SANG LEGENDA KONTRIBUTOR DESA
Dari Admin Biasa Menjadi Penjaga Informasi di Sepuluh Desa
Sebuah Novel Inspiratif tentang Perjuangan, Dedikasi, dan Transformasi Digital Desa
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
"Ketika Jarak Bukan Lagi Halangan"
Pagi di desa itu selalu datang dengan cara yang sama: perlahan, sunyi, dan sederhana.
Kabut tipis menggantung di antara pohon-pohon karet dan sawit yang berjajar di kejauhan, seperti selendang putih yang dengan lembut membelai puncak-puncak dedaunan. Jalan tanah yang membelah perkampungan masih basah oleh embun malam yang belum sepenuhnya menguap, menciptakan aroma khas tanah basah yang bercampur dengan wangi dedaunan. Di kejauhan, sesekali terdengar suara ayam jantan bersahutan, seolah mereka sedang berlomba menjadi jam alarm alami bagi seluruh penghuni desa. Suara itu kemudian disusul oleh bunyi sepeda motor tua yang melintas menuju kebun, dengan suara knalpot yang sudah mulai reyot namun tetap setia mengantar pemiliknya mencari nafkah.
Desa itu bernama Sido Mukti—sebuah nama yang mengandung harapan akan kehidupan yang makmur dan sejahtera. Terletak di sebuah lembah kecil yang dikelilingi perbukitan hijau, desa ini adalah rumah bagi sekitar seribu dua ratus jiwa yang sebagian besar hidup sebagai petani karet, pekebun sawit, dan peternak sapi skala kecil. Rumah-rumah di desa ini kebanyakan masih berdinding kayu dengan atap seng yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian, namun di balik kesederhanaannya, ada kehangatan yang tidak bisa ditemukan di kota-kota besar.
Di sebuah rumah kayu yang berdiri tidak jauh dari balai desa, tepatnya di RT 03 RW 02, Dusun Mulyo Rejo, seorang pria paruh baya duduk di depan meja sederhana. Meja itu bukan meja kerja yang mewah—bukan meja eksekutif dengan lapisan kaca mengilap, bukan pula meja minimalis modern yang dijual di toko-toko mebel kota. Meja itu adalah meja kayu jati tua warisan orang tuanya, dengan cat berwarna coklat yang sudah mulai pudar di beberapa bagian, sudut-sudutnya sedikit terkelupas karena dimakan usia, dan kaki mejanya sudah tidak sama panjang sehingga harus diganjal dengan potongan kayu kecil agar tidak goyah setiap kali digunakan mengetik.
Di atas meja itu hanya terdapat beberapa barang sederhana:
- Sebuah laptop merek Acer Aspire berwarna hitam, keluaran tahun 2012, dengan stiker yang sudah menguning di sudut-sudutnya, tuts keyboard yang sudah aus di beberapa huruf, dan kipas pendingin yang setiap kali dinyalakan mengeluarkan suara berisik seperti mesin traktor tua yang kehabisan oli.
- Sebuah modem internet merek Huawei berwarna putih, yang selalu ditempelkan di dekat jendela karena hanya di sanalah sinyal bisa ditangkap dengan stabil—itupun kadang hilang timbul jika cuaca mendung atau jika ada pohon yang terlalu basah karena hujan.
- Tiga buah buku catatan warna-warni: buku hijau untuk mencatat data kegiatan desa, buku biru untuk mencatat ide-ide artikel, dan buku merah untuk mencatat jadwal dan tenggat waktu dari sepuluh desa yang kelak akan bekerja sama dengannya.
- Dua buah bolpoin merek Pilot berwarna hitam dan biru, keduanya sudah kehilangan tutup, namun masih setia menggoreskan tinta di atas kertas.
- Dan sebuah cangkir keramik putih dengan gambar bunga mawar yang mulai terkelupas—cangkir hadiah pernikahan dua puluh tahun lalu—yang setiap pagi diisi kopi hitam panas tanpa gula oleh istrinya.
Pria itu bernama Arman.
Bukan nama besar. Bukan nama yang akan dikenang dalam sejarah nasional. Bahkan di desanya sendiri, banyak warga yang mungkin masih bingung jika ditanya tentang nama lengkapnya. Mereka lebih sering memanggilnya "Pak Man"—sebutan sederhana yang akrab di telinga.
Arman berusia empat puluh tujuh tahun pada saat kisah ini dimulai. Rambutnya sudah mulai memutih di bagian pelipis, tidak lebat seperti masa mudanya, namun masih cukup rapi disisir ke samping. Wajahnya bulat dengan kulit sawo matang khas orang desa yang setiap hari terpapar matahari, meskipun akhir-akhir ini ia lebih banyak duduk di depan komputer sehingga warna kulitnya sedikit lebih terang. Matanya sipit, namun di balik kelopak mata itu tersimpan ketajaman yang tidak biasa—ketajaman seorang pengamat yang terbiasa melihat detail-detail kecil yang sering terlewatkan orang lain.
Hari itu Arman mengenakan kemeja lengan panjang warna biru muda yang sudah mulai luntur karena terlalu sering dicuci, dipadukan dengan celana bahan warna hitam yang juga sudah mulai tipis di bagian lutut. Di kakinya, sandal jepit merek Swallow warna coklat menemani setiap langkahnya. Penampilannya sederhana—sangat sederhana—seperti kebanyakan pria desa seusianya.
Ia bukan wartawan.
Ia bukan lulusan jurnalistik. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan di bidang komunikasi, apalagi teknologi informasi. Pendidikan terakhirnya hanyalah SMA, itu pun lulus dengan nilai pas-pasan karena harus membantu orang tuanya di kebun sejak usia muda. Ia tidak pernah mengenal istilah-istilah rumit seperti SEO, traffic pengunjung, engagement rate, atau algoritma mesin pencari.
Ia juga bukan ahli teknologi informasi. Jika ditanya tentang perbedaan antara RAM dan ROM, ia mungkin hanya akan menggelengkan kepala sambil tersenyum malu. Jika disuruh menjelaskan apa itu coding atau pemrograman web, ia akan tertawa dan mengatakan bahwa itu terlalu rumit untuk kepalanya.
Bahkan jika ditanya tentang istilah-istilah digital yang sedang tren seperti artificial intelligence atau machine learning, ia mungkin hanya akan mengangkat bahu dan berkata, "Yang penting laptop saya masih bisa dipakai mengetik."
Yang ia tahu hanyalah satu hal sederhana: mengetik di Microsoft Word.
Tidak lebih.
Ia belajar mengetik secara otodidak, dengan metode yang sangat sederhana: melihat tuts keyboard satu per satu, menekan dengan dua jari telunjuk—jari telunjuk kiri untuk huruf-huruf di sisi kiri keyboard, jari telunjuk kanan untuk huruf-huruf di sisi kanan. Jari-jari lainnya hanya menjadi penonton, sesekali ikut membantu jika ada huruf yang agak jauh. Teknik mengetik yang oleh orang-orang modern mungkin akan disebut sebagai "java typist" atau "mengetik 11 jari" (karena hanya dua jari yang bekerja, sementara sembilan lainnya hanya menjadi hiasan).
Namun justru dari kemampuan yang sangat sederhana itulah sebuah perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya mulai terbentuk.***
Beberapa tahun sebelumnya, Arman hanyalah seorang perangkat desa biasa—tepatnya menjabat sebagai Kepala Urusan Umum dan Perencanaan di Desa Sido Mukti. Sebuah posisi yang dalam struktur pemerintahan desa berada di bawah sekretaris desa, setara dengan kepala seksi lainnya, namun dengan lingkup tugas yang sangat luas: mengurus surat-menyurat, mendokumentasikan kegiatan, membantu administrasi kantor, dan menjadi "tukang serba bisa" yang dimintai tolong oleh siapa pun.
Ia menjalani hari-harinya seperti kebanyakan aparat desa lainnya. Bangun pagi, membantu istri menyiapkan anak-anak berangkat sekolah, lalu berjalan kaki sekitar dua ratus meter menuju kantor desa—sebuah bangunan berwarna krem dengan atap genteng merah, halaman berumput yang kadang dipakai untuk apel pagi, dan sebuah papan nama besar bertuliskan "Kantor Desa Sido Mukti" yang sudah mulai miring karena salah satu paku penyangganya longgar sejak dua tahun lalu.
Sesampainya di kantor, rutinitasnya selalu sama: menghadiri rapat, membantu administrasi kantor desa, mencatat kegiatan pembangunan, dan sesekali menemani kepala desa dalam musyawarah bersama warga. Kadang ia ditugaskan menjadi notulen rapat, kadang menjadi fotografer dadakan dengan kamera ponsel jadulnya, kadang pula menjadi kurir yang mengantarkan surat ke rumah-rumah warga.
Hidupnya berjalan biasa saja.
Tidak ada yang istimewa.
Hingga suatu hari, kepala desa memanggilnya ke kantor.***
Hari itu adalah hari Selasa, tanggal 17 Maret 2020—tanggal yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Matahari bersinar cukup terang, namun tidak terlalu panas karena angin berhembus cukup kencang dari arah perbukitan. Di halaman kantor desa, beberapa ekor ayam milik warga sedang asyik mematuk-matuk tanah mencari cacing, sementara seekor kucing hitam putih tidur dengan tenang di atas kursi plastik yang biasa dipakai tamu.
Arman baru saja selesai membuatkan surat keterangan usaha untuk Pak Tugiman, seorang warga yang ingin mengajukan pinjaman ke bank, ketika tiba-tiba Bu Lestari—Sekretaris Desa—memanggilnya dari ruang kepala desa.
"Man, sini sebentar. Bapak panggil."
Arman mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas. "Sekarang, Bu?"
"Iya, sekarang."
Arman meletakkan bolpoin di atas meja, merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut, lalu berjalan menuju ruang kepala desa. Langkahnya biasa saja—tidak tergesa, tidak pula lambat—karena ia sudah terbiasa dipanggil kapan saja. Mungkin Pak Rahmat hanya ingin menyuruhnya membeli rokok di warung, atau mungkin ada rapat mendadak yang perlu dicatat.
Namun dugaan itu ternyata salah.
Di ruang kepala desa, suasana terasa sedikit berbeda. Biasanya ruangan ini selalu ramai dengan obrolan, gelak tawa, atau setidaknya suara radio kecil yang selalu diputar Pak Rahmat. Namun kali ini sunyi. Hanya ada Pak Rahmat yang duduk di kursinya sambil memegang secarik kertas, dan di depannya sudah duduk Pak Darso—Kepala Seksi Pemerintahan yang terkenal cerewet—dengan ekspresi serius yang tidak biasa.
Pak Rahmat, Kepala Desa Sido Mukti, adalah seorang pria berusia lima puluh tiga tahun dengan tubuh agak gemuk, rambut yang sudah nyaris botak di bagian depan, dan kumis tipis yang selalu ia rawat. Hari itu ia mengenakan kemeja batik lengan panjang warna coklat, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel yang sudah mulai retak di bagian depan. Wajahnya yang biasanya selalu tersenyum cerah, pagi itu terlihat serius—serius seperti sedang menghadapi masalah besar.
Pak Darso, di sisi lain, adalah kebalikan dari Pak Rahmat. Usianya lima puluh tahun, tubuhnya kurus dengan perut agak buncit karena terlalu banyak duduk dan minum kopi. Wajahnya tirus dengan hidung mancung, dan rambutnya yang sudah memutih di bagian pelipis selalu ia sisir rapi ke belakang. Hari itu ia mengenakan kemeja putih lengan pendek yang sudah mulai kekuningan di bagian ketiak, dan di tangannya selalu ada cangkir kopi—seolah cangkir itu adalah bagian tak terpisahkan dari tubuhnya.
"Silakan duduk, Man," kata Pak Rahmat sambil menunjuk kursi kosong di samping Pak Darso.
Arman duduk. Hatinya mulai bertanya-tanya ada apa gerangan. Biasanya rapat-rapat penting melibatkan semua perangkat desa, tidak hanya bertiga seperti ini. Apakah ada masalah? Apakah ada yang salah dengan pekerjaannya? Apakah ada laporan warga yang tidak menyenangkan?
Pak Rahmat kemudian mengambil sebuah kertas dari mejanya. Kertas itu adalah print-out berwarna, dengan logo pemerintah daerah di bagian atas dan alamat sebuah situs internet yang dicetak tebal.
"Man," kata kepala desa sambil menyerahkan kertas itu, "desa kita sekarang punya website."
Arman menerima kertas itu dengan tangan agak ragu. Ia membaca alamat yang tercetak di sana: www.sidomukti.desa.id. Beberapa detik ia menatap tulisan itu, lalu mengangkat kepalanya dengan ekspresi bingung.
"Website, Pak?"
"Iya, website."
Arman mengerutkan kening. "Maksudnya...?"
Pak Darso yang dari tadi diam, tiba-tiba menyela dengan nada khasnya yang sarkastik. "Website itu ya... punya desa di internet. Seperti Facebook, tapi punya desa. Orang bisa lihat desa kita dari mana saja, bahkan dari Jakarta."
Arman mengangguk pelan, walaupun sebenarnya ia belum sepenuhnya memahami apa arti dari kata website itu sendiri. Dalam bayangannya, website adalah sesuatu yang rumit—milik perusahaan-perusahaan besar, bukan milik desa kecil seperti Sido Mukti.
"Bagus dong, Pak," katanya ragu. "Berarti desa kita sudah maju."
Pak Rahmat tersenyum tipis. "Iya, bagus. Tapi ada masalahnya."
"Masalah apa, Pak?"
Pak Rahmat menatap Arman dengan serius. "Website itu tidak ada isinya."
Arman membuka mulut hendak bertanya, namun Pak Darso sudah lebih dulu menjelaskan. "Website itu seperti rumah baru, Man. Bagus, megah, tapi kosong melompong. Tidak ada perabotan, tidak ada penghuni. Orang lihat, lalu pergi."
Pak Rahmat mengangguk. "Iya. Website kita sudah jadi sejak tiga bulan lalu. Tapi sampai sekarang hanya ada profil desa, visi misi, dan struktur organisasi. Itu pun fotonya Pak Darso yang lagi pegang cangkir."
Pak Darso langsung protes. "Loh, Pak, itu foto saya yang paling bagus."
"Kamu pegang cangkir terus, orang kira itu iklan kopi."
Arman tertawa kecil. Percakapan seperti ini sudah biasa di kantor desa—serius setengah bercanda, bercanda setengah serius.
Namun tawa Arman segera berhenti ketika Pak Rahmat melanjutkan kalimatnya.
"Mulai sekarang kamu yang mengurus website itu."
Arman terdiam.
Bibirnya terbuka sedikit, namun tidak ada suara yang keluar. Matanya membelalak, alisnya terangkat tinggi, dan tangannya yang memegang kertas itu sedikit gemetar. Selama beberapa detik ia hanya duduk membeku, seperti patung yang tiba-tiba kehilangan kemampuan bergerak.
"Pak... Pak... maksud Bapak?" akhirnya ia terbata-bata.
"Kamu yang mengelola website desa," ulang Pak Rahmat dengan sabar. "Menulis berita, mengupload foto kegiatan, pokoknya semua yang berhubungan dengan website."
Arman menelan ludah. "Pak... saya tidak bisa."
"Tidak bisa apa?"
Arman menghela napas panjang. "Saya tidak bisa komputer, Pak."
Pak Darso langsung tertawa. "Man, masa tidak bisa komputer? Laptop itu kan sudah ada di kantor bertahun-tahun."
"Iya, Pak. Tapi saya cuma bisa mengetik di Word. Itu pun pakai dua jari."
Pak Darso menunjuk keyboard laptop di meja sebelah. "Coba ketik sesuatu."
Arman bangkit, duduk di depan laptop kantor desa yang sudah tua itu. Ia menyalakannya, membuka Microsoft Word, lalu mulai mengetik dengan dua jari telunjuknya—jari telunjuk kiri menekan huruf-huruf di sisi kiri, jari telunjuk kanan menekan huruf-huruf di sisi kanan. Gerakannya lambat, namun cukup teratur. Setiap kali selesai menekan satu huruf, matanya akan mencari huruf berikutnya di keyboard, lalu menekannya lagi.
Pak Darso dan Pak Rahmat memperhatikan dengan serius.
Setelah sekitar tiga puluh detik, Arman berhenti. Di layar komputer muncul sebuah kalimat:
"Saya hanya bisa mengetik dengan dua jari."
Pak Darso membaca kalimat itu, lalu menepuk pahanya keras-keras. "Wah, ini mah sudah hebat, Man! Saya saja masih pakai satu jari!"
Pak Rahmat ikut tertawa. "Berarti kamu sudah lebih maju dari Pak Darso."
Arman tersenyum malu. "Tapi saya tidak tahu cara mengelola website, Pak. Saya tidak tahu cara memasukkan berita, tidak tahu cara mengupload foto, tidak tahu apa-apa tentang internet."
Pak Rahmat menghela napas. Ia berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela, dan memandang keluar selama beberapa detik. Di luar, matahari semakin tinggi, dan beberapa warga mulai berdatangan ke kantor desa untuk mengurus administrasi.
Setelah beberapa saat, ia berbalik dan berkata dengan nada yang lebih lembut.
"Man, dengar ya."
Arman menatapnya.
"Saya tahu kamu bukan ahli komputer. Saya juga bukan. Pak Darso juga bukan. Tapi desa ini butuh seseorang yang mau belajar."
Arman diam.
"Website ini sudah jadi. Pemerintah daerah sudah bayar puluhan juta untuk membuatnya. Kalau tidak diisi, itu sama saja buang-buang uang."
Pak Darso menambahkan. "Kita tidak perlu jadi hacker, Man. Tidak perlu jadi programmer. Cukup bisa menulis kegiatan desa."
Pak Rahmat mengangguk. "Kamu kan sudah terbiasa mencatat rapat, menulis laporan, membuat notulen. Sama saja. Bedanya, ini ditulis di internet."
Arman masih diam. Pikirannya berkecamuk. Ia takut. Takut salah. Takut merusak sesuatu yang berharga. Takut menjadi bahan tertawaan orang karena ketidaktahuannya.
Pak Darso, yang membaca kegalauan di wajah Arman, tiba-tiba berkata dengan nada bercanda.
"Man, kalau takut, nanti saya temani."
Arman menoleh. "Temani bagaimana?"
"Setiap kamu menulis, saya duduk di belakang sambil bawa kopi. Kalau ada yang salah, saya kasih tahu."
"Pak Darso juga tidak bisa komputer."
Pak Darso mengangkat bahu. "Saya tidak bisa komputer, tapi saya bisa baca. Kalau tulisannya salah, saya tahu. Kalau fotonya terbalik, saya tahu."
Arman tertawa kecil. Pak Rahmat ikut tersenyum.
"Bagaimana, Man?" tanya Pak Rahmat. "Bersedia?"
Arman menatap Pak Rahmat. Lalu menatap Pak Darso. Lalu menatap layar komputer dengan kalimat yang baru saja ia ketik.
"Saya hanya bisa mengetik dengan dua jari."
Ia menarik napas panjang.
"Pak, kalau Bapak percaya, saya coba."
Pak Rahmat tersenyum lebar. "Bagus! Itu yang saya tunggu."
Pak Darso menepuk bahu Arman. "Nah, gitu dong. Nanti kalau websitenya terkenal, saya minta foto saya dipasang di halaman utama."
Arman tertawa. "Pak Darso, nanti foto Bapak pegang cangkir lagi?"
Pak Darso mengangkat cangkirnya. "Ini ciri khas saya. Biar orang tahu kalau di desa ini adminnya minum kopi terus."
Semua orang tertawa. Suasana tegang yang sempat menyelimuti ruangan itu kini mencair, berganti dengan kehangatan khas percakapan di kantor desa.
Namun di balik tawa itu, Arman menyadari bahwa hidupnya akan berubah mulai hari ini.
Ia tidak tahu caranya.
Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tapi ia punya satu hal yang mungkin lebih penting dari segalanya: kemauan untuk belajar.
BAB I
ADMIN WEBSITE YANG TIDAK SENGAJA
Pagi di Desa Sido Mukti selalu dimulai dengan cara yang sama—dengan suara ayam berkokok bersahutan, dengan kabut tipis yang masih enggan pergi, dengan aroma kopi yang mulai tercium dari dapur-dapur rumah warga, dan dengan rutinitas yang sudah berlangsung puluhan tahun tanpa perubahan berarti.
Namun bagi Arman, pagi itu terasa berbeda.
Malam sebelumnya ia hampir tidak bisa tidur. Setelah pulang dari kantor desa dengan status baru sebagai admin website, pikirannya terus berkecamuk. Ia berbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit kamar yang kayunya sudah mulai lapuk di beberapa bagian, sementara istrinya, Sari, sudah terlelap di sampingnya.
Website. Admin. Internet dan Publikasi.
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang. Ia mencoba membayangkan apa yang harus ia lakukan besok, namun bayangan itu terlalu kabur, terlalu asing, seperti orang buta yang diminta membayangkan warna merah.
Sekitar pukul dua pagi, ia akhirnya tertidur—tidak karena mengantuk, tetapi karena otaknya sudah terlalu lelah berpikir.
Dan sekarang, pagi telah tiba.
Arman duduk di tepi tempat tidur, mengucek mata yang masih terasa berat. Di luar, matahari baru saja muncul di ufuk timur, menerangi perbukitan dengan warna keemasan yang indah. Ia mendengar suara Sari di dapur, menyiapkan sarapan sederhana seperti biasa: nasi putih hangat, sambal terasi, dan lalapan mentah dari kebun belakang rumah.
"Mas, sudah bangun?" suara Sari terdengar dari dapur. "Sarapan dulu."
Arman menghela napas. "Iya, sebentar."
Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah dengan air sumur yang dingin. Ia memandangi cermin kecil yang retak di sudutnya. Wajahnya terlihat lelah. Kantung mata hitam menghiasi bagian bawah matanya.
"Arman, kau bisa melakukan ini," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Atau setidaknya, kau harus mencoba."***
Pukul setengah tujuh pagi, Arman sudah tiba di kantor desa. Ia datang lebih pagi dari biasanya—bukan karena semangat, tetapi karena ingin segera memulai dan menyelesaikan tugas baru ini sebelum rasa takutnya semakin besar.
Kantor desa masih sepi. Hanya Pak Satpam—sebutan untuk tukang kebun merangkap penjaga malam yang bernama asli Pak Karto—yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi. Pak Karto adalah pria berusia enam puluh tahun, kurus, dengan gigi yang sudah ompong di beberapa bagian, namun semangatnya masih seperti anak muda.
"Wah, Pak Man pagi-pagi sudah datang," sapa Pak Karto sambil berhenti menyapu. "Ada kegiatan apa?"
Arman tersenyum canggung. "Ah, tidak ada, Pak Karto. Cuma mau nyicil kerjaan."
Pak Karto mengangguk, lalu kembali menyapu dengan irama yang sama—satu, dua, tiga, sapu—satu, dua, tiga, sapu.
Arman membuka pintu kantor dengan kunci yang selalu ia bawa. Bau khas ruangan tertutup semalaman menyambutnya: bau kertas, bau kayu, dan sedikit bau apek dari lemari arsip yang sudah tua. Ia menyalakan lampu, lalu berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan.
Meja itu adalah meja kayu biasa, tidak berbeda dengan meja perangkat desa lainnya. Namun kali ini, di atas meja itu ada sesuatu yang berbeda: laptop kantor desa yang sudah tua, dan di sampingnya, secarik kertas berisi alamat website desa yang diberikan Pak Rahmat kemarin.
Arman duduk. Ia memandangi laptop itu selama beberapa detik, seolah-olah laptop itu adalah makhluk asing yang bisa menyerang kapan saja.
"Baiklah," gumamnya. "Kita mulai."
Ia menyalakan laptop. Seperti biasa, kipas pendinginnya langsung mengeluarkan suara berisik—bukan suara normal seperti laptop kebanyakan, tetapi suara seperti helikopter mini yang sedang bersiap lepas landas.
Bruuuuuttttt...
Arman menghela napas. "Kau ini, sudah tua masih ribut."
