghadapi dinamika dengan perangkat desa. Ada perangkat yang malas, ada yang suka korupsi kecil-kecilan. Joko harus tegas.
"Pak, saya dengar Bapak minta imbalan untuk pengurusan KTP," tegur Joko pada seorang staf, Pak Gono.
Pak Gono pucat. "Maaf, Pak Kades. Saya hanya bercanda. Minta uang rokok sedikit."
"Jangan bercanda soal itu, Pak. Itu pelanggaran berat. Itu pungli. Kalau sampai warga komplain ke polisi, saya tidak bisa membela. Saya akan tindak tegas."
"Maaf, Pak. Saya tidak akan ulangi."
"Bagus. Lain kali layani dengan baik. Ingat, kita ini pelayan masyarakat."
Staf itu mengangguk takut. Sejak itu, ia tidak berani lagi.
Joko juga rutin mengadakan pertemuan dengan perangkat desa setiap Senin pagi. Ia ingin membangun komunikasi yang baik.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu. Saya tahu kita semua punya kekurangan. Tapi mari kita perbaiki bersama. Kalau ada masalah, bicarakan. Jangan main belakang. Kita ini satu tim."
Perangkat desa mengangguk. Mereka mulai percaya pada Joko.
Enam bulan menjabat, Joko sadar bahwa masalah keuangan adalah area paling rawan dalam pemerintahan desa. Banyak kepala desa sebelumnya yang terjerat korupsi karena lemahnya pengelolaan keuangan. Ia tidak ingin hal itu menimpanya.
Suatu sore, ia memanggil seluruh perangkat desa untuk rapat khusus membahas keuangan.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya ingin kita sepakat tentang pengelolaan keuangan desa. Mulai hari ini, semua pemasukan dan pengeluaran harus tercatat rapi. Tidak ada uang yang masuk atau keluar tanpa bukti."
Pak Wawan mengangguk. "Setuju, Pak Kades. Tapi selama ini kita tidak punya sistem yang baku. Kadang catatan hanya di buku tulis biasa."
"Mulai sekarang kita buat sistem. Saya sudah minta tolong teman saya, Rudi, yang kuliah administrasi negara, untuk membuat format pembukuan sederhana. Ini contohnya."
Joko membagikan fotokopian format pembukuan kepada semua perangkat. Format itu terdiri dari kolom tanggal, uraian, pemasukan, pengeluaran, saldo, dan keterangan.
"Setiap transaksi harus dicatat di sini. Tidak boleh ada yang terlewat. Setiap akhir bulan, kita rekap dan buat laporan. Laporan itu akan ditempel di papan pengumuman balai desa agar warga bisa melihat."
Beberapa perangkat terkejut. "Ditempel, Pak Kades? Warga bisa lihat?"
"Tentu. Ini desa mereka. Mereka berhak tahu uang mereka digunakan untuk apa. Ini bentuk transparansi. Dengan begitu, tidak ada yang bisa menuduh kita korupsi."
Pak Gono, staf yang pernah ditegur karena pungli, bertanya dengan nada ragu. "Tapi Pak Kades, kalau ada pengeluaran yang sensitif? Misalnya untuk uang rokok atau jamuan tamu? Warga bisa salah paham."
"Kita catat apa adanya, Pak. Uang rokok untuk tamu? Tidak ada. Kalau ada tamu, kita suguhi air putih dan makanan sederhana dari dapur umum desa. Tidak perlu pakai uang rokok. Yang penting silaturahmi, bukan kemewahan."
Perangkat desa mengangguk setuju. Mereka mulai melihat bahwa kepala desa mereka serius ingin memberantas korupsi.
Untuk memastikan transparansi berjalan, Joko juga membentuk tim pengawas keuangan yang terdiri dari tokoh masyarakat, bukan perangkat desa. Tim ini bertugas memeriksa laporan keuangan setiap tiga bulan dan melaporkan hasilnya ke warga dalam forum musyawarah desa.
"Pak Kades, ini ide bagus," puji Pak Karto, mantan calon kepala desa yang kini menjadi ketua tim pengawas. "Dengan adanya tim independen, warga akan lebih percaya."
"Iya, Pak. Saya tidak mau ada kecurigaan. Lebih baik kita buka-bukaan dari awal."
Hasilnya, dalam setahun pertama, tidak ada satupun kasus korupsi di desa Suka Maju. Laporan keuangan selalu tepat waktu dan transparan. Warga mulai percaya pada pemerintah desa mereka.
Joko meluncurkan program bedah rumah untuk warga tidak mampu. Program ini menggunakan dana desa yang dialokasikan khusus untuk perbaikan rumah-rumah yang tidak layak huni.
Proses seleksi penerima dilakukan secara transparan. Tim yang terdiri dari perangkat desa, tokoh masyarakat, dan RT/RW turun ke lapangan, mendata rumah-rumah yang paling membutuhkan.
Hasilnya, terpilih sepuluh rumah prioritas. Mereka adalah warga dengan kondisi rumah paling memprihatinkan, dinding bambu lapuk, atap rumbia bolong, lantai tanah becek.
Salah satunya adalah rumah Mbah Karto, bukan mantan calon, tapi petani tua yang pernah marah-marah di balai desa. Rumahnya memang sangat memprihatinkan. Atapnya bolong besar, tembok bambunya sudah lapuk, lantai tanahnya becek kalau hujan.
Ketika tim survei datang, Mbah Karto hampir tidak percaya.
"Rumah saya dapat bantuan? Serius?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Serius, Mbah. Ini hasil musyawarah. Rumah Mbah masuk prioritas karena kondisinya paling parah."
Mbah Karto menangis. "Maafkan saya, Pak Kades. Dulu saya pernah marah-marah. Saya kira Bapak pilih kasih. Ternyata Bapak adil."
Joko yang ikut dalam tim survei, memeluk lelaki tua itu. "Tidak apa-apa, Mbah. Itu hak Mbah untuk protes. Sekarang mari kita bangun rumah ini bersama-sama."
Pembangunan rumah Mbah Karto melibatkan gotong royong warga. Pemuda karang taruna membantu, tetangga ikut menyumbang tenaga dan bahan. Dalam dua minggu, rumah baru Mbah Karto berdiri kokoh. Dinding papan, lantai semen, atap genteng.
Mbah Karto menangis bahagia. Ia memeluk Joko erat. "Pak Kades, saya tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih. Terima kasih banyak."
"Ini berkat kita bersama, Mbah. Saya hanya menjalankan amanah."
Program bedah rumah menjadi program unggulan desa Suka Maju. Setiap tahun, minimal sepuluh rumah tidak layak huni diperbaiki. Warga sangat terbantu. Rasa syukur dan kebersamaan tumbuh di antara mereka.
Prioritas utama Joko adalah infrastruktur. Jalan desa yang becek dan rusak parah harus segera diperbaiki. Ia mengajukan proposal ke pemerintah kabupaten, provinsi, bahkan pusat.
Proposal pertama ditolak. Kedua ditolak. Ketiga juga ditolak. Tapi Joko tidak menyerah.
"Pak Wawan, kita kirim lagi proposal keempat. Kali ini lebih lengkap. Sertakan foto-foto kondisi jalan, data jumlah penduduk yang menggunakan jalan, dan potensi ekonomi yang terhambat."
"Tapi Pak Kades, ini sudah keempat kali. Apa tidak putus asa?"
"Tidak, Pak. Namanya perjuangan. Bung Hatta bilang, 'Jangan lelah mencoba'. Kita terus berusaha."
Akhirnya, pada pengajuan kelima, proposal itu disetujui. Pemerintah kabupaten memberikan dana hibah untuk perbaikan jalan desa sepanjang tiga kilometer.
Joko hampir menangis mendengar kabar itu. Ia segera mengumumkan ke warga melalui pengeras suara masjid.
"Warga desa Suka Maju! Kabar gembira! Jalan desa kita akan diperbaiki! Dana sudah turun! Gotong royong minggu depan!"
Warga bersorak gembira. Mereka sudah menunggu puluhan tahun.
Pembangunan jalan dimulai dengan semangat gotong royong. Warga bergotong royong membersihkan badan jalan, memotong rumput liar, dan membantu pekerja proyek. Joko turun langsung setiap hari, memantau, memberi semangat, kadang ikut mengangkut batu.
"Pak Kades, kok ikut angkat batu? Nanti kotor," tegur seorang warga.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga warga desa ini. Saya harus ikut kerja."
Teladan Joko membuat warga semakin bersemangat. Dalam tiga bulan, jalan sepanjang tiga kilometer selesai diaspal. Untuk pertama kalinya, desa Suka Maju punya jalan mulus.
Jalan itu tidak hanya memudahkan transportasi, tapi juga membuka akses ekonomi. Pedagang dari luar mulai berdatangan. Harga hasil pertanian naik karena biaya transportasi turun. Warga bisa menjual hasil bumi dengan harga lebih baik.
Setelah jalan, giliran jembatan. Selama ini, warga harus menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai. Kalau hujan deras, arus sungai deras, rakit tidak bisa beroperasi. Warga terisolasi.
Joko bertekad membangun jembatan. Tapi biayanya sangat besar. Dana desa tidak cukup. Ia harus mencari sumber lain.
Ia mengajukan proposal ke berbagai pihak. Pemerintah provinsi, perusahaan swasta, bahkan ke DPRD. Ia juga menulis surat ke presiden, meski tidak pernah dibalas.
Suatu hari, ia mendapat kabar baik. Seorang pengusaha sukses asal Blitar yang merantau ke Jakarta, mendengar perjuangan Joko. Pengusaha itu, Bapak Handoko, lahir tahun 1920, tertarik membantu.
"Saya dengar desa Bapak membutuhkan jembatan. Saya ingin menyumbang. Sebagai wujud bakti pada kampung halaman," katanya dalam surat.
Joko hampir tidak percaya. Ia segera membalas surat itu, mengucapkan terima kasih, dan mengundang Pak Handoko berkunjung.
Pak Handoko datang sebulan kemudian. Ia terkesan dengan semangat Joko dan warganya. Ia menyumbang dana yang cukup besar, setengah dari total biaya pembangunan jembatan.
"Sisanya, Pak Kades, bisa dari dana desa dan gotong royong warga," kata Pak Handoko.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Bapak."
"Tidak usah membalas. Yang penting, jembatan ini bermanfaat bagi masyarakat. Nanti kalau sudah jadi, tolong kirimi saya foto. Saya ingin lihat hasilnya."
Pembangunan jembatan dimulai. Joko hampir setiap hari di lokasi proyek. Ia memastikan kualitas pekerjaan, mengawasi penggunaan dana, dan memberi semangat pada pekerja.
Setahun kemudian, jembatan selesai. Jembatan beton kokoh membentang di atas sungai, menggantikan rakit bambu yang rapuh. Untuk pertama kalinya, warga bisa menyeberang dengan aman, kapan saja, tanpa takut banjir.
Peresmian jembatan dihadiri banyak pejabat. Bupati datang, Pak Handoko diundang khusus dari Jakarta. Joko memberi sambutan dengan suara bergetar.
"Jembatan ini bukan hanya beton dan besi. Ini simbol perjuangan kita. Ini bukti bahwa dengan kerja keras dan kebersamaan, tidak ada yang mustahil. Terima kasih kepada semua yang telah membantu. Semoga jembatan ini membawa berkah bagi desa kita."
Bupati tersenyum bangga. "Pak Joko, saya salut. Desa ini beruntung punya pemimpin seperti Bapak. Teruskan perjuangan."
Malam harinya, Joko duduk di tepi jembatan. Ia memandangi air sungai yang mengalir tenang di bawah cahaya bulan.
"Ini mimpi kita semua. Mimpi ayah, ibu, Pak Karman, Ibu Sumarni, Mbah Karto, dan semua warga. Aku hanya alat Tuhan untuk mewujudkannya."
Selain infrastruktur, Joko juga fokus pada kesehatan dan pendidikan. Ia mendirikan posyandu di setiap dusun, melatih kader kesehatan, dan mengadakan program imunisasi gratis.
"Bu, tolong koordinasi dengan puskesmas. Kita butuh jadwal rutin posyandu. Juga butuh penyuluhan gizi untuk ibu hamil dan balita," perintah Joko pada Bu Rum, Kepala Urusan Pembangunan.
"Baik, Pak Kades. Tapi kita kekurangan kader. Relawan sedikit."
"Rekrut dari ibu-ibu PKK. Mereka pasti mau. Beri mereka insentif kecil dari dana desa. Tidak banyak, tapi cukup untuk transport."
Bu Rum setuju. Dalam waktu singkat, terbentuk puluhan kader posyandu di setiap dusun. Mereka aktif mengadakan kegiatan rutin, menimbang balita, memberi imunisasi, dan penyuluhan gizi.
Hasilnya, angka gizi buruk di desa Suka Maju turun drastis. Bayi dan balita lebih sehat. Ibu-ibu lebih sadar pentingnya kesehatan.
Di bidang pendidikan, Joko melanjutkan program beasiswa untuk anak tidak mampu. Setiap tahun, minimal dua puluh anak mendapat bantuan SPP dan pembelian buku.
Ia juga memperbaiki gedung SD desa. Atap bocor diganti, lantai semen diperbaiki, dinding dicat ulang. Murid-murid senang, guru-guru bersemangat.
"Pak Kades, terima kasih. Sekolah kita jadi bagus," kata kepala sekolah, Pak Hartono.
"Sama-sama, Pak. Anak-anak harus belajar di tempat yang layak. Ini investasi masa depan."
Joko juga mengadakan program kejar paket A, B, dan C untuk warga yang putus sekolah. Bekerja sama dengan dinas pendidikan, puluhan warga berhasil mendapatkan ijazah setara SD, SMP, dan SMA.
"Saya bangga bisa sekolah lagi," kata seorang warga, Mbok Minah, lahir tahun 1920, yang ikut kejar paket A di usia 53 tahun. "Dulu saya cuma bisa baca tulis sedikit. Sekarang bisa baca koran, bisa bantu anak belajar."
Joko tersenyum. Perubahan kecil seperti ini yang membuatnya bahagia.
Joko sadar bahwa pemuda adalah aset desa. Ia membentuk wadah bagi mereka untuk berkegiatan positif. Karang Taruna yang dulu mati suri, kini hidup kembali. Mereka tidak hanya mengadakan olahraga dan kesenian, tapi juga pelatihan keterampilan.
Bekerja sama dengan dinas tenaga kerja, Joko mengadakan pelatihan las, menjahit, dan otomotif. Pemuda-pemuda desa ikut antusias. Beberapa bahkan berhasil membuka usaha sendiri setelah pelatihan.
"Pak Kades, saya mau berterima kasih. Berkat pelatihan las, sekarang saya bisa buka bengkel kecil-kecilan. Penghasilan lumayan," kata Salam, pemuda yang dulu sering nongkrong di warung.
"Sama-sama, lam. Yang penting rajin dan jujur. Kalau usahanya maju, nanti rekrut teman-teman yang lain."
"Siap, Pak. Saya akan coba."
Perempuan juga tidak dilupakan. Joko membentuk kelompok usaha bersama (KUBE) untuk ibu-ibu. Mereka dilatih membuat kerajinan, makanan ringan, dan produk lainnya. Hasilnya dipasarkan melalui koperasi desa.
"Bu-bu, ini modal awal untuk KUBE. Seratus ribu rupiah per kelompok. Gunakan untuk membeli bahan baku. Nanti kalau untung, putar lagi untuk modal," jelas Joko pada pertemuan ibu-ibu PKK.
"Pak Kades, terima kasih. Kami akan manfaatkan sebaik-baiknya," kata ketua PKK, Bu Kades, yang kini aktif membantu program desa.
KUBE berkembang pesat. Produk keripik pisang, keripik singkong, dan aneka kue kering mulai dikenal di luar desa. Ibu-ibu punya penghasilan sendiri. Mereka lebih percaya diri dan mandiri.