Ia menunggu hingga layar menyala. Proses booting laptop ini memang selalu lambat—bisa sampai lima menit sebelum benar-benar siap digunakan. Selama menunggu, ia merapikan beberapa berkas di meja, membuka buku catatan hijaunya, dan menyiapkan bolpoin.
Ketika layar akhirnya menampilkan desktop, Arman mengklik ikon browser internet—sebuah ikon bola dunia berwarna biru yang selalu membuatnya agak bingung. Jujur saja, ia jarang menggunakan internet. Sesekali ia membuka Facebook untuk melihat kabar teman-teman lama, itupun jika istrinya tidak sedang memakai ponsel untuk main game.
Lalu ia mengetik alamat website desa di address bar.
www.sidomukti.desa.id
Ia menekan Enter.
Beberapa detik kemudian, halaman website muncul.
Arman memandangi layar dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia bangga—desanya ternyata punya website yang tampilannya cukup bagus. Ada foto kantor desa di header, ada menu-menu seperti Profil Desa, Pemerintahan, Potensi Desa, dan Berita. Warna-warnanya cerah, hijau dan kuning, seperti warna logo desa.
Namun di sisi lain, ia juga kecewa—karena setelah membuka menu Berita, yang muncul hanya satu artikel: "Selamat Datang di Website Resmi Desa Sido Mukti." Itu pun artikel pendek yang tidak lebih dari tiga paragraf, berisi ucapan selamat datang dari kepala desa.
Kosong.
Betul kata Pak Darso. Website ini seperti rumah baru yang megah tapi tidak berpenghuni.
Arman mengklik menu-menu lain. Profil Desa: ada. Struktur Organisasi: ada, dengan foto-foto perangkat desa yang diambil setahun lalu—termasuk foto Pak Darso yang lagi pegang cangkir. Potensi Desa: ada daftar produk unggulan seperti karet, sawit, dan anyaman bambu.
Tapi Berita? Kosong. Artikel? Kosong. Dokumentasi kegiatan? Tidak ada.
Arman menghela napas panjang. "Baiklah, dari mana aku harus mulai?"
Ia membuka halaman pengelolaan website. Di pojok kanan atas ada tombol "Login" yang belum pernah ia klik sebelumnya. Dengan ragu, ia mengklik tombol itu. Sebuah halaman baru muncul, meminta username dan password.
Arman menggaruk kepalanya. "Username... password... aku tidak punya."
Ia mencoba menebak-nebak. Mungkin username-nya "admin"? Ia coba. Password-nya? Ia coba "password". Tidak bisa.
"Coba "desa123"." Tidak bisa.
"Coba "sidomukti"." Tidak bisa.
"Coba "12345678"." Tidak bisa.
Setelah sepuluh kali percobaan gagal, Arman hampir menyerah. Namun tiba-tiba ia teringat bahwa Pak Rahmat pernah menyebutkan bahwa semua data login website desa ada di buku agenda desa—buku besar berwarna merah yang disimpan di laci meja Pak Rahmat.
Masalahnya, Pak Rahmat belum datang. Biasanya beliau datang sekitar pukul delapan.
Arman melihat jam di layar komputer. Pukul 07.15.
"Baiklah, aku tunggu."***
Pukul 08.15, Pak Rahmat tiba dengan sepeda motor bututnya—sebuah Honda Supra tahun 2005 yang catnya sudah mulai terkelupas di mana-mana, namun masih setia mengantar ke mana pun. Di belakangnya duduk Pak Darso yang dari kejauhan sudah terlihat membawa cangkir kopi kesayangannya.
Mereka berdua masuk ke kantor dengan langkah santai. Pak Darso langsung duduk di kursinya, sementara Pak Rahmat menuju ruang kerjanya.
Arman segera menyusul Pak Rahmat ke ruangannya.
"Pak, maaf," katanya.
Pak Rahmat menoleh. "Ada apa, Man?"
"Saya mau login ke website desa, tapi tidak tahu username dan password."
Pak Rahmat tersenyum. "Oh, iya. Saya lupa kasih tahu."
Ia membuka lacinya, mengambil buku agenda merah yang tebal itu, lalu membalik-balik halaman hingga menemukan catatan tentang website desa. Di sana tertulis username dan password dengan tinta biru.
"Ini," katanya sambil menunjukkan buku itu. "Username: admin_sidomukti. Password: sidomukti2020."
Arman mencatatnya di buku hijaunya. "Terima kasih, Pak."
"Silakan dicoba. Kalau ada masalah, bilang saja."***
Kembali ke mejanya, Arman mengetik username dan password yang diberikan Pak Rahmat.
Login berhasil.
Halaman pengelolaan website terbuka di depannya. Dan Arman langsung pusing.
Di layar itu ada puluhan menu, puluhan tombol, puluhan pilihan yang tidak ia pahami sama sekali. Ada menu Dashboard, ada menu Artikel, ada menu Halaman, ada menu Media, ada menu Komentar, ada menu Pengaturan. Ada tombol Tambah Baru, tombol Edit, tombol Hapus, tombol Publikasi. Ada kotak-kotak dengan label seperti Kategori, Tag, Featured Image, Excerpt, dan banyak lagi istilah yang asing di telinganya.
Arman menatap layar itu dengan mata terbelalak. Kepalanya mulai pening.
"Ya ampun... ini apa semua?"
Pak Darso yang melihat ekspresi Arman dari kejauhan, berjalan mendekat sambil membawa cangkir kopinya. Ia berdiri di belakang Arman dan ikut menatap layar.
"Wah, ramai sekali," komentarnya.
Arman menoleh. "Pak Darso, ini semua untuk apa?"
Pak Darso mengangkat bahu. "Mana saya tahu. Saya cuma bisa minum kopi."
"Lalu bagaimana saya harus mulai?"
Pak Darso memikirkan sesuatu. "Coba cari menu yang paling sederhana. Yang tulisannya mudah dipahami."
Arman memindai layar. Matanya berhenti di sebuah menu yang cukup jelas: Tambah Artikel Baru.
"Ini, Pak. Tambah Artikel Baru."
Pak Darso mengangguk. "Nah, itu. Klik saja."
Arman mengklik menu itu. Halaman baru terbuka, dengan sebuah kotak besar di tengahnya—tempat menulis artikel, lengkap dengan berbagai tombol format seperti di Microsoft Word. Ada tombol untuk membuat teks tebal, miring, bergaris bawah. Ada tombol untuk membuat daftar, mengatur perataan teks, bahkan menambahkan gambar.
Arman menghela napas lega. "Ini seperti Word."
"Mirip, kan?"
"Iya. Ini saya bisa."
Pak Darso menepuk bahunya. "Nah, kan. Mulai saja dari yang kamu bisa."
Arman mengangguk. Ia membuka Microsoft Word di laptopnya—sebuah kebiasaan yang sudah ia lakukan ratusan kali. Kemudian ia mulai berpikir: apa yang harus ia tulis?
Hari itu kebetulan ada kegiatan di desa. Semalam, warga RT 02 dan RT 03 mengadakan gotong royong membersihkan saluran air yang tersumbat lumpur. Bukan kegiatan besar, tapi cukup penting karena saluran air itu adalah satu-satunya jalur drainase di dusun mereka.
Arman mulai mengetik di Word.
Dengan dua jarinya yang setia, ia menulis:
Kegiatan Gotong Royong Warga Desa Sido Mukti
Pada hari Minggu, 22 Maret 2020, warga RT 02 dan RT 03 Desa Sido Mukti mengadakan kegiatan gotong royong membersihkan saluran air. Kegiatan dimulai pukul 07.30 pagi dan diikuti oleh sekitar 50 orang warga.
Saluran air yang dibersihkan sepanjang kurang lebih 200 meter, dari ujung dusun hingga ke sungai kecil di belakang kebun karet. Warga membersihkan lumpur, sampah, dan rumput liar yang menyumbat aliran air.
Kegiatan berjalan lancar dan selesai sekitar pukul 11.30 siang. Warga berharap dengan bersihnya saluran air, tidak akan ada lagi banjir saat musim hujan tiba.
Arman membaca ulang tulisannya. Sederhana. Sangat sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi ini adalah awal.
"Selesai," gumamnya.
Sekarang tantangan berikutnya: memindahkan tulisan ini dari Word ke website.
Ia menyalin seluruh teks (Ctrl+C, sebuah perintah yang baru ia pelajari minggu lalu dari anaknya), lalu menempelkannya di kotak artikel website (Ctrl+V). Teks itu muncul persis seperti di Word.
"Sip."
Sekarang judul. Ia mengetik judul di kolom yang tersedia: "Gotong Royong Warga Bersihkan Saluran Air."
Selanjutnya, gambar. Arman mengambil ponselnya, mencari foto-foto gotong royong kemarin. Ia memilih tiga foto yang paling bagus—foto warga sedang mengangkat lumpur, foto saluran air yang sudah bersih, dan foto bersama setelah kegiatan selesai.
Ia mengklik tombol "Tambah Media", lalu memilih foto-foto itu dari galeri ponselnya (setelah setengah jam belajar bagaimana cara memindahkan foto dari ponsel ke laptop). Proses upload berjalan lambat karena koneksi internet yang pas-pasan, tapi akhirnya selesai juga.
Arman menambahkan foto-foto itu ke dalam artikel, satu per satu, dengan caption sederhana di bawahnya.
Sekarang, langkah terakhir yang paling menegangkan: tombol Publikasikan.
Arman menatap tombol itu dengan perasaan campur aduk. Jarinya melayang di atas mouse, ragu untuk mengklik.
"Kalau salah bagaimana?" pikirnya. "Kalau websitenya rusak bagaimana? Kalau tiba-tiba hilang semua bagaimana?"
Pak Darso yang dari tadi memperhatikan, tiba-tiba berkata. "Man, kalau terlalu lama ditatap, tombol itu bisa hamil."
Arman tertawa. "Pak Darso ini..."
"Klik saja. Paling-paling cuma error. Kalau error, kita coba lagi."
Arman menarik napas. Lalu, dengan mantap, ia mengklik Publikasikan.
Layar berkedip. Sebuah pesan muncul:
Artikel berhasil dipublikasikan.
Arman menatap layar itu selama beberapa detik. Lalu ia membuka website desa di tab baru, dan menyegarkan halaman.
Dan di sana, di halaman utama website Desa Sido Mukti, muncul artikel baru:
Gotong Royong Warga Bersihkan Saluran Air
Arman tersenyum lebar.
"Pak Darso... lihat!"
Pak Darso mendekat. Ia membaca artikel itu dengan serius.
"Hmm..."
"Kenapa, Pak?"
"Lumayan."
"Lumayan bagaimana?"
"Lumayan panjang. Lumayan jelas. Lumayan ada fotonya."
Arman tertawa. "Cuma lumayan?"
Pak Darso mengangkat bahu. "Untuk pertama kali, itu sudah hebat. Nanti kalau sudah sering, bisa jadi lebih bagus."
Pak Rahmat yang keluar dari ruangannya mendengar keributan kecil itu. Ia berjalan mendekat.
"Ada apa?"
Pak Darso menunjuk layar. "Pak, lihat. Arman sudah berhasil membuat artikel pertama."
Pak Rahmat membaca artikel itu. Wajahnya berseri-seri.
"Wah, Man! Bagus sekali!"
Arman tersenyum malu. "Sederhana saja, Pak."
"Ini yang kita butuhkan. Sederhana tapi jelas. Masyarakat jadi tahu kegiatan desa."
Pak Darso menambahkan. "Iya. Sekarang kalau ada yang tanya, 'Desa Sido Mukti ada kegiatan apa?' tinggal buka website. Tidak perlu repot-repot jelasin."
Pak Rahmat mengangguk. "Man, ini awal yang bagus. Teruskan."
Arman merasa dadanya hangat. Pujian dari kepala desa, meskipun sederhana, terasa sangat berarti.
Hari itu, untuk pertama kalinya, website Desa Sido Mukti memiliki lebih dari satu artikel.
Dan Arman, untuk pertama kalinya, merasa bahwa ia mungkin—mungkin saja—bisa melakukan tugas barunya ini.
Namun perjalanan baru saja dimulai.
Beberapa hari setelah artikel pertama itu dipublikasikan, Arman mulai menyadari bahwa mengelola website desa tidak semudah yang ia bayangkan.
Pertama, masalah data.
Setiap kali ada kegiatan desa, ia harus mencari informasi ke sana kemari. Kadang Pak Darso lupa memberi tahu, kadang Bu Lestari sibuk sehingga tidak sempat mengirimkan laporan, kadang warga tidak mau difoto karena malu. Arman harus menjadi detektif kecil yang memburu berita ke setiap sudut desa.
Kedua, masalah waktu.
Menulis artikel itu tidak cepat. Satu artikel bisa memakan waktu satu hingga dua jam, dari mencari informasi, menulis, memilih foto, mengedit, hingga mempublikasikan. Apalagi dengan metode mengetik dua jari yang lambat, setiap artikel terasa seperti proyek besar.
Ketiga, masalah teknis.
Kadang website error. Kadang foto tidak bisa diupload. Kadang koneksi internet putus di tengah jalan. Kadang laptop mati mendadak karena baterai habis sementara colokan listrik jauh.
Suatu hari, ketika Arman sedang asyik menulis artikel tentang musyawarah desa, tiba-tiba layar laptopnya menjadi biru.
Blue screen of death.
Arman panik. Ia tidak tahu apa itu blue screen. Dalam pikirannya, laptopnya mungkin sedang sekarat.
"Pak Darso! Pak Darso!"
Pak Darso yang sedang minum kopi di teras langsung berlari masuk. "Ada apa, Man? Kebakaran?"
Arman menunjuk layar biru itu. "Laptop saya... mati... biru!"
Pak Darso menatap layar itu dengan serius. Ia tidak tahu apa-apa tentang komputer, tetapi ia harus terlihat pintar di depan Arman.
"Oh... ini mah biasa," katanya dengan nada sok tahu. "Laptop lagi bingung."
"Bingung?"
"Iya. Kayak orang kalau bingung, mukanya merah. Kalau laptop bingung, mukanya biru."
Arman hampir tertawa meskipun panik. "Lalu bagaimana, Pak?"
Pak Darso menggaruk kepalanya. "Coba dimatiin terus dinyalain lagi."
Arman menekan tombol power, menahan hingga laptop mati. Ia menunggu beberapa detik, lalu menyalakannya lagi.
Laptop menyala normal.
"Alhamdulillah," desah Arman lega.
Pak Darso mengangguk puas. "Nah, kan. Laptop itu kayak orang. Kalau lagi pusing, tidur sebentar, bangun-bangun segar lagi."
Arman tertawa. "Pak Darso ini, tahu banyak soal laptop padahal tidak pernah pegang."
Pak Darso mengangkat cangkirnya. "Saya tidak tahu laptop, tapi saya tahu kopi. Dua-duanya sama: kalau terlalu panas, bikin masalah."***
Di tengah segala kesulitan itu, ada satu hal yang membuat Arman terus bertahan: kepuasan melihat artikelnya dibaca orang.
Suatu sore, ketika sedang duduk di warung kopi milik Pak Jumari—warung sederhana beratap rumbia di pinggir jalan desa—Arman mendengar percakapan dua orang warga yang duduk tidak jauh darinya.
"Kamu lihat website desa?" tanya seorang pria paruh baya.
"Website apa?" tanya yang lain.
"Website desa kita. Di internet. Ada berita gotong royong kemarin."
"Oh, iya, saya lihat. Di-share sama Pak RT di grup WhatsApp."
"Bagus ya. Jadi kita tahu kegiatan desa."
"Iya. Biasanya kita cuma dengar-dengar dari mulut ke mulut. Sekarang bisa baca langsung."
Arman tersenyum kecil mendengar percakapan itu. Tanpa mereka sadari, pria yang menulis berita itu sedang duduk hanya beberapa meter dari mereka, menyeruput kopi dengan perasaan hangat di dada.
Sejak saat itu, Arman semakin bersemangat menulis.
Ia mulai membuat artikel tentang:
- Musyawarah desa membahas Dana Desa
- Pembangunan jalan lingkungan
- Kegiatan posyandu balita
- Pelatihan kelompok tani
- Pembagian bantuan sosial
Setiap minggu, minimal tiga artikel ia publikasikan. Kadang lebih, jika banyak kegiatan.
Ia juga mulai belajar dari internet—bukan tentang teknologi rumit, tetapi tentang cara menulis yang baik. Ia membaca artikel-artikel dari website lain, melihat bagaimana mereka menyusun kalimat, bagaimana mereka memilih judul, bagaimana mereka mengatur foto.
Pelan tapi pasti, tulisannya mulai membaik.
Pak Darso, yang setiap hari menjadi pembaca pertama artikel-artikel Arman, mulai memberikan komentar yang lebih positif.
"Man, artikelmu makin bagus."
"Serius, Pak?"
"Iya. Dulu tulisannya kayak laporan RT. Sekarang agak seperti berita."
Arman tertawa. "Agak?"
"Ya, pelan-pelan. Nanti kalau sering, jadi seperti wartawan beneran."***
Suatu malam, ketika sedang menulis di rumah, Arman mendapat telepon dari Pak Rahmat.
"Man, besok ada tamu dari kabupaten."
"Tamu apa, Pak?"
"Mereka mau melihat website desa kita."
Arman kaget. "Melihat website? Kenapa?"
"Katanya website desa kita paling aktif di kecamatan ini."
Arman terdiam. Ia tidak menyangka bahwa kerja kerasnya selama ini ternaya diketahui orang lain.
"Besok jam sepuluh, di kantor. Siapkan semua artikel yang sudah kamu tulis."
"Baik, Pak."
Keesokan harinya, sebuah mobil dinas berwarna silver terparkir di halaman kantor desa. Dua orang dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten turun, membawa laptop dan kamera.
Mereka disambut oleh Pak Rahmat, Bu Lestari, dan tentu saja Arman yang gugup setengah mati.
"Selamat pagi," sapa salah satu tamu, seorang pria berkacamata dengan kemeja batik rapi. "Saya Andi dari Diskominfo. Ini rekan saya, Dina."
"Selamat pagi, silakan masuk," kata Pak Rahmat.
Di ruang pertemuan, Pak Andi langsung membuka laptopnya.
"Pak Rahmat, kami dari kabupaten sedang melakukan monitoring website desa. Dan kami menemukan sesuatu yang menarik."
"Apa itu?"
Pak Andi membuka website Desa Sido Mukti. "Website desa Bapak adalah satu-satunya di kecamatan ini yang update setiap minggu."
Pak Rahmat tersenyum bangga. "Alhamdulillah."
Bahkan di tingkat kabupaten, hanya sekitar dua puluh persen desa yang websitenya aktif. Sebagian besar hanya dibuat lalu dibiarkan begitu saja."
Dina menambahkan. "Kami penasaran, siapa yang mengelola website ini?"
Pak Rahmat menunjuk Arman. "Ini orangnya. Arman."
Pak Andi dan Dina menatap Arman dengan rasa ingin tahu.
"Pak Arman, latar belakang pendidikannya apa?" tanya Pak Andi.
Arman menjawab dengan agak malu. "SMA, Pak."
"Jurusan?"
"IPA. Tapi lulus biasa saja."
Pak Andi mengangguk. "Terus belajar IT di mana?"
Arman tersenyum canggung. "Tidak belajar IT, Pak. Saya cuma bisa mengetik di Word."
Pak Andi dan Dina saling berpandangan.
"Maksudnya?"
Arman menjelaskan dengan jujur. "Saya tidak bisa apa-apa soal komputer. Tidak tahu coding, tidak tahu desain web, tidak tahu apa itu server. Saya hanya menulis artikel di Word, lalu memindahkannya ke website."
Pak Andi terdiam beberapa detik. Lalu tiba-tiba ia tertawa.
"Pak Arman, anda ini luar biasa."
"Luar biasa bagaimana?"
"Anda tidak perlu jadi ahli IT untuk membuat website desa hidup. Yang anda lakukan adalah yang paling penting: mengisi website dengan informasi."
Dina mengangguk. "Iya. Website itu seperti toko. Tokonya boleh bagus, boleh megah, tapi kalau tidak ada barang, orang tidak akan datang. Website Bapak tidak megah, tapi barangnya banyak. Itu yang penting."
Arman merasa sedikit lega. Selama ini ia mengira dirinya kurang mampu karena tidak mengerti teknologi. Ternyata yang ia lakukan sudah benar.
Pak Andi kemudian meminta Arman menunjukkan bagaimana ia menulis artikel. Arman membuka laptopnya, membuka Microsoft Word, dan mulai mengetik dengan dua jarinya.
Pak Andi dan Dina memperhatikan dengan seksama. Melihat Arman mengetik dengan metode dua jari, mereka tersenyum.
"Pak Arman, ini yang namanya perjuangan," kata Dina. "Mengetik dengan dua jari, tapi menghasilkan puluhan artikel."
Pak Andi menambahkan. "Saya punya staf lulusan IT, bisa mengetik sepuluh jari, tapi tidak pernah menulis satu artikel pun. Yang penting bukan cepatnya, tapi hasilnya."
Pertemuan itu berlangsung sekitar dua jam. Mereka berdiskusi tentang website desa, tentang tantangan yang dihadapi, tentang harapan ke depan.
Sebelum pulang, Pak Andi berkata, "Pak Arman, teruskan apa yang Bapak lakukan. Ini sangat berarti untuk desa."
"Terima kasih, Pak."
"Dan suatu saat, kami mungkin akan meminta Bapak berbagi pengalaman dengan desa-desa lain."
Arman terkejut. "Saya? Berbagi? Saya tidak bisa, Pak."
Pak Andi tersenyum. "Justru anda yang paling bisa. Karena anda membuktikan bahwa untuk mengelola website desa, tidak perlu jadi ahli. Cukup mau belajar dan konsisten."
Setelah kunjungan itu, semangat Arman semakin membara.
Ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan bukan sekadar pekerjaan administrasi. Ini adalah misi—misi untuk membuat desanya dikenal, untuk membuat informasi desa tersedia bagi siapa pun, untuk membangun transparansi dan akuntabilitas.
Ia mulai menulis dengan lebih rajin.
Setiap ada kegiatan, ia catat. Setiap ada foto, ia kumpulkan. Setiap ada informasi penting, ia publikasikan.
Desa Sido Mukti, yang dulu hanya dikenal oleh warga sekitarnya, kini mulai dikenal di dunia maya. Orang-orang dari luar daerah mulai membaca artikel-artikelnya. Bahkan beberapa kali ada yang mengirim pesan, bertanya tentang potensi desa, tentang produk unggulan, tentang peluang investasi.
Pak Rahmat sangat senang. Suatu hari ia berkata kepada Arman.
"Man, sejak website kita aktif, banyak orang luar yang tertarik ke desa kita."
"Benarkah, Pak?"
"Iya. Kemarin ada pengusaha dari kota yang mau lihat potensi karet kita. Dia baca artikel tentang kelompok tani karet di website."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah."
"Ini semua berkat tulisanmu."
Arman menggeleng. "Bukan, Pak. Ini berkat kegiatan desa yang banyak. Saya hanya menuliskannya."
Pak Darso yang mendengar percakapan itu langsung menyela.
"Man, kamu ini rendah hati sekali. Nanti rendahnya kebanyakan, jadi jongkok."
Arman tertawa. "Pak Darso, komentar selalu tidak terduga."
"Yang penting hasilnya. Sekarang desa kita terkenal. Mungkin nanti Pak Rahmat jadi bupati."
Pak Rahmat tertawa. "Darso, jangan ngelantur."***
Bulan-bulan berlalu.
Artikel-artikel Arman semakin banyak. Ia mulai mengembangkan gaya tulisannya, tidak lagi sekadar laporan kegiatan, tetapi juga analisis sederhana, opini, dan cerita-cerita inspiratif tentang warga desa.
Ia menulis tentang petani karet yang sukses, tentang ibu-ibu PKK yang kreatif membuat kerajinan, tentang pemuda desa yang berprestasi, tentang kearifan lokal yang mulai dilupakan.
Website Desa Sido Mukti perlahan menjadi semacam arsip digital kehidupan desa. Semua terekam, semua terdokumentasi, semua bisa diakses kapan saja.
Dan semua itu dimulai dari satu langkah kecil: keberanian untuk mencoba.
Namun di tengah kebahagiaan itu, Arman tidak pernah menyangka bahwa perjalanannya akan segera memasuki babak baru yang jauh lebih besar.
Sebuah babak di mana ia tidak hanya menulis untuk satu desa, tetapi untuk sepuluh desa sekaligus.
Sebuah babak di mana ia akan menghadapi konflik, tekanan, dan tuntutan yang jauh lebih berat.
Sebuah babak di mana ia akan dikenal sebagai Sang Legenda Kontributor Desa.
Tapi semua itu masih ada di depan.
Untuk saat ini, Arman masih duduk di mejanya yang sederhana, mengetik dengan dua jari, ditemani suara kipas laptop yang berisik, secangkir kopi yang hampir dingin, dan hati yang penuh semangat.
BAB II
BENIH PERUBAHAN
Enam bulan telah berlalu sejak Arman secara tidak sengaja menjadi admin website Desa Sido Mukti.
Jika pada awalnya website itu terasa seperti halaman kosong yang hanya diisi laporan kegiatan desa, perlahan sesuatu mulai berubah—meski Arman sendiri belum sepenuhnya menyadari seberapa besar perubahan itu.
Pagi itu di kantor desa, suasana masih sama seperti biasanya. Suara kipas angin tua berputar dengan bunyi berderit pelan, berpadu dengan suara ketukan keyboard dari beberapa meja, suara percakapan para perangkat desa, dan suara telepon yang sesekali berdering. Beberapa perangkat desa sedang sibuk dengan berkas-bersitas administrasi yang menumpuk di meja, sementara yang lain sibuk melayani warga yang datang mengurus surat-surat.
Arman duduk di depan laptopnya, mengetik dengan penuh konsentrasi.
Di layar komputer terlihat judul artikel yang sedang ia tulis:
"Penjelasan Penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (ADD) Berdasarkan Regulasi Terbaru"
Ini adalah jenis artikel baru yang mulai ia kembangkan beberapa minggu terakhir. Jika sebelumnya ia hanya menulis berita kegiatan, kini ia mulai menulis artikel-artikel informatif—tulisan yang menjelaskan berbagai hal tentang pemerintahan desa, regulasi, dan kebijakan.
Ide ini muncul ketika ia menyadari bahwa banyak warga desa yang tidak memahami aturan-aturan pemerintah. Mereka hanya tahu bahwa ada uang desa, ada bantuan, tetapi tidak tahu bagaimana mekanismenya, berapa jumlahnya, untuk apa saja digunakan.
Arman berpikir, mengapa tidak menulis penjelasan sederhana di website desa?
Akhirnya ia mencoba. Dan ternyata, artikel-artikel seperti ini justru banyak dibaca.
Hari itu ia mengetik dengan ritme khasnya—lambat, tapi pasti. Jari telunjuk kiri bergerak mencari huruf-huruf di sisi kiri keyboard, jari telunjuk kanan mencari huruf-huruf di sisi kanan. Sesekali jari tengah ikut membantu jika ada huruf yang agak jauh.
Di belakangnya, Pak Darso memperhatikan sambil menyeruput kopi dari cangkir keramik kesayangannya—cangkir hadiah dari anaknya yang bekerja di Bali, bergambar pemandangan pantai dengan tulisan "I ❤️ Bali" di bagian depan.
"Man," kata Pak Darso.
Arman tidak menoleh, matanya masih fokus pada layar. "Iya, Pak?"
"Kamu ini sekarang seperti wartawan."
Arman tersenyum kecil, tetap mengetik. "Bukan wartawan, Pak. Cuma menulis saja."
Pak Darso berdiri lalu berjalan mendekati meja Arman. Ia membaca layar komputer itu dengan ekspresi serius—ekspresi yang jarang sekali muncul di wajahnya yang biasanya penuh canda.
"Ini tulisan tentang Dana Desa?"
"Iya."
"Panjang sekali."
"Supaya orang desa paham, Pak."
Pak Darso mengangguk. Ia membaca beberapa paragraf dengan seksama. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, sesekali mengerutkan dahi jika menemui istilah yang agak rumit.
Namun beberapa detik kemudian ia tertawa. "Man, kalau warga membaca semua ini, mungkin mereka tertidur sebelum sampai paragraf kedua."
Arman ikut tertawa, berhenti mengetik sejenak. "Tapi kalau ada yang membaca sampai selesai, berarti mereka benar-benar ingin tahu."
Pak Darso mengangkat bahu. "Yang penting jangan sampai kepala desa juga tertidur membacanya."
Tiba-tiba dari ruang kepala desa terdengar suara Pak Rahmat yang memanggil dengan suara khasnya—sedikit berat, tapi ramah.
"Darso!"
"Iya, Pak!" jawab Pak Darso sambil beranjak.
"Masuk sebentar!"
Pak Darso langsung berjalan menuju ruang kepala desa, masih membawa cangkir kopinya yang setia. Langkahnya cepat, namun tetap hati-hati agar kopinya tidak tumpah—sebuah keterampilan yang sudah diasah bertahun-tahun.
Arman kembali fokus mengetik.
Artikel tentang Dana Desa dan ADD itu sebenarnya lahir dari kebiasaannya membaca berbagai regulasi pemerintah yang sering dikirimkan oleh kecamatan atau kabupaten. Biasanya dokumen-dokumen itu hanya disimpan di lemari arsip, dibaca oleh beberapa orang, lalu terlupakan.
Awalnya Arman membaca hanya untuk memahami laporan desa yang harus ia buat setiap bulan. Namun suatu malam, ketika sedang menunggu artikel lain selesai diupload, ia berpikir:
Mengapa tidak menuliskan penjelasan sederhana tentang regulasi itu di website desa?
Malam itu juga ia mulai menulis.
Bahasanya dibuat sederhana. Tidak terlalu teknis. Ia menghindari istilah-istilah hukum yang rumit, dan berusaha menjelaskan dengan analogi-analogi yang mudah dipahami orang desa. Misalnya, ia menjelaskan perbedaan Dana Desa dan ADD dengan analogi uang jajan anak sekolah: Dana Desa seperti uang jajan yang diberikan orang tua untuk kebutuhan sekolah, sementara ADD seperti uang tambahan untuk les atau kegiatan ekstrakurikuler.
Ketika artikel itu selesai, ia mempublikasikannya di website desa seperti biasa.
Ia tidak memiliki ekspektasi apa pun.
Namun beberapa hari kemudian, sesuatu yang tidak terduga mulai terjadi.***
Satu minggu setelah artikel itu dipublikasikan, Arman duduk di mejanya dengan perasaan iseng. Ia ingin melihat berapa banyak orang yang membaca artikel-artikelnya selama ini. Selama setengah tahun menjadi admin, ia belum pernah sekalipun membuka statistik pengunjung website.
"Pak Darso, cara lihat statistik pengunjung gimana?" tanyanya.
Pak Darso yang sedang asyik membaca koran bekas menoleh. "Statistik apa?"
"Pengunjung website. Siapa saja yang baca artikel kita."
Pak Darso menggaruk kepala. "Wah, saya tidak tahu. Tanya laptop itu."
"Laptop tidak bisa jawab, Pak."
"Ya sudah, coba cari sendiri. Saya juga buta."
Arman tersenyum. Ia mulai mencari menu "Statistik" atau "Analytics" di halaman pengelolaan website. Setelah beberapa kali mencoba, ia menemukan sebuah menu bernama "Jetpack" yang menyediakan fitur statistik sederhana.
Ia mengklik menu itu.
Sebuah halaman terbuka, menampilkan grafik dan angka-angka.
Arman membaca angka yang muncul di layar.
Pengunjung 7 hari terakhir: 187
Ia mengerutkan dahi.
"Mana mungkin?"
Ia menggosok matanya, lalu membaca lagi.
Pengunjung 7 hari terakhir: 187
Biasanya, sebelum artikel Dana Desa itu tayang, jumlah pengunjung website per minggu tidak lebih dari 20 orang—itupun sebagian besar adalah perangkat desa sendiri yang membuka website untuk keperluan administrasi.
Tiba-tiba angka 187 terasa seperti keajaiban.
Arman mencoba memeriksa artikel mana yang paling banyak dibaca. Fitur statistik menunjukkan daftar artikel terpopuler.
Peringkat pertama: "Penjelasan Penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (ADD) Berdasarkan Regulasi Terbaru" dengan 89 pembaca.
Peringkat kedua: "Musyawarah Desa Tetapkan Prioritas Pembangunan Tahun Ini" dengan 23 pembaca.
Peringkat ketiga: "Kegiatan Posyandu Balita Desa Sido Mukti" dengan 18 pembaca.
Arman menatap layar itu dengan perasaan campur aduk: heran, bangga, tidak percaya.
"Pak Darso!" panggilnya.
Pak Darso yang sedang membaca koran di teras langsung berlari masuk, mengira ada kejadian darurat. "Ada apa, Man? Laptop biru lagi?"
"Bukan, Pak. Lihat ini."
Pak Darso mendekat. "Apa itu?"
"Ini statistik pengunjung website."
Pak Darso membaca angka itu dengan mata menyipit—seperti orang yang lupa membawa kacamata baca. "Seratus delapan puluh tujuh?"
"Iya."
Pak Darso bersiul panjang. "Wah... lebih banyak dari warga desa kita yang ikut rapat."
Arman tertawa. "Sepertinya banyak orang mencari informasi tentang Dana Desa."
Pak Darso tiba-tiba terlihat serius. "Kalau begitu kamu sekarang bukan cuma menulis untuk desa kita."
"Lalu?"
"Untuk seluruh Indonesia."
Arman terdiam.
Kalimat itu terasa sedikit berlebihan. Namun di dalam hatinya, ia mulai menyadari bahwa sesuatu memang sedang berubah.
Kejutan belum berakhir.
Dua minggu kemudian, ketika Arman kembali membuka statistik, angka yang muncul membuatnya hampir menjatuhkan mouse.
Pengunjung 7 hari terakhir: 1.247
"Ya Allah..."
Pak Darso yang kebetulan lewat langsung berhenti. "Kenapa, Man?"
"Pak... satu ribu dua ratus."
"Apa yang seribu dua ratus?"
"Pengunjung website."
Pak Darso langsung berjalan mendekat dengan langkah cepat—bahkan kopinya sempat goyang, sesuatu yang jarang terjadi. "Masa?"
"Iya."
Mereka berdua menatap layar itu dalam diam selama beberapa detik.
Pak Darso akhirnya berseru, "Man, kamu harus minta kenaikan gaji!"
Arman tertawa. "Pak Darso, ini bukan soal gaji."
"Lalu?"
"Ini soal... saya tidak menyangka ada yang membaca tulisan saya."
Pak Darso menepuk bahu Arman keras-keras. "Man, orang baca tulisanmu karena tulisannya berguna. Itu yang paling penting."
Arman tersenyum. "Terima kasih, Pak."
"Sekarang, traktir saya kopi."
"Loh, kok jadi saya?"
"Ya, sebagai perayaan. Nanti saya pesan kopi yang mahal."
"Di warung Pak Jumari kopinya cuma tiga ribu."
"Itu sudah mahal. Dua hari lalu masih dua ribu lima ratus. Naik lima ratus rupiah itu mahal."
Arman tertawa. "Baik, Pak. Nanti siang saya traktir."
Namun kejutan terbesar belum datang.
Beberapa hari kemudian, ketika Arman sedang asyik menulis artikel di kantor, ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Arman membukanya.
"Assalamualaikum Pak Arman. Saya admin website desa di Kabupaten sebelah. Saya sering membaca artikel di website Desa Sido Mukti."
Arman membaca pesan itu beberapa kali. Ia sedikit terkejut.
Selama ini ia mengira hanya warga desa dan beberapa orang sekitar yang membaca tulisannya. Ternyata ada juga admin website dari desa lain.
Ia membalas dengan sederhana.
"Waalaikumsalam. Terima kasih banyak sudah membaca."
Beberapa detik kemudian balasan datang.
"Artikel tentang Dana Desa sangat membantu kami memahami regulasi. Saya mau tanya, sumbernya dari mana?"
Arman menjawab dengan jujur.
"Saya baca dari Permendesa, PP, dan berbagai aturan pemerintah. Lalu saya tulis ulang dengan bahasa sederhana."
Balasan berikutnya membuatnya tersenyum.
"Wah, hebat. Saya kira Pak Arman lulusan hukum. Ternyata otodidak."
Arman tertawa kecil.
"Otodidak yang masih banyak belajar."
Percakapan itu berlangsung cukup lama. Mereka berdiskusi tentang website desa, tentang tantangan mengelola informasi, tentang harapan ke depan.
Di akhir percakapan, admin desa itu menulis:
"Pak Arman, teruslah menulis. Artikel Bapak sangat bermanfaat bagi kami yang masih belajar."
Arman membaca pesan itu berulang-ulang.
Ada perasaan hangat yang tidak bisa ia jelaskan. Selama ini ia menulis sendirian, tanpa tahu siapa yang membaca, tanpa tahu apakah tulisannya berguna. Kini ia mendapat konfirmasi bahwa apa yang ia lakukan ternyata berarti bagi orang lain.
Namun popularitas kecil itu ternyata juga membawa masalah.
Suatu malam, ketika sedang bersantai di rumah setelah seharian menulis, ponsel Arman berbunyi terus-menerus. Ia membuka grup WhatsApp yang diikutinya—sebuah grup bernama "Komunitas Admin Website Desa Se-Provinsi".
Grup itu biasanya sepi. Anggotanya para admin website desa dari berbagai kabupaten. Mereka jarang berdiskusi, lebih sering hanya berbagi informasi teknis jika ada masalah.
Namun malam itu, grup itu ramai.
Arman membaca pesan-pesan yang muncul.
"Teman-teman, baca artikel di website Desa Sido Mukti tentang Dana Desa?" tulis seorang anggota.
"Sudah. Lumayan bagus," jawab yang lain.
"Lumayan? Menurut saya itu copas dari internet."
Arman mengerutkan dahi. Ia terus membaca.
"Copas? Masa?"
"Iya. Saya juga curiga. Bahasanya terlalu rapi untuk ukuran admin desa."
"Betul. Admin desa biasanya nulisnya kayak laporan RT."
"Harusnya kita protes. Ini namanya plagiarisme."
Arman membaca percakapan itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak marah—tidak, ia bukan tipe orang yang mudah marah. Namun ada rasa kecewa yang cukup dalam.
Ia bekerja keras menulis artikel itu. Berjam-jam membaca regulasi, berhari-hari menyusun kalimat agar mudah dipahami, berkali-kali merevisi agar tidak ada kesalahan. Dan kini ada yang menuduhnya copy-paste.
Sari, istrinya, yang duduk di sampingnya sambil merajut, melihat perubahan ekspresi di wajah suaminya.
"Mas, kenapa?" tanyanya lembut.
Arman tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan layar ponselnya.
Sari membaca pesan-pesan itu dengan seksama. Wajahnya yang biasanya tenang berubah sedikit tegang.
"Ini yang nulis siapa, Mas?"
"Tidak tahu. Anggota grup."
Sari membaca lagi. Lalu tiba-tiba ia tertawa kecil.
Arman menoleh. "Kenapa ketawa?"
Sari tersenyum. "Mas, kalau orang mulai menuduh seperti ini, berarti tulisan Mas sudah terkenal."
Arman mengangkat alis. "Maksudmu?"
"Orang biasanya hanya menuduh kalau mereka merasa tersaingi. Atau iri. Atau tidak percaya bahwa orang biasa bisa menulis sebagus itu."
Arman terdiam. Ia merenungkan kata-kata istrinya.
Sari melanjutkan, "Ingat waktu kita jualan kue dulu? Waktu kue laris, ada tetangga yang bilang kita pakai pengawet. Padahal kita bikin sendiri, pakai bahan alami."
Arman tersenyum. "Iya, saya ingat."
"Nah, sama saja. Ini bukti bahwa tulisan Mas diperhatikan."
Arman menghela napas panjang. Ia mengambil ponselnya, lalu mulai mengetik balasan di grup itu dengan hati-hati.
"Assalamualaikum teman-teman. Saya Arman, admin website Desa Sido Mukti. Saya membaca diskusi tentang artikel Dana Desa yang saya tulis."
Ia berhenti sejenak, berpikir.
Sari memperhatikan. "Tulis saja yang jujur, Mas."
Arman mengangguk, lalu melanjutkan mengetik.
"Terima kasih atas masukannya. Saya ingin menjelaskan bahwa artikel yang saya tulis memang menggunakan referensi dari Permendesa, PP, dan berbagai regulasi pemerintah. Namun saya tidak copy-paste. Saya membaca, memahami, lalu menulis ulang dengan bahasa yang lebih sederhana agar mudah dipahami warga desa."
Ia menambahkan:
"Saya hanya lulusan SMA yang belajar menulis otodidak. Maaf jika ada kekurangan. Saya terbuka untuk kritik dan saran. Wassalamualaikum."
Ia mengirim pesan itu.
Grup menjadi sunyi selama beberapa menit.
Lalu seseorang menulis:
"Wah, Pak Arman sendiri yang nulis. Maaf kalau ada yang salah paham."
Yang lain menambahkan:
"Iya, Pak Arman. Jangan tersinggung ya. Kami hanya kaget ada admin desa yang bisa nulis sebagus itu."
Seorang anggota lain, yang ternyata adalah moderator grup, menulis:
"Teman-teman, mari kita jaga grup ini dengan baik. Jangan mudah menuduh tanpa bukti. Pak Arman, terima kasih sudah menjelaskan. Tulisan Bapak sangat menginspirasi."
Perdebatan kecil itu akhirnya mereda.
Arman meletakkan ponselnya, menghela napas lega.
Sari meraih tangannya. "Mas, saya bangga sama Mas."
"Bangga kenapa?"
"Karena Mas tidak marah. Mas jelaskan dengan baik-baik."
Arman tersenyum. "Kalau saya marah, masalahnya tambah besar."
"Iya. Itu yang bikin saya bangga."***
Keesokan harinya di kantor desa, Pak Darso sudah mendengar cerita itu. Entah dari mana, mungkin dari grup WhatsApp perangkat desa, mungkin dari obrolan warung kopi. Yang jelas, ketika Arman datang, Pak Darso langsung menyambutnya dengan pertanyaan khas.
"Man, saya dengar kamu jadi artis internet."
Arman tertawa. "Artis bagaimana, Pak?"
"Katanya ada yang protes, ada yang bela, rame di grup."
"Iya, Pak. Tapi sudah selesai."
Pak Darso mengangguk. "Syukurlah. Saya kira kamu mau mundur."
"Kenapa harus mundur?"
"Ya, karena dikritik orang."
Arman menggeleng. "Pak Darso, kalau saya mundur karena dikritik, saya sudah mundur dari dulu."
"Maksudnya?"
Arman tersenyum. "Setiap minggu saya dikritik istri. Katanya terlalu banyak di depan laptop."
Pak Darso tertawa keras. "Wah, itu kritik paling berat."
"Iya. Tapi saya tidak mundur."
Pak Darso menepuk bahu Arman. "Nah, itu baru semangat. Sekarang, traktir saya kopi lagi."
"Loh, kemarin kan sudah."
"Itu kemarin. Hari ini ada cerita baru. Jadi harus traktir lagi."
Arman menggeleng sambil tersenyum. "Pak Darso ini, kalau urusan kopi, tidak pernah lupa."
"Ingatan saya kuat hanya untuk kopi. Yang lain lupa."***
Minggu-minggu berikutnya, artikel-artikel Arman semakin dikenal.
Bukan hanya di kalangan admin website desa, tetapi juga di kalangan perangkat desa, pendamping desa, bahkan beberapa akademisi yang tertarik dengan isu-isu desa.
Suatu hari, Arman menerima telepon dari seorang dosen di universitas negeri di kota provinsi.
"Selamat pagi, Pak Arman?"
"Selamat pagi."
"Perkenalkan, saya Dr. Supriyadi dari Universitas Mulawarman. Saya dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik."
Arman hampir salah tingkah. Dosen? Universitas? Orang penting?
"I-iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya membaca artikel Bapak tentang partisipasi masyarakat dalam musyawarah desa. Sangat menarik."
Arman tersenyum gugup. "Terima kasih, Pak. Itu hanya tulisan sederhana."
"Tidak, tidak. Analisis Bapak cukup tajam. Saya ingin bertanya, apakah Bapak bersedia menjadi narasumber dalam seminar saya bulan depan?"
Arman terdiam.
Seminar? Narasumber? Ia?
"Pak... saya cuma admin desa biasa."
"Tidak apa-apa. Justru itu yang saya butuhkan. Saya ingin menghadirkan praktisi langsung, bukan hanya akademisi."
Arman berpikir sejenak. "Boleh saya pikir dulu, Pak?"
"Tentu. Saya tunggu kabarnya."
Setelah telepon itu, Arman duduk diam cukup lama.
Ia menatap laptopnya yang masih menyala, dengan artikel setengah jadi di layar.
Dari admin desa biasa, menjadi narasumber seminar.
Perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan.
Sari yang melihatnya termenung bertanya, "Mas, kenapa?"
Arman menceritakan semuanya.
Sari tersenyum lebar. "Mas, ini kesempatan besar."
"Tapi saya tidak bisa bicara di depan orang banyak."
"Kamu bisa. Kamu sudah biasa bicara di rapat desa."
"Itu beda. Rapat desa isinya orang kenal. Seminar isinya dosen-dosen."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, mereka mengundang Mas karena mereka menganggap Mas ahli. Percaya diri saja."
Arman menarik napas panjang.
Mungkin ini saatnya melangkah lebih jauh.***
Malam itu, sebelum tidur, Arman membuka laptopnya sekali lagi.
Ia membaca artikel-artikel lama yang pernah ia tulis. Dari artikel pertama yang sangat sederhana, hingga artikel-artikel terbaru yang lebih berbobot.
Perjalanan setengah tahun ini telah mengajarkannya banyak hal.
Bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil.
Bahwa konsistensi lebih penting daripada bakat.
Bahwa menulis, meskipun hanya dengan dua jari, bisa mengubah hidup.
Bahwa kritik dan tuduhan bukan alasan untuk berhenti.
Dan yang terpenting:
Bahwa ia tidak sendirian.
Ada Pak Darso dengan candaannya yang selalu menghibur.
Ada Pak Rahmat dengan dukungannya yang tak pernah putus.
Ada Sari dengan kesabarannya yang luar biasa.
Ada warga desa yang bangga membaca tulisannya.
Dan kini, ada orang-orang dari luar sana yang mulai memperhatikannya.
Arman menutup laptopnya.
Ia memandang ke luar jendela.
Bulan purnama bersinar terang di atas desa. Cahayanya menerangi sawah-sawah, pepohonan, dan rumah-rumah yang mulai sepi.
Di luar sana, sepuluh desa masih tidur nyenyak.
Mereka belum tahu bahwa sebentar lagi, seorang pria sederhana dari Desa Sido Mukti akan datang—bukan dengan kaki, tetapi dengan tulisannya—untuk membantu mereka bercerita kepada dunia.
Perjalanan Arman sebagai kontributor desa baru saja dimulai.
Dan benih perubahan yang ditanamnya enam bulan lalu, kini mulai tumbuh menjadi pohon yang rindang.
BAB III
TAWARAN DARI DESA TETANGGA
Ketika Kepercayaan Datang dari Arah yang Tak Terduga
Pagi itu Desa Sido Mukti tampak lebih ramai dari biasanya.
Di halaman kantor desa, belasan sepeda motor terparkir berderet tidak rapi—ada yang di bawah pohon, ada yang di pinggir halaman, ada pula yang setengah masuk ke selokan kecil karena pemiliknya buru-buru. Suara orang-orang yang mengobrol, suara ketukan palu dari tukang yang sedang memperbaiki pagar, dan suara radio yang diputar keras-keras dari warung Pak Jumari, semuanya berpadu menjadi simfoni pagi yang khas.
Hari itu sedang berlangsung rapat koordinasi rutin antara pemerintah desa, BPD, dan perwakilan warga. Topiknya cukup penting: rencana pembangunan jalan usaha tani di Dusun Krajan, sebuah dusun terpencil yang selama ini aksesnya sangat sulit, terutama saat musim hujan.