Sebuah perusahaan besar ingin berinvestasi di desa Suka Maju. Mereka tertarik membangun pabrik pengolahan hasil pertanian di lahan seluas sepuluh hektar.
Awalnya, Joko menyambut baik. Investasi berarti lapangan kerja dan pendapatan desa. Tapi setelah membaca proposal dan melakukan negosiasi, ia menemukan kejanggalan.
"Pak, maaf. Dalam proposal ini, disebutkan perusahaan akan memakai air tanah dalam jumlah besar. Ini bisa mengganggu pasokan air warga. Juga limbah pabrik akan dibuang ke sungai. Itu tidak boleh," tegas Joko dalam pertemuan dengan perwakilan perusahaan.
Perwakilan perusahaan, Pak Budiman, tersenyum manis. "Pak Kades, kami sudah mengantongi izin dari instansi terkait. Limbah akan diolah, tidak mencemari sungai. Air tanah juga akan kami ganti dengan sumur bor untuk warga."
"Tapi izin dari mana? Saya belum melihatnya. Tolong tunjukkan."
Pak Budiman mengeluarkan setumpuk dokumen. Joko membaca dengan saksama. Izin dari dinas lingkungan hidup, izin dari dinas pertanian, izin dari BPN. Tapi ada yang janggal.
"Pak, izin ini baru tahap awal. Belum final. Artinya, perusahaan belum boleh beroperasi. Juga, dalam analisis dampak lingkungan, disebutkan potensi pencemaran sungai kategori sedang. Ini harus diperbaiki."
Pak Budiman mulai kehilangan kesabaran. "Pak Kades, ini terlalu bertele-tele. Perusahaan sudah siap investasi miliaran. Tolong jangan persulit."
"Saya tidak mempersulit, Pak. Saya hanya melindungi warga saya. Kalau perusahaan mau berinvestasi, harus taat aturan. Tidak bisa main kucing-kucingan."
Negosiasi alot. Pak Budiman mengancam akan membatalkan investasi. Tapi Joko tidak bergeming. Ia lebih memilih kehilangan investor daripada merusak lingkungan dan merugikan warga.
"Silakan, Pak. Kalau perusahaan tidak bisa mematuhi aturan, lebih baik tidak usah. Kami bisa cari investor lain yang lebih bertanggung jawab."
Pak Budiman pergi dengan muka masam. Beberapa minggu kemudian, kabar datang bahwa perusahaan itu akhirnya memilih desa lain yang lebih "mudah diatur". Tapi setahun kemudian, desa itu dilanda banjir limbah dan kekeringan. Warga protes, pabrik akhirnya ditutup.
"Syukurlah, Pak Kades, kita tidak jadi menerima mereka," kata Pak Wawan. "Kalau tidak, desa kita bisa bernasib sama."
"Tepat, Pak. Investasi penting, tapi lebih penting menjaga lingkungan dan kesejahteraan warga jangka panjang."
Setelah kejadian dengan investor, Joko semakin sadar pentingnya lingkungan. Ia mulai belajar tentang pertanian organik, konservasi tanah dan air, serta pengelolaan sampah.
Suatu hari, sekelompok aktivis lingkungan dari kota datang ke desa. Mereka tertarik dengan konsep pertanian organik yang dikembangkan kelompok tani "Tunas Harapan".
"Pak Kades, kami ingin belajar. Desa Bapak sudah menerapkan pertanian organik? Luar biasa. Ini jarang ditemui," kata ketua kelompok aktivis, Mas Yanto.
"Kami baru mulai, Mas. Masih skala kecil. Tapi kami terus belajar. Petani di sini mulai sadar pentingnya pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah jangka panjang."
Mas Yanto dan timnya tinggal beberapa hari di desa. Mereka berbagi ilmu tentang konservasi tanah, pengelolaan sampah, dan energi alternatif. Joko dan warga sangat antusias.
"Pak Kades, kalau desa Bapak serius ingin jadi desa mandiri, kami siap membantu. Kami punya program pendampingan dari lembaga swadaya masyarakat. Gratis."
Joko tertarik. "Program apa itu?"
"Pertanian organik terintegrasi, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, dan energi alternatif dari kotoran ternak. Ini bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, mengurangi polusi, dan menghasilkan energi murah."
Joko setuju. Ia membentuk tim khusus untuk program itu. Dalam setahun, desa Suka Maju memiliki puluhan instalasi biogas dari kotoran ternak. Limbah ternak yang dulu mencemari lingkungan, kini diolah menjadi gas untuk memasak dan pupuk organik.
Warga sangat terbantu. Mereka tidak perlu lagi membeli gas elpiji yang mahal. Pupuk organik gratis untuk sawah mereka. Lingkungan desa juga lebih bersih karena sampah dan limbah dikelola dengan baik.
"Pak Kades, ini luar biasa," puji Mas Yanto saat berkunjung lagi setahun kemudian. "Desa Bapak bisa jadi percontohan desa mandiri energi."
"Ini berkat kerja sama kita semua, Mas. Saya hanya fasilitator."
Konflik antar warga terjadi. Dua kelompok pemuda dari dusun berbeda terlibat perkelahian di pinggir pasar. Penyebabnya sepele, masalah rebutan pacar. Tapi dampaknya besar. Suasana desa memanas.
Joko turun tangan. Ia memanggil kedua kelompok, juga orang tua mereka, untuk mediasi di balai desa.
"Tolong, duduk yang rapi. Kita bicara baik-baik. Masalah apa ini sebenarnya?"
Kedua belah pihak saling tuduh. Suasana tegang. Joko harus bersabar.
"Saya minta kalian tenang. Tidak perlu saling tuduh. Ceritakan dari awal dengan baik."
Setelah mendengar kedua versi, Joko menyimpulkan masalahnya sepele. Hanya kesalahpahaman yang diperparah emosi.
"Begini, teman-teman. Kalian ini tetangga, satu desa. Kenapa harus bertengkar karena hal sepele? Apakah masalah ini layak sampai berkelahi? Coba pikir."
Pemuda-pemuda itu mulai menunduk. Mereka sadar telah bertindak bodoh.
"Saya tidak akan menghukum kalian. Tapi saya minta kalian berjabat tangan dan berdamai. Kalau tidak, saya akan laporkan ke polisi. Kalian bisa ditahan."
Ancaman Joko berhasil. Mereka berjabat tangan, saling memaafkan. Joko kemudian mengadakan pertemuan rutin antar pemuda dari berbagai dusun. Ia membentuk forum silaturahmi, mengadakan kegiatan bersama seperti turnamen voli dan kerja bakti.
Konflik antar pemuda mereda. Mereka mulai akrab, saling mengenal, dan menghargai perbedaan.
Tidak hanya antar pemuda, konflik juga terjadi antar petani karena masalah air irigasi. Joko harus turun tangan lagi.
Ia mengumpulkan semua petani yang terlibat. Dengan bantuan kelompok tani, mereka merancang sistem pembagian air yang adil. Setiap petani mendapat jatah air sesuai luas sawah dan giliran yang disepakati bersama.
"Mulai sekarang, tidak boleh ada yang curang. Ambil air di luar giliran. Kalau ada yang melanggar, akan dikenakan sanksi. Setuju?"
Mereka setuju. Sistem berjalan lancar. Konflik air mereda.
Tidak semua kebijakan Joko berjalan mulus. Ada beberapa yang kontroversial dan menuai protes.
Salah satunya adalah kebijakan relokasi pasar tradisional. Joko ingin memindahkan pasar dari lokasi lama yang semrawut dan rawan banjir ke lokasi baru yang lebih luas dan aman. Tapi pedagang lama protes. Mereka khawatir kehilangan pelanggan.
"Pak Kades, kami sudah puluhan tahun berjualan di sini. Kalau dipindah, tak sepi pembeli," protes seorang pedagang, Bu Karsih.
"Saya paham kekhawatiran Ibu. Tapi lokasi ini rawan banjir. Setiap tahun kebanjiran, barang dagangan rusak. Di lokasi baru, lebih aman. Nanti kami akan bantu promosi, adakan pasar malam, dan jamin tidak sepi."
Protes berlangsung berbulan-bulan. Joko mengadakan pertemuan berkali-kali dengan pedagang. Ia mendengar keluhan, memberi penjelasan, dan menawarkan solusi.
Akhirnya, setelah diskusi panjang dan lobi intensif, pedagang setuju dengan beberapa syarat: biaya pindah ditanggung desa, sewa kios murah untuk tiga tahun pertama, dan ada jaminan pasar akan ramai.
Relokasi pasar dilakukan dengan lancar. Kios-kios baru dibangun, lebih rapi dan bersih. Joko mengadakan pasar malam seminggu sekali untuk menarik pengunjung. Hasilnya, pasar baru ramai, bahkan lebih ramai dari sebelumnya.
"Pak Kades, ternyata Ibu salah sangka. Pasar baru lebih ramai," kata Bu Karsih dengan senyum malu-malu.
"Tidak apa-apa, Bu. Ibu punya hak untuk protes. Yang penting, sekarang kita semua senang."
Kebijakan kontroversial lain adalah larangan membuka lahan dengan cara membakar. Joko mendapat tekanan dari kelompok tani yang terbiasa membakar lahan untuk membersihkan sisa panen.
"Pak Kades, kalau tidak boleh bakar, bagaimana cara bersihkan lahan? Pakai tenaga manusia? Butuh waktu lama, biaya besar," protes seorang petani, Pak Samad.
"Saya tahu, Pak. Tapi membakar lahan itu berbahaya. Bisa menyebabkan kebakaran hutan, merusak tanah, dan mengganggu pernapasan. Apalagi kalau musim kemarau, api bisa merambat ke mana-mana."
"Lalu solusinya apa?"
Joko memperkenalkan teknik pengolahan lahan tanpa bakar. Sisa-sisa tanaman dicacah, dikomposkan, lalu dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik. Butuh waktu lebih lama, tapi hasilnya lebih baik untuk kesuburan tanah.
Awalnya petani keberatan. Tapi setelah melihat demo dan uji coba di sawah percontohan, mereka mulai tertarik. Tanah menjadi lebih gembur, pupuk kimia bisa dikurangi, hasil panen meningkat.
"Pak Kades, ternyata cara ini lebih baik," kata Pak Samad setelah panen raya. "Tanah lebih subur, hasil lebih banyak."
"Syukurlah, Pak. Saya hanya memberi saran. Yang menentukan Bapak sendiri."
Salah satu kunci keberhasilan Joko adalah kedekatannya dengan warga. Ia tidak hanya duduk di balai desa, tapi juga turun ke lapangan, bergaul dengan warga, mendengar keluhan mereka.
Setiap sore, setelah pulang kantor, ia berkeliling desa. Kadang dengan sepeda, kadang jalan kaki. Ia mampir ke rumah-rumah warga, duduk di beranda, ngobrol santai. Tidak ada jarak antara dia dan warganya.
"Pak Kades, mampir," sapa seorang warga, Mbok Darmi, yang sedang menjemur padi.
"Mari, Mbok. Lagi jemur padi? Hasilnya gimana?"
"Alhamdulillah, lumayan, Pak. Tapi harga gabah turun. Susah."
"Sabar, Mbok. Nanti kalau koperasi sudah jalan, kita jual langsung ke pembeli. Harga pasti lebih baik."
Joko juga hadir di setiap acara warga, pernikahan, selamatan, kematian, bahkan sunatan. Ia tidak pernah absen. Kedekatan ini membuat warga mersa diperhatikan.
"Pak Kades itu beda. Dekat sama rakyat. Tidak sombong. Suka membantu," puji warga di mana-mana.
Suatu malam, Joko mendapat kabar bahwa Mbah Joyo, tetua adat yang pernah membimbingnya, sakit keras. Ia segera menjenguk.
"Bagaimana keadaan Mbah?" tanya Joko pada keluarga.
"Sudah tiga hari tidak sadar, Pak. Kata dokter, sudah waktunya."
Joko duduk di samping Mbah Joyo. Ia memegang tangan keriput itu, berdoa dalam hati.
"Mbah, terima kasih untuk semua nasihatnya. Saya akan terus jaga desa ini. Doakan saya."
Seolah mendengar, Mbah Joyo membuka mata sebentar. Bibirnya bergetar, seperti ingin bicara. Lalu matanya terpejam lagi.
Mbah Joyo meninggal keesokan harinya. Joko kehilangan seorang guru, seorang tetua yang bijak. Tapi pesan-pesannya akan selalu diingat.
Di pemakaman, Joko memberi sambutan singkat.
"Mbah Joyo adalah teladan bagi kita. Beliau mengajarkan tentang adat, tentang kebijaksanaan, tentang cinta pada desa. Mari kita doakan, semoga amal ibadahnya diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan."
Warga menangis. Mereka kehilangan sesepuh desa. Tapi mereka juga bersyukur, memiliki pemimpin muda seperti Joko yang peduli pada semua kalangan.
Joko sadar, untuk memajukan desa, ia tidak bisa bekerja sendiri. Ia perlu membangun jaringan dengan desa-desa lain, berbagi pengalaman, dan saling membantu.
Ia aktif di forum kepala desa se-kecamatan, bahkan terpilih sebagai ketua. Dalam forum itu, ia mendorong kerja sama antar desa dalam berbagai bidang—pertanian, perdagangan, keamanan, dan pembangunan infrastruktur.
"Teman-teman, kita ini satu kecamatan. Masalah kita mirip-mirip. Kenapa kita tidak kerja sama? Misalnya, kita bisa beli pupuk bersama biar dapat harga grosir. Atau kita ajukan proposal irigasi bersama ke kabupaten, biar lebih kuat."
Kepala desa lain setuju. Mereka mulai merancang program bersama. Dalam setahun, beberapa kerja sama terwujud: pembelian pupuk bersama, pengadaan alat pertanian bersama, dan sistem keamanan lingkungan terpadu.
Joko juga sering diundang ke desa lain untuk berbagi pengalaman. Ia bercerita tentang program-program di desanya, tentang suka duka memimpin, tentang pentingnya kedekatan dengan warga.
"Saya salut sama Mas Joko. Muda, tapi pikirannya matang. Program-programnya bagus, bisa ditiru," puji seorang kepala desa tetangga, Pak Sukirman.
"Terima kasih, Pak. Saya masih belajar. Mari kita saling mendukung."
Musim kemarau tahun itu sangat panjang. Hujan tak turun selama enam bulan. Sawah-sawah mengering, sumur-sumur mulai kering. Warga kesulitan air bersih.
Joko bergerak cepat. Ia mengerahkan semua perangkat desa dan relawan untuk membantu warga. Mereka mendirikan posko air bersih di beberapa titik, mengangkut air dari sungai yang masih mengalir menggunakan truk tangki sewaan.
"Pak Kades, air di sungai juga mulai surut. Khawatir tidak cukup untuk semua," lapor Pak Wawan.
"Kita harus hemat. Batasi penggunaan. Prioritas untuk minum dan masak. Untuk mandi, pakai air seadanya."
Joko juga mengajak warga menggali sumur bor di beberapa lokasi strategis. Bekerja sama dengan dinas PU, mereka berhasil membuat tiga sumur bor dalam waktu singkat. Airnya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
"Alhamdulillah, sumur bor ini menyelamatkan kami," kata seorang warga, Bu Tumini, yang rumahnya kekeringan.
"Iya, Bu. Tapi tetap hemat ya. Musim kemarau belum tahu sampai kapan."
Musim kemarau berlangsung total delapan bulan. Padi gagal panen di banyak tempat. Tapi berkat kerja keras Joko dan tim, tidak ada warga yang kelaparan atau kekurangan air bersih. Stok beras dari lumbung desa dan bantuan pemerintah cukup untuk bertahan.
Saat hujan pertama turun, seluruh desa bersyukur. Mereka mengadakan doa bersama di masjid, memanjatkan syukur pada Tuhan.