Di ruang pertemuan kantor desa, sekitar dua puluh orang duduk mengelilingi meja panjang yang ditutup taplak hijau. Di ujung meja, Pak Rahmat duduk dengan kemeja batik kesayangannya—motif parang dengan warna coklat tua, hadiah dari anaknya yang merantau di Jakarta. Di sampingnya ada Bu Lestari dengan buku catatan tebal, siap mencatat setiap keputusan penting. Di sisi lain, Pak Jaya, Ketua BPD yang terkenal keras kepala, duduk dengan tangan bersedekap, sesekali melirik jam tangannya.
Arman duduk di sudut ruangan, agak menjauh dari keramaian. Di pangkuannya, laptop tua kesayangannya terbuka, siap mencatat poin-poin penting yang nantinya akan ia olah menjadi artikel berita. Seperti biasa, ia tidak terlalu banyak terlibat dalam perdebatan rapat. Ia lebih suka diam, mendengarkan, mencatat, dan sesekali tersenyum melihat tingkah para peserta rapat.
Pak Rahmat membuka rapat dengan suara khasnya—berat, namun ramah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu."
"Waalaikumsalam," jawab para peserta hampir bersamaan.
Pak Rahmat melanjutkan. "Agenda kita hari ini adalah membahas rencana pembangunan jalan usaha tani di Dusun Krajan. Seperti kita tahu, selama ini warga Dusun Krajan kesulitan mengangkut hasil panen karena jalan yang rusak parah."
Pak Jaya langsung menyela dengan nada agak keras. "Pak Rahmat, saya sudah lama mengusulkan ini. Kenapa baru sekarang dibahas?"
Pak Rahmat tersenyum sabar. "Jaya, sabar. Prosesnya memang panjang. Anggarannya harus disiapkan, perencanaannya harus matang."
"Sudah matang dari tahun lalu."
Bu Lestari ikut bicara. "Pak Jaya, kita harus mengikuti prosedur. Tidak bisa asal bangun."
Pak Jaya menghela napas. "Prosedur, prosedur. Warga sudah menunggu bertahun-tahun."
Pak Darso yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara dari pojok ruangan. "Pak Jaya, kalau warga sudah menunggu bertahun-tahun, tambah setahun lagi tidak apa-apa."
Semua orang menoleh ke arah Pak Darso yang sedang menyeruput kopinya dengan tenang.
Pak Jaya mengerutkan dahi. "Maksudmu, Darso?"
Pak Darso mengangkat bahu. "Maksud saya, yang penting sekarang jadi. Jangan diperdebatkan terus."
Pak Jaya terdiam. Beberapa peserta rapat tersenyum kecil.
Pak Rahmat memanfaatkan momen itu untuk melanjutkan. "Baiklah, mari kita bahas teknisnya. Pak Darso, tolong jelaskan proposalnya."
Pak Darso meletakkan cangkirnya, lalu membuka map hijau yang tebal. Ia mulai menjelaskan panjang lebar tentang rencana pembangunan: panjang jalan 1,5 kilometer, lebar 3 meter, menggunakan rabat beton, dengan anggaran bersumber dari Dana Desa dan swadaya masyarakat.
Arman mencatat semua itu dengan tekun. Jari-jarinya—dua jari andalannya—menari di atas keyboard, mengetik poin-poin penting:
- Pembangunan jalan usaha tani Dusun Krajan
- Panjang 1,5 km, lebar 3 m
- Rabat beton
- Anggaran: Dana Desa + swadaya
- Target mulai: Juni 2020
- Target selesai: Desember 2020
Diskusi berlangsung alot. Ada yang setuju dengan desain yang diusulkan, ada yang mengusulkan modifikasi, ada yang mempertanyakan anggaran, ada pula yang hanya diam sambil mengangguk-angguk.
Arman terus mencatat.
Di tengah diskusi, tiba-tiba ponselnya bergetar.
Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Arman membacanya pelan.
"Assalamualaikum Pak Arman. Saya Kepala Desa Sungai Harapan dari Kabupaten Kutai Kartanegara. Saya sering membaca artikel di website Desa Sido Mukti."
Arman sedikit terkejut. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu kembali ke rapat. Namun pesan itu terus mengganggu pikirannya.
Kepala Desa? Dari kabupaten lain?
Ia mencoba fokus ke rapat, tapi matanya terus melirik ponsel.
Pak Darso yang duduk tidak jauh darinya melihat gelagat aneh Arman. "Man, kenapa? Ada apa?"
Arman berbisik. "Nanti, Pak. Lagi rapat."
Pak Darso mengangguk, lalu kembali memperhatikan diskusi yang semakin memanas.
Setelah sekitar satu jam, rapat akhirnya selesai dengan keputusan: pembangunan jalan usaha tani disetujui, dengan beberapa revisi desain. Semua peserta tampak lega—kecuali Pak Jaya yang masih terlihat kurang puas, namun memilih untuk diam.
Saat para peserta mulai beranjak pulang, Arman segera membuka ponselnya dan membaca ulang pesan tadi.
Kepala Desa Sungai Harapan.
Ia mencoba mengingat di mana letak desa itu. Setelah berpikir sejenak, ia ingat: Sungai Harapan adalah sebuah desa di kabupaten tetangga, sekitar 120 kilometer dari Sido Mukti. Ia pernah mendengar namanya dalam suatu pertemuan, tapi tidak pernah berkunjung ke sana.
Arman membalas pesan itu dengan hati-hati.
"Waalaikumsalam warahmatullah. Terima kasih Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
Beberapa menit kemudian, balasan datang.
"Saya ingin bertanya, apakah Bapak bersedia membantu mengisi berita kegiatan di website desa kami?"
Arman berhenti membaca.
Matanya membelalak.
Mengisi berita untuk desa lain?
Ia membaca ulang pesan itu, memastikan tidak salah baca.
"Maaf Pak, maksudnya?" tanyanya ragu.
"Maksudnya, kami ingin Bapak membantu menulis berita kegiatan desa kami. Seperti yang Bapak lakukan di Desa Sido Mukti."
Arman terdiam.
Pikirannya berkecamuk. Selama ini ia menulis untuk desanya sendiri—desa tempat ia tinggal, tempat ia bekerja, tempat ia mengenal hampir semua warga. Menulis untuk desa lain? Desa yang tidak pernah ia kunjungi? Desa yang warganya tidak ia kenal?
Mungkinkah?
Pak Darso yang dari tadi memperhatikan Arman, akhirnya tidak sabar. Ia berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
"Man, dari tadi kamu lihat ponsel terus. Ada masalah?"
Arman memperlihatkan layar ponselnya. "Pak Darso, baca ini."
Pak Darso membaca pesan itu dengan seksama. Matanya membesar seiring ia membaca baris demi baris.
"Wah!" serunya agak keras.
"Ada apa?" tanya Arman.
"Ini kepala desa dari kabupaten sebelah minta bantuan kamu."
"Iya."
Pak Darso langsung bersemangat. "Man, kamu ini sekarang sudah ekspor jasa."
Arman tertawa kecil. "Jangan berlebihan, Pak."
"Ini serius. Orang dari luar daerah minta bantuan kamu. Itu berarti nama kamu sudah dikenal."
Arman menggaruk kepala. "Tapi saya bingung, Pak. Saya belum pernah ke desa itu. Tidak tahu orang-orangnya. Tidak tahu kegiatan mereka."
Pak Darso mengangkat bahu. "Itu gampang. Mereka pasti akan kirim data."
"Maksudnya?"
"Mereka kirim laporan kegiatan, foto-foto, data-data. Kamu tinggal menulis."
Arman merenung. "Bisa begitu?"
"Bisa. Zaman sekarang, apa saja bisa lewat internet."
Arman masih ragu. "Tapi Pak, saya ini pegawai desa Sido Mukti. Bolehkah saya bekerja untuk desa lain?"
Pak Darso berpikir sejenak. "Itu pertanyaan bagus. Sebaiknya kamu tanya Pak Rahmat dulu."
Arman mengangguk. "Iya, benar."
Setelah rapat selesai dan semua peserta pulang, Arman mengetuk pintu ruang kepala desa.
"Pak, boleh minta waktu sebentar?"
Pak Rahmat yang sedang merapikan berkas di mejanya menoleh. "Silakan, Man. Masuk."
Arman masuk, duduk di kursi tamu. Ia masih terlihat ragu bagaimana memulai pembicaraan.
Pak Rahmat yang melihat kegugupan itu bertanya, "Ada masalah, Man?"
Arman menghela napas. "Pak, saya baru saja dapat pesan dari kepala desa lain."
"Kepala desa lain? Dari mana?"
"Sungai Harapan, Kabupaten Kutai Kartanegara."
Pak Rahmat mengangkat alis. "Oh, jauh juga. Ada apa?"
Arman menjelaskan semuanya—tentang pesan yang ia terima, tentang permintaan bantuan mengisi website desa, tentang keraguannya.
Pak Rahmat mendengarkan dengan seksama. Ketika Arman selesai, ia diam sejenak, berpikir.
Lalu ia tersenyum.
"Man, ini kabar baik."
"Kabar baik, Pak?"
"Iya. Ini bukti bahwa kerja kerasmu selama ini diperhatikan orang."
Arman tersenyum malu. "Tapi Pak, saya masih ragu. Saya ini kan perangkat desa Sido Mukti. Bolehkah saya membantu desa lain?"
Pak Rahmat berpikir sejenak. "Secara aturan, sebenarnya tidak ada larangan. Kamu bekerja sebagai perangkat desa di sini, tapi di luar jam kerja, kamu bebas melakukan apa saja."
"Tapi ini kan masih terkait desa."
"Iya, tapi desa lain. Itu di luar tanggung jawabmu di sini. Selama tidak mengganggu pekerjaan pokok, saya rasa tidak masalah."
Arman merasa sedikit lega. "Terus, bagaimana dengan Pak Camat? Atau kabupaten?"
Pak Rahmat tersenyum. "Man, kamu ini terlalu khawatir. Ini urusan antar desa, bukan urusan pemerintahan formal. Kamu membantu teman, itu biasa."
Pak Darso yang tiba-tiba masuk tanpa diminta ikut berkomentar. "Iya, Man. Ini mah kayak tolong-menolong sesama tetangga. Tetangga dekat tolong, tetangga jauh juga tolong."
Pak Rahmat tertawa. "Darso, kamu ini selalu masuk di saat yang tepat."
"Saya cuma ingin memberikan dukungan moral, Pak."
"Sudah, duduk sana."
Pak Darso duduk di kursi kosong, masih dengan cangkir kopinya.
Pak Rahmat melanjutkan. "Man, kalau kamu bersedia membantu, saya dukung. Tapi ingat, jangan sampai lupa dengan desa sendiri."
"Iya, Pak. Saya akan tetap prioritas kan desa kita dulu."
"Itu dia. Yang penting seimbang."
Arman mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih sarannya."***
Malam harinya, setelah shalat Isya, Arman duduk di ruang tamu rumahnya sambil memandangi ponsel. Istrinya, Sari, duduk di sampingnya sambil merajut—kegiatan yang selalu ia lakukan di waktu luang.
"Mas, dari tadi lihat ponsel terus. Ada yang dipikirkan?" tanya Sari.
Arman menghela napas. "Iya, Ni. Ada tawaran dari desa lain."
Sari berhenti merajut. "Tawaran apa?"
Arman menjelaskan semuanya—tentang pesan dari Kepala Desa Sungai Harapan, tentang diskusinya dengan Pak Rahmat, tentang keraguannya.
Sari mendengarkan dengan seksama. Ketika Arman selesai, ia tersenyum.
"Mas, ini rezeki."
"Rezeki?"
"Iya. Mas punya keahlian, orang butuh, kenapa tidak?"
"Tapi saya takut tidak bisa."
"Tidak bisa apa?"
Arman berpikir sejenak. "Tidak bisa memenuhi harapan mereka. Mereka mungkin mengharapkan tulisan yang bagus, sementara saya hanya menulis sederhana."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, mereka menghubungi Mas karena mereka suka dengan tulisan Mas. Berarti standar mereka ya tulisan Mas. Jadi tidak usah khawatir."
Arman merenung. Istrinya selalu bisa menenangkan pikirannya yang kacau.
"Terus, menurutmu saya harus terima?" tanyanya.
"Itu keputusan Mas. Tapi kalau saya jadi Mas, saya akan coba dulu. Kalau ternyata berat, bisa mundur. Tapi kalau tidak dicoba, tidak akan tahu."
Arman tersenyum. "Kamu ini selalu bijak."
Sari tertawa kecil. "Bukan bijak, Mas. Cuma suka lihat Mas dari jauh. Mas ini kalau diberi tantangan baru, selalu takut duluan. Padahal nanti kalau dijalani, Mas bisa."
Arman tertawa. "Iya, benar juga."
Ia mengambil ponselnya, lalu mulai mengetik pesan untuk Kepala Desa Sungai Harapan.
"Assalamualaikum Pak. Maaf baru balas. Saya sudah pikirkan tawaran Bapak. Insya Allah saya bersedia membantu, dengan catatan kalau ada data lengkap dari desa Bapak."
Beberapa menit kemudian balasan datang.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak Arman. Besok saya akan minta staf saya mengirimkan data-data kegiatan desa kami."
"Baik Pak. Nanti saya proses."
"Sekali lagi terima kasih. Oh iya, kami juga akan memberikan honor untuk setiap artikel yang Bapak tulis. Semoga cukup."
Arman membaca pesan terakhir itu. Honor? Ia tidak menyangka akan dibayar.
Ia membalas. "Wah, Pak tidak usah repot-repot. Saya ikhlas membantu."
"Tidak bisa, Pak. Kami harus menghargai waktu dan tenaga Bapak. Biar kecil, yang penting ada."
Arman menatap layar ponselnya. Ada perasaan hangat di dadanya.
Sari yang membaca layar ponsel dari samping, tersenyum. "Nah, Mas. Rezeki tidak kemana."
Arman tersenyum. "Iya, Ni. Tapi saya tidak menyangka."
"Ya sudah, jalani saja. Yang penting niatnya baik."
Malam itu, Arman tidur dengan perasaan campur aduk—antara senang, bangga, dan sedikit cemas.
Ia akan menulis untuk desa lain.
Sebuah tantangan baru.***
Beberapa hari kemudian, data-data dari Desa Sungai Harapan mulai berdatangan.
Pak Hasan—Kepala Desa Sungai Harapan—ternyata serius. Ia meminta stafnya, seorang pemuda bernama Rudi, untuk mengirimkan semua informasi yang dibutuhkan. Rudi mengirimkan:
- Foto-foto kegiatan desa selama sebulan terakhir (ada 47 foto!)
- Laporan musyawarah desa
- Data pembangunan infrastruktur
- Informasi program pemberdayaan masyarakat
- Bahkan video-video pendek dari beberapa acara
Arman membuka semua file itu dengan perasaan sedikit kewalahan.
"Wah, banyak sekali," gumamnya.
Ia mulai memilah-milah. Foto mana yang bagus untuk artikel, data mana yang penting untuk dipublikasikan, informasi mana yang harus ditulis lebih dulu.
Setelah beberapa jam, ia berhasil mengidentifikasi tiga kegiatan utama yang layak dijadikan artikel:
- Musyawarah desa pembahasan RKPDes
- Kegiatan posyandu lansia
- Pembangunan drainase lingkungan
Arman mulai menulis.
Seperti biasa, ia menulis di Microsoft Word terlebih dahulu. Dengan dua jari andalannya, ia mulai merangkai kalimat demi kalimat.
Artikel 1: Musyawarah Desa Sungai Harapan Bahas RKPDes 2021
*SUNGAI HARAPAN - Pemerintah Desa Sungai Harapan menggelar musyawarah desa untuk membahas Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) tahun 2021. Kegiatan berlangsung di balai desa pada hari Kamis, 15 Oktober 2020, dan dihadiri oleh perangkat desa, BPD, serta perwakilan masyarakat.*
Dalam musyawarah tersebut, dibahas berbagai usulan program pembangunan yang akan dilaksanakan tahun depan. Beberapa usulan yang mengemuka antara lain pembangunan jalan lingkungan, pengadaan lampu penerangan jalan, dan program pelatihan keterampilan bagi pemuda putus sekolah.
"Kami ingin agar RKPDes tahun depan benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat. Karena itu, masukan dari warga sangat kami harapkan," ujar Kepala Desa Sungai Harapan, Hasan, dalam sambutannya.
Musyawarah berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan menghasilkan 15 program prioritas yang akan diusulkan dalam APBDes tahun 2021.
Artikel 2: Posyandu Lansia di Sungai Harapan Tetap Aktif di Masa Pandemi
*SUNGAI HARAPAN - Meskipun di masa pandemi COVID-19, kegiatan posyandu lansia di Desa Sungai Harapan tetap berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kegiatan rutin setiap bulan ini dilaksanakan di tiga lokasi berbeda untuk menghindari kerumunan.*
Para lansia yang datang wajib memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Petugas kesehatan dari puskesmas setempat tetap melayani pemeriksaan tekanan darah, gula darah, serta pemberian vitamin.
"Kesehatan lansia tetap harus diperhatikan meskipun pandemi. Kami bersyukur para lansia tetap antusias datang, tentu dengan protokol kesehatan yang ketat," kata salah satu kader posyandu.
Artikel 3: Pembangunan Drainase di Sungai Harapan Atasi Banjir
*SUNGAI HARAPAN - Pemerintah Desa Sungai Harapan memulai pembangunan drainase di RT 05 dan RT 06 untuk mengatasi masalah banjir yang selama ini melanda saat musim hujan. Pembangunan menggunakan anggaran Dana Desa tahap kedua.*
Panjang drainase yang dibangun mencapai 300 meter, dengan lebar 60 sentimeter dan kedalaman 80 sentimeter. Pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu dua bulan.
"Kami berharap dengan adanya drainase ini, genangan air di pemukiman warga bisa berkurang. Ini adalah usulan warga yang sudah lama kami perjuangkan," ujar Kepala Desa Hasan saat meninjau lokasi pembangunan.
Setelah tiga artikel selesai, Arman membaca ulang semuanya. Ia memeriksa ejaan, memastikan tidak ada kesalahan, lalu menambahkan foto-foto yang sesuai.
Proses upload foto memakan waktu cukup lama karena koneksi internet yang lambat. Beberapa kali foto gagal terupload, beberapa kali ia harus mengulang dari awal. Namun akhirnya, semua selesai.
Arman mengirimkan ketiga artikel itu kepada Rudi melalui WhatsApp.
"Mas Rudi, ini tiga artikel untuk desa. Tolong dicek dulu sebelum dipublikasikan."
Tidak butuh waktu lama, Rudi langsung membalas.
"Wah, cepat sekali, Pak! Saya baca dulu."
Beberapa menit kemudian, ponsel Arman berdering. Rudi menelepon.
"Pak Arman, ini luar biasa!" suara Rudi terdengar antusias.
Arman tersenyum. "Alhamdulillah kalau Mas Rudi suka."
"Suka? Saya sangat suka! Tulisannya rapi, fotonya pas, informasinya jelas. Ini lebih baik dari yang saya bayangkan."
Arman tertawa kecil. "Saya hanya menulis apa adanya dari data yang Mas kirim."
"Tapi ini bukan sekadar menulis, Pak. Ini seperti berita beneran. Saya sampai tidak percaya ini ditulis oleh satu orang dengan laptop biasa."
"Memang satu orang, Mas. Saya tidak punya tim."
Rudi tertawa. "Pak Arman, saya kira Bapak punya kantor besar dengan banyak wartawan. Ternyata cuma Bapak sendiri."
"Sendiri, ditemani kopi dan laptop tua."
"Luar biasa. Mulai sekarang, saya akan kirim data rutin ke Bapak. Oh iya, soal honor, akan saya transfer minggu ini."
Arman menghela napas. "Mas, honor tidak usah dipikirkan dulu. Yang penting desa Bapak aktif websitenya."
"Tidak bisa, Pak. Ini sudah keputusan kepala desa. Bapak harus terima."
Arman tersenyum. "Baiklah, kalau begitu. Saya terima."***
Sejak saat itu, Arman mulai menulis untuk Desa Sungai Harapan secara rutin.
Setiap minggu, Rudi mengirimkan data kegiatan desa. Kadang berupa foto, kadang laporan tertulis, kadang hanya catatan singkat lewat WhatsApp. Arman mengolah semua itu menjadi artikel berita yang informatif.
Awalnya, ia hanya menulis untuk satu desa tetangga. Namun tanpa ia sadari, ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Beberapa minggu kemudian, Arman menerima telepon dari Pak Hasan langsung.
"Pak Arman, selamat siang."
"Selamat siang, Pak Hasan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Website desa kami sekarang hidup berkat Bapak."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah, Pak. Saya hanya menjalankan amanah."
"Pak Arman, saya ada rencana."
"Rencana apa, Pak?"
"Saya ingin merekomendasikan Bapak ke desa-desa lain di sekitar kami. Mereka juga punya masalah yang sama: website kosong, tidak ada yang mengelola."
Arman terkejut. "Wah, Pak... saya sendiri belum siap."
"Kenapa tidak siap? Bapak sudah membuktikan bisa. Satu desa Bapak handle, dua desa juga pasti bisa."
"Tapi Pak, saya hanya punya waktu terbatas. Masih ada pekerjaan di desa saya sendiri."
Pak Hasan berpikir sejenak. "Itu masalah manajemen waktu, Pak. Saya yakin Bapak bisa mengaturnya."
Arman terdiam. Pikirannya berkecamuk.
Pak Hasan melanjutkan, "Pak Arman, percayalah. Banyak desa yang membutuhkan orang seperti Bapak. Mereka punya website, punya anggaran, tapi tidak punya sumber daya manusia untuk mengelolanya. Bapak bisa menjadi solusi."
"Tapi saya tidak punya pengalaman bekerja untuk banyak desa, Pak."
"Semua pernah pertama kali. Saya dulu juga tidak punya pengalaman jadi kepala desa. Tapi dijalani, ya bisa."
Arman tersenyum mendengar kalimat itu. Pak Hasan benar.
"Baik, Pak. Saya pikir-pikir dulu."
"Silakan. Tapi jangan terlalu lama. Desa-desa itu sudah menunggu."
Setelah telepon itu, Arman duduk termenung cukup lama.
Sari yang melihat suaminya melamun, bertanya, "Mas, ada apa lagi?"
Arman menceritakan percakapannya dengan Pak Hasan.
Sari tersenyum. "Mas, ini kesempatan."
"Kesempatan atau beban?"
"Keduanya. Tapi lebih banyak kesempatan."
Arman menghela napas. "Tapi saya takut tidak sanggup."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, ingat waktu pertama kali disuruh jadi admin website? Mas juga takut waktu itu. Tapi sekarang? Mas sudah bisa menulis untuk desa sendiri, bahkan untuk desa tetangga."
Arman mengangguk. "Iya, benar."
"Nah, kalau Mas bisa handle dua desa, kenapa tidak tiga? Atau empat? Yang penting diatur waktunya."
Arman merenung. Istrinya selalu punya cara sederhana untuk menjelaskan hal-hal rumit.
"Terus, menurutmu saya harus terima?"
"Itu keputusan Mas. Tapi kalau saya jadi Mas, saya akan coba. Nanti kalau berat, bisa evaluasi. Tapi kalau tidak dicoba, tidak akan tahu."
Arman tersenyum. "Kamu ini selalu mendukung saya."
"Istri memang tugasnya mendukung suami, selama suaminya benar."
Arman tertawa. "Berarti kalau saya salah, tidak didukung?"
Sari tertawa. "Kalau salah, saya ingatkan. Kalau tetap bandel, baru tidak didukung."***
Malam itu, Arman mengambil keputusan.
Ia akan menerima tantangan baru. Jika ada desa lain yang membutuhkan bantuannya, ia akan mencoba membantu—selama tidak mengganggu pekerjaan utamanya di Desa Sido Mukti dan selama ia sanggup mengatur waktu.
Ia tidak tahu berapa banyak desa yang akan datang.
Ia tidak tahu seberapa besar tantangan yang akan dihadapi.
Tapi satu hal yang ia tahu: ia tidak sendiri. Ada Sari yang selalu mendukung, ada Pak Darso yang selalu menghibur, ada Pak Rahmat yang selalu memberi restu, dan ada keyakinan bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang baik—membantu desa-desa bercerita kepada dunia.
Esok harinya, ia mengirim pesan ke Pak Hasan.
"Assalamualaikum Pak Hasan. Saya sudah pikirkan tawaran Bapak. Insya Allah saya siap membantu desa-desa lain yang membutuhkan. Tapi mohon bimbingannya, karena saya masih baru dalam hal ini."
Balasan Pak Hasan datang cepat.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, Pak Arman. Saya tunggu kabar baiknya. Besok saya akan hubungi beberapa kepala desa yang saya kenal. Semoga berkah."
Arman membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk—antara bersemangat dan cemas.
Perjalanannya sebagai kontributor lintas desa akan segera dimulai.
Dan ia tidak tahu bahwa dalam beberapa bulan ke depan, jumlah desa yang akan ia layani bukan hanya satu atau dua, tetapi sepuluh desa sekaligus.
BAB IV
SEPULUH DESA MEMANGGIL
Ketika Pekerjaan dari Desa Demi Desa Datang Bersamaan
Tiga bulan telah berlalu sejak Arman menerima tawaran pertama dari Desa Sungai Harapan.
Jika seseorang bertanya kepada Arman setahun lalu apakah ia akan menjadi kontributor untuk beberapa desa sekaligus, ia pasti akan tertawa dan menganggap pertanyaan itu sebagai lelucon. Namun hidup memang sering berjalan dengan cara yang tidak terduga. Kadang kita merencanakan sesuatu, tetapi takdir memiliki rencana lain yang jauh lebih besar.
Pagi itu, di rumah sederhananya, Arman duduk di kursi kayu tua di teras depan. Di tangannya, secangkir kopi hitam tanpa gula—kebiasaan yang ia warisi dari ayahnya. Di pangkuannya, ponsel yang sejak semalam tidak berhenti bergetar.
Pesan demi pesan masuk ke WhatsApp-nya.
Dari berbagai nomor.
Dari berbagai desa.
Dari berbagai kabupaten.
Sari, istrinya, keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi pisang goreng buatannya sendiri. Melihat suaminya yang sejak pagi sudah sibuk dengan ponsel, ia tersenyum.
"Mas, dari tadi lihat ponsel terus. Makan dulu," katanya sambil meletakkan nampan di meja kecil di samping Arman.
Arman mengangkat kepala, tersenyum tipis. "Iya, Ni. Ini lagi baca pesan."
"Siapa lagi? Yang kemarin saja belum dibalas semua?"
Arman tertawa kecil. "Ini desa baru lagi. Yang kemarin juga masih nunggu."
Sari duduk di kursi sebelahnya. "Berapa sekarang, Mas?"
Arman menghitung sejenak. "Yang sudah jalan rutin ada enam. Yang baru hubungi kemarin dan hari ini ada empat. Total sepuluh."
Sari mengangkat alis. "Sepuluh desa?"
"Iya."
Sari terdiam beberapa detik. Lalu ia berkata dengan nada setengah bercanda, "Mas, meja kerja Mas itu kecil. Nanti muat tidak untuk sepuluh desa?"
Arman tertawa. "Meja kecil, tapi laptopnya muat. Yang penting desanya di laptop, bukan di meja."
"Ya sudah, kalau begitu. Tapi jangan lupa makan. Nanti kalau Mas sakit, sepuluh desa itu pusing semua."
Arman tersenyum hangat. Istrinya selalu punya cara untuk mengingatkannya pada hal-hal sederhana namun penting.
Perjalanan Arman dari satu desa menjadi sepuluh desa terjadi secara bertahap, seperti air yang mengisi kolam—setetes demi setetes, tanpa terasa, akhirnya penuh.
Semuanya dimulai dari rekomendasi Pak Hasan, Kepala Desa Sungai Harapan. Setelah melihat website desanya aktif dan penuh berita berkat tulisan Arman, Pak Hasan mulai mempromosikan "jasa" Arman kepada rekan-rekan sesama kepala desa di wilayahnya.
Dalam sebuah pertemuan koordinasi antar desa di kantor kecamatan, Pak Hasan duduk di samping Pak Suroto, Kepala Desa Bukit Lestari. Di sela-sela rapat yang membosankan tentang administrasi kependudukan, Pak Hasan membuka percakapan.
"Suro, website desamu gimana?" bisik Pak Hasan.
Pak Suroto menghela napas. "Ah, jangan ditanya. Sudah setahun tidak diurus. Adminnya sibuk, katanya."
"Masih kosong?"
"Kosong melompong. Cuma ada profil desa doang. Itu pun fotoku muka kusam, kurang tidur."
Pak Hasan tertawa kecil. "Kalau gitu, aku kenalin orang. Bisa bantu urus website."
Pak Suroto menoleh dengan rasa ingin tahu. "Siapa? Punya tim?"
"Bukan tim. Satu orang. Namanya Arman, dari Desa Sido Mukti."
Pak Suroto mengerutkan dahi. "Sido Mukti? Itu kan di kecamatan sebelah, beda kabupaten."
"Iya. Tapi dia bisa bantu dari jarak jauh. Kita kirim data, dia tulis berita."
Pak Suroto terdiam, mempertimbangkan. "Serius? Bisa?"
"Sudah bukti. Website desaku sekarang penuh berita. Padahal dulu sama kayak kamu, kosong."
Pak Suroto semakin tertarik. "Berapa bayarannya?"
"Itu nanti bicara langsung sama dia. Yang penting, desamu jadi aktif."
Pak Suroto mengangguk. "Kasih nomornya. Nanti aku hubungi."
Percakapan serupa terjadi berulang kali. Pak Hasan seperti menjadi marketing tidak resmi untuk "jasa" Arman. Di setiap pertemuan, di setiap kesempatan, ia selalu merekomendasikan Arman kepada kepala desa lain yang mengeluhkan website desanya yang mati suri.
Dalam sebuah acara silaturahmi antar kepala desa se-kabupaten, Pak Hasan duduk satu meja dengan tiga kepala desa lainnya: Pak Rahman dari Desa Karya Mandiri, Pak Bambang dari Desa Maju Bersama, dan Bu Dewi dari Desa Mekar Sari.
Suasana santai. Mereka sedang menunggu acara dimulai sambil menikmati hidangan kecil.
Pak Rahman membuka percakapan. "Hasan, saya lihat website desamu sekarang rame ya. Sering update."
Pak Hasan tersenyum bangga. "Iya, Alhamdulillah. Sekarang tiap minggu ada berita baru."
Pak Bambang menimpali. "Dulu aku lihat juga kosong. Tiba-tiba sekarang penuh. Siapa yang urus?"
Pak Hasan menjelaskan dengan antusias. "Ada kontributor dari desa lain. Namanya Arman. Dia nulis berita dari rumah, kita cuma kirim data."
Bu Dewi yang sejak tadi diam, tiba-tiba tertarik. "Kontributor? Maksudnya orang luar yang nulis?"
"Iya, Bu. Dia di Desa Sido Mukti, kecamatan sebelah. Tapi dia bisa nulis untuk desa kita."
Bu Dewi mengangguk. "Wah, menarik. Aku juga pusing sama website desaku. Sudah ganti admin tiga kali, tetap saja sepi."
Pak Rahman menambahkan. "Iya, admin desa itu susah dicari. Yang muda-mauda pada sibuk, yang tua-tua pada tidak bisa."
Pak Hasan melihat peluang. "Kalau mau, saya kasih nomornya. Nanti hubungi langsung."
Ketiga kepala desa itu serempak mengangguk. "Boleh, kasih."***
Sejak saat itu, ponsel Arman tidak pernah sepi.
Setiap minggu, setidaknya ada satu atau dua kepala desa baru yang menghubunginya. Mereka semua memiliki keluhan yang sama: website desa ada, tapi tidak ada yang mengelola. Ada yang adminnya tidak bisa menulis, ada yang adminnya sibuk, ada pula yang adminnya sudah resign tapi tidak diganti.
Dan mereka semua menawarkan kerja sama yang sama: Arman menulis berita, mereka membayar.
Awalnya Arman menerima semua tawaran itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga karena keahliannya diakui orang, tapi juga ada rasa khawatir karena jumlahnya semakin banyak.
Dalam catatan kecil di buku hijaunya, Arman mulai mendata desa-desa yang sudah bekerja sama dengannya:
- Desa Sido Mukti(desa sendiri) - sejak Maret 2020
- Desa Sungai Harapan- sejak Oktober 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
- Desa Bukit Lestari- sejak November 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
- Desa Karya Mandiri- sejak November 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
- Desa Maju Bersama- sejak Desember 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
- Desa Mekar Sari- sejak Desember 2020 (rekomendasi Pak Hasan)
- Desa Sumber Rejeki- sejak Januari 2021 (rekomendasikan Pak Rahmat ke temannya)
- Desa Tani Makmur- sejak Januari 2021 (dari Pak Darso yang punya kenalan)
- Desa Harapan Jaya- sejak Februari 2021 (mereka mencari sendiri di internet)
- Desa Kerta Bhakti- sejak Februari 2021 (dari rekomendasi mulut ke mulut)
Arman menatap daftar itu dengan perasaan tidak percaya. Sepuluh desa. Ia harus menulis untuk sepuluh desa yang tersebar di berbagai kabupaten di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Beberapa desa bahkan berjarak ratusan kilometer dari tempat tinggalnya. Ada yang di kabupaten tetangga, ada yang di provinsi sebelah. Ada yang pernah ia dengar namanya, ada pula yang benar-benar asing di telinganya.
Namun yang menarik, Arman tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di desa-desa itu.
Semua dilakukan dari jarak jauh, melalui pesan singkat, telepon, dan kadang video call.***
Suatu sore, ketika sedang menulis artikel untuk Desa Bukit Lestari, Arman kedatangan tamu tak terduga.
Pak Darso datang ke rumahnya, masih dengan ciri khasnya: cangkir kopi di tangan, sandal jepit di kaki, dan senyum lebar di wajah.
"Man, lagi sibuk?" sapa Pak Darso dari pintu.
Arman menoleh. "Wah, Pak Darso. Silakan masuk."
Pak Darso masuk, duduk di kursi kayu di ruang tamu. Matanya langsung tertuju pada meja kerja Arman yang penuh dengan catatan dan laptop yang menyala.
"Wah, meja kerja makin rame," komentarnya.
Arman tersenyum. "Iya, Pak. Makin banyak desa, makin banyak catatan."
Pak Darso mengamati buku-buku catatan di meja. Ada buku hijau, biru, merah, dan sekarang bertambah buku kuning dan ungu.
"Ini buku apa saja?" tanyanya.
Arman menjelaskan dengan bangga. "Buku hijau untuk desa kita, Sido Mukti. Buku biru untuk Sungai Harapan. Buku merah untuk Bukit Lestari. Buku kuning untuk Karya Mandiri. Buku ungu untuk Maju Bersama."
Pak Darso mengerutkan dahi. "Wah, kayak pelangi. Nanti kalau tambah desa lagi, bukunya apa? Pelangi kan cuma tujuh warna."
Arman tertawa. "Nanti cari warna lain, Pak. Mungkin warna silver, emas, atau warna-warna pastel."
Pak Darso mengangguk-angguk. "Bagus, bagus. Tapi Man, saya lihat kamu mulai kurusan. Istirahat cukup?"
Arman menghela napas. "Sejujurnya, Pak, kadang kewalahan juga. Apalagi kalau semua desa kirim data bersamaan."
"Berapa artikel seminggu sekarang?"
Arman menghitung. "Rata-rata tiap desa butuh dua artikel per minggu. Jadi sekitar 20 artikel seminggu."
Pak Darso bersiul. "Dua puluh artikel? Kamu nulis sendiri?"
"Iya, Pak."
"Wah, itu seperti menulis buku setiap minggu."
Arman tertawa. "Buku tipis mungkin, Pak."
Pak Darso menggeleng-geleng. "Man, kamu ini memang luar biasa. Tapi jangan lupa kesehatan. Nanti kalau sakit, sepuluh desa itu bingung semua."
"Iya, Pak. Saya usahakan tetap istirahat."
Pak Darso kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya—sebuah bungkusan kecil berwarna coklat. "Ini, saya bawain gula aren asli dari kebun belakang rumah. Buat teman kopi. Biar semangat nulisnya."
Arman terharu. "Wah, Pak Darso... terima kasih."
"Ah, biasa saja. Saya kan supporter nomor satu kamu."
Mereka berdua tertawa.
Setelah Pak Darso pulang, Arman kembali ke mejanya. Ia membuka laptop dan mulai bekerja.
Hari itu, tugasnya cukup banyak:
Pertama, menyelesaikan artikel untuk Desa Sungai Harapan tentang pelatihan kelompok tani. Rudi sudah mengirimkan foto-foto kegiatan kemarin sore. Ada sekitar 20 foto yang harus dipilih yang terbaik. Arman memilih tiga foto: foto petani sedang mendengarkan penyuluh, foto demonstrasi pembuatan pupuk organik, dan foto bersama setelah acara. Ia menulis artikel dengan judul: "Kelompok Tani Sungai Harapan Ikuti Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik."
Kedua, menulis artikel untuk Desa Bukit Lestari tentang pembangunan jembatan gantung. Pak Suroto mengirimkan laporan panjang lebar tentang progres pembangunan yang sudah mencapai 70 persen. Ia juga mengirimkan video pendek yang direkam dengan ponselnya. Arman menulis artikel dengan judul: "Pembangunan Jembatan Gantung Bukit Lestari Capai 70 Persen."
Ketiga, mengedit artikel dari Desa Karya Mandiri. Biasanya Pak Rahman hanya mengirim data mentah, tapi kali ini ia mencoba menulis sendiri. Tulisannya masih perlu banyak perbaikan—ejaannya kacau, strukturnya tidak jelas, fotonya juga buram. Namun Arman tetap menghargai usahanya. Ia memperbaiki tulisan itu tanpa mengubah maknanya, lalu mengirimkannya kembali ke Pak Rahman dengan catatan: "Sudah diedit, Pak. Semoga sesuai."
Keempat, membuat artikel untuk Desa Maju Bersama tentang kegiatan posyandu. Pak Bambang mengirimkan foto-foto yang cukup bagus—ada yang diambil dengan kamera bagus, mungkin dari ponsel anak mudanya. Arman menulis artikel dengan judul: "Posyandu Melati Desa Maju Bersama Layani 50 Balita."
Kelima, artikel untuk Desa Mekar Sari tentang persiapan lomba desa. Bu Dewi mengirimkan data yang sangat lengkap—bahkan terlalu lengkap. Ada dokumen 15 halaman yang harus Arman baca dan ringkas menjadi artikel 500 kata. Ia menghela napas panjang, lalu mulai membaca.
Keenam, hingga kesepuluh, artikel-artikel lain dari desa-desa lainnya.
Arman bekerja tanpa henti.
Jari-jarinya—dua jari andalannya—terus menari di atas keyboard. Kadang kecepatannya meningkat ketika ia sudah "hangat", kadang melambat ketika lelah mulai menyerang. Tapi ia tidak pernah berhenti.
Sesekali ia berhenti untuk minum kopi, meregangkan punggung, atau sekadar memejamkan mata selama beberapa detik. Lalu kembali lagi ke laptop.
Malam semakin larut.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.30.
Sari keluar dari kamar, mendapati suaminya masih duduk di depan laptop. Wajahnya lelah, matanya sembab, tapi tangannya masih mengetik.
"Mas, sudah malam. Istirahat dulu," kata Sari lembut.
Arman menoleh, tersenyum letih. "Sebentar lagi, Ni. Tinggal satu artikel."
"Sudah berapa yang selesai?"
"Lima belas. Tinggal satu."
Sari menghela napas. "Mas, ini sudah keterlaluan. Jam setengah dua belas malam masih kerja."
Arman meregangkan punggungnya yang terasa kaku. "Iya, Ni. Ini memang lagi banyak. Besok pagi semua artikel harus sudah dikirim."
Sari duduk di sampingnya. "Mas, saya khawatir. Kesehatan Mas ini yang utama. Sepuluh desa itu penting, tapi Mas lebih penting."
Arman memegang tangan istrinya. "Saya tahu, Ni. Tapi ini tanggung jawab. Mereka sudah percaya sama saya."
Sari menghela napas. "Baiklah. Tapi janji, setelah artikel ini selesai, langsung tidur."
"Janji."
Sari kembali ke kamar, meninggalkan Arman yang kembali fokus ke layar laptop.
Artikel terakhir malam itu adalah untuk Desa Harapan Jaya—desa nomor sembilan dalam daftarnya. Mereka mengadakan musyawarah desa khusus membahas penanganan stunting. Pak Kades-nya, seorang pria muda bernama Pak Firmansyah, sangat antusias dengan program ini. Ia mengirimkan banyak foto dan catatan detail.
Arman menulis dengan hati-hati. Ia ingin artikel ini bagus karena Pak Firmansyah adalah kepala desa baru yang penuh semangat.
Judul artikel: "Desa Harapan Jaya Gelar Musyawarah Khusus Penanganan Stunting."
Ia menulis:
*HARAPAN JAYA - Pemerintah Desa Harapan Jaya menggelar musyawarah desa khusus membahas penanganan stunting di wilayahnya. Kegiatan yang berlangsung di balai desa pada hari Selasa, 16 Februari 2021, ini dihadiri oleh perangkat desa, kader posyandu, tenaga kesehatan dari puskesmas, serta perwakilan orang tua balita.*
Dalam musyawarah tersebut, terungkap bahwa angka stunting di Desa Harapan Jaya masih cukup tinggi, mencapai 15 persen dari total balita. Beberapa faktor penyebab antara lain kurangnya asupan gizi, pola asuh yang kurang tepat, dan keterbatasan akses layanan kesehatan.
"Kami tidak bisa diam melihat angka ini. Stunting adalah masalah serius yang mempengaruhi masa depan anak-anak kita. Karena itu, kami menyusun program khusus untuk menanganinya," ujar Kepala Desa Harapan Jaya, Firmansyah.
Beberapa program yang direncanakan antara lain pemberian makanan tambahan bagi balita kurang gizi, penyuluhan pola asuh bagi orang tua, dan peningkatan layanan posyandu.
Arman membaca ulang tulisannya. Cukup bagus untuk artikel yang ditulis tengah malam.
Ia menambahkan foto-foto: foto para peserta musyawarah, foto Kepala Desa sedang berbicara, dan foto balita-balita yang sedang diperiksa kesehatannya di posyandu.
Lalu ia mengklik tombol Publikasikan.
Selesai.
Arman meregangkan tubuh. Ia melihat jam di pojok layar: 00.47.
"Subhanallah, sudah lewat tengah malam," gumamnya.
Ia menyimpan laptop, membereskan meja, lalu berjalan menuju kamar dengan langkah gontai.
Sari sudah tertidur pulas. Arman berbaring perlahan agar tidak membangunkan istrinya.
Namun pikirannya masih belum bisa tenang.
Besok, atau lebih tepatnya hari ini, ada 20 artikel baru yang harus ia tulis. Ada 10 desa yang menunggu berita mereka dipublikasikan. Ada puluhan pesan yang belum ia balas. Ada ratusan foto yang harus ia pilih dan edit.
Dan semua itu harus dilakukan dengan dua jari, laptop tua, dan koneksi internet pas-pasan.
Arman tersenyum dalam gelap.
Inilah yang kumau, pikirnya. Bukan soal uang. Bukan soal popularitas. Tapi soal bagaimana aku bisa membantu desa-desa ini bercerita kepada dunia.
Ia memejamkan mata.
Besok adalah hari baru.
Besok ada 20 artikel menunggu.
Dan Arman siap menghadapinya.***
Kehidupan Arman setelah memiliki sepuluh desa mitra berubah drastis.
Jika dulu ia memiliki waktu luang untuk bersantai, ngobrol dengan tetangga, atau sekadar duduk di warung kopi sambil membaca koran, kini hampir semua waktunya habis di depan laptop.
Rutinitas hariannya menjadi sangat terstruktur, hampir seperti mesin yang sudah diprogram:
Pukul 04.30 - Bangun tidur, shalat Subuh.
Pukul 05.00 - 06.00 - Membaca pesan-pesan yang masuk semalam, memprioritaskan mana yang harus segera ditangani.
Pukul 06.00 - 07.00 - Sarapan, mandi, persiapan ke kantor desa.
Pukul 07.30 - 12.00 - Bekerja di kantor desa Sido Mukti sebagai perangkat desa biasa. Di sela-sela waktu luang, ia menyempatkan membaca data dari desa lain dan merencanakan artikel.
Pukul 12.00 - 13.00 - Istirahat, shalat Dzuhur, makan siang.
Pukul 13.00 - 16.00 - Kembali bekerja di kantor desa. Setelah jam kantor resmi selesai, ia biasanya masih bertahan untuk menyelesaikan beberapa artikel.
Pukul 16.00 - 17.00 - Pulang, shalat Ashar, istirahat sejenak.
Pukul 17.00 - 19.00 - Waktu untuk keluarga. Bermain dengan anak, ngobrol dengan Sari, membantu pekerjaan rumah.
Pukul 19.00 - 20.00 - Shalat Maghrib dan Isya, makan malam.
Pukul 20.00 - 23.00 - Waktu utama menulis artikel. Ini adalah jam-jam paling produktif.
Pukul 23.00 - 00.00 - Menyelesaikan artikel yang belum selesai, membalas pesan, merencanakan jadwal besok.
Pukul 00.00 - Tidur (jika tidak ada keperluan mendesak).
Rutinitas ini ia jalani hampir setiap hari, tujuh hari seminggu, tanpa libur.
Pak Darso, yang sering melihat Arman kelelahan, kadang menggodanya.
"Man, kamu ini kayak robot. Dicas malem, kerja siang, dicas lagi malem, kerja lagi siang."
Arman tertawa lelah. "Robot apa, Pak? Robot nulis."
"Robot nulis dengan dua jari. Inovasi baru."
"Iya, Pak. Patenin saja."
"Yang penting kamu istirahat. Robot juga butuh perawatan."***
Suatu sore, ketika Arman sedang asyik mengetik di kantor desa, seorang tamu datang mencarinya.
Seorang pria muda, sekitar 25 tahun, dengan kemeja batik rapi dan tas selempang. Ia terlihat agak bingung mencari seseorang di kantor desa yang mulai sepi.
"Selamat sore, Pak," sapanya kepada Pak Darso yang sedang duduk di teras. "Saya mencari Pak Arman."
Pak Darso menunjuk ke dalam. "Di sana, di pojok. Yang lagi ngetik."
Pemuda itu masuk, mendekati meja Arman. Arman yang sedang fokus mengetik tidak menyadari kehadirannya.
"Pak Arman?" sapa pemuda itu.
Arman menoleh, terkejut. "Eh, iya. Ada apa?"
Pemuda itu tersenyum. "Perkenalkan, saya Rudi dari Desa Sungai Harapan. Saya yang biasa kirim data ke Bapak."
Arman terkejut. "Wah, Mas Rudi? Silakan duduk."
Rudi duduk di kursi di samping meja Arman. Matanya langsung tertuju pada layar laptop Arman yang menampilkan artikel setengah jadi.
"Ini lagi nulis, Pak?"
Arman tersenyum. "Iya, lagi nulis artikel untuk desa tetangga."
Rudi mengamati meja kerja Arman dengan seksama. Meja kayu sederhana dengan cat mulai pudar. Laptop tua dengan stiker menguning. Tumpukan catatan warna-warni. Modem yang diletakkan di dekat jendela. Cangkir kopi yang hampir kering.
"Pak Arman, ini kantor Bapak?" tanya Rudi.
Arman tertawa. "Ini meja kerja saya di kantor desa. Kalau di rumah, mejanya juga sama sederhananya."
Rudi menggeleng-geleng. "Pak, saya selama ini membayangkan Bapak punya kantor besar dengan banyak komputer, staf yang sibuk mengetik, mungkin AC yang dingin, dan kursi empuk."