"Terima kasih, warga sekalian, atas kerja samanya. Kita telah melewati masa sulit bersama-sama. Semoga ke depan, kita lebih siap menghadapi musim kemarau," kata Joko di akhir acara.
Warga bertepuk tangan. Mereka semakin percaya pada pemimpin mudanya.
Di tengah kesibukan memimpin desa, Joko kadang merenung di malam yang sepi. Ia duduk di beranda rumah, memandangi bintang-bintang, mengenang perjalanan hidupnya.
Ia ingat masa kecilnya, ketika ia harus berjalan kaki ke sekolah, ketika ia harus belajar di bawah lampu minyak, ketika ia diejek sebagai anak miskin. Ia ingat perjuangan ayah ibunya yang tak kenal lelah. Ia ingat jasa Ibu Sumarni, Pak Kades, Mbah Karto, dan semua orang yang membantunya.
Kini, ia telah menjadi pemimpin. Mimpi masa kecilnya terwujud. Tapi ia sadar, perjuangan belum selesai. Masih banyak yang harus diperbaiki. Masih banyak warga yang perlu dibantu.
"Ya Allah, terima kasih untuk semua nikmat-Mu. Terima kasih untuk kesempatan mengabdi. Jaga aku dari kesombongan. Jaga aku dari godaan kekuasaan. Jadikan aku pemimpin yang amanah, yang dicintai rakyat-Mu."
Sebuah program gagal total. Program pengadaan bibit unggul untuk petani tidak berjalan sesuai rencana. Bibit yang dibeli ternyata berkualitas buruk. Hasil panen turun drastis. Petani merugi.
Joko sangat kecewa. Ia merasa gagal sebagai pemimpin. Warga mulai protes.
"Pak Kades, ganti rugi! Bibitnya jelek, kami rugi besar!" teriak warga di balai desa.
Joko menghadapi mereka dengan tenang. "Saya minta maaf atas kegagalan ini. Ini tanggung jawab saya. Saya akan usahakan ganti rugi dari dana desa. Tapi mohon bersabar, prosesnya tidak cepat."
Beberapa warga tidak terima. Mereka menuntut ganti rugi segera. Joko berusaha menenangkan.
Setelah penyelidikan, ternyata oknum perangkat desa terlibat dalam pengadaan bibit. Ia menerima suap dari pemasok bibit jelek. Joko marah besar. Ia memecat oknum itu dan melaporkannya ke polisi.
"Saya minta maaf kepada seluruh warga. Ini karena kelalaian saya dalam pengawasan. Saya akan perbaiki sistem pengadaan. Tidak akan terulang lagi."
Joko juga mengganti kerugian petani dari dana desa, meskipun tidak penuh. Petani lega, meskipun masih ada yang kecewa.
Dari kegagalan ini, Joko belajar banyak. Bahwa sebagai pemimpin, ia harus lebih teliti, lebih hati-hati, dan lebih mengawasi. Ia tidak bisa percaya begitu saja pada orang lain. Harus ada kontrol dan audit yang ketat.
"Pak Kades, jangan terlalu dipikirkan. Kegagalan itu guru terbaik," hibur Pak Wawan.
"Iya, Pak. Tapi ini mahal. Warga yang jadi korban. Saya harus belajar dari ini."
Setelah kejadian itu, Joko merombak sistem pengadaan desa. Ia membentuk tim pengadaan yang independen, melibatkan tokoh masyarakat, dan mewajibkan lelang terbuka untuk semua proyek. Tidak ada lagi proyek yang ditunjuk langsung.
"Sekarang, semua transparan. Warga bisa mengawasi. Kalau ada kejanggalan, laporkan ke saya langsung."
Sistem baru ini berjalan efektif. Tidak ada lagi kasus korupsi atau suap dalam pengadaan. Kepercayaan warga kembali pulih.
Dalam enam tahun, banyak perubahan terjadi di desa Suka Maju.
Jalan beraspal mulus sepanjang lima kilometer. Jembatan beton kokoh melintasi sungai. Listrik sudah masuk ke seluruh desa. Sekolah direnovasi total. Posyandu aktif di setiap dusun. Angka gizi buruk turun drastis. Angka melek huruf meningkat. Petani lebih sejahtera berkat kelompok tani dan koperasi yang mulai dirintis.
Joko juga berhasil membangun irigasi sepanjang sepuluh kilometer, dan membuka akses jalan ke desa-desa tetangga.
Namun, yang paling membanggakan adalah perubahan mental warga. Mereka lebih percaya diri, lebih mandiri, lebih bersemangat membangun desa. Gotong royong hidup kembali. Rasa kebersamaan menguat.
"Pak Kades, terima kasih untuk semuanya. Desa kita maju pesat berkat Bapak," kata warga dalam acara syukuran akhir masa jabatan.
Joko tersenyum. "Ini bukan karena saya, tapi karena kita semua. Tanpa dukungan dan kerja sama warga, tidak mungkin semua ini terwujud."
Pak Kades yang dulu Pak Karim, yang kini menjabat sebagai sesepuh desa, memberi sambutan.
"Warga sekalian, kita telah menyaksikan sejarah. Seorang anak petani, yang dulu kecil dan miskin, kini telah membawa desa ini ke era baru. Joko adalah bukti bahwa mimpi bisa menjadi nyata, asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh."
Joko menangis haru. Ia memeluk Pak Karim.
"Pak, tanpa bimbingan Bapak, saya tidak akan sampai di sini."
"Bukan saya, Nak. Tapi Tuhan yang membimbingmu. Tetaplah rendah hati. Tetaplah mengabdi."
Menjelang akhir masa jabatan, warga mendesak Joko untuk maju lagi. Mereka ingin Joko memimpin untuk periode kedua.
"Pak Kades, kami ingin Bapak maju lagi. Desa ini masih butuh Bapak," kata perwakilan warga.
Joko bimbang. Ia merasa tanggung jawabnya belum selesai. Masih banyak program yang perlu dilanjutkan.
"Tapi undang-undang membatasi dua periode, Pak. Saya tidak bisa maju lagi."
Pak Karman tersenyum. "Itu aturan baru, Jok. Untuk periode pertamamu, aturan itu belum berlaku. Kamu bisa maju lagi. Dan kami semua mendukungmu."
Joko merenung lama. Akhirnya, ia memutuskan untuk maju lagi. Dengan dukungan penuh warga, ia kembali mencalonkan diri.
Pilkades tahun 1980 berlangsung lebih tenang. Lawan-lawannya tidak sekuat dulu. Joko menang telak dengan perolehan suara 85%. Warga kembali mempercayakan amanah padanya.
"Saya berterima kasih atas kepercayaan ini. Saya akan lanjutkan perjuangan. Desa Suka Maju akan terus maju, bersama-sama kita bangun."
BAB VIII
SETELAH KEKUASAAN BERAKHIR
Lima tahun pertama kepemimpinan Joko membawa banyak perubahan. Jalan desa sudah diaspal. Jembatan beton kokoh melintasi sungai. Listrik sudah masuk ke seluruh desa sejak tahun 1976. Sekolah direnovasi, tidak bocor lagi. Posyandu aktif setiap bulan. Angka kematian bayi menurun.
Warga puas. Ketika Pilkades berikutnya tiba pada pertengahan tahun 1980, mereka kembali memilih Joko. Kali ini ia menang telak, mengalahkan calon-calon lain dengan suara 85 persen.
"Pak Kades, selamat! Lima tahun lagi!" sambut warga di balai desa.
Joko tersenyum haru. "Terima kasih, warga sekalian. Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini. Saya akan bekerja lebih keras."
Periode kedua dimulai dengan semangat baru. Joko punya target lebih besar: menyelesaikan pembangunan infrastruktur yang belum tuntas, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta mengembangkan ekonomi desa melalui koperasi dan industri rumah tangga.
"Pak Karman, periode kedua ini harus lebih baik. Kita sudah punya fondasi, sekarang saatnya membangun lantai dua," katanya pada sekretaris desa suatu malam.
"Setuju, Pak Kades. Tapi ingat, jangan sampai lengah. Banyak godaan di periode kedua."
"Ingat, Pak. Saya tidak akan korupsi. Itu harga mati."
Proyek besar pertama di periode kedua adalah pengerasan jalan-jalan desa yang belum tersentuh. Joko mengajukan bantuan tambahan ke kabupaten, provinsi, dan pusat. Ia bolak-balik ke dinas-dinas, menemui pejabat, mengurus proposal, kadang sampai lelah.
"Pak Kades, ini sudah kesekian kali Bapak ke sini. Capek nggak?" kata seorang pejabat dinas—Pak Broto—suatu hari.
"Iya, Pak. Demi desa saya. Saya tidak akan menyerah. Demi warga."
"Semangat sekali. Saya kasih bocoran, proposal Bapak sudah disetujui. Tinggal pencairan."
"Alhamdulillah, Pak. Terima kasih banyak."
Akhirnya, setelah perjuangan panjang, bantuan turun. Jalan-jalan di dusun-dusun terpencil mulai diaspal. Warga desa bergembira.
"Alhamdulillah, akhirnya jalan kita diaspal!" seru mereka.
Proses pengerjaan berlangsung beberapa bulan. Joko mengawasi langsung, memastikan kualitasnya baik. Ia tidak ingin hasilnya mengecewakan.
"Pak Kades, kok Bapak setiap hari di sini? Panas-panasan. Nanti hitam," tanya seorang pekerja.
"Saya ingin memastikan jalan ini berkualitas. Ini untuk warga saya. Kalau jelek, saya yang malu. Warga yang menanggung."
Pekerja itu tersenyum kagum. Ia jarang melihat kepala desa sekaliber Joko.
Setelah jalan-jalan selesai, desa Suka Maju berubah total. Mobil dan sepeda motor bisa lewat dengan nyaman ke seluruh pelosok desa. Warga tidak lagi becek-becekan kalau hujan. Anak-anak bisa bersepeda ke sekolah dengan aman. Pedagang dari luar desa mulai berdatangan membawa barang dagangan.
"Pak Kades, terima kasih banyak. Ini mimpi kami jadi nyata," kata seorang warga tua sambil menangis di depan rumahnya.
Joko memeluknya. "Sama-sama, Pak. Ini hasil kerja kita semua. Bukan saya sendiri."
Meskipun listrik sudah mulai masuk ke sebagian desa pada periode pertama, masih ada dusun-dusun terpencil di lereng bukit yang belum menikmatinya. Joko bertekad, di periode kedua ini, seluruh desa Suka Maju akan terang benderang.
Perjuangan untuk listrik tidak mudah. Joko harus bolak-balik ke kantor PLN di kabupaten, mengurus perpanjangan jaringan, meyakinkan petugas bahwa dusun-dusun terpencil itu layak mendapat listrik.
"Pak, dusun di lereng bukit itu penduduknya cuma lima puluh kepala keluarga. Jarak dari jaringan terakhir cukup jauh. Biaya pemasangannya mahal, tidak sebanding dengan potensi pendapatannya," kata petugas PLN, Pak Suryanto, dengan nada ragu.
Joko tidak menyerah. "Pak, saya paham hitung-hitungan Bapak. Tapi tolong lihat dari sisi kemanusiaan. Di dusun itu ada anak-anak yang ingin belajar malam. Ada ibu-ibu yang ingin menjahit. Ada bapak-bapak yang ingin mendengar radio. Mereka juga warga negara Indonesia, berhak mendapat listrik."
Pak Suryanto terdiam. Joko melanjutkan, "Saya punya data. Di dusun itu ada tiga puluh anak usia sekolah. Mereka setiap malam belajar dengan lampu minyak. Mata mereka perih, kadang sakit. Apakah Bapak tega melihat itu?"
Pak Suryanto menghela napas. "Pak Kades, saya hargai perjuangan Bapak. Tapi ini di luar kewenangan saya. Saya harus konsultasi dengan atasan."
"Silakan, Pak. Saya tunggu. Saya akan datang lagi minggu depan."
Joko tidak hanya sekali dua kali datang. Ia bolak-balik setiap minggu, membawa data, foto, dan surat dukungan warga. Kadang ia membawa buah tangan dari desa, pisang, singkong, atau jagung, untuk para petugas.
Perjuangan selama setahun membuahkan hasil. PLN akhirnya menyetujui perpanjangan jaringan ke dusun-dusun terpencil. Biaya pemasangan ditanggung bersama: PLN, pemerintah desa, dan swadaya warga.
Ketika lampu listrik pertama kali menyala di dusun lereng bukit, warga menangis haru. Mereka berkumpul di rumah-rumah, menyaksikan keajaiban itu.
"Alhamdulillah... akhirnya terang," kata seorang nenek, Mbok Sarinem, sambil memandangi lampu pijar di langit-langit rumahnya. "Selama ini kami cuma pakai lampu minyak. Matanya perih. Sekarang, terang sekali."
Anak-anak kecil berlarian di bawah lampu jalan, menikmati malam yang terang benderang. Mereka tidak perlu lagi belajar dengan penerangan seadanya.
Joko yang hadir di dusun itu, ikut menangis. Ia memeluk warga satu per satu.
"Ini berkat perjuangan kita bersama. Listrik bukan akhir, tapi awal. Sekarang kita harus manfaatkan dengan baik. Anak-anak harus rajin belajar. Ibu-ibu bisa mulai usaha malam hari. Bapak-bapak bisa dengar radio, tahu berita."
Sejak malam itu, dusun lereng bukit berubah. Aktivitas warga meningkat. Anak-anak belajar lebih lama. Ibu-ibu mulai menjahit dan membuat kue untuk dijual. Bapak-bapak berkumpul di warung kopi yang kini punya lampu terang, mendengarkan radio sambil ngobrol.
Setelah listrik, prioritas berikutnya adalah air bersih. Banyak dusun di desa Suka Maju yang kesulitan air, terutama di musim kemarau. Warga harus berjalan jauh ke sungai atau membeli air dari pedagang keliling dengan harga mahal.
Joko mengajukan proposal pembangunan instalasi air bersih ke dinas PU. Lagi-lagi, perjuangan panjang. Proposal ditolak, diperbaiki, diajukan lagi, ditolak lagi. Tapi Joko tidak menyerah.
"Pak, ini proposal kami sudah lengkap. Ada data jumlah penduduk, peta sumber air, desain jaringan, dan analisis kebutuhan. Tolong dipertimbangkan," katanya pada pejabat dinas.
"Pak Kades, saya lihat Bapak sudah berkali-kali datang. Saya kagum dengan kegigihan Bapak. Tapi anggaran terbatas. Desa Bapak masuk prioritas, tapi mungkin tahun depan."
"Tahun depan, Pak. Saya setuju. Yang penting ada kepastian."
Setelah dua tahun menunggu, proposal itu akhirnya disetujui tahun 1982. Pemerintah kabupaten membangun instalasi air bersih dengan sumber mata air di bukit. Jaringan pipa membentang sepanjang lima belas kilometer, menjangkau seluruh dusun.
Hari pertama air mengalir dari kran di rumah-rumah warga adalah hari bersejarah. Warga berkumpul, bersorak gembira. Mereka tidak perlu lagi berjalan jauh ke sungai. Air bersih tersedia setiap saat.
"Pak Kades, ini seperti mimpi," kata seorang ibu, Bu Karsih, sambil menampung air di ember. "Dulu saya harus jalan satu kilometer ke sungai, antre dengan ibu-ibu lain. Sekarang, tinggal buka kran."
Joko tersenyum. "Nikmati, Bu. Tapi ingat, air ini harus dijaga. Jangan boros. Jangan cemari. Ini sumber kehidupan kita."
Kelompok Tani "Tunas Harapan" yang dirintis Joko bersama Pak Karto berkembang pesat. Mereka tidak hanya menanam padi, tapi juga palawija, sayuran, dan buah-buahan. Lahan-lahan kosong dimanfaatkan untuk tanaman produktif.
Joko mengundang penyuluh pertanian dari dinas untuk memberi pelatihan rutin. Petani belajar tentang pemilihan bibit unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, dan pasca panen.
"Dulu kita tanam asal-asalan. Sekarang, kita tahu cara tanam yang baik. Hasilnya meningkat," kata Pak Tumin, salah satu petani.
Koperasi Desa "Suka Maju" juga berkembang. Tidak hanya melayani simpan pinjam, tapi juga memasarkan hasil pertanian. Petani tidak lagi menjual ke tengkulak dengan harga murah. Mereka menjual ke koperasi dengan harga lebih baik.
"Pak Kades, koperasi kita sekarang punya omzet ratusan juta," lapor pengurus koperasi, Mas Heru, pemuda yang dulu kuliah di kota dan sekarang pulang kampung.
"Bagus, Heru. Tapi ingat, jangan sampai dikorupsi. Transparansi harus dijaga. Audit rutin harus dilakukan."
"Siap, Pak. Kami jaga amanah."
Koperasi juga mulai merambah usaha lain: toko kelontong, penggilingan padi, dan penyewaan alat pertanian. Hasilnya, pemasukan desa bertambah. Warga semakin sejahtera.
Haji Dulah, yang kalah dalam pilkades dan tersingkir dari bisnis gabah, tidak terima. Ia mencoba berbagai cara untuk menjatuhkan koperasi. Mulai dari menyebar isu, memprovokasi anggota, hingga melaporkan koperasi ke polisi dengan tuduhan penipuan.
Tapi koperasi sudah kuat. Anggota solid, pengelolaan transparan, dan yang terpenting, ada dukungan dari pemerintah desa dan kabupaten. Laporan Haji Dulah tidak terbukti.
Suatu hari, Haji Dulah datang ke kantor desa. Ia meminta bertemu Joko.
"Pak Kades, saya minta maaf," katanya dengan wajah tertunduk.
Joko terkejut. "Maaf untuk apa, Haji?"
"Untuk semua perbuatan saya. Fitnah, provokasi, laporan palsu. Saya sadar, saya salah. Saya hanya iri melihat kesuksesan Bapak."
Joko tersenyum. Ia memaafkan Haji Dulah. Bahkan mengajaknya bekerja sama untuk pembangunan desa.
"Haji, masa lalu biarlah berlalu. Sekarang, mari kita bangun desa ini bersama. Haji punya pengalaman bisnis, punya jaringan luas. Itu bisa bermanfaat untuk koperasi. Bagaimana kalau Haji bergabung?"
Haji Dulah terkejut. Ia tidak menyangka akan mendapat tawaran seperti itu.
"Pak Kades... Bapak benar-benar orang baik. Saya malu."
"Tidak usah malu, Haji. Semua orang bisa berubah. Mari kita mulai lembaran baru."
Haji Dulah menangis. Ia memeluk Joko. Sejak saat itu, ia menjadi salah satu motor penggerak koperasi, menggunakan jaringan dan pengalamannya untuk memajukan desa.
Program beasiswa yang dirintis Joko terus berlanjut. Setiap tahun, minimal dua puluh anak dari keluarga tidak mampu mendapat bantuan. Mereka tidak hanya dibebaskan dari SPP, tapi juga mendapat buku dan alat tulis gratis.
Joko juga membangun gedung baru untuk SD desa. Dua ruang kelas tambahan, perpustakaan yang lebih besar, dan lapangan olahraga. Anak-anak senang, guru-guru bersemangat.
"Pak Kades, sekolah kita sekarang seperti sekolah kota," kata kepala sekolah—Pak Hartono—dengan bangga.
"Alhamdulillah, Pak. Tapi fasilitas saja tidak cukup. Kualitas guru juga harus ditingkatkan. Saya akan usulkan pelatihan rutin untuk guru-guru."
Joko juga menggalakkan program kejar paket A, B, dan C untuk warga yang putus sekolah. Puluhan warga, kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak setengah baya, mengikuti program ini. Mereka belajar membaca, menulis, dan berhitung.
"Saya dulu malu karena buta huruf," kata seorang peserta, Mbok Minah, 58 tahun. "Sekarang saya bisa baca Al-Qur'an sedikit-sedikit. Bisa bantu anak belajar. Bangga sekali."
Joko tersenyum melihatnya. Perubahan tidak selalu harus besar. Hal kecil seperti ini juga berarti.
Di bidang kesehatan, Joko tidak hanya membangun puskesmas pembantu, tapi juga menggalakkan program keluarga berencana (KB). Bekerja sama dengan PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana), ia mensosialisasikan pentingnya mengatur jarak kelahiran.
"Awalnya saya ragu, Pak Kades. Takut KB itu haram," kata seorang ibu, Bu Rumini, dalam penyuluhan.
Joko menjelaskan dengan sabar. "Bu, KB itu boleh kok. Ulama sudah banyak yang membolehkan. Asal niatnya baik, ingin anak sehat, ingin ibu sehat, ingin keluarga sejahtera. Bukan untuk membatasi keturunan secara mutlak."
Setelah sosialisasi berulang kali, warga mulai sadar. Peserta KB meningkat. Angka kelahiran mulai terkendali. Ibu-ibu lebih sehat karena jarak kelahiran cukup.
Program imunisasi juga digalakkan. Posyandu di setiap dusun aktif setiap bulan. Balita ditimbang, diimunisasi, dan diberi vitamin. Angka gizi buruk turun drastis.
"Pak Kades, dulu banyak balita kurang gizi. Sekarang alhamdulillah, sudah tidak ada," lapor bidan desa, Bu Siti.
"Syukurlah, Bu. Tapi jangan lengah. Terus pantau. Kalau ada yang kurang, segera tangani."
Joko sadar bahwa perempuan adalah pilar penting pembangunan. Ia membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) untuk ibu-ibu di setiap dusun. Mereka dilatih membuat kerajinan, makanan ringan, dan produk lainnya.
Salah satu KUBE yang sukses adalah "Mekar Sari" di Dusun Krajan. Anggotanya dua puluh ibu rumah tangga. Mereka memproduksi keripik pisang, keripik singkong, dan aneka kue kering. Produknya dipasarkan ke toko-toko di kecamatan dan kabupaten.
"Awalnya kami ragu, Bu. Tapi setelah pelatihan, kami jadi percaya diri. Sekarang punya penghasilan sendiri," kata ketua KUBE, Bu Kades, yang kini aktif sebagai penggerak PKK.
Joko juga mendorong perempuan untuk aktif di organisasi desa. Beberapa menjadi RT, kadus, bahkan perangkat desa. Mereka membuktikan bahwa perempuan juga bisa memimpin.
"Pak Kades, saya terima kasih. Selama ini perempuan hanya di dapur. Sekarang kami dilibatkan," kata Bu Rum, Kepala Urusan Pembangunan yang diangkat Joko.
"Tentu, Bu. Perempuan punya potensi besar. Asal diberi kesempatan, mereka bisa berprestasi."
Joko aktif di forum kepala desa kecamatan. Ia bahkan terpilih sebagai ketua untuk dua periode berturut-turut. Dalam forum itu, ia mendorong kerja sama antar desa.
"Teman-teman, kita ini satu kecamatan. Masalah kita sama: infrastruktur, pertanian, pendidikan. Kalau kita kerja sendiri-sendiri, lama. Tapi kalau bersama, lebih cepat. Mari kita buat program bersama."
Beberapa program kerja sama berhasil diwujudkan: pembelian pupuk bersama, pengadaan alat pertanian bersama, sistem keamanan lingkungan terpadu, dan even olahraga antar desa.
"Pak Joko ini beda. Aktif, inovatif, dan suka kerja sama," puji seorang kepala desa tetangga—Pak Sukirman.
"Saya hanya ingin desa kita maju bersama, Pak. Tidak ada gunanya desa sendiri maju kalau tetangganya miskin. Nanti jadi sumber masalah."
Joko juga sering diundang ke seminar dan pelatihan di kabupaten dan provinsi. Ia berbagi pengalaman tentang membangun desa dari bawah. Banyak peserta yang terinspirasi.
Konflik pecah antara dua kelompok warga di Dusun Krajan. Penyebabnya sepele, masalah batas tanah. Tapi karena masing-masing keras kepala, konflik meluas. Hampir terjadi bentrok fisik.
Joko turun tangan. Ia memanggil kedua belah pihak, juga saksi-saksi dan tokoh masyarakat.
"Bapak-bapak, saya minta kita bicara baik-baik. Masalah batas tanah ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Jangan pakai emosi."
Proses mediasi berlangsung alot. Masing-masing ngotot dengan pendiriannya. Joko harus bersabar.
"Begini, kita punya bukti sertifikat, kita punya saksi. Tapi kalau kedua belah pihak tidak mau mengalah, tidak akan selesai. Saya usulkan, kita adakan pengukuran ulang oleh petugas BPN. Hasilnya kita terima bersama. Setuju?"
Akhirnya mereka setuju. Pengukuran ulang dilakukan. Hasilnya, salah satu pihak ternyata melanggar batas. Tapi Joko tidak serta merta menghukum. Ia mengajak pihak yang dirugikan untuk memaafkan.
"Pak, saya tahu Bapak dirugikan. Tapi demi kerukunan, sudilah kiranya memaafkan. Tanah yang kelebihan dikembalikan, dan yang melanggar minta maaf. Selesai."
Pihak yang dirugikan akhirnya memaafkan. Mereka berjabat tangan, saling memeluk. Konflik selesai tanpa kekerasan.
"Pak Kades, terima kasih. Kami jadi malu sudah bertengkar hebat," kata salah satu warga.
"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang damai. Ingat, kita tetangga. Hidup rukun itu lebih baik daripada punya tanah luas tapi bermusuhan."
Bencana alam melanda desa Suka Maju. Hujan deras selama tiga hari tiga malam menyebabkan sungai meluap. Puluhan rumah terendam banjir. Sawah-sawah rusak. Warga panik.
Joko bergerak cepat. Ia mengaktifkan tim siaga bencana yang sudah dibentuk sebelumnya. Mereka mengevakuasi warga ke tempat aman, balai desa, masjid, dan sekolah. Dapur umum didirikan. Bantuan logistik didatangkan dari kecamatan dan kabupaten.
"Pak Kades, rumah saya hanyut!" teriak seorang warga, Pak Juminten, dengan mata merah.
"Sabar, Pak. Yang penting selamat. Harta bisa dicari lagi. Nyawa tidak. Sekarang ikut evakuasi."
Selama seminggu, Joko tidak tidur. Ia keliling posko pengungsian, memastikan semua kebutuhan terpenuhi. Ia juga turun ke lapangan, membantu membersihkan lumpur, mendata kerusakan.
Setelah banjir surut, Joko mengajukan bantuan perbaikan rumah dan sawah ke pemerintah. Proposal diajukan, lobi dilakukan, dan akhirnya bantuan turun. Rumah-rumah diperbaiki, sawah-sawah dipulihkan.
"Pak Kades, terima kasih. Tanpa Bapak, kami tidak tahu harus bagaimana," kata warga dalam pertemuan pasca-bencana.
"Ini tugas saya. Tapi yang terpenting, kita belajar dari bencana. Ke depan, kita harus lebih siap. Bangun rumah di tempat aman, jangan di bantaran sungai. Buat tanggul sederhana. Tanam pohon di hulu sungai."
Warga setuju. Mereka mulai sadar pentingnya mitigasi bencana.
Setelah banjir, Joko semakin sadar pentingnya menjaga lingkungan. Ia meluncurkan "Program Hijau Suka Maju", penanaman pohon di lahan kritis, penghijauan bantaran sungai, dan kampanye pengelolaan sampah.
Setiap musim hujan, Joko mengajak warga menanam pohon. Bibit pohon dibagikan gratis, pohon buah-buahan, pohon kayu-kayuan, dan pohon pelindung. Ribuan pohon ditanam di lereng-lereng bukit, di sepanjang sungai, di lahan-lahan kosong.
"Dulu kita tebang pohon sembarangan. Sekarang kita tanam lagi. Biar tidak banjir, biar tidak longsor," kata Joko dalam kampanye.
Program ini mendapat dukungan luas. Sekolah-sekolah ikut serta, setiap murid wajib menanam satu pohon. Kelompok tani menanam pohon di lahan kritis. Ibu-ibu PKK menanam di pekarangan rumah.
Lima tahun kemudian, desa Suka Maju berubah hijau. Lereng-lereng bukit yang dulu gundul, kini rimbun oleh pohon. Udara lebih sejuk. Sumber mata air mulai muncul kembali.
"Pak Kades, ini hebat. Dulu waktu kecil, saya main di sungai, airnya deras. Lalu mulai berkurang. Sekarang setelah penghijauan, air mulai deras lagi," kata seorang pemuda.
"Syukurlah. Alam itu seperti kita. Kalau kita rawat, dia baik. Kalau kita rusak, dia marah. Mari kita jaga terus."
Joko mulai mengembangkan potensi wisata desa. Desa Suka Maju punya pemandangan indah, sawah terasering, sungai jernih, perbukitan hijau. Joko ingin menjadikannya destinasi wisata alam.
Awalnya banyak warga ragu. "Masa orang mau wisata ke desa? Yang ada pemandangan biasa," kata mereka.
Tapi Joko tidak menyerah. Ia mengajak warga membersihkan lingkungan, menata desa, dan melatih pemuda sebagai pemandu wisata. Ia juga membangun homestay sederhana di rumah-rumah warga.
Pertama kali wisatawan datang, warga gugup. Tapi setelah dipandu, mereka mulai percaya diri. Mereka menyambut tamu dengan ramah, menyediakan makanan khas, dan menunjukkan keindahan desa.
Lama kelamaan, wisatawan semakin banyak. Mereka datang dari kota-kota besar, menikmati suasana pedesaan, belajar bertani, dan berinteraksi dengan warga. Desa Suka Maju mulai dikenal sebagai desa wisata.
"Pak Kades, ide Bapak luar biasa. Sekarang banyak orang datang. Warga punya penghasilan tambahan dari homestay dan oleh-oleh," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata, Mas Budi, sahabat Joko.
"Ini berkat kerja sama kita semua. Tapi ingat, jangan sampai pariwisata merusak lingkungan. Atur dengan baik. Batasi jumlah pengunjung. Jaga kebersihan. Lestarikan budaya."
Di tengah arus modernisasi, Joko tidak melupakan tradisi. Ia tetap melestarikan adat istiadat desa. Setiap tahun, desa mengadakan ritual bersih desa, sedekah bumi, dan kenduri. Warga berkumpul, berdoa bersama, dan makan bersama.
"Tradisi ini harus kita jaga. Ini identitas kita. Jangan sampai tergerus zaman," kata Joko dalam sambutan acara bersih desa.
Ia juga menghidupkan kembali kesenian tradisional yang hampir punah, jaranan, wayang kulit, dan gamelan. Pemuda-pemuda dilatih, grup kesenian dibentuk. Mereka sering tampil di acara-acara desa dan festival kabupaten.
"Pak Kades, saya senang belajar jaranan. Dulu saya pikir kuno, ternyata asyik," kata seorang pemuda, Karjo.
"Syukurlah. Kalian harus bangga dengan budaya sendiri. Jangan malu. Itu warisan leluhur."
Joko juga mendirikan sanggar seni di balai desa. Di situ, anak-anak dan pemuda belajar menari, menyanyi, dan bermain gamelan. Mereka tampil setiap ada acara, baik di desa maupun di luar.
Di tengah kesibukan memimpin desa, Joko menikah. Istrinya adalah Rina Wulandari, guru muda yang bertugas di SD Suka Maju sejak tahun 1980. Rina lahir tahun 1955, kini berusia 28 tahun.