Arman tertawa terbahak-bahak. "Mas Rudi, itu kantor gubernur, bukan kantor admin desa."
Rudi ikut tertawa. "Saya tidak menyangka. Bapak bekerja sendirian, dengan peralatan seadanya, tapi bisa menulis untuk sepuluh desa."
"Sepuluh? Mas Rudi tahu?"
Rudi mengangguk. "Saya ngobrol dengan teman-teman admin desa lain. Mereka bilang Bapak juga nulis untuk desa mereka."
Arman tersenyum. "Iya, Alhamdulillah dipercaya."
Rudi menghela napas. "Pak Arman, saya jadi malu. Saya ini admin desa, punya fasilitas lumayan, tapi tidak bisa nulis sebagus Bapak. Saya sering kirim data ke Bapak, Bapak olah jadi berita bagus."
Arman memegang bahu Rudi. "Mas Rudi, setiap orang punya kelebihan masing-masing. Tugas saya menulis, tugas Mas Rudi mengirim data. Kita sama-sama bekerja."
Rudi tersenyum. "Terima kasih, Pak. Saya jadi termotivasi. Mungkin nanti saya coba belajar menulis."
"Nah, itu semangat. Nanti kalau sudah bisa, desanya makin maju."
Setelah Rudi pulang, Arman merenung.
Ia tidak menyangka bahwa perjuangannya selama ini diperhatikan orang. Ia hanya melakukan apa yang ia bisa, dengan alat seadanya, dengan kemampuan sederhana. Tapi ternyata itu berarti bagi orang lain.
Malam harinya, ia menulis catatan di buku hariannya—sebuah buku kecil yang ia gunakan untuk menuliskan refleksi pribadi:
*17 Februari 2021*
Hari ini didatangi Mas Rudi dari Desa Sungai Harapan. Ia datang jauh-jauh hanya untuk melihat di mana saya bekerja. Ia kaget melihat meja kerja saya yang sederhana.
Katanya, ia membayangkan saya punya kantor besar dengan banyak komputer. Saya tertawa mendengarnya.
Tapi di balik itu, saya sadar sesuatu. Saya bekerja sendirian, dengan peralatan sederhana, tapi saya bisa membantu banyak desa. Ini bukan karena saya hebat. Ini karena Allah memberi saya kesempatan.
Sepuluh desa sekarang mempercayakan website mereka kepada saya. Sepuluh desa yang warganya mungkin tidak pernah saya temui, tapi mereka membaca tulisan saya setiap minggu.
Ini tanggung jawab besar.
Saya tidak boleh mengecewakan mereka.
Saya harus terus belajar, terus menulis, terus berkarya.
Meskipun hanya dengan dua jari.***
Hari-hari berikutnya, Arman semakin disiplin mengatur waktu.
Ia membuat jadwal khusus untuk setiap desa:
- Senin: Desa Sido Mukti, Desa Sungai Harapan, Desa Bukit Lestari
- Selasa: Desa Karya Mandiri, Desa Maju Bersama, Desa Mekar Sari
- Rabu: Desa Sumber Rejeki, Desa Tani Makmur
- Kamis: Desa Harapan Jaya, Desa Kerta Bhakti
- Jumat: Cadangan untuk artikel mendadak, revisi, atau kegiatan khusus
- Sabtu: Menulis artikel tambahan jika ada, merapikan arsip
- Minggu: Istirahat (atau lebih tepatnya, menulis artikel yang kemarin belum selesai)
Setiap desa memiliki buku catatan sendiri. Di buku itu, ia mencatat:
- Jadwal rutin artikel per minggu
- Jenis artikel yang biasa ditulis
- Kontak person yang bisa dihubungi
- Catatan khusus tentang desa tersebut (misalnya: Desa A suka artikel panjang, Desa B suka banyak foto, Desa C suka judul yang heboh)
- Tanggal-tanggal penting (HUT desa, pemilihan kades, dll)
Sistem ini membantunya bekerja lebih efisien. Ia tidak perlu berpikir panjang setiap kali menerima data—ia langsung tahu harus menulis seperti apa, dengan gaya bagaimana, dan untuk siapa.
Namun bekerja untuk sepuluh desa tidak selalu mulus.
Tantangan terbesar adalah ketika semua desa mengirim data di waktu yang bersamaan. Biasanya ini terjadi menjelang akhir bulan, ketika banyak desa harus melaporkan kegiatan ke kabupaten.
Suatu hari di akhir Februari, ponsel Arman hampir meledak.
Pukul 19.30, setelah shalat Isya, ia membuka ponselnya dan mendapati 47 pesan WhatsApp belum terbaca.
47 pesan.
Dari berbagai desa.
Semuanya berisi data kegiatan yang harus segera dijadikan artikel.
Arman menghela napas panjang. "Ya Allah, ujian lagi."
Ia mulai membaca satu per satu.
Desa Sungai Harapan mengirim 5 kegiatan sekaligus: pelatihan UMKM, rapat BPD, pembagian bantuan sosial, kegiatan posyandu, dan peresmian jalan desa. Semua harus segera ditulis karena besok ada monitoring dari kabupaten.
Desa Bukit Lestari mengirim 3 kegiatan: musyawarah dusun, pembangunan drainase, dan kegiatan karang taruna.
Desa Karya Mandiri mengirim 4 kegiatan: lomba 17-an (walaupun sudah lewat, mereka baru sempat mengirim fotonya), pelatihan perangkat desa, kunjungan camat, dan rapat koordinasi.
Dan seterusnya, dari desa-desa lain.
Total, malam itu Arman harus menulis 19 artikel.
Arman memandangi ponselnya dengan tatapan kosong.
Sari yang melihatnya bertanya, "Mas, kenapa?"
Arman menunjukkan ponselnya. "Lihat, Ni. 47 pesan. 19 artikel harus ditulis malam ini."
Sari ikut lemas. "Ya Allah, Mas. Bisa?"
Arman menghela napas. "Harus bisa. Mereka sudah menunggu."
"Tapi ini sudah malam, Mas."
"Tidak apa-apa. Saya biasa begadang."
Sari menggeleng. "Mas, saya bantu."
Arman menoleh heran. "Kamu bantu? Kamu bisa nulis?"
Sari tersenyum. "Saya bisa ngetik. Mas ajarin cara nulis artikel berita."
Arman berpikir sejenak. "Kamu serius?"
"Serius. Daripada Mas kerja sendirian sampai pagi."
Arman tersenyum haru. "Terima kasih, Ni."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arman memiliki asisten—asisten yang paling setia, istrinya sendiri.
Sari duduk di sampingnya. Arman mengajarinya dasar-dasar menulis artikel berita.
"Gampang, Ni. Setiap artikel harus menjawab 5W + 1H. What, who, when, where, why, how."
Sari mencatat. "What itu apa? Who itu siapa?"
"Iya. Jadi, apa kegiatannya, siapa yang terlibat, kapan dilaksanakan, di mana tempatnya, kenapa diadakan, dan bagaimana pelaksanaannya."
Sari mengangguk. "Oh, seperti itu. Lalu bahasanya?"
"Bahasa sederhana saja. Seperti kita cerita ke tetangga."
Sari tersenyum. "Berarti saya bisa. Saya kan suka cerita ke tetangga."
Arman tertawa. "Nah, itu dia. Sama saja."
Mereka mulai bekerja. Arman mengambil 10 artikel yang paling mudah, Sari mengambil 9 artikel sisanya. Sari menulis di laptop pinjaman dari anaknya—sebuah netbook kecil yang sudah jarang dipakai.
Suasana rumah malam itu berubah menjadi kantor redaksi dadakan. Hanya terdengar suara ketikan keyboard dari dua arah. Sesekali Sari bertanya, "Mas, ini fotonya pakai yang mana?" atau "Mas, judulnya gimana?" atau "Mas, ini kata 'swadaya' ejaannya bener?"
Arman menjawab dengan sabar, sambil terus mengetik.
Pukul 23.00, mereka berhasil menyelesaikan 8 artikel.
Pukul 00.00, 13 artikel selesai.
Pukul 01.30, 17 artikel selesai.
Pukul 02.45, 19 artikel akhirnya rampung semua.
Arman meregangkan tubuh yang terasa remuk. Sari menguap lebar, matanya sudah sangat berat.
"Selesai, Ni," kata Arman dengan napas lega.
Sari tersenyum letih. "Alhamdulillah."
"Terima kasih banyak, Ni. Tanpa kamu, saya tidak akan bisa."
Sari memeluk suaminya. "Mas, saya bangga sama Mas. Tapi tolong, jangan terlalu sering begini. Kesehatan Mas yang utama."
Arman mengangguk. "Iya, Ni. Janji."
Mereka berdua berjalan menuju kamar dengan langkah sempoyongan, lalu langsung tertidur pulas begitu kepala menyentuh bantal.***
Keesokan harinya, Arman bangun kesiangan.
Jam menunjukkan pukul 08.30 ketika ia membuka mata. Biasanya ia sudah di kantor pada jam segini. Ia langsung panik, bergegas mandi dan bersiap.
Sari yang sudah bangun lebih dulu tersenyum melihat kepanikan suaminya. "Mas, santai saja. Tadi Pak Darso telepon. Katanya Mas boleh datang siang, istirahat dulu."
Arman menghela napas lega. "Pak Darso telepon? Dia tahu?"
"Saya cerita kalau Mas begadang nulis sampai jam 3 pagi. Pak Darso bilang, 'Wah, suruh istirahat dulu. Nanti kalau sakit, sepuluh desa pada demo.'"
Arman tertawa. "Dasar Pak Darso, selalu bercanda."
Meskipun diizinkan istirahat, Arman tetap berangkat ke kantor pukul 10.00. Ada beberapa urusan administrasi yang harus ia selesaikan.
Sesampainya di kantor, Pak Darso langsung menyambutnya dengan senyum lebar.
"Wah, Man, sudah bangun? Saya kira kamu tidur sampai Maghrib."
Arman tersenyum malu. "Maaf, Pak. Kemarin begadang."
"Sudah saya dengar dari Sari. 19 artikel dalam semalam? Dengan dua jari?"
"Dibantu Sari, Pak. Jadi 19 artikel dengan empat jari."
Pak Darso tertawa keras. "Wah, inovasi baru: menulis empat jari. Nanti kalau anakmu ikut bantu, jadi enam jari. Makin cepat."
Arman ikut tertawa. "Iya, Pak. Nanti kalau seluruh keluarga bantu, jadi banyak jari."
Pak Rahmat yang keluar dari ruangannya mendengar percakapan itu. "Ada apa rame-rame?"
Pak Darso menjelaskan. "Pak, Arman kemarin nulis 19 artikel dalam semalam. Dibantu istrinya."
Pak Rahmat terkejut. "19 artikel? Untuk desa kita?"
"Bukan, Pak. Untuk semua desa yang dia handle."
Pak Rahmat menggeleng-geleng. "Man, kamu ini luar biasa. Tapi tolong jaga kesehatan. Nanti kalau kamu sakit, desa-desa itu pada bingung."
Arman tersenyum. "Iya, Pak. Saya usahakan."
Pak Rahmat kemudian berkata, "Man, saya mau tanya."
"Iya, Pak?"
"Kamu menulis untuk sepuluh desa. Itu berarti ada sepuluh kepala desa yang percaya sama kamu. Apa rahasianya?"
Arman berpikir sejenak. "Rahasianya sederhana, Pak."
"Apa?"
"Jujur dan konsisten. Saya tulis apa adanya, tidak dilebih-lebihkan. Dan saya usahakan selalu tepat waktu."
Pak Rahmat mengangguk. "Bagus. Itu kunci kepercayaan."
Pak Darso menambahkan, "Ditambah kopi setiap malam. Itu bahan bakarnya."
Semua tertawa.***
Sore harinya, Arman menerima telepon dari Pak Hasan, Kepala Desa Sungai Harapan.
"Pak Arman, selamat sore."
"Selamat sore, Pak Hasan."
"Ada kabar baik, Pak."
"Kabar apa, Pak?"
"Kemarin tim dari kabupaten datang monitoring website desa. Mereka kaget melihat website kami aktif terus."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah, Pak."
"Mereka tanya, siapa yang mengelola? Saya jawab, ada kontributor dari desa tetangga. Mereka minta nomor Bapak."
Arman sedikit tegang. "Untuk apa, Pak?"
"Katanya, mereka ingin Bapak jadi narasumber dalam pelatihan pengelolaan website desa tingkat kabupaten."
Arman terdiam. "Narasumber? Saya?"
"Iya. Mereka bilang, orang seperti Bapak yang dibutuhkan. Bukan ahli IT, tapi praktisi yang langsung terjun."
Arman menghela napas. "Pak Hasan, saya tidak pernah bicara di depan orang banyak."
"Tidak apa-apa. Nanti diatur sedemikian rupa. Yang penting Bapak bersedia berbagi pengalaman."
Arman berpikir sejenak. "Boleh saya pikir dulu, Pak?"
"Tentu. Tapi tolong pertimbangkan. Ini kesempatan untuk menginspirasi lebih banyak orang."
"Baik, Pak. Terima kasih infonya."
Setelah telepon itu, Arman duduk merenung.
Narasumber pelatihan.
Ia, yang hanya lulusan SMA, yang hanya bisa mengetik dengan dua jari, yang bekerja dari meja kayu sederhana, diminta menjadi narasumber.
Hidang memang penuh kejutan.***
Malam harinya, ia menceritakan hal itu kepada Sari.
Sari tersenyum lebar. "Mas, ini luar biasa."
"Luar biasa atau menakutkan?"
"Dua-duanya. Tapi lebih banyak luar biasanya."
Arman menghela napas. "Saya takut tidak bisa, Ni."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, ingat waktu pertama kali nulis artikel? Mas juga takut. Tapi sekarang? Mas sudah nulis ratusan artikel."
Arman mengangguk.
"Mas ingat waktu pertama kali ada kepala desa lain yang minta bantuan? Mas juga takut. Tapi sekarang? Mas sudah bantu sepuluh desa."
Arman tersenyum.
"Nah, sekarang giliran jadi narasumber. Mas takut. Tapi nanti kalau sudah dijalani, Mas pasti bisa."
Arman menatap istrinya dengan penuh rasa syukur. "Kamu ini selalu bisa menenangkan saya."
Sari tersenyum. "Itu tugas istri, Mas."
Arman memeluk istrinya. "Terima kasih, Ni. Terima kasih untuk semuanya."
Malam itu, Arman mengambil keputusan.
Ia akan menerima tawaran menjadi narasumber.
Bukan karena ia merasa hebat, tapi karena ia ingin berbagi. Mungkin ada orang lain di luar sana yang mengalami kesulitan yang sama seperti dulu, dan ia bisa membantu.
Seperti Pak Hasan membantunya dulu dengan merekomendasikan ke desa-desa lain.
Seperti Pak Darso yang selalu menyemangatinya dengan candaan.
Seperti Sari yang selalu mendukungnya dari belakang layar.
Kini gilirannya untuk berbagi.***
Keesokan harinya, ia menelepon Pak Hasan.
"Pak Hasan, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Pak Arman. Ada kabar?"
"Pak, tentang tawaran jadi narasumber kemarin... Insya Allah saya bersedia."
Pak Hasan di seberang sana terdengar senang. "Alhamdulillah! Saya sudah tunggu kabar ini."
"Tapi Pak, saya minta bimbingannya. Saya tidak pengalaman bicara di depan umum."
"Tidak apa-apa, Pak. Nanti kita siapkan bersama. Yang penting Bapak cerita pengalaman Bapak. Itu yang paling berharga."
"Baik, Pak. Terima kasih."
"Doakan lancar ya, Pak."
"Aamiin."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk—antara deg-degan dan bangga.
Ia akan menjadi narasumber.
Dari admin biasa, menjadi penjaga informasi di sepuluh desa.
Dan kini, menjadi inspirasi bagi orang lain.
Perjalanan masih panjang, tapi Arman siap melangkah.
BAB V
KONTRIBUTOR LINTAS DESA
Ketika Waktu, Desa, dan Berita Berpacu dalam Satu Meja Kerja
Tiga bulan setelah keputusan besar itu, Arman resmi menjadi kontributor untuk sepuluh desa.
Jika dulu ia hanya menulis satu atau dua berita dalam seminggu untuk website Desa Sido Mukti, kini hampir setiap hari ia harus menulis berita dari berbagai desa yang berbeda. Dan semuanya dilakukan dari tempat yang sama: sebuah meja kayu sederhana di sudut ruang tamu rumahnya.
Meja itu, yang dulunya hanya digunakan untuk meletakkan vas bunga dan koran bekas, kini telah berubah menjadi pusat komando informasi sepuluh desa. Di atasnya, laptop tua kesayangan selalu dalam keadaan menyala, siap digunakan kapan saja. Di samping laptop, berjejer buku catatan warna-warni—hijau, biru, merah, kuning, ungu, orange, pink, coklat, abu-abu, dan hitam—masing-masing mewakili satu desa dengan segala data, jadwal, dan catatan khasnya.
Di pojok meja, sebuah modem kecil diletakkan di atas tumpukan buku agar sinyalnya lebih kuat—sebuah trik yang Arman temukan secara tidak sengaja setelah berkali-kali putus asa karena koneksi internet yang lemot. Di sisi lain, sebuah dispenser mini berisi air panas selalu siap menemani, bersama dengan stoples berisi kopi bubuk dan gula aren pemberian Pak Darso.
Sari, istrinya, sering bercanda melihat meja kerja itu. Suatu pagi, ketika Arman baru saja membuka laptopnya, Sari berkata sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"Mas, meja ini sekarang seperti terminal bus desa."
Arman yang sedang fokus membaca pesan menoleh. "Maksudnya?"
"Karena setiap hari desa datang dan pergi dari sini. Ada yang dari desa Sido Mukti, Sungai Harapan, Bukit Lestari, semua pada antri."
Arman tertawa kecil. "Iya, Ni. Sekarang meja ini jadi terminal."
"Terminalnya supir bus dengan dua jari."
"Supir bus?"
"Iya, supir bus berita. Mas yang nyetir, desa-desa yang jadi penumpang."
Arman menggeleng sambil tersenyum. "Kamu ini kreatif sekali."
Sari mengangkat bahu. "Istri kreatif, suami rajin. Cocok."
Arman menyalakan laptopnya. Hari itu seperti hari-hari sebelumnya—pekerjaan sudah menunggu.
Rutinitas Arman kini hampir seperti jadwal kerja seorang redaktur berita di kantor media besar, hanya saja dengan skala yang jauh lebih sederhana dan tanpa gaji sebesar redaktur sungguhan.
Pagi hari, sebelum matahari benar-benar tinggi, Arman sudah duduk di mejanya. Ini adalah waktu yang ia manfaatkan untuk membaca semua pesan yang masuk semalam. Biasanya, dalam semalam, setidaknya ada 10-15 pesan dari berbagai desa yang masuk ke WhatsApp-nya.
Pesan-pesan itu berisi macam-macam:
- Laporan kegiatan desa yang baru saja dilaksanakan
- Foto-foto yang perlu dipilih dan diedit
- Pertanyaan tentang jadwal publikasi
- Permintaan revisi artikel yang sudah dikirim
- Informasi tentang kegiatan mendatang yang perlu diliput
- Dan kadang-kadang, hanya sekadar ucapan selamat pagi dari admin desa yang sudah akrab
Arman membaca satu per satu, memprioritaskan mana yang harus segera ditangani. Artikel untuk desa yang ada acara besar hari ini harus didahulukan. Artikel untuk kegiatan yang sudah lewat beberapa hari bisa sedikit ditunda.
Setelah memilah pesan, Arman mulai bekerja.
Pukul 06.30, ia membuka data dari Desa Sungai Harapan. Rudi, admin desa itu, mengirimkan foto kegiatan posyandu lansia kemarin sore. Ada 15 foto yang harus dipilih. Arman memilih tiga terbaik: foto para lansia sedang antre diperiksa, foto kader posyandu sedang mengukur tekanan darah, dan foto kepala desa yang kebetulan hadir memberi sambutan singkat.
Ia menulis artikel dengan judul: "Posyandu Lansia Sungai Harapan Berjalan Lancar, 50 Lansia Ikuti Pemeriksaan Kesehatan."
Selesai satu artikel, ia langsung mengirimkannya ke Rudi untuk dicek sebelum dipublikasikan.
Pukul 07.30, ia beralih ke Desa Bukit Lestari. Pak Suroto mengirimkan laporan panjang tentang pembangunan jembatan gantung yang sebentar lagi rampung. Ada juga video pendek yang direkam dengan ponsel—goyang, buram, tapi cukup menunjukkan progres pembangunan.
Arman menulis artikel dengan judul: "Pembangunan Jembatan Gantung Bukit Lestari Masuki Tahap Akhir, Warga Sambut Antusias."
Pukul 08.30, tiba-tiba ponselnya berdering. Telepon dari Pak Rahman, Kepala Desa Karya Mandiri.
"Assalamualaikum, Pak Arman. Selamat pagi."
"Waalaikumsalam, Pak Rahman. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Arman, saya mau minta tolong. Hari ini ada kunjungan Bupati ke desa kami. Acaranya peresmian jalan desa. Bisakah Bapak datang?"
Arman terkejut. "Datang, Pak? Ke desa Bapak?"
"Iya. Kami ingin dokumentasi yang bagus. Kalau Bapak bisa datang, kami akan sangat berterima kasih."
Arman berpikir sejenak. Selama ini ia bekerja dari jarak jauh. Ia belum pernah sekalipun mengunjungi desa-desa yang ia layani. Kunjungan ini akan menjadi yang pertama.
"Pak, jarak ke desa Bapak berapa jam?"
"Kalau dari tempat Bapak, sekitar 3 jam perjalanan darat. Tapi nanti kami jemput."
Arman masih ragu. "Saya harus izin dulu dengan Pak Rahmat, Pak. Dan juga keluarga."
"Silakan, Pak. Tolong kabari secepatnya. Acaranya jam 10.00."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk.
Ini pertama kalinya ia diundang langsung ke desa yang ia layani. Selama ini ia hanya melihat desa-desa itu melalui foto dan video yang dikirim. Kini ia akan melihat langsung.
Ia segera menelepon Pak Rahmat.
"Assalamualaikum, Pak. Selamat pagi."
"Waalaikumsalam, Man. Ada apa pagi-pagi?"
"Pak, saya minta izin. Ada undangan dari Desa Karya Mandiri. Hari ini ada kunjungan Bupati, mereka minta saya datang."
Pak Rahmat di seberang sana terdiam sejenak, lalu tertawa. "Wah, Man, kamu sudah jadi selebriti antar desa."
Arman tersenyum malu. "Bukan begitu, Pak. Mereka minta tolong dokumentasi."
"Iya, saya paham. Silakan, Man. Saya izinkan. Yang penting pekerjaan di sini aman."
"Terima kasih, Pak. Saya usahakan kembali besok."
"Iya, hati-hati di jalan."
Setelah mendapat izin, Arman memberitahu Sari. Sari yang sedang menyiapkan sarapan langsung menoleh.
"Mas mau ke desa lain? Jauh?"
"3 jam perjalanan. Tapi katanya dijemput."
Sari menghela napas. "Mas, ini pertama kali Mas pergi jauh sendirian."
"Iya, Ni. Tapi ini bagian dari pekerjaan."
Sari mendekat, merapikan kerah kemeja suaminya. "Hati-hati ya, Mas. Jangan lupa makan. Jangan lupa shalat. Jangan lupa..." ia berhenti, matanya berkaca-kaca.
Arman terharu. "Ni, kenapa?"
Sari tersenyum, meskipun matanya basah. "Saya bangga, Mas. Mas yang dulu hanya di rumah, sekarang mulai dikenal orang. Tapi saya juga khawatir."
Arman memeluk istrinya. "Saya akan baik-baik saja, Ni. Ini cuma perjalanan dinas biasa."
"Iya, Mas. Tapi tetap hati-hati."
Pukul 09.00, sebuah mobil pick-up warna silver datang menjemput Arman di depan rumahnya. Yang datang bukan sopir, tapi Pak Rahman sendiri.
"Pak Arman!" sapa Pak Rahman dengan hangat sambil turun dari mobil. Ia adalah pria berusia sekitar 50 tahun, bertubuh agak gemuk, dengan kumis tebal khas orang desa. Hari itu ia mengenakan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam.