Mereka bertemu ketika Joko sering ke sekolah untuk memantau perkembangan pendidikan. Rina sering ke kantor desa untuk urusan administrasi. Lambat laun, perasaan itu tumbuh.
"Rin, aku mencintaimu. Maukah kau menemaniku membangun desa ini?" tanya Joko suatu sore di tepi sungai.
Rina tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Jok. Aku akan selalu mendampingimu."
Mereka menikah pada bulan Desember 1983. Pernikahan sederhana digelar di balai desa, dihadiri seluruh warga. Joko berusia 33 tahun, Rina 28 tahun.
"Selamat, Pak Kades! Selamat, Bu Kades!" seru warga.
Joko dan Rina tersenyum bahagia. Mereka memulai hidup baru bersama. Rina terus mengajar di SD, sambil membantu Joko membangun desa.
Setahun kemudian, tepatnya tahun 1984, Rina melahirkan anak pertama mereka. Bayi laki-laki, lahir dengan selamat. Joko menamainya "Prasetyo", diambil dari nama belakangnya, dengan harapan anaknya akan setia pada cita-cita luhur.
"Ini anak kita, Rin," bisik Joko sambil menggendong bayinya.
"Iya, Jok. Ini buah cinta kita."
Kelahiran Prasetyo membawa kebahagiaan tersendiri bagi desa. Warga bergantian datang menjenguk, membawa hadiah sederhana, telur, ayam, beras, dan doa.
Joko dan Rina tersenyum bahagia. Mereka berkeluarga, mereka memimpin desa, mereka berjuang bersama.
Menjadi kepala desa dan ayah di waktu bersamaan tidak mudah. Joko harus pintar membagi waktu. Pagi di kantor, siang di lapangan, sore bersama keluarga, malam kembali ke tugas.
Tapi ia selalu menyempatkan waktu untuk anaknya. Setiap pagi, sebelum berangkat, ia menggendong Prasetyo, membacakan doa. Setiap malam, ia bercerita sebelum tidur.
"Pras, ayah sayang kamu. Kamu harus jadi anak baik. Jangan nakal. Hormati ibu. Belajar yang rajin. Nanti kalau besar, jadi orang berguna."
Prasetyo yang masih bayi, hanya bisa tersenyum. Tapi Joko yakin, doa dan kasih sayang akan membentuk karakternya.
Rina juga aktif mendidik anak. Ia mengajari Prasetyo berbicara, berjalan, dan mengenal dunia. Ia juga mengajari nilai-nilai kebaikan.
"Bu, aku capek," keluh Prasetyo suatu hari, saat usianya tiga tahun, setelah bermain.
"Capek itu wajar, Nak. Tapi jangan menyerah. Seperti ayahmu, beliau capek setiap hari tapi tidak pernah menyerah."
Prasetyo tersenyum. Ia bangga pada ayahnya.
Joko mendapat penghargaan dari Bupati Blitar sebagai Kepala Desa Teladan. Prestasinya dalam membangun desa, memberdayakan masyarakat, dan menjaga lingkungan diakui.
Acara penyerahan penghargaan digelar di pendopo kabupaten. Joko datang dengan pakaian rapi, didampingi Rina dan beberapa perangkat desa. Wajahnya tenang, tapi hatinya bangga.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Blitar, saya memberikan penghargaan ini kepada Bapak Joko Prasetyo, Kepala Desa Suka Maju, atas dedikasi dan prestasinya dalam memajukan desa," kata Bupati.
Joko menerima piagam dan plakat penghargaan dengan tangan sedikit gemetar. Ia memberi sambutan singkat.
"Terima kasih, Pak Bupati. Penghargaan ini bukan untuk saya, tapi untuk seluruh warga Desa Suka Maju yang telah bekerja sama membangun desa. Saya hanya fasilitator. Semoga penghargaan ini memotivasi kita semua untuk terus berkarya."
Tepuk tangan riuh. Warga Suka Maju yang hadir, bangga. Kepala desa mereka diakui.
Sepulang dari acara, Joko diarak warga keliling desa. Mereka bersorak, bertepuk tangan, dan menabur bunga. Joko tersenyum, melambaikan tangan.
"Ini kemenangan kita bersama!" serunya.
Penghargaan yang lebih tinggi datang. Joko terpilih sebagai salah satu Kepala Desa Teladan tingkat Provinsi Jawa Timur. Ia diundang ke Surabaya untuk menerima penghargaan dari Gubernur.
"Ini luar biasa, Jok," kata Rina ketika menerima undangan itu. "Kamu diakui sampai provinsi."
"Alhamdulillah, Rin. Tapi ini berkat kita semua. Aku hanya perwakilan."
Di Surabaya, Joko bertemu dengan kepala desa dari berbagai daerah. Ia berbagi pengalaman, belajar dari mereka, dan menjalin jaringan. Ia juga mendapat wawasan baru tentang pembangunan desa yang lebih modern.
Saat menerima penghargaan, ia merasa kecil di tengah para pejabat dan tokoh. Tapi ia tetap rendah hati.
"Terima kasih, Pak Gubernur. Penghargaan ini memotivasi saya untuk terus berkarya. Desa Suka Maju akan terus maju, bersama warganya."
Pulang dari Surabaya, Joko membawa oleh-oleh untuk warga. Ia membagikannya di balai desa, bercerita tentang pengalamannya.
"Kita harus terus belajar, warga sekalian. Banyak desa yang lebih maju dari kita. Tapi kita bisa mengejar. Yang penting kerja keras, kerja sama, dan jangan lupa berdoa."
Warga bersemangat. Mereka bangga pada kepala desanya.
Dari pengalaman di Surabaya, Joko mendapat ide untuk memperkenalkan teknologi tepat guna di desanya. Ia membawa pulang contoh alat-alat sederhana: alat perontok padi manual, alat pengering gabah, dan alat pengolahan hasil pertanian.
"Warga sekalian, ini alat-alat yang bisa memudahkan pekerjaan kita. Perontok padi ini lebih cepat dari gebot manual. Pengering gabah ini bisa digunakan saat musim hujan, gabah tidak busuk."
Warga antusias. Mereka mencoba alat-alat itu, dan hasilnya memuaskan. Waktu panen lebih cepat, hasil lebih bersih, harga lebih baik.
Joko juga memperkenalkan biogas dari kotoran ternak. Dengan bantuan dinas energi, ia membangun instalasi biogas percontohan di rumah salah satu peternak. Hasilnya, gas metan dari kotoran sapi bisa digunakan untuk memasak. Warga tidak perlu lagi membeli gas elpiji mahal.
"Ini hebat, Pak Kades. Dulu kotoran ternak bau, mencemari. Sekarang jadi gas, bisa masak. Pupuknya juga bisa untuk sawah," kata peternak itu, Pak Dulah.
Joko sadar, kepemimpinannya tidak akan selamanya. Ia harus menyiapkan generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan membangun desa.
Ia aktif membina pemuda-pemuda desa, memberi mereka pelatihan kepemimpinan, dan melibatkan mereka dalam organisasi desa. Ia juga mendorong mereka untuk sekolah tinggi, agar punya wawasan luas.
"Kalian adalah masa depan desa ini. Jangan hanya jadi penonton. Ambil peran. Kelak, kalian yang akan memimpin. Siapkan diri dari sekarang."
Beberapa pemuda mulai menunjukkan bakat. Ada yang aktif di karang taruna, ada yang terjun ke politik, ada yang fokus di pertanian. Joko membimbing mereka dengan sabar.
Salah satunya adalah Budi, sahabatnya sejak kecil. Budi yang dulu hanya lulusan SD, kini aktif di koperasi dan kelompok tani. Ia belajar dari Joko, perlahan-lahan menjadi pemimpin yang disegani.
"Jok, aku mau seperti kamu. Memimpin, mengabdi," kata Budi suatu hari.
"Kamu bisa, Bud. Asal mau belajar, mau kerja keras, dan mau rendah hati. Aku bantu."
Menjelang akhir periode kedua, ujian berat datang. Joko difitnah oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan kemajuannya. Dituduh korupsi dana desa, dituduh memihak pada kelompok tertentu, dituduh melanggar adat.
Fitnah itu menyebar cepat. Beberapa warga mulai ragu. Joko sedih, tapi tidak marah. Ia yakin, kebenaran akan terungkap.
"Saya tidak akan membela diri dengan emosi. Biarkan waktu yang berbicara. Saya punya bukti semua laporan keuangan transparan. Silakan diperiksa," katanya dalam pertemuan terbuka.
Pihak berwenang datang memeriksa. Selama dua minggu, mereka mengaudit keuangan desa, memeriksa dokumen, dan mewawancarai saksi. Hasilnya, Joko bersih. Tidak ada korupsi. Semua laporan sesuai.
Warga yang sempat ragu, malu. Mereka minta maaf pada Joko.
"Pak Kades, maafkan kami. Kami termakan fitnah."
"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kita tahu kebenaran. Mari kita lanjutkan pembangunan. Jangan terpecah belah."
Fitnah itu justru memperkuat posisi Joko. Warga semakin percaya padanya. Mereka melihat keteguhan dan kejujurannya.
Selama sepuluh tahun memimpin (1980-1985 dan 1985-1990), desa Suka Maju berubah total. Dari desa terpencil, tertinggal, dan miskin, menjadi desa maju dengan infrastruktur baik, ekonomi tumbuh, dan masyarakat sejahtera.
Dalam acara pisah sambut di balai desa, warga menangis. Mereka kehilangan pemimpin yang baik. Tapi mereka juga bersyukur, karena Joko akan tetap tinggal di desa, menjadi warga biasa yang siap membantu.
"Pak Kades, terima kasih untuk semuanya. Desa ini maju karena Bapak," kata seorang warga mewakili yang lain.
Joko menangis. "Bukan karena saya. Tapi karena kita semua. Gotong royong, kerja sama, kebersamaan. Itu kuncinya. Saya hanya fasilitator."
Ia memandangi wajah-wajah warga yang hadir. Mereka semua adalah keluarga baginya. Sepuluh tahun bersama, suka duka, tawa tangis, semuanya terlewati.
"Saya akan tetap di sini, menjadi warga biasa. Kalau ada yang butuh bantuan, saya siap. Mari kita terus jaga desa ini. Jangan sampai kemajuan membuat kita lupa diri. Tetaplah rendah hati, tetaplah bersatu."
Warga bertepuk tangan. Mereka berjanji akan menjaga desa, melanjutkan perjuangan Joko.
Setelah resmi tidak menjabat, Joko duduk di tepi sungai, tempat ia sering duduk saat kecil dulu. Sungai itu masih sama, mengalir tenang. Tapi desanya sudah berubah total.
Jalan aspal mulus ke seluruh pelosok. Jembatan beton kokoh. Listrik terang benderang di setiap rumah. Air bersih mengalir dari kran. Sekolah-sekolah bagus. Koperasi maju. Kelompok tani solid. Perempuan berdaya. Pemuda kreatif. Bahkan wisatawan mulai berdatangan.
Semua itu berkat kerja keras bersama. Joko hanya pemandu. Tapi ia bangga.
"Ya Allah, terima kasih untuk semua nikmat-Mu. Aku tidak pernah menyangka akan sampai sejauh ini. Dulu aku hanya anak petani miskin, bermimpi di tepi sungai ini. Kini, desaku maju, warganya sejahtera."
Ia memandang ke desa. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu. Suara azan Maghrib berkumandang dari masjid. Burung-burung beterbangan pulang ke sarang.
Rina datang menjemput dengan Prasetyo yang kini berusia enam tahun.
"Jok, pulang. Sudah sore."
Joko tersenyum. Ia menggendong Prasetyo.
"Yah, lihat desa kita. Dulu ayah hanya bermimpi. Sekarang mimpi itu nyata. Semua karena Tuhan, karena warga, karena kita semua."
Prasetyo hanya tersenyum, belum mengerti. Tapi suatu hari nanti, ia akan mengerti. Dan ia akan melanjutkan perjuangan ayahnya.
Malam itu, keluarga kecil itu makan bersama dengan bahagia. Di luar, lampu-lampu desa berkelap-kelip. Desa Suka Maju, yang dulu tertidur, kini terjaga dan melompat maju. Semua berkat mimpi seorang anak petani yang tidak pernah padam.
BAB IX
JEJAK YANG TIDAK PERNAH HILANG
Sepuluh tahun berlalu. Joko menyelesaikan dua periode kepemimpinannya. Sesuai aturan saat itu, ia bisa maju lagi untuk periode ketiga, tapi ia memilih untuk tidak mencalonkan. Ia ingin memberi kesempatan pada generasi baru dan lebih banyak waktu untuk keluarga.
Hari terakhir menjabat, Joko mengadakan pisah sambut dengan kepala desa baru, Pak Harto, mantan perangkat desa yang terpilih, lahir tahun 1940. Suasana haru. Banyak warga yang menangis.
"Pak Joko, terima kasih atas pengabdiannya. Desa kita maju berkat Bapak," kata perwakilan warga, Pak Karto, dengan suara bergetar.
Joko tersenyum. "Saya hanya menjalankan amanah. Semua ini berkat kerja sama kita semua. Saya mohon maaf kalau ada salah selama memimpin."
Ia menyerahkan jabatan kepada kepala desa baru. Joko berpesan.
"Jaga desa ini baik-baik, Pak. Lanjutkan yang sudah baik, perbaiki yang kurang. Jangan lupa, pemimpin itu pelayan."
Pak Harto mengangguk. "Terima kasih, Pak Joko. Saya akan belajar dari Bapak. Saya harap Bapak tetap mau memberi nasihat jika saya butuh”
"Tentu, Pak. Saya akan selalu siap membantu."
Setelah tidak menjabat, Joko kembali ke kehidupannya sebagai warga biasa. Ia tinggal di rumah sederhana, yang sudah diperbaiki sedikit, tapi tetap sederhana, bercocok tanam di sawah, kadang membantu Rina mengajar di sekolah.
Awalnya terasa aneh. Dari biasa disibukkan rapat dan kunjungan, kini ia lebih banyak di rumah. Tapi ia menikmatinya.
"Rin, ternyata enak jadi warga biasa," katanya suatu hari sambil minum kopi di beranda.
"Syukurlah, Jok. Kamu bisa istirahat. Selama sepuluh tahun kamu bekerja tanpa kenal lelah. Sekarang saatnya menikmati hasil."
"Tapi aku tetap ingin mengabdi. Meski bukan kepala desa."
"Kamu bisa, Jok. Banyak cara mengabdi tanpa harus jadi kepala desa."
Joko menemukan bentuk pengabdian baru. Ia aktif di kelompok tani, membantu petani dengan ilmu pertanian modern yang ia pelajari dari buku dan pelatihan. Ia juga menjadi pengurus masjid, mengurus kegiatan keagamaan.
Suatu hari, ia mengadakan pelatihan pertanian organik di sawah percontohan. Petani desa antusias mengikutinya.
"Pak Joko, ini pupuk organiknya bagaimana cara buat?" tanya seorang petani muda.
"Mudah, Pak. Pakai kotoran ternak, dicampur dedaunan hijau, ditambah sedikit kapur. Difermentasi selama dua minggu. Nanti hasil panen lebih bagus, lebih sehat, dan lebih mahal harganya."
Petani itu mencoba dan berhasil. Hasil panennya meningkat. Petani lain ikut-ikutan. Lambat laun, desa Suka Maju mulai dikenal sebagai desa pertanian organik.
Kepala desa baru, Pak Harto, sering datang ke rumah Joko. Ia minta saran tentang berbagai hal.
"Pak Joko, ini ada masalah dengan warga tentang sertifikat tanah. Bagaimana cara menyelesaikannya?"
Joko mendengarkan, lalu memberi saran. "Dekati warga itu, ajak bicara baik-baik. Jangan pakai kekerasan. Cari solusi yang menguntungkan semua. Kalau perlu, bantu urus ke BPN."
Pak Harto mengikuti saran itu. Masalah selesai. Ia semakin percaya pada Joko.
"Pak Joko, terima kasih. Bapak memang bijaksana."
"Sama-sama, Pak. Aku hanya berbagi pengalaman. Yang penting selalu ingat, kita ini pelayan masyarakat."
Seiring waktu, banyak kepala desa dari daerah lain datang berkonsultasi. Joko menjadi semacam "guru" tidak resmi bagi para pemimpin desa di sekitarnya. Ia berbagi pengalaman tentang membangun desa, mengelola keuangan, dan memimpin dengan hati.
Bertahun-tahun berlalu. Joko semakin dihormati warga. Ia bukan lagi kepala desa, tapi tetap menjadi rujukan. Setiap ada masalah, orang datang padanya.
"Pak Joko, tolong doakan anak saya mau nikah."
"Pak Joko, ini ada sengketa tanah. Bisa bantu jadi penengah?"
"Pak Joko, anak saya mau kuliah, butuh surat rekomendasi."
Joko melayani semua dengan sabar. Ia tidak pernah meminta imbalan. Ia ikhlas membantu.
"Pak Joko itu orang baik. Tidak sombong meski pernah jadi kepala desa," puji warga.
Joko tersenyum. "Saya hanya manusia biasa. Yang penting kita saling tolong."
Setelah tidak menjabat, Joko menemukan ritme hidup baru. Setiap pagi, ia bangun pukul empat, shalat subuh di masjid, lalu ke sawah. Ia masih punya sepetak sawah warisan orang tua yang dikelola sendiri.
"Mau saya bantu, Pak?" tawar seorang tetangga yang melihat Joko mencangkul.
"Tidak usah, Mas. Saya masih kuat. Ini olahraga sekalian," jawab Joko sambil tersenyum.
Mencangkul, menanam, memupuk, memanen, semua ia lakukan dengan senang hati. Tangannya yang dulu terbiasa menandatangani surat dan dokumen, kini kembali akrab dengan lumpur sawah.
"Jok, kok kamu kelihatan bahagia sekali?" tanya Budi suatu hari ketika bertemu di sawah.
"Iya, Bud. Aku menemukan kebahagiaan baru. Dulu sibuk memikirkan desa, sekarang sibuk memikirkan tanaman. Sama-sama butuh perhatian, sama-sama butuh kasih sayang."
Budi tertawa. "Filosofimu itu lho, nggak habis-habis."
"Serius, Bud. Tanaman itu seperti warga. Kalau kita rawat, mereka tumbuh subur. Kalau kita abaikan, mereka layu. Sama, kan?"
Budi mengangguk. Ia salut pada sahabatnya yang selalu bisa memetik hikmah dari apapun.
Setelah dari sawah, Joko biasanya pulang, mandi, lalu sarapan bersama keluarga. Rina sudah menyiapkan makanan sederhana, nasi, sayur asem, tempe goreng, dan sambal. Makanan yang dulu juga mereka nikmati saat masih susah.
"Enak sekali masakan Ibu," puji Joko.
"Iya, Bu. Enak," timpal Prasetyo yang kini duduk di kelas satu SD.
Rina tersenyum. "Makan yang banyak. Biar kuat."
Setelah sarapan, Joko biasanya ke masjid untuk mengajar ngaji anak-anak. Ia menjadi guru ngaji sukarela. Anak-anak senang karena Pak Joko sabar dan lucu.
"Pak Joko, ini huruf apa?" tanya seorang anak, Siti, sambil menunjuk Al-Qur'an.
"Itu huruf ba, Nak. Bunyinya 'b'. Coba ulangi."
"Ba..."
"Pinter. Sekarang gabung dengan alif. Alif ba... jadi apa?"
"Ba... alif... ba... alif... baa?"
"Hampir. Coba lagi."
Anak itu terus belajar dengan semangat. Joko sabar membimbing. Ia ingat dulu, Ibu Sumarni juga sabar membimbingnya.
Joko memulai usaha kecil-kecilan. Ia membuka toko pupuk dan obat pertanian di dekat pasar. Modal dari tabungan pensiun dan pinjaman lunak dari koperasi.
Toko itu sederhana, hanya bilik bambu dengan rak-rak kayu. Tapi Joko tahu persis kebutuhan petani. Ia menjual pupuk bersubsidi, pestisida, bibit unggul, dan alat-alat pertanian sederhana.
"Pak Joko, pupuk urea ada?" tanya seorang petani.
"Ada, Pak. Mau berapa? Ini baru datang, kualitas bagus. Langsung dari distributor."
Joko tidak hanya menjual, tapi juga memberi konsultasi gratis. Petani sering bertanya tentang cara pemupukan yang tepat, cara mengatasi hama, atau cara memilih bibit unggul. Joko menjawab dengan sabar, berdasarkan pengalaman dan ilmu yang ia kumpulkan.
"Pak Joko ini beda. Nggak cuma jualan, tapi juga ngajari. Suka nolong," puji petani.
Usaha Joko berkembang. Dari toko kecil, ia buka cabang di dusun tetangga. Ia rekrut pemuda-pemuda desa sebagai karyawan. Mereka dilatih, diberi tanggung jawab.
"Pak, saya mau buka toko sendiri," kata salah satu karyawan, Suto, setahun kemudian.
"Silakan, Suto. Aku malah senang. Nanti aku suplai barang dari tokoku. Kita kerja sama."
Slamet terharu. Ia tidak menyangka Joko akan mendukungnya.
Joko membangun rumah baru. Bukan rumah mewah, tapi rumah sederhana yang nyaman. Ia tidak ingin berlebihan.
Rumah itu dibangun di atas tanah warisan orang tuanya, tanah yang dulu hanya seratus meter persegi. Kini, setelah dibeli sedikit demi sedikit, menjadi tiga ratus meter.
Desain rumahnya sederhana: tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi. Halamannya luas, ditanami pohon buah-buahan, mangga, jambu, rambutan. Ada juga kolam ikan kecil di belakang.
"Jok, rumahnya bagus," puji Rina saat pertama kali melihat hasil jadi.
"Sederhana saja, Rin. Yang penting nyaman. Untuk kita bertiga."
Prasetyo, yang kini berusia 11 tahun, senang sekali. Ia punya kamar sendiri. Di kamarnya, ada meja belajar, rak buku, dan tempat tidur yang nyaman. Ia bisa belajar dengan tenang.
"Yah, kamarku bagus. Makasih, Yah."
"Sama-sama, Nak. Rajin-rajin belajar ya."
Prasetyo lulus SD dan melanjutkan ke SMP di kecamatan. Sama seperti dulu ayahnya, ia harus menyeberang sungai setiap hari. Tapi kini sudah ada jembatan. Tidak perlu naik rakit lagi.
"Yah, dulu Ayah sekolah juga di sini?" tanya Prasetyo saat pertama kali diajak Joko ke sekolahnya.
"Iya, Nak. Dulu sekolah di sini. Jalannya masih tanah, naik rakit. Sekarang sudah aspal dan ada jembatan. Kalian beruntung."
Prasetyo mengangguk. Ia bangga pada ayahnya yang telah membangun jembatan itu.
Selama di SMP, Prasetyo aktif di organisasi. Ia ikut Pramuka dan OSIS. Nilainya bagus, masuk peringkat sepuluh besar.
"Yah, aku ikut OSIS," lapor Prasetyo suatu hari.
"Bagus, Nak. Belajar organisasi sejak dini. Nanti kalau sudah besar, kamu bisa jadi pemimpin."
"Aku ingin seperti Ayah. Menjadi pemimpin yang baik."
Joko tersenyum. "Kamu bisa, Nak. Asal rajin belajar, rendah hati, dan suka menolong."
Joko mulai menulis. Ia menuangkan pengalamannya selama memimpin desa ke dalam buku. Buku itu diberi judul "Membangun Desa dari Bawah: Pengalaman Sepuluh Tahun Memimpin Suka Maju".
Menulis tidak mudah. Joko harus belajar lagi. Ia kursus menulis di kabupaten, belajar dari penulis-penulis lokal, dan rajin membaca buku-buku referensi.
"Aku ingin berbagi pengalaman. Mungkin ada yang bisa mengambil pelajaran dari ceritaku," katanya pada Rina.
"Bagus, Jok. Aku dukung. Nanti aku bantu edit."
Setahun kemudian, buku itu selesai. Joko mencetaknya secara mandiri, seribu eksemplar. Ia bagikan ke perpustakaan desa, sekolah-sekolah, dan teman-teman kepala desa.
Responnya positif. Banyak yang terinspirasi. Beberapa kepala desa dari daerah lain datang berkunjung, ingin belajar langsung dari Joko.
"Pak Joko, buku Bapak luar biasa. Kami jadi termotivasi membangun desa," kata seorang kepala desa tamu.
"Terima kasih. Saya hanya berbagi. Semoga bermanfaat."
Joko diundang sebagai dosen tamu di sebuah universitas di Malang. Ia diminta berbagi pengalaman tentang pembangunan desa dan kepemimpinan lokal.
Awalnya Joko ragu. "Saya hanya lulusan SMP. Masa ngajar di universitas?"
"Tidak masalah, Pak. Bapak punya pengalaman lapangan. Itu lebih berharga dari teori," kata dosen yang mengundang.
Joko pun tampil di hadapan mahasiswa. Ia bercerita tentang perjuangannya, tentang suka duka memimpin desa, tentang pentingnya kedekatan dengan rakyat. Mahasiswa antusias, bertanya banyak hal.
"Pak, bagaimana cara mengatasi korupsi di desa?" tanya seorang mahasiswa.
"Transparansi, Mas. Buka semua laporan keuangan ke publik. Libatkan masyarakat dalam pengawasan. Kalau perlu, bentuk tim independen. Korupsi tidak akan terjadi kalau semua transparan."
Mahasiswa itu mengangguk. Mereka kagum pada pemikiran Joko yang sederhana tapi tajam.
Sejak itu, Joko sering diundang sebagai pembicara di seminar-seminar. Ia berbagi pengalaman tentang pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat, dan pertanian organik.
Joko mendirikan yayasan pendidikan. Namanya Yayasan Pendidikan "Suka Maju". Tujuannya membantu anak-anak desa yang kurang mampu agar bisa sekolah.
Yayasan ini mengelola beasiswa, bantuan buku, dan kegiatan belajar tambahan. Joko menjadi ketua, Rina sebagai sekretaris, dan beberapa relawan sebagai pengajar.
"Aku ingin tidak ada anak putus sekolah karena masalah biaya. Seperti dulu, aku hampir putus sekolah," kata Joko saat peresmian yayasan.
Warga mendukung. Banyak yang menyumbang, ada yang uang, ada yang buku, ada yang tenaga. Yayasan berkembang pesat.
Setiap tahun, minimal lima puluh anak mendapat beasiswa. Mereka dibebaskan dari biaya SPP, diberi buku gratis, dan mendapat bimbingan belajar.
"Saya bisa sekolah berkat bantuan Pak Joko," kata seorang anak, Rina namanya, sama dengan istri Joko, dengan mata berkaca-kaca.
Joko mengusap kepala anak itu. "Belajar yang rajin, Nak. Balas budi dengan prestasi. Nanti kalau sukses, bantu orang lain."
Anak itu mengangguk. Ia berjanji akan belajar sungguh-sungguh.
Joko memprakarsai pembangunan masjid baru. Masjid desa yang lama sudah tidak mampu menampung jamaah yang semakin banyak. Joko menggalang dana dari warga dan donatur.
"Warga sekalian, mari kita bangun masjid yang lebih besar. Yang nyaman, yang indah. Untuk beribadah, untuk mengaji, untuk kegiatan keagamaan."
Warga antusias. Mereka menyumbang sesuai kemampuan. Ada yang menyumbang uang, ada yang bahan bangunan, ada yang tenaga. Joko memimpin langsung pembangunannya.
Setahun kemudian, masjid baru berdiri megah. Dua lantai, dengan kubah besar dan menara tinggi. Halamannya luas, bisa untuk acara-acara besar. Jamaah senang, beribadah lebih khusyuk.
Setelah masjid, Joko membangun pondok pesantren. Ia bekerja sama dengan seorang kyai dari kota, Kyai Sholeh, yang ingin berdakwah di desa.
"Pak Kyai, mari bangun pondok di sini. Anak-anak butuh pendidikan agama yang baik. Saya akan bantu fasilitasnya."
Kyai Sholeh setuju. Mereka membangun pondok sederhana di tanah wakaf. Santri mulai berdatangan. Awalnya hanya puluhan, lalu ratusan. Pondok pesantren berkembang menjadi pusat pendidikan agama di wilayah itu.
Joko senang. Ia tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun moral dan spiritual warga.
Joko juga aktif mengelola wakaf dan zakat. Ia menjadi amil zakat yang dipercaya warga. Setiap Tahun ia mengumpulkan zakat fitrah dan zakat mal setiap bulan, lalu menyalurkannya kepada yang berhak.
"Pak Joko, ini zakat saya. Tolong disalurkan," kata seorang warga sambil menyerahkan uang.
"Terima kasih, Pak. Akan saya salurkan ke yang berhak. Ada bukti penerimaannya nanti."
Joko membuat sistem yang rapi. Semua zakat tercatat, semua penyaluran terdokumentasi. Laporan rutin ditempel di masjid, agar warga bisa melihat.
Hasilnya, kepercayaan warga meningkat. Zakat yang terkumpul semakin banyak. Bisa membantu lebih banyak orang miskin, anak yatim, dan fakir miskin.
Joko juga mengelola wakaf produktif. Tanah wakaf ditanami pohon buah atau disewakan untuk sawah. Hasilnya untuk operasional masjid dan pondok.
"Ini cara mengelola wakaf yang baik. Tidak hanya diam, tapi dikembangkan. Hasilnya untuk umat," jelas Joko pada pengurus masjid.
Cobaan datang. Rina, istri tercinta, jatuh sakit. Awalnya hanya demam biasa, lalu semakin parah. Dokter mendiagnosis tipes.
Joko hampir tidak percaya. Rina selama ini sehat, kuat, jarang sakit. Tapi kali ini, ia terbaring lemah di rumah sakit.
"Rin, kamu harus kuat. Jangan menyerah," bisik Joko di samping istrinya.
Rina tersenyum lemah. "Aku akan berjuang, Jok. Demi kamu, demi Prasetyo."
Selama dua minggu, Joko bolak-balik ke rumah sakit. Ia tinggalkan semua kegiatannya, fokus merawat Rina. Prasetyo yang kini berusia 19 tahun dan kuliah di Malang, pulang dan ikut menjenguk setiap akhir pekan.
"Bu, cepat sembuh ya. Aku kangen masakan Ibu," kata Prasetyo sambil menangis.
Rina mengusap kepala anaknya. "Ibu akan sembuh, Nak. Doakan Ibu."
Doa warga terus mengalir. Mereka mengadakan yasinan bersama, memohon kesembuhan untuk Bu Rina. Joko terharu.
Akhirnya, setelah perjuangan berat, Rina sembuh. Ia pulang ke rumah dengan kondisi lemah tapi bersemangat.
"Rin, syukurlah kamu sembuh. Aku hampir gila kalau kehilangan kamu," kata Joko sambil memeluk istrinya.
"Aku juga, Jok. Rasanya mau mati, tapi ingat kamu dan Prasetyo, jadi semangat."
Sejak itu, Joko lebih perhatian pada kesehatan keluarga. Ia mengatur pola makan, rajin berolahraga, dan rutin cek kesehatan.
Prasetyo lulus kuliah dari Universitas Brawijaya Malang, jurusan pertanian. Ia memutuskan pulang ke desa, ingin mengabdi seperti ayahnya.
"Yah, aku lulus. Nilai cum laude," lapor Prasetyo bangga.
Joko memeluk anaknya. "Alhamdulillah, Nak. Ayah bangga."
"Ayah, aku mau pulang ke desa. Mau bantu ayah membangun desa."