"Pak Rahman? Bapak sendiri yang jemput?" Arman terkejut.
"Iya, Pak. Masa saya suruh orang lain jemput tamu penting?"
Arman tersenyum malu. "Saya bukan tamu penting, Pak."
"Justru Bapak tamu paling penting hari ini. Silakan naik."
Perjalanan menuju Desa Karya Mandiri memakan waktu sekitar 3,5 jam. Jalanannya berkelok-kelok melewati perbukitan, kadang naik, kadang turun. Pemandangan di kanan-kiri adalah hutan karet dan sawit yang membentang luas, sesekali diselingi sungai kecil dan perkampungan.
Selama perjalanan, mereka berbincang banyak hal. Pak Rahman bercerita tentang desanya, tentang tantangan yang dihadapi, tentang harapannya agar desa Karya Mandiri bisa maju seperti desa-desa lain.
"Pak Arman, saya terus terang saja," kata Pak Rahman di tengah perjalanan. "Saya tidak pernah menyangka website desa bisa sepenting ini."
"Maksudnya, Pak?"
"Dulu saya pikir website itu cuma formalitas. Ikut-ikutan desa lain. Tapi setelah Bapak kelola, saya sadar bahwa website itu penting."
Arman mendengarkan dengan saksama.
"Sekarang, setiap ada kegiatan, warga selalu tanya, 'Pak, ini sudah diupload belum?' Mereka ingin tahu. Mereka ingin desanya terlihat."
Arman tersenyum. "Itu bagus, Pak. Berarti masyarakat mulai peduli dengan informasi desa."
"Iya. Dan semua itu berkat Bapak."
Arman menggeleng. "Bukan, Pak. Berkat Bapak dan perangkat desa yang rajin mengirim data. Saya hanya menulis."
Pak Rahman tertawa. "Pak Arman ini rendah hati sekali."
Mereka terus mengobrol, membahas berbagai hal tentang desa, tentang pemerintahan, tentang harapan ke depan. Arman merasa nyaman. Pak Rahman adalah tipe pemimpin yang hangat dan mudah diajak bicara.
Sekitar pukul 12.30, mereka tiba di Desa Karya Mandiri.
Desa itu terletak di sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan hijau. Rumah-rumah penduduk berjejer di sepanjang jalan utama yang sudah diaspal mulus—hasil pembangunan tahun lalu. Di tengah desa, terdapat sebuah lapangan kecil dengan pohon beringin besar di tengahnya. Di samping lapangan, berdiri kantor desa berlantai dua dengan cat warna hijau putih, tampak lebih megah dari kantor desa Sido Mukti.
"Wah, bagus sekali desa ini, Pak," puji Arman.
Pak Rahman tersenyum bangga. "Alhamdulillah, kami terus membenahi. Tapi masih banyak PR."
Mereka turun dari mobil. Beberapa perangkat desa sudah menunggu di halaman kantor. Pak Rahman memperkenalkan Arman satu per satu.
"Ini Pak Arman, kontributor website desa kita. Yang selama ini menulis berita-berita di website."
Seorang pria muda, sekitar 30 tahun, menjabat tangan Arman erat-erat. "Pak Arman, senang bertemu. Saya Heru, admin desa yang biasa kirim data."
Arman tersenyum. "Oh, Mas Heru. Terima kasih sudah rajin kirim data."
Heru tertawa. "Saya yang harusnya terima kasih, Pak. Tanpa Bapak, data-data itu hanya menumpuk di ponsel saya."
Yang lain ikut menyalami. Ada Bu Yuni dari bagian perencanaan, Pak Jarwo dari bagian pembangunan, dan beberapa staf lainnya. Semua menyambut Arman dengan hangat, seolah ia adalah keluarga sendiri.
Setelah ramah tamah singkat, mereka langsung menuju lokasi acara: peresmian jalan desa di dusun sebelah. Bupati dijadwalkan tiba pukul 14.00.
Di lokasi, sebuah panggung sederhana telah didirikan di pinggir jalan baru yang mulus. Umbul-umbul warna-warni dipasang di sepanjang jalan. Warga sudah berdatangan, duduk di kursi-kursi plastik yang disusun rapi. Beberapa ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan di dapur umum darurat.
Arman mulai bekerja. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret. Suasana, persiapan, warga yang datang, panggung, jalan baru—semua ia abadikan. Ia juga merekam beberapa video pendek untuk dokumentasi.
Pak Rahman mendekat. "Pak Arman, nanti Bapak bisa ambil foto dari depan panggung. Saya sudah siapkan tempat khusus."
"Wah, Pak, jangan repot-repot. Saya bisa ambil dari mana saja."
"Tidak bisa. Bapak tamu penting. Silakan."
Arman hanya bisa tersenyum.
Pukul 14.15, rombongan Bupati tiba. Sebuah mobil hitam dengan pengawalan berhenti di depan panggung. Bupati turun, disambut oleh Pak Rahman dan jajarannya.
Acara berlangsung meriah. Ada sambutan dari kepala desa, sambutan dari Bupati, pemotongan pita, penandatanganan prasasti, dan tentu saja, foto bersama.
Arman sibuk mengambil gambar dari berbagai sudut. Ia jongkok, berdiri, berjingkat, bahkan naik ke atas tangga darurat untuk mendapatkan angle yang bagus. Keringat bercucuran, tapi ia tidak peduli. Ini adalah momen penting, dan ia harus mendokumentasikannya dengan baik.
Sekitar pukul 16.30, acara selesai. Bupati dan rombongan pamit pulang. Warga mulai membubarkan diri. Arman meregangkan tubuh yang pegal.
Pak Rahman mendekat. "Bagaimana, Pak Arman? Dapat fotonya?"
"Alhamdulillah, Pak. Banyak."
"Syukurlah. Sekarang kita makan dulu. Bapak pasti capek."
Mereka menuju rumah Pak Rahman, yang tidak jauh dari kantor desa. Di sana, istri Pak Rahman sudah menyiapkan hidangan makan malam: nasi liwet, ayam goreng, ikan bakar, sayur asem, dan sambal terasi yang menggoda.
"Makanlah, Pak. Ini masakan istri saya. Mudah-mudahan cocok," kata Pak Rahman.
Arman yang memang sudah lapar, langsung menyantap hidangan itu dengan lahap. Sambil makan, mereka mengobrol santai.
"Pak Arman, saya mau tanya serius," kata Pak Rahman setelah makan.
Arman menegakkan duduknya. "Iya, Pak."
"Selama ini Bapak menulis untuk sepuluh desa. Itu berat tidak?"
Arman berpikir sejenak. "Jujur, Pak, kadang berat. Apalagi kalau semua desa kirim data bersamaan."
"Terus, kenapa Bapak bertahan?"
Arman tersenyum. "Karena saya percaya apa yang saya lakukan itu penting. Website desa adalah jendela informasi. Kalau jendela itu tertutup, orang tidak akan tahu apa yang terjadi di desa."
Pak Rahman mengangguk. "Bapak benar."
"Selain itu, Pak, saya juga senang melihat desa-desa menjadi lebih dikenal. Dulu, desa Bapak mungkin hanya dikenal oleh warga sekitar. Sekarang, orang dari luar daerah bisa tahu tentang Karya Mandiri hanya dengan membaca website."
Pak Rahman tersenyum lebar. "Itu yang membuat saya bangga. Kemarin ada investor yang tertarik dengan potensi pertanian kami. Dia tahu dari website."
"Wah, Alhamdulillah, Pak."
"Itu semua berkat Bapak."
Arman menggeleng. "Bukan, Pak. Itu berkat Bapak dan warga yang rajin berkegiatan. Saya hanya menuliskan."
Mereka mengobrol hingga larut malam. Tentang desa, tentang pemerintahan, tentang mimpi-mimpi besar untuk masa depan. Arman merasa seperti sedang berbicara dengan teman lama, bukan dengan kepala desa yang baru ia temui hari itu.***
Keesokan harinya, setelah shalat Subuh dan sarapan, Arman pamit pulang. Pak Rahman kembali mengantarnya sendiri, dengan mobil pick-up yang sama.
Sebelum berangkat, Pak Rahman memberikan sebuah bingkisan. "Ini, Pak, oleh-oleh dari desa kami. Hanya gula aren dan kopi bubuk hasil kebun warga."
Arman terharu. "Wah, Pak, merepotkan."
"Tidak merepotkan. Ini sebagai terima kasih kami."
Perjalanan pulang terasa lebih singkat. Mungkin karena mereka terus mengobrol, atau mungkin karena Arman sudah tidak sabar pulang ke rumah.
Sekitar pukul 11.00, mereka tiba di depan rumah Arman. Sari sudah menunggu di teras, tersenyum lebar melihat suaminya pulang.
"Pak Rahman, terima kasih banyak," kata Arman sambil turun dari mobil.
"Sama-sama, Pak Arman. Terima kasih sudah mau datang. Saya tunggu artikelnya ya."
"Siap, Pak. Nanti saya kirim."
Mobil pick-up itu perlahan menjauh. Arman melambai hingga mobil itu menghilang di tikungan.
Sari mendekat. "Mas, gimana?"
Arman tersenyum. "Luar biasa, Ni. Pengalaman yang luar biasa."
"Cerita dong."
Arman mulai bercerita. Tentang perjalanan, tentang sambutan hangat, tentang acara peresmian, tentang obrolan dengan Pak Rahman. Sari mendengarkan dengan antusias, sesekali bertanya, sesekali tertawa.
"Mas, saya bangga," kata Sari ketika Arman selesai bercerita.
"Bangga kenapa?"
"Mas sekarang tidak hanya menulis dari rumah. Mas sudah mulai dikenal orang. Dijemput pakai mobil, disambut hangat, dikasih oleh-oleh."
Arman tersenyum. "Itu bukan karena saya hebat, Ni. Itu karena saya punya istri yang selalu mendukung."
Sari memeluk suaminya. "Mas, saya cinta Mas."
"Saya juga cinta kamu, Ni."***
Setelah pengalaman pertama itu, Arman mulai sering diundang ke desa-desa yang ia layani.
Tidak semua, tapi beberapa. Biasanya untuk acara-acara besar seperti peresmian, kunjungan pejabat, atau festival desa.
Setiap kali ia datang, sambutannya selalu hangat. Para kepala desa dan perangkat desa menyambutnya seperti keluarga sendiri. Mereka sudah mengenal namanya dari artikel-artikel yang ia tulis, dan kini bertemu langsung.
Dalam setiap kunjungan, Arman selalu belajar hal baru.
Di Desa Bukit Lestari, ia belajar tentang kearifan lokal masyarakat Dayak yang masih menjaga tradisi.
Di Desa Maju Bersama, ia belajar tentang inovasi pertanian di lahan gambut.
Di Desa Mekar Sari, ia belajar tentang pemberdayaan perempuan melalui kelompok usaha bersama.
Di Desa Tani Makmur, ia belajar tentang pengolahan karet menjadi produk bernilai tambah.
Setiap desa punya cerita unik. Dan Arman, sebagai kontributor, adalah orang yang paling beruntung karena bisa mendengar dan menuliskan cerita-cerita itu.***
Suatu malam, setelah pulang dari kunjungan ke Desa Harapan Jaya, Arman duduk di mejanya dan membuka laptop.
Ia menulis catatan di buku hariannya:
*12 Mei 2021*
Hari ini pulang dari Desa Harapan Jaya. Desa yang indah di lereng perbukitan, dengan pemandangan matahari terbenam yang luar biasa.
Saya diundang untuk meliput festival budaya tahunan mereka. Tari-tarian tradisional, makanan khas, kerajinan tangan. Semua ditampilkan dengan bangga.
Saya bertemu dengan banyak orang: para tetua adat, pemuda karang taruna, ibu-ibu PKK, bahkan anak-anak kecil yang ikut menari.
Mereka semua tersenyum ketika saya foto. Mereka senang desanya diliput.
Satu hal yang saya sadari: desa-desa ini punya begitu banyak potensi. Potensi alam, potensi budaya, potensi manusia. Tapi selama ini potensi itu hanya diketahui oleh warga setempat.
Lewat tulisan saya, potensi itu bisa dikenal orang luar. Lewat website desa, cerita-cerita ini bisa sampai ke mana-mana.
Ini yang membuat saya terus bersemangat.
Meskipun lelah, meskipun kadang begadang, meskipun harus mengetik dengan dua jari yang pegal.
Karena saya tahu, tulisan saya berarti bagi mereka.***
Keesokan harinya, Arman kembali ke rutinitasnya. Menulis untuk sepuluh desa, mengatur jadwal, membalas pesan, mengirim artikel.
Hidupnya kini adalah tentang deadline, tentang data, tentang foto, tentang kata-kata.
Tapi ia tidak pernah mengeluh.
Karena di balik semua itu, ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kebahagiaan melihat desa-desa yang ia layani semakin dikenal. Kebahagiaan membaca komentar warga yang bangga dengan desanya. Kebahagiaan mendapat pesan dari orang luar yang tertarik mengunjungi desa setelah membaca artikelnya.
Dan yang terpenting, kebahagiaan karena ia bisa melakukan apa yang ia cintai, sambil tetap bisa berkumpul dengan keluarga, sambil tetap bisa minum kopi di teras rumah, sambil tetap bisa menjadi Arman yang sederhana.
Namun di balik semua kebahagiaan itu, ada satu tantangan yang mulai mengganggu pikirannya: bagaimana membagi waktu secara adil untuk sepuluh desa?
Karena meskipun ia sudah membuat jadwal, kenyataan di lapangan sering berbeda. Kadang ada desa yang tiba-tiba mengirim banyak data di waktu yang sama. Kadang ada desa yang minta revisi artikel berkali-kali. Kadang ada desa yang lupa mengirim data, lalu tiba-tiba mengirim semuanya sekaligus di akhir minggu.
Suatu hari, ketika sedang menulis artikel untuk Desa Sungai Harapan, ponselnya berdering. Itu adalah panggilan video dari Pak Suroto, Kepala Desa Bukit Lestari.
"Assalamualaikum, Pak Arman. Selamat sore."
"Waalaikumsalam, Pak Suroto. Ada yang bisa saya bantu?"
Pak Suroto di layar ponsel terlihat agak tegang. "Pak Arman, saya mau tanya. Artikel tentang pembangunan jembatan kemarin, kenapa belum diupload?"
Arman terkejut. "Belum diupload, Pak? Saya sudah kirim ke Pak Rudi minggu lalu."
"Pak Rudi bilang belum terima."
Arman mengerutkan dahi. Ia yakin sudah mengirim artikel itu. Ia membuka chat dengan Rudi, admin Desa Bukit Lestari. Ternyata, artikel itu sudah terkirim, tapi Rudi belum membalas. Mungkin Rudi lupa atau sedang sibuk.
"Pak, saya sudah kirim ke Pak Rudi. Mungkin beliau belum sempat publish. Saya coba hubungi."
"Tolong cepat ya, Pak. Warga sudah pada tanya. Katanya mau lihat fotonya di website."
"Siap, Pak. Saya urus."
Setelah menutup telepon, Arman segera menghubungi Rudi. Ternyata benar, Rudi lupa. Ia sedang sibuk dengan urusan keluarga dan belum sempat membuka pesan.
"Maaf, Pak Arman. Saya lupa. Nanti saya publish sekarang."
"Terima kasih, Mas Rudi."
Insiden kecil itu membuat Arman berpikir. Ia tidak bisa mengontrol apakah artikelnya langsung dipublikasikan atau tidak setelah dikirim ke admin desa. Kadang admin desa sibuk, kadang lupa, kadang bahkan tidak paham cara mempublikasikan.
Ia mulai berpikir untuk mengelola langsung website desa-desa itu, tidak hanya menulis artikel. Tapi itu berarti ia harus memiliki akses login ke semua website desa. Apakah para kepala desa akan mempercayakannya?
Suatu sore, ia menyampaikan gagasan ini kepada Pak Darso di kantor desa.
"Pak Darso, saya mau minta pendapat."
"Pendapat soal apa, Man?"
"Saya ingin mengelola langsung website desa-desa mitra. Tidak hanya menulis artikel, tapi juga mempublikasikannya. Soalnya, kadang admin desa lupa atau sibuk, jadi artikelnya telat naik."
Pak Darso mengangguk-angguk. "Ide bagus. Tapi apa mereka mau kasih akses login?"
"Itu yang saya pikirkan. Mungkin ada yang tidak percaya."
Pak Darso berpikir sejenak. "Man, kalau kamu minta akses, itu tandanya kamu minta kepercayaan lebih. Ada yang bisa kasih, ada yang tidak. Tapi tidak ada salahnya ditawarkan."
"Jadi saya harus tanya satu per satu?"
"Iya. Tapi sebelumnya, siapkan alasan yang kuat. Jelaskan kenapa kamu perlu akses langsung."
Arman mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih sarannya."
Malam harinya, Arman mulai menyusun pesan yang akan ia kirim ke semua kepala desa mitra. Ia ingin menjelaskan dengan baik, tanpa membuat mereka merasa tidak percaya dengan admin desanya masing-masing.
Pesan itu ia tulis dengan hati-hati:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kepada Yth. Bapak/Ibu Kepala Desa [nama desa]
Semoga Bapak/Ibu selalu dalam keadaan sehat dan sukses menjalankan amanah.
Saya Arman, kontributor website desa yang selama ini membantu menulis berita kegiatan di desa Bapak/Ibu.
Melalui pesan ini, saya ingin menyampaikan sebuah usulan. Selama ini, setelah saya menulis artikel, saya kirimkan ke admin desa untuk dipublikasikan. Namun, kadang terjadi keterlambatan publikasi karena admin sibuk atau lupa.
Untuk mengatasi hal ini, saya mengusulkan agar saya diberikan akses langsung ke website desa Bapak/Ibu. Dengan akses ini, saya bisa langsung mempublikasikan artikel setelah selesai ditulis, sehingga berita bisa segera dibaca masyarakat.
Tentu saya memahami bahwa ini menyangkut kepercayaan. Saya berjanji akan menggunakan akses ini dengan sebaik-baiknya, hanya untuk mempublikasikan artikel, tidak untuk mengubah hal-hal lain di website.
Jika Bapak/Ibu berkenan, saya siap membantu lebih maksimal. Jika tidak, saya tetap akan menulis artikel seperti biasa dan mengirimkannya ke admin desa.
Demikian usulan saya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Arman
Pesan itu ia kirimkan ke sepuluh kepala desa.
Keesokan harinya, satu per satu balasan mulai masuk.
Pak Hasan (Sungai Harapan) adalah yang pertama membalas.
"Waalaikumsalam. Pak Arman, saya setuju. Silakan saya buatkan akses. Ini justru memudahkan. Terima kasih sudah mau membantu lebih."
Pak Suroto (Bukit Lestari) membalas dengan nada santai.
"Wah, Pak Arman, saya malah senang. Berarti Bapak bisa langsung naikkan berita. Rudi itu suka lupa. Saya kasih akses ya."
Pak Rahman (Karya Mandiri) bahkan menelepon langsung.
"Pak Arman, usulan bagus. Saya setuju. Saya akan minta IT desa untuk membuatkan akun khusus untuk Bapak. Nanti aksesnya terbatas, hanya untuk menulis artikel, tidak bisa hapus atau ubah yang lain."
"Wah, terima kasih banyak, Pak. Itu lebih baik."
"Iya, biar aman. Tapi Bapak bisa publish langsung."
Bu Dewi (Mekar Sari) juga setuju, tapi dengan sedikit catatan.
"Pak Arman, saya setuju. Tapi tolong tetap koordinasi dengan admin desa kami ya. Biar mereka juga tahu dan belajar."
"Siap, Bu. Insya Allah."
Dari sepuluh desa, sembilan langsung setuju. Hanya satu desa yang agak ragu, Desa Tani Makmur. Kepala desanya, Pak Karsono, adalah tipe pemimpin yang hati-hati. Ia minta waktu untuk mempertimbangkan.
Dua hari kemudian, Pak Karsono membalas.
"Pak Arman, setelah saya diskusikan dengan perangkat desa, kami setuju memberikan akses. Tapi dengan catatan: setiap artikel yang Bapak tulis, tolong informasikan juga ke admin desa kami. Biar mereka tetap tahu perkembangan."
"Siap, Pak. Insya Allah."
Akhirnya, semua desa setuju. Arman kini memiliki akses langsung ke sepuluh website desa.
Dengan akses baru ini, pekerjaan Arman menjadi lebih efisien.
Setelah selesai menulis artikel, ia bisa langsung mempublikasikannya, tanpa harus menunggu admin desa. Jika ada revisi, ia bisa langsung mengedit. Jika ada foto baru, ia bisa langsung menambahkan.
Tidak ada lagi keterlambatan karena admin lupa atau sibuk.
Namun dengan akses ini, tanggung jawabnya juga bertambah. Ia harus lebih hati-hati. Satu kesalahan bisa berakibat fatal. Satu artikel salah desa, satu foto salah keterangan, satu judul salah tulis—semua akan langsung terpublikasi dan sulit ditarik kembali.
Suatu malam, ketika sedang mempublikasikan artikel untuk Desa Sungai Harapan, Arman hampir saja melakukan kesalahan fatal.
Ia sedang lelah. Sudah menulis 15 artikel hari itu. Matanya mulai kabur. Ketika mempublikasikan artikel untuk Desa Sungai Harapan, tanpa sengaja ia memilih menu untuk Desa Bukit Lestari di tab yang berbeda.
Beruntung, sebelum mengklik tombol "Publikasikan", ia membaca judulnya sekali lagi.
"Pembangunan Jembatan Gantung Sungai Harapan Capai 80 Persen"
Ia mengerutkan dahi. "Jembatan gantung? Sungai Harapan? Bukannya itu desa Bukit Lestari?"
Ia mengecek tab yang terbuka. Ternyata ia sedang di halaman admin website Bukit Lestari, bukan Sungai Harapan.
"Astaghfirullah," desahnya lega. "Hampir saja."
Ia segera mengganti tab, memastikan ia berada di website yang benar, lalu mempublikasikan artikel itu.
Sejak kejadian itu, Arman membuat sistem baru. Setiap kali akan mempublikasikan artikel, ia selalu membaca tiga kali: judul, isi, dan alamat website. Ia juga membuat daftar periksa sederhana:
- Website sudah benar?
- Judul sudah sesuai?
- Isi artikel sudah lengkap?
- Foto sudah terpasang?
- Caption foto sudah benar?
- Tanggal kejadian sudah sesuai?
Daftar periksa itu ia tempel di dinding di samping mejanya. Setiap kali akan publish, ia mengecek satu per satu.
Sari yang melihat daftar itu bertanya, "Mas, itu apa?"
"Daftar periksa, Ni. Biar tidak salah publish."
Sari tersenyum. "Mas ini seperti pilot. Sebelum terbang, checklist dulu."
Arman tertawa. "Iya, supaya tidak jatuh."
"Jatuh bagaimana?"
"Jatuh dari kursi admin. Malu kalau salah publish."
Dengan sistem baru ini, Arman bekerja lebih tenang. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan, kapan harus melakukannya, dan bagaimana cara melakukannya dengan benar.
Sepuluh desa kini memiliki website yang aktif. Setiap minggu, setidaknya dua artikel baru muncul di setiap website. Warga desa bisa membaca perkembangan desanya. Pemerintah kabupaten bisa memantau kegiatan desa. Investor bisa melihat potensi desa.
Dan di balik semua itu, ada seorang pria sederhana dengan laptop tua, dua jari yang setia mengetik, dan secangkir kopi yang selalu menemani.
Arman, Sang Legenda Kontributor Desa, kini benar-benar menjadi jembatan informasi antara desa dan dunia.
Namun perjalanan masih panjang.
Tantangan baru selalu datang.
Dan Arman siap menghadapinya.
BAB VI
KONFLIK DI BALIK WEBSITE
Ketika Tulisan Sederhana Menimbulkan Gelombang Besar
Malam itu langit desa tampak sunyi.