Joko terharu. Ia ingat dulu, ia juga memilih pulang setelah lulus SMP. Kini, anaknya melakukan hal yang sama.
"Bagus, Nak. Tapi ingat, jangan hanya ikut jejak ayah. Temukan jalannya sendiri. Yang penting, niatmu baik dan kamu ikhlas."
Prasetyo mengangguk. "Aku akan belajar dari Ayah, tapi juga akan mencari caraku sendiri."
Prasetyo mulai aktif di desa. Ia bergabung dengan kelompok tani, membantu petani dengan ilmu pertanian modern yang ia pelajari di kampus. Ia juga aktif di karang taruna, membina pemuda-pemuda desa.
Prasetyo menikah dengan seorang gadis desa, Wulan namanya, guru SD di desa tetangga. Mereka bertemu ketika Prasetyo sering mengadakan pelatihan pertanian di desa-desa sekitar.
Pernikahan digelar sederhana di balai desa, dihadiri ribuan warga, sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan Joko.
"Wulan, aku bukan orang kaya. Tapi aku akan berusaha jadi suami yang baik, seperti ayahku pada ibuku."
Wulan tersenyum. "Aku tahu, Mas. Aku tidak butuh harta. Aku butuh suami yang sholeh dan bertanggung jawab. Seperti Bapak Joko pada Ibu Rina."
Mereka memulai hidup baru di rumah sederhana peninggalan Joko. Rumah yang dibangun tahun 1996 itu tidak besar, tapi penuh kenangan. Mereka merawatnya dengan baik.
Kabar gembira datang. Wulan melahirkan bayi perempuan. Joko resmi menjadi kakek di usianya yang ke-58.
Bayi itu diberi nama "Dewi" oleh orang tuanya. Joko menangis haru saat menggendong cucu pertamanya.
"Ini cucuku," bisiknya. "Nak, kamu harus jadi orang baik. Jadilah seperti ayahmu, seperti kakekmu."
Dewi kecil tersenyum dalam tidurnya, seolah setuju.
Sejak saat itu, Joko sering menghabiskan waktu dengan cucunya. Ia menggendong, menimang, menyanyikan lagu-lagu jawa. Ia bercerita meskipun cucunya belum mengerti.
"Nak, kakek akan cerita tentang desa ini. Tentang perjuangan kakek. Suatu hari nanti, kalau kamu sudah besar, kamu akan mengerti."
Meski sudah tidak menjabat, Joko tetap aktif di organisasi kemasyarakatan. Ia menjadi ketua RT, anggota LPMD, dan pengurus masjid. Ia juga aktif di kelompok tani dan koperasi.
"Pak Joko, kok masih aktif terus? Istirahat dulu," goda tetangga.
"Saya tidak bisa diam, Mas. Kalau diam, badan sakit. Lebih baik bergerak, bantu-bantu."
Di setiap organisasi, Joko memberi masukan, membagi pengalaman, dan memotivasi anggota. Ia tidak pernah menggurui, selalu merangkul.
Suatu hari, ia diundang dalam musyawarah desa untuk membahas rencana pembangunan. Ia memberi saran tentang prioritas pembangunan.
"Warga sekalian, menurut saya, prioritas sekarang adalah perbaikan irigasi. Air itu sumber kehidupan petani. Kalau irigasi bagus, panen bagus, ekonomi desa maju."
Saran Joko diterima. Irigasi diperbaiki. Petani senang.
Joko mulai mendapat kritik dari generasi muda. Mereka menganggap cara Joko terlalu tradisional, kurang inovatif, kurang mengikuti perkembangan zaman.
"Pak Joko, zaman sudah berubah. Cara dulu tidak bisa diterapkan sekarang. Kita harus lebih modern, lebih berani," kata seorang pemuda, Andi, lahir tahun 1990, dalam forum diskusi.
Joko tidak marah. Ia justru senang. "Kamu benar, Andi. Zaman berubah. Aku juga harus belajar. Apa usulmu?"
Andi terkejut. Ia tidak menyangka Joko akan menerima kritiknya dengan lapang dada.
"Kita harus manfaatkan teknologi, Pak. Internet, media sosial, e-commerce. Petani bisa jual hasil panen online. Pemuda bisa buka usaha online."
Joko mengangguk. "Ide bagus. Tapi ingat, teknologi hanya alat. Yang utama tetap manusianya, sumber dayanya, niatnya. Mari kita kolaborasi. Ajar aku teknologi, aku ajar kamu kebijaksanaan."
Andi tersenyum. Sejak itu, ia sering diskusi dengan Joko. Mereka berkolaborasi, memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern.
Joko bersama pemuda desa merintis desa wisata. Mereka memanfaatkan keindahan alam desa, sawah terasering, sungai jernih, perbukitan hijau. Juga potensi budaya, kesenian tradisional, kuliner khas, kerajinan tangan.
"Warga sekalian, mari kita kembangkan desa wisata. Ini bisa jadi sumber pendapatan baru. Tapi ingat, kita harus jaga lingkungan. Jangan sampai pariwisata merusak alam."
Warga antusias. Mereka membersihkan lingkungan, menata desa, dan melatih diri sebagai pemandu wisata. Homestay dibuka di rumah-rumah warga. Paket wisata ditawarkan: belajar bertani, membuat kerajinan, menari tradisional, dan menikmati kuliner khas.
Wisatawan mulai berdatangan. Mereka dari kota-kota besar, bahkan ada yang dari luar negeri. Desa Suka Maju mulai dikenal sebagai destinasi wisata pedesaan.
"Pak Joko, ide Bapak luar biasa. Sekarang desa kita ramai pengunjung," puji Andi.
"Ini berkat kerja sama kita semua. Tapi jangan cepat puas. Tingkatkan terus kualitas. Jaga keramahan. Jaga kebersihan. Jaga kelestarian."
Joko menulis buku kedua. Kali ini tentang kearifan lokal dan pembangunan berkelanjutan. Buku itu diberi judul "Dari Desa untuk Indonesia: Merajut Kearifan Lokal dalam Pembangunan".
Buku ini lebih tebal dari buku pertama. Isinya tentang pengalaman Joko selama puluhan tahun, juga pemikirannya tentang masa depan desa. Ia menuangkan gagasan tentang pertanian organik, energi terbarukan, desa wisata, dan pemberdayaan masyarakat.
Buku ini mendapat sambutan luas. Banyak akademisi dan praktisi pembangunan yang tertarik. Joko diundang ke berbagai seminar dan diskusi.
"Pak Joko, pemikiran Bapak sangat relevan. Ini yang dibutuhkan Indonesia: pembangunan dari bawah, berbasis kearifan lokal," kata seorang profesor dari UGM.
Joko tersenyum. "Terima kasih, Prof. Saya hanya petani yang suka menulis."
Prasetyo, yang sudah aktif di desa selama sepuluh tahun, memutuskan untuk mendaftar menjadi aparatur desa. Ia ingin lebih terlibat dalam pemerintahan desa.
"Ayah, aku mau daftar jadi perangkat desa," kata Prasetyo suatu hari.
Joko tersenyum. "Bagus, Nak. Tapi ingat, jadi perangkat desa itu berat. Banyak godaan. Kamu harus kuat iman."
"Aku ingat, Yah. Aku akan belajar dari Ayah."
Prasetyo mendaftar dan diterima sebagai staf perencanaan. Ia bekerja dengan tekun, memanfaatkan ilmunya untuk menyusun perencanaan pembangunan yang lebih baik.
Warga senang. Mereka melihat Prasetyo mewarisi sifat ayahnya: rendah hati, rajin, dan peduli.
Joko jatuh sakit. Tekanan darah tinggi dan komplikasi ringan. Ia harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu.
Rina, Prasetyo, Wulan, dan Dewi bergantian menjenguk. Warga desa juga banyak yang datang, mendoakan kesembuhannya.
"Pak Joko, cepat sembuh. Warga butuh Bapak," kata seorang warga sambil menangis.
Joko tersenyum lemah. "Doakan saya. Saya akan berusaha sembuh."
Selama dirawat, Joko banyak merenung. Ia mengingat perjalanan hidupnya, dari anak petani miskin hingga menjadi pemimpin yang dihormati, dari kepala desa hingga tokoh masyarakat. Ia bersyukur pada Tuhan.
"Ya Allah, jika ini saatnya, aku siap. Tapi jika masih ada waktu, izinkan aku terus mengabdi. Untuk keluarga, untuk desa, untuk umat."
Doanya terkabul. Joko sembuh dan pulang ke rumah. Ia harus mengurangi aktivitas, menjaga pola makan, dan rutin cek kesehatan. Tapi semangatnya tidak surut.
Setelah sembuh, Joko lebih banyak menghabiskan waktu dengan Prasetyo. Ia mengajarkan anaknya tentang kepemimpinan, tentang pemerintahan desa, tentang bagaimana melayani warga.
"Pras, jadi pemimpin itu bukan soal jabatan. Tapi soal amanah. Kamu harus siap mengemban amanah itu. Jangan pernah mengkhianati kepercayaan warga."
"Iya, Yah. Aku ingat."
"Kedua, jangan pernah korupsi. Harta itu fana. Yang abadi adalah nama baik. Lebih baik hidup sederhana tapi dihormati, daripada kaya raya tapi dicaci."
"Ingat, Yah."
"Ketiga, dekatlah dengan warga. Jangan hanya duduk di kantor. Turun ke lapangan. Dengar keluhan mereka. Rasakan penderitaan mereka. Itu akan membuatmu bijaksana."
"Keempat, selalu belajar. Zaman berubah. Teknologi maju. Kalau kamu tidak belajar, kamu akan tertinggal."
"Kelima, jangan sombong. Kekuasaan itu sementara. Suatu hari kamu akan turun, jadi rakyat biasa lagi."
Prasetyo mendengarkan dengan saksama. Ia merekam setiap nasihat ayahnya dalam hati.
Joko kembali ke tepi sungai, tempat ia biasa merenung sejak kecil. Sungai itu masih mengalir tenang. Di atasnya, jembatan beton kokoh membentang. Jembatan yang ia bangun tahun 1973, kini sudah 44 tahun berdiri.
Di seberang, desa Suka Maju kini modern. Jalan beraspal mulus. Rumah-rumah permanen. Listrik terang benderang. Tower telekomunikasi menjulang. Masjid megah. Pondok pesantren ramai. Wisatawan berlalu lalang.
Joko tersenyum. Ia ingat perjalanan panjangnya. Dari bocah desa yang bermimpi, hingga menjadi pemimpin yang mewujudkan mimpi. Banyak air mata, banyak tawa, banyak perjuangan. Tapi semua terbayar.
"Ya Allah, terima kasih untuk semua nikmat-Mu. Aku hamba yang lemah, tapi Engkau beri kekuatan. Aku hamba yang bodoh, tapi Engkau beri ilmu. Aku hamba yang miskin, tapi Engkau beri kekayaan hati. Terima kasih."
Ia memandang ke desa. Lampu-lampu mulai menyala. Suara azan Maghrib berkumandang dari masjid. Burung-burung beterbangan pulang ke sarang.
"Yah, di sini rupanya."
Prasetyo datang, duduk di sampingnya. "Ayah suka duduk di sini."
"Iya, Nak. Ini tempatku bermimpi dulu. Dari sini, aku melihat masa depan. Dan masa depan itu kini jadi nyata."
Mereka duduk bersama, menikmati senja. Prasetyo memandangi ayahnya dengan bangga.
"Yah, aku ingin seperti Ayah. Mengabdi, membangun, melayani."
"Kamu bisa, Nak. Tapi jadilah dirimu sendiri. Jangan jadi bayanganku. Temukan jalannya sendiri. Yang penting, niatmu baik, caramu benar, dan kamu ikhlas."
Prasetyo mengangguk. "Aku akan berusaha, Yah."
Sepanjang tahun-tahun setelah pensiun, Joko kehilangan banyak orang tercinta.
Tahun 2005, Wahyono, ayah Joko, meninggal dunia di usia 85 tahun. Joko kehilangan sosok panutan, guru pertama dalam hidupnya.
Dua tahun kemudian, tahun 2007, Sri, ibu Joko, menyusul. Joko merasa sangat kehilangan, tapi ia ikhlas. Mereka telah hidup cukup lama, dan Joko bisa membahagiakan mereka di masa tua.
Tahun 2010, Ibu Sumarni, guru tercinta, juga berpulang. Usianya 80 tahun. Joko berdiri di samping makamnya, menangis.
"Bu, terima kasih untuk semuanya. Tanpa Ibu, saya tidak akan bisa baca buku. Tanpa Ibu, saya tidak akan jadi pemimpin. Istirahatlah dengan tenang."
Tahun 2012, Pak Karim, mantan kades, meninggal di usia 97 tahun. Ia adalah mentor, sahabat, dan orang tua kedua bagi Joko.
Tahun 2015, Mbah Karto, petani tua yang menjadi gurunya tentang pertanian, juga berpulang di usia 105 tahun.
Joko semakin sadar, usianya juga tidak muda lagi. Tapi ia tetap semangat mengabdi, melanjutkan perjuangan orang-orang yang telah pergi.
Joko merasa usianya tidak lama lagi. Ia memanggil Prasetyo, juga tokoh-tokoh desa, untuk memberi pesan terakhir.
"Anak-anakku, warga desa Suka Maju yang saya cintai. Saya sudah tua, mungkin tidak lama lagi. Saya ingin berpesan, jaga desa ini baik-baik. Teruskan pembangunan. Jangan korupsi. Jangan sombong. Dekat dengan warga. Itu kuncinya."
Mereka menangis. Joko melanjutkan.
"Ingat, desa ini bukan milik saya, bukan milik pemerintah, tapi milik kita semua. Gotong royong, kerja sama, kebersamaan, itu yang membuat desa ini maju. Jangan sampai kemajuan membuat kita lupa diri. Tetaplah rendah hati, tetaplah bersatu."
"Prasetyo, anakku. Kamu sekarang sudah dewasa. Kamu yang akan meneruskan perjuangan ayah. Jaga desa ini. Jaga ibumu. Jaga keluargamu. Jadilah pemimpin yang baik."
Prasetyo memeluk ayahnya. "Aku janji, Yah. Akan aku jaga semua amanah ini."
Tanggal 15 Maret 2024. Pukul 04.30 pagi. Waktu subuh.
Joko Prasetyo menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang di rumahnya, dikelilingi keluarga. Wajahnya damai, seperti sedang tidur. Usianya 69 tahun 7 bulan (akan 70 tahun). Rina yang setia di sampingnya, langsung tahu. Ia memeluk suaminya, menangis tersedu-sedu.
"Jok... Jok... jangan tinggalkan aku..."
Prasetyo yang terbangun, segera berlari masuk. Ia melihat ayahnya sudah tiada. Ia jatuh tersungkur di samping ranjang.
"Yah... Yah... jangan pergi..."
Seluruh keluarga berkumpul. Tangis pecah. Suasana duka menyelimuti rumah sederhana itu.
Kabar kepergian Joko menyebar cepat. Warga berdatangan, berbondong-bondong. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir. Rumah Joko yang sederhana itu penuh sesak dalam waktu singkat.
Jenazah dimandikan, dikafani, dan dishalatkan di masjid desa. Ribuan warga mengikuti shalat jenazah. Mereka berbaris panjang, dari masjid hingga ke pemakaman.
Pemakaman digelar sederhana, sesuai wasiat Joko. Ia dimakamkan di pemakaman umum desa, di samping makam orang tuanya, Wahyono (1920-2005) dan Sri (1925-2007), juga di dekat makam Ibu Sumarni (1930-2010) dan Pak Karman (1915-2012).
Budi (70 tahun) berdiri di depan pusara, menangis. "Jok, sahabatku... kau pergi dulu. Tapi janjiku akan kutepati. Aku akan jaga desa ini."
"Selamat jalan, Pak Joko. Terima kasih untuk semuanya," ucap warga bergantian di pusara.
Prasetyo, Rina, Wulan, Dewi, dan seluruh keluarga menangis di samping makam. Mereka kehilangan sosok pemimpin, ayah, suami, kakek, dan buyut yang luar biasa.
Tapi di tengah kesedihan, ada rasa syukur. Joko pergi dengan tenang, di usia yang cukup, setelah mewariskan banyak hal. Ia pergi meninggalkan jejak yang tidak akan pernah hilang.
Dua tahun setelah Joko pergi, Rina menyusul. Ia meninggal dengan tenang di rumahnya, dikelilingi anak dan cucu. Seperti Joko, ia pergi setelah mengabdi seumur hidupnya sebagai guru SD (1977-2010) dan pendamping suami.
Rina dimakamkan di samping Joko. Kini, mereka berdua bersanding dalam damai, di bawah naungan pohon randu yang rindang.
Prasetyo menangis di samping makam kedua orang tuanya.
"Yah, Bu, kalian sudah bersama sekarang. Tenanglah di sisi Tuhan. Aku akan teruskan perjuangan kalian."
Warga desa kembali berduka. Mereka kehilangan ibu desa yang baik hati, yang setia mendampingi Joko dalam suka dan duka selama 37 tahun pernikahan. Tapi seperti Joko, jejak Rina juga tidak akan hilang.
Setelah Joko dan Rina tiada, warisan mereka tetap hidup. Desa Suka Maju terus maju. Jalan yang ia bangun semakin mulus. Listrik yang ia perjuangkan semakin terang. Sekolah yang ia renovasi semakin bagus. Pondok pesantren yang ia dirikan semakin besar. Desa wisata yang ia rintis semakin ramai.
Yayasan Pendidikan "Suka Maju" terus berjalan, memberi beasiswa pada anak-anak tidak mampu. Koperasi Desa terus berkembang, menyejahterakan petani. Kelompok Tani "Tunas Harapan" semakin maju dengan pertanian organik.
Nama Joko Prasetyo diabadikan sebagai nama jalan desa, nama gedung serbaguna, dan nama beasiswa. Setiap tahun, pada tanggal 15 Maret, warga mengadakan haul untuk mendoakannya.
"Pak Joko memang pergi, tapi semangatnya tetap hidup. Kita harus teruskan perjuangannya," kata Prasetyo dalam sebuah acara.
Warga mengangguk setuju. Mereka berjanji akan menjaga desa, seperti yang diajarkan Joko.
Prasetyo duduk di tepi sungai yang sama, tempat ayahnya biasa merenung. Jembatan beton kokoh yang dibangun tahun 1973 masih berdiri. Desa Suka Maju kini semakin maju. Wisatawan hilir mudik, anak-anak sekolah berseragam rapi, petani panen dengan mesin modern.
Ia memandangi desa dengan bangga. Ayahnya telah meletakkan fondasi yang kokoh. Kini, gilirannya dan generasi muda untuk melanjutkan.
"Yah, desa ini kini semakin maju. Aku akan teruskan perjuanganmu. Jaga kami dari sana."
Matahari terbenam di ufuk barat. Langit jingga kemerahan. Burung-burung pulang ke sarang. Desa Suka Maju tenang dan damai.
Prasetyo tersenyum. Ia ingat pesan ayahnya: "Mimpi itu penting. Tapi tanpa kerja keras, mimpi hanya angan-angan."
Kini, mimpi itu menjadi nyata. Desa yang dulu tertinggal oleh waktu, kini melompat maju. Semua berkat seorang anak petani yang berani bermimpi, berani berjuang, dan berani mengabdi.
Joko Prasetyo telah pergi. Tapi warisannya abadi. Di setiap sudut desa, di setiap senyum warga, di setiap langkah kemajuan, namanya akan selalu dikenang.
BAB X
JEJAK YANG TIDAK PERNAH HILANG
Lima tahun setelah Joko Prasetyo berpulang, desa Suka Maju terus melaju dengan pesat. Namun di tengah semua kemajuan itu, satu tempat tetap dipertahankan sebagaimana adanya: rumah tua Joko di tepi sungai. Rumah itu telah ditetapkan sebagai cagar budaya desa.
Pemerintah desa telah beberapa kali mengusulkan untuk merenovasi rumah itu, menjadikannya museum atau perpustakaan yang lebih representatif. Tapi Prasetyo, anak Joko, selalu menolak dengan halus.
"Biarkan saja seperti ini," katanya suatu ketika. "Ayah dulu ingin rumah ini tetap sederhana. Agar siapa pun yang datang, ingat bahwa pemimpin besar bisa lahir dari kesederhanaan."
Maka rumah itu tetap berdiri dengan dinding bambu yang telah diganti beberapa kali, atap rumbia yang diperbaharui setiap lima tahun, dan lantai papan yang sedikit miring karena usianya. Di beranda, masih tergantung topi anyaman bambu yang biasa dipakai Joko ke sawah. Di sudut ruang tamu, masih tersimpan cangkul tua yang setia menemani masa kecilnya. Di dinding, terpajang foto-foto usang hitam putih, Wahyono dan Sri, Ibu Sumarni, Pak Karman, Budi, dan wajah-wajah lain yang telah lebih dulu berpulang.
Bertepatan dengan lima tahun kepergian Joko, warga mendirikan museum desa. Museum itu menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan Joko: rakit bambu yang dulu ia gunakan (tahun 1960-an), lampu minyak untuk belajar (tahun 1960-an), sepatu bolong yang ditambal ibunya (tahun 1960), buku-buku bacaan dari Ibu Sumarni (tahun 1960-an), buku-buku karangannya (1998, 2014), piagam penghargaan kepala desa teladan (1982, 1992), dan foto-foto perjuangan dari tahun 1970-an hingga 2010-an.
Museum itu diberi nama "Museum Joko Prasetyo: Dari Anak Petani hingga Pemimpin Desa". Setiap hari, dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa, dan wisatawan. Mereka belajar tentang perjuangan membangun desa dari bawah.
Di dinding museum, terpampang kata-kata mutiara Joko:
"Jangan pernah malu dengan asal-usulmu. Jadikan itu sebagai cambuk untuk maju."
"Pemimpin itu pelayan, bukan penguasa."
"Korupsi adalah pengkhianatan pada rakyat."
"Bermimpilah, karena mimpi adalah awal dari kenyataan."
"Kerja keras, kerja sama, dan doa adalah kunci sukses."
"Dari tepi sungai, mimpi itu bisa menjadi nyata."
Pengunjung terinspirasi. Mereka belajar bahwa dari desa, dari kemiskinan, dari keterbatasan, seseorang bisa menjadi besar.
Setiap hari, terutama menjelang senja, orang-orang datang ke rumah tua itu. Bukan untuk ziarah dalam arti formal, melainkan sekadar duduk di beranda, memandangi sungai yang mengalir tenang, dan bercerita. Mereka adalah anak-anak muda yang tak pernah mengenal Joko secara langsung, namun tumbuh dengan nama yang selalu disebut dalam setiap kisah.
"Kek, ceritakan lagi tentang Mbah Joko," pinta seorang bocah pada kakeknya yang duduk di kursi bambu.
Kakek itu, Raka namanya, keponakan Joko yang kini telah berusia 60 tahun, tersenyum. Matanya menerawang ke masa lalu, ke waktu ketika ia masih kecil dan pamannya bercerita tentang perjuangan.
"Mbah Joko itu," Raka memulai dengan suara pelan, "adalah anak petani paling miskin di desa ini. Bapaknya cuma penggarap, ibunya buruh tani. Mereka tinggal di rumah ini, tepat di sini, dengan segala kekurangannya. Mereka makan seadanya, tidur beralas tikar."
Bocah itu mendengarkan dengan takjub. "Tapi kenapa beliau bisa jadi kepala desa, Kek? Anak petani miskin kok bisa jadi pemimpin?"
Raka tertawa kecil. "Karena dia tidak pernah menyerah, Nak. Karena dia punya mimpi. Karena dia tahu, kemiskinan bukan takdir yang tak bisa diubah. Dia sekolah meski harus jalan kaki tujuh kilometer setiap hari. Dia belajar meski buku hanya pinjaman. Dia bermimpi meski semua orang bilang mustahil."
Bocah itu mengangguk-angguk. Di matanya yang masih bening, tergambar kekaguman pada sosok yang tak pernah ia jumpai.
"Dan yang paling penting," Raka melanjutkan, "Mbah Joko tidak pernah lupa asal-usulnya. Ketika sudah jadi kepala desa, dia tetap turun ke sawah. Tetap duduk di warung kopi. Tetap mendengar keluhan warga. Dia bilang, pemimpin itu pelayan, bukan tuan. Dan dia membuktikannya sampai akhir hayat."
Tapi yang paling penting, nilai-nilai yang ditanamkan Joko masih hidup. Setiap kepala desa yang memimpin Suka Maju, selalu ingat pesan itu: jujur, adil, dekat dengan rakyat. Setiap guru yang mengajar di SD Joko Prasetyo, selalu menyisipkan kisah tentang anak petani yang berani bermimpi. Setiap orang tua yang mendidik anaknya, selalu bilang: "Kamu bisa seperti Mbah buyut Joko, Nak. Asal rajin belajar, jujur, dan tidak sombong."
Di beranda rumah tua tepi sungai, yang kini menjadi museum kecil, selalu ada orang yang datang. Mereka duduk di kursi bambu, memandangi sungai yang mengalir, membaca catatan-catatan usang, meresapi perjuangan seorang manusia biasa yang menjadi luar biasa karena ketekunan dan ketulusannya.
Dan ketika senja turun, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, angin berbisik lembut membawa pesan abadi:
Bahwa seorang pemimpin sejati tidak mati. Ia hidup dalam setiap kebaikan yang ditanam, dalam setiap perubahan yang diwariskan, dalam setiap hati yang terinspirasi.
Bahwa anak petani bisa memimpin desa. Bahwa kemiskinan bukan penghalang. Bahwa mimpi, jika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, bisa menjadi nyata.
Bahwa dari tepi sungai yang sunyi, dari rakit bambu yang rapuh, dari lampu minyak yang temaram, dari sepatu bolong yang ditambal, seseorang bisa bangkit dan membawa perubahan.
Bahwa jejak seorang anak petani, yang dulu dianggap kecil dan tak berarti, ternyata bisa membekas selamanya, di atas batu, di dalam hati, dan di sepanjang masa.
Sebagai penutup, kita kembali ke kata-kata Joko Prasetyo yang pernah ia tulis di buku catatannya, ditemukan setelah ia tiada:
"Aku lahir di tengah kesederhanaan, di rumah panggung berdinding bambu, di tepi sungai yang setiap musim hujan meluap dan membawa rakitku hanyut. Aku besar dalam kemiskinan, dengan sepatu bolong dan baju lusuh, dengan perut kadang lapar dan mimpi yang kadang dianggap mustahil.
Tapi aku tidak pernah menyerah. Karena aku percaya, Tuhan tidak pernah tidur. Dia selalu memberi jalan bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Aku sekolah, aku belajar, aku bermimpi. Dan perlahan, mimpi itu menjadi nyata.
Jembatan yang dulu hanya gambar di buku catatan, kini berdiri kokoh. Listrik yang dulu hanya sinar redup di kejauhan, kini menerangi setiap rumah. Sekolah yang dulu bocor, kini megah dengan taman dan laboratorium. Petani yang dulu tertindas tengkulak, kini sejahtera dengan koperasi.
Tapi yang paling membuatku bahagia, bukanlah jembatan, listrik, atau sekolah itu. Melainkan ketika melihat anak-anak desa bisa sekolah dengan nyaman. Ketika melihat petani tersenyum saat panen. Ketika melihat pemuda-pemuda bangga pulang ke desa, bukan pergi ke kota. Ketika melihat nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan gotong royong masih hidup di hati warga.
Itulah warisan terbesar. Bukan beton dan aspal. Tapi hati yang terus menyala.
Untuk kalian, generasi penerus: jangan pernah malu dengan asal-usul kalian. Jadikan itu sebagai cambuk untuk maju. Bermimpilah setinggi langit. Tapi ingat, mimpi saja tidak cukup. Harus ada kerja keras, ketekunan, dan doa. Juga harus rendah hati. Jangan sombong kalau sukses.
Dan yang paling penting: jangan pernah lupakan desa ini. Dari tepi sungai ini, mimpi itu menjadi nyata. Dan dari sini pula, mimpi-mimpi baru akan lahir.
Selamat berjuang, anak-anakku. Tuhan memberkati.
Joko Prasetyo
TAMAT
EPILOG
JEJAK DI ATAS BATU, KISAH DI DALAM HATI
Seratus lima puluh tahun setelah kelahirannya, nama Joko Prasetyo telah menjadi legenda. Bukan hanya di desa Suka Maju, tapi di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Buku-bukunya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah. Universitas-universitas menjadikan model kepemimpinannya sebagai studi kasus. Para pemimpin dari berbagai negara datang berkunjung ke desa Suka Maju, belajar dari perjuangannya.
Desa Suka Maju sendiri telah menjadi kota kecil yang modern, tapi tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional. Di tengah kota, berdiri patung Joko Prasetyo setinggi lima meter, menghadap ke sungai. Di bawah patung, terukir kata-kata terkenalnya: "Pemimpin itu pelayan, bukan penguasa."
Rumah tua di tepi sungai masih dipertahankan, kini menjadi museum nasional. Setiap tahun, jutaan orang berkunjung, ingin melihat langsung tempat di mana seorang anak petani miskin dilahirkan dan bermimpi.
Namun yang paling penting, nilai-nilai yang ia tanamkan masih hidup. Kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, gotong royong, dan cinta pada tanah air—semua itu masih menjadi pegangan hidup warga Suka Maju, diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada suatu senja, seorang anak kecil bertanya pada kakeknya yang duduk di tepi sungai.
"Kek, siapa itu Joko Prasetyo?"
Kakek itu tersenyum. Matanya menerawang jauh, ke masa lalu yang panjang.
"Dia adalah pahlawan kita, Nak. Bukan pahlawan perang, tapi pahlawan kehidupan. Dia lahir di sini, di tepi sungai ini, dalam kemiskinan. Tapi dia punya mimpi besar. Dia berjuang, dia belajar, dia memimpin. Dan berkat dia, desa ini menjadi maju."
"Ceritakan, Kek," pinta anak itu.
Kakek itu mulai bercerita. Panjang lebar. Tentang seorang anak petani yang setiap pagi menyeberangi sungai dengan rakit bambu. Tentang perjuangannya sekolah di kampung sebelah. Tentang mimpinya membangun jembatan. Tentang bagaimana ia menjadi kepala desa termuda, membangun jalan, listrik, sekolah, dan segalanya. Tentang bagaimana ia tetap rendah hati meski sukses. Tentang bagaimana ia mengajarkan bahwa pemimpin itu pelayan.
Anak itu mendengarkan dengan takjub. Di matanya yang masih bening, tergambar kekaguman pada sosok yang tak pernah ia jumpai.
"Kek, aku ingin seperti Mbah Joko."
"Kamu bisa, Nak. Asal rajin belajar, jujur, dan tidak sombong. Dan jangan pernah lupakan desa ini. Karena dari tepi sungai ini, mimpi itu menjadi nyata."
Matahari terbenam di ufuk barat. Langit jingga kemerahan. Burung-burung pulang ke sarang. Sungai mengalir tenang, membawa cerita tentang perjuangan, tentang mimpi, tentang seorang anak petani yang berani bermimpi—dan mewujudkannya.
Dan angin berbisik lembut, membawa pesan abadi dari masa lalu, untuk masa kini, dan untuk selamanya:
Dari tepi sungai, mimpi itu menjadi nyata.
Slamet Riyadi
28 Juli 2025 20:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...