Hanya suara jangkrik dan sesekali angin yang menggoyang daun pisang di samping rumah Arman yang terdengar, menciptakan irama malam yang menenangkan. Bulan sabit menggantung rendah di ufuk barat, menerangi halaman rumah dengan cahaya perak yang temaram. Di kejauhan, sesekali terdengar suara anjing menggonggong, mungkin terganggu oleh kucing liar yang melintas.
Namun di dalam rumah Arman, suasana tidak setenang malam di luar.
Di ruang kerjanya yang sederhana—sebuah meja kayu tua yang kini semakin penuh dengan catatan, laptop yang sudah mulai panas meskipun kipasnya berbunyi seperti helikopter, dan modem internet yang lampunya berkedip-kedip tak menentu—Arman sedang menyelesaikan sebuah artikel.
Bukan artikel biasa.
Artikel ini berbeda.
Judulnya cukup berani untuk ukuran website desa:
"Transparansi Anggaran Desa: Wujud Akuntabilitas kepada Masyarakat"
Arman menatap layar cukup lama setelah mengetik judul itu. Jari-jarinya—dua jari andalannya—terhenti di atas keyboard. Pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan yang bisa terjadi setelah artikel ini terbit.
Artikel ini adalah buah dari kegelisahannya selama beberapa bulan terakhir. Ia sering membaca berita tentang penyalahgunaan Dana Desa di berbagai daerah. Ia juga sering mendengar keluhan warga yang tidak tahu persis kemana uang desa digunakan. Di beberapa desa yang ia layani, ada juga warga yang bertanya-tanya tentang transparansi anggaran.
Sebagai penulis yang setiap hari berkutat dengan berita desa, Arman merasa punya tanggung jawab moral untuk mengangkat isu ini. Bukan untuk menuduh atau menyudutkan siapa pun, tetapi untuk mengedukasi masyarakat tentang hak mereka untuk tahu.
Dalam artikel itu ia menjelaskan secara sederhana tentang:
- Apa itu Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (ADD)
- Bagaimana mekanisme perencanaan dan pelaporan anggaran desa
- Hak masyarakat untuk mengakses informasi anggaran
- Pentingnya transparansi untuk mencegah korupsi
- Contoh-contoh praktik baik transparansi di desa-desa
Bahasanya dibuat sangat hati-hati. Ia tidak menyebut nama desa mana pun. Ia tidak menuduh siapa pun. Ia hanya menjelaskan secara umum, dengan gaya khasnya yang sederhana dan mudah dipahami.
Namun ia tahu, di dunia desa yang penuh dengan sensitivitas, artikel seperti ini bisa dianggap sebagai "batu yang dilempar ke kolam tenang." Gelombangnya bisa kecil, bisa juga besar.
Arman menghela napas panjang.
"Semoga tidak ada yang tersinggung," gumamnya sambil mengusap wajahnya yang lelah.
Ia membaca ulang artikel itu sekali lagi, memastikan tidak ada kata-kata yang bisa disalahtafsirkan. Setelah yakin, ia mengklik tombol Publikasikan.
Artikel itu tayang di website Desa Sido Mukti, desanya sendiri, pada pukul 22.47 malam.
Arman menutup laptop, berdoa semoga semuanya baik-baik saja, lalu pergi tidur.
Ia tidak tahu bahwa saat ia terlelap, badai sedang mulai terbentuk.***
Keesokan harinya, Arman datang ke kantor desa seperti biasa. Pukul 07.30, ia sudah duduk di mejanya, membuka laptop, dan bersiap memulai rutinitas.
Namun pagi itu terasa berbeda.
Beberapa perangkat desa yang biasanya menyapanya dengan ramah, kali ini hanya melirik sekilas. Ada yang berbisik-bisik di sudut ruangan. Suasana kantor terasa canggung, seperti ada yang tidak beres.
Arman mulai curiga. "Selamat pagi, Pak Darso," sapanya kepada Pak Darso yang baru datang dengan cangkir kopi kesayangannya.
Pak Darso, yang biasanya langsung bercanda, kali ini hanya menjawab singkat. "Pagi, Man." Lalu ia duduk di mejanya tanpa banyak bicara.
Arman semakin heran. Ada apa gerangan?
Ia membuka ponselnya. Beberapa pesan WhatsApp sudah masuk.
Pertama, dari Pak Rahmat: "Man, setelah sampai kantor, temui saya di ruangan."
Kedua, dari Bu Lestari: "Pak Arman, artikel tadi malam tentang transparansi, tolong tidak dipublikasikan dulu di website desa lain. Ada yang perlu didiskusikan."
Ketiga, dari nomor tidak dikenal: "Dasar admin kurang ajar! Mau menghancurkan desa kami?"
Arman membaca pesan terakhir itu dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdegup kencang. Tangan yang memegang ponsel sedikit gemetar.
Ada apa ini?
Ia segera berdiri dan menuju ruang kepala desa. Pak Rahmat sudah duduk di kursinya, ditemani Bu Lestari dan Pak Darso. Wajah mereka serius—sangat serius, tidak seperti biasanya.
"Silakan duduk, Man," kata Pak Rahmat.
Arman duduk. Suasana hening beberapa detik.
"Man," Pak Rahmat memulai, "kamu tahu artikel yang kamu tulis tadi malam?"
Arman mengangguk. "Tahu, Pak. Tentang transparansi anggaran desa."
Pak Rahmat menghela napas. "Itu artikel... menimbulkan reaksi."
Arman mengerutkan dahi. "Reaksi? Maksudnya, Pak?"
Bu Lestari mengambil alih. "Pagi-pagi sekali, Pak Camat sudah telepon. Beliau dapat laporan dari beberapa kepala desa yang keberatan dengan artikel itu."
Arman terkejut. "Pak Camat? Kepala desa lain? Tapi saya tidak menyebut desa mana pun, Bu."
"Itu masalahnya, Man. Justru karena tidak menyebut, semua desa merasa disebut. Mereka menganggap artikel itu menuduh semua desa tidak transparan."
Arman membela diri. "Bu, saya sama sekali tidak menuduh. Saya hanya menjelaskan pentingnya transparansi. Itu kan edukasi."
Pak Darso yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Man, kamu ini terlalu polos. Di dunia desa, masalah anggaran itu sensitif. Banyak orang yang tidak suka jika transparansi dibahas."
Arman mulai paham. Ia tidak menyangka tulisannya akan menimbulkan reaksi sebesar ini.
Pak Rahmat melanjutkan. "Selain Pak Camat, saya juga dapat telepon dari beberapa kepala desa. Ada yang protes, ada yang minta penjelasan, ada juga yang marah-marah."
"Siapa saja, Pak?"
"Pak Kades Tani Makmur paling keras. Katanya artikel itu provokatif. Dia minta kita tarik artikel itu dan minta maaf."
Arman terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Pak Darso menepuk bahunya. "Man, ini risiko jadi penulis. Tidak semua orang suka dengan tulisan kita."
"Tapi Pak, saya niatnya baik."
"Orang tidak lihat niat, Man. Mereka lihat dampak. Dan dampak artikel ini, mereka merasa tersinggung."
Percakapan di kantor desa itu baru permulaan.
Sore harinya, ketika Arman pulang ke rumah, ponselnya tidak berhenti berdering.
Pertama, telepon dari Pak Hasan, Kepala Desa Sungai Harapan.
"Pak Arman, selamat sore."
"Selamat sore, Pak Hasan."
"Pak Arman, saya baru baca artikel tentang transparansi itu. Saya ingin tanya, itu untuk desa mana?"
Arman menjelaskan. "Pak, itu artikel umum. Saya tidak menunjuk desa tertentu. Hanya edukasi."
Pak Hasan terdiam sejenak. "Saya paham maksud Bapak. Tapi tolong hati-hati. Di grup kepala desa, artikel itu jadi bahan perbincangan. Ada yang pro, ada yang kontra."
"Yang kontra siapa, Pak?"
"Saya tidak bisa sebut. Tapi mereka menganggap artikel itu menuduh desa-desa tidak transparan."
Arman menghela napas. "Pak Hasan, saya tidak pernah menuduh."
"Saya tahu. Tapi itu persepsi mereka. Mungkin Bapak perlu klarifikasi."
"Baik, Pak. Saya pikirkan."
Kedua, telepon dari Pak Rahman, Kepala Desa Karya Mandiri. Berbeda dengan Pak Hasan yang tenang, Pak Rahman terlihat agak kesal.
"Pak Arman, saya mau tanya. Apa maksud artikel itu?"
Arman menjelaskan lagi dengan sabar. "Pak Rahman, itu artikel edukasi. Saya ingin masyarakat paham tentang transparansi anggaran."
"Tapi kenapa bahasanya seperti menuduh? 'Banyak desa yang tidak transparan', 'Masyarakat berhak tahu', itu kan menyudutkan."
"Pak, itu bukan menuduh. Itu fakta umum. Di banyak berita, sering terjadi kasus korupsi dana desa."
"Tapi desa kami tidak seperti itu, Pak Arman. Anggaran kami transparan, laporan kami rutin. Ketika masyarakat baca artikel itu, mereka jadi curiga."
Arman mulai frustrasi. "Pak Rahman, saya tidak pernah bilang desa Bapak tidak transparan."
"Tapi karena tidak disebut, orang bisa menafsirkan sendiri. Itu masalahnya."
Arman terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Pak Rahman melanjutkan dengan nada lebih lunak. "Pak Arman, saya tahu maksud Bapak baik. Tapi tolong ke depannya, kalau mau tulis hal sensitif, koordinasikan dulu dengan kami. Biar tidak salah paham."
"Baik, Pak. Maaf jika ada yang kurang berkenan."
"Iya, tidak apa-apa. Yang penting kita belajar."
Ketiga, telepon dari Pak Karsono, Kepala Desa Tani Makmur. Ini yang paling berat.
"Pak Arman, saya Karsono dari Tani Makmur."
Arman sudah menduga ini akan datang. "Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Arman, saya terus terang kecewa dengan artikel Bapak."
"Maaf, Pak. Bisa dijelaskan?"
"Artikel itu menimbulkan kegaduhan di desa saya. Warga mulai bertanya-tanya, apa benar desa kami tidak transparan? Padahal kami selalu melaporkan anggaran di papan pengumuman."
"Pak Karsono, saya tidak pernah bilang desa Bapak tidak transparan."
"Tapi karena Bapak tulis 'banyak desa' tanpa menyebut contoh, orang bisa mengira desa kami termasuk yang dimaksud."
Arman mencoba menjelaskan. "Pak, saya menulis itu berdasarkan data umum. Saya tidak menunjuk desa tertentu."
Pak Karsono menghela napas panjang. "Pak Arman, saya menghargai kerja keras Bapak. Tapi tolong, kalau menulis, pikirkan dampaknya. Jangan asal tulis."
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud..."
"Saya tahu Bapak tidak bermaksud buruk. Tapi akibatnya sudah terlanjur. Saya terpaksa minta, artikel itu ditarik dari website desa kami."
Arman terkejut. "Ditarik, Pak?"
"Iya. Saya tidak ingin warga saya resah. Kalau Bapak setuju, saya minta akses login dikembalikan ke admin desa."
Arman terdiam. Ini pukulan berat. Desa Tani Makmur adalah salah satu desa pertama yang percaya padanya. Kini kepercayaan itu goyah.
"Baik, Pak. Kalau itu keputusan Bapak, saya hormati."
"Maaf, Pak Arman. Ini bukan pribadi. Ini demi ketenangan desa."
"Saya paham, Pak. Terima kasih sudah jujur."
Setelah telepon dari Pak Karsono, Arman duduk terpaku di kursinya.
Ponselnya masih terus berdering, tapi ia tidak lagi mengangkat. Ia hanya menatap layar ponsel yang menampilkan puluhan notifikasi pesan.
Sari keluar dari dapur, melihat suaminya yang murung. Ia mendekat, duduk di samping Arman.
"Mas, kenapa?" tanyanya lembut.
Arman tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan ponselnya.
Sari membaca beberapa pesan yang masuk. Wajahnya berubah dari heran menjadi prihatin.
"Mas, ini semua karena artikel kemarin?"
Arman mengangguk lesu. "Iya, Ni. Saya kira artikel itu baik. Ternyata... banyak yang tidak suka."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, ceritakan dari awal."
Arman bercerita. Tentang panggilan Pak Rahmat, tentang telepon dari Pak Hasan, tentang kekecewaan Pak Rahman, dan yang paling berat, tentang keputusan Pak Karsono menarik aksesnya.
Sari mendengarkan dengan saksama. Ketika Arman selesai, ia berkata, "Mas, saya mau tanya."
"Iya?"
"Waktu Mas menulis artikel itu, apa niat Mas?"
"Niat saya baik, Ni. Saya ingin masyarakat paham tentang transparansi. Saya ingin desa-desa lebih terbuka."
"Itu niat baik. Terus, apa yang Mas tulis itu benar atau tidak?"
"Benar. Semua berdasarkan aturan dan fakta."
"Nah, kalau niat baik dan tulisannya benar, kenapa Mas harus sedih?"
Arman terdiam. Istrinya selalu punya cara sederhana untuk melihat masalah.
Sari melanjutkan. "Mas, orang marah bukan karena tulisan Mas salah. Mereka marah karena mereka merasa tersindir. Itu artinya, mungkin hati kecil mereka tahu bahwa mereka kurang transparan."
Arman merenung.
"Tapi, Ni, ada yang minta artikelnya ditarik. Ada yang minta aksesnya dikembalikan."
"Itu hak mereka, Mas. Tapi itu bukan berarti Mas salah. Mungkin ini ujian. Ujian untuk melihat seberapa kuat Mas memegang prinsip."
Arman memeluk istrinya. "Kamu ini selalu bisa menenangkan saya."
Sari tersenyum. "Saya kan istri Mas. Tugas saya menenangkan, bukan menambah masalah."***
Malam itu, Arman tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit kamar, pikirannya berkecamuk. Ribuan pertanyaan berputar di kepalanya:
Apakah saya salah?
Apakah seharusnya saya tidak menulis artikel itu?
Apakah saya akan kehilangan semua desa karena satu artikel?
Apakah yang saya lakukan selama ini sia-sia?
Ia mencoba memejamkan mata, tapi pikiran-pikiran itu terus mengganggu. Jam dinding menunjukkan pukul 02.30 ketika akhirnya ia tertidur, lelah secara fisik dan mental.***
Keesokan harinya, Arman bangun dengan perasaan berat.
Ia malas ke kantor. Malas bertemu orang. Malas membuka ponsel. Tapi ia tahu, ia harus tetap bekerja. Ada sepuluh desa yang menunggu artikelnya.
Dengan langkah gontai, ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah, lalu bersiap ke kantor.
Sesampainya di kantor, suasana masih canggung. Beberapa perangkat desa hanya menyapa sekadarnya. Pak Darso belum datang. Pak Rahmat juga belum terlihat.
Arman duduk di mejanya, membuka laptop, dan mulai bekerja seperti biasa. Ia membuka pesan-pesan yang masuk.
Ada puluhan pesan baru. Ia membaca satu per satu dengan hati-hati.
Beberapa mendukung:
"Pak Arman, jangan menyerah. Artikel Bapak bagus dan perlu." (dari Rudi, Sungai Harapan)
"Pak, saya baca artikel transparansi itu. Menurut saya penting. Teruslah menulis." (dari Lina, admin Mekar Sari)
"Mas Arman, di desa kami, artikel itu malah memicu diskusi positif. Warga mulai bertanya dan kami jelaskan. Ini bagus untuk edukasi." (dari Heru, Karya Mandiri)
Beberapa netral:
"Pak Arman, kami tetap dukung. Tapi mungkin ke depan perlu lebih hati-hati dengan topik sensitif." (dari Bu Dewi, Mekar Sari)
"Artikelnya bagus, tapi timing-nya kurang tepat. Ada beberapa desa yang sedang ada masalah internal." (dari Pak Suroto, Bukit Lestari)
Dan beberapa, tentu saja, masih marah:
"Admin provokatif! Hancurkan nama baik desa!" (dari nomor tidak dikenal)
"Kami akan laporkan ke DPMD! Ini fitnah!" (dari nomor lain)
Arman membaca semua itu dengan perasaan campur aduk. Ada dukungan, ada kritik, ada kemarahan.
Di tengah membaca pesan, ponselnya berdering. Pak Rahmat.
"Man, ke ruangan sebentar."
Arman berjalan menuju ruang kepala desa. Pak Rahmat sudah duduk dengan beberapa dokumen di mejanya. Di sampingnya, Bu Lestari dan Pak Darso.
"Man, duduk."
Arman duduk. Kali ini ia sudah siap dengan kemungkinan terburuk.
"Man, saya sudah bicara dengan Pak Camat," kata Pak Rahmat. "Beliau sudah memahami bahwa artikel itu bersifat umum, tidak menyerang desa tertentu."
Arman merasa sedikit lega. "Alhamdulillah, Pak."
"Tapi, Pak Camat minta kita lebih berhati-hati ke depan. Topik-topik sensitif sebaiknya dikonsultasikan dulu sebelum dipublikasikan."
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Bu Lestari menambahkan. "Pak Arman, ini pelajaran berharga. Menulis itu tidak hanya soal kebenaran, tapi juga soal waktu, cara penyampaian, dan konteks."
Arman mengangguk. "Iya, Bu. Saya belajar banyak dari kejadian ini."
Pak Darso yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. "Man, saya punya nasihat."
"Iya, Pak?"
"Kamu ini seperti tukang masak. Kamu masak makanan bergizi, tapi ada orang yang tidak suka karena pedas, ada yang tidak suka karena terlalu asin. Itu biasa. Yang penting, masakanmu bergizi."
Arman tersenyum. "Jadi saya harus terus masak?"
"Iya. Tapi sesuaikan selera tamu. Kalau tamunya tidak suka pedas, jangan dikasih sambal terlalu banyak."
Semua tertawa. Suasana ruangan yang tegang mulai mencair.
Pak Rahmat menutup pertemuan. "Man, saya tetap dukung kamu. Kejadian ini adalah bagian dari proses belajar. Jangan berkecil hati."
"Terima kasih, Pak."
Setelah pertemuan itu, Arman kembali ke mejanya dengan perasaan sedikit lebih tenang.
Namun masalah belum selesai. Ia masih harus menghadapi satu hal yang paling berat: kehilangan kepercayaan dari Desa Tani Makmur.
Ia menelepon Pak Karsono.
"Assalamualaikum, Pak Karsono."
"Waalaikumsalam, Pak Arman."
"Pak, saya telepon untuk minta maaf secara langsung. Saya tidak bermaksud membuat masalah di desa Bapak."
Pak Karsono di seberang sana terdiam sejenak. "Pak Arman, saya sudah terima maaf Bapak. Tapi keputusan saya tetap: untuk sementara, akses Bapak ke website kami kami tarik."
Arman menghela napas. "Saya mengerti, Pak. Itu hak Bapak."
"Bukan karena saya tidak percaya, Pak Arman. Tapi untuk menenangkan situasi. Warga masih panas. Biarkan reda dulu."
"Berapa lama, Pak?"
"Saya tidak tahu. Mungkin sebulan, mungkin dua bulan. Nanti kalau sudah tenang, saya kabari."
"Baik, Pak. Saya tunggu."
"Pak Arman, satu hal."
"Iya, Pak?"
"Saya tetap mengapresiasi kerja keras Bapak. Artikel-artikel Bapak selama ini sangat membantu desa kami. Ini hanya masalah... timing."
"Terima kasih, Pak. Saya paham."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan lega bercampur sedih. Lega karena Pak Karsono tidak marah total. Sedih karena ia kehilangan satu desa, setidaknya untuk sementara.***
Hari-hari berikutnya, Arman bekerja dengan perasaan yang berbeda.
Ia masih menulis untuk sembilan desa lainnya, tapi dengan lebih berhati-hati. Setiap kali menulis topik yang agak sensitif, ia selalu berpikir ulang. Kadang ia minta pendapat Pak Darso atau Sari sebelum mempublikasikan.
Suatu sore, ketika sedang menulis di rumah, Sari bertanya.
"Mas, kenapa belakangan ini kelihatan kurang semangat?"
Arman menghela napas. "Masih kepikiran kejadian kemarin, Ni."
"Desa Tani Makmur?"
"Iya. Padahal mereka baik-baik saja selama ini. Sekarang akses saya ditarik."
Sari duduk di sampingnya. "Mas, saya mau tanya."
"Apa?"
"Selama ini Mas nulis untuk desa Tani Makmur, ada masalah tidak?"
"Tidak ada. Lancar-lancar saja."
"Berapa lama Mas nulis untuk mereka?"
"Setahun lebih."
"Sudah berapa artikel?"
Arman membuka catatannya. "Sekitar 80 artikel."
Sari mengangguk. "80 artikel selama setahun, tanpa masalah. Sekarang satu artikel menimbulkan masalah, dan akses ditarik."
Arman menatap istrinya, menunggu kelanjutan.
Sari melanjutkan, "Mas, kalau ada orang yang selama setahun memberi kita 80 kebaikan, lalu satu kali melakukan kesalahan, apa kita lupakan semua kebaikannya?"
"Tidak seharusnya."
"Nah, itu. Mas sudah memberi 80 kebaikan untuk desa Tani Makmur. Satu artikel yang kontroversial, itu pun tidak salah secara fakta, hanya timing yang kurang tepat, jangan sampai membuat Mas lupa pada 80 kebaikan itu."
Arman merenung.
"Maksudmu, saya harus tetap bangga dengan apa yang sudah saya lakukan?"
"Iya. Dan jangan biarkan satu kejadian ini menghancurkan semangat Mas. Mas masih punya sembilan desa lain yang percaya. Mas masih punya keluarga yang mendukung. Mas masih punya kemampuan menulis."
Arman tersenyum. "Kamu ini bijak sekali, Ni."
Sari tertawa. "Bukan bijak, Mas. Cuma suka lihat Mas dari jauh. Mas ini kalau sedih, lama banget sembuhnya."
"Iya, saya memang perasa."
"Itu bagus. Tapi jangan terlalu lama. Bangkit lagi. Tulis lagi. Buktikan bahwa Mas tidak takut."
Arman memeluk istrinya. "Terima kasih, Ni. Kamu selalu ada saat saya butuh."***
Keesokan harinya, Arman bangun dengan semangat baru.
Ia memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia akan terus menulis, dengan lebih hati-hati, tapi dengan semangat yang sama.
Ia membuka laptop dan mulai bekerja.
Hari itu, ia menulis artikel untuk Desa Sungai Harapan tentang keberhasilan program ketahanan pangan. Ia menulis dengan gaya yang sama: informatif, jelas, dan mudah dipahami. Tapi kali ini, ia lebih berhati-hati dengan pilihan kata.
Setelah selesai, ia mengirimkan artikel itu ke Rudi untuk dicek. Tidak lama, balasan datang.
"Pak Arman, artikelnya bagus. Terima kasih."
Arman tersenyum. Setidaknya, masih ada yang menghargai tulisannya.
Siang harinya, ia mendapat telepon dari Pak Hasan.
"Pak Arman, selamat siang."
"Selamat siang, Pak Hasan."
"Saya dengar tentang Desa Tani Makmur. Saya turut prihatin."
"Terima kasih, Pak. Ini jadi pelajaran buat saya."
"Pak Arman, saya justru ingin bilang, jangan berkecil hati. Di desa saya, artikel transparansi itu malah disambut baik. Warga jadi lebih paham dan kami jadi lebih giat menjelaskan."
Arman terharu. "Alhamdulillah, Pak. Terima kasih dukungannya."
"Pak Arman, saya percaya sama Bapak. Teruslah menulis. Tapi boleh saya kasih saran?"
"Silakan, Pak."
"Mungkin ke depan, untuk topik-topik sensitif, Bapak bisa konsultasi dulu dengan kepala desa masing-masing. Biar tidak kaget."
"Iya, Pak. Saya sudah belajar dari kejadian ini."
"Bagus. Saya tunggu artikel-artikel berikutnya."***
Minggu-minggu berikutnya, Arman bekerja dengan ritme baru.
Ia masih menulis untuk sembilan desa. Ia juga masih berharap suatu saat Desa Tani Makmur akan kembali mempercayainya. Tapi ia tidak menunggu dengan pasrah. Ia terus bekerja, terus menulis, terus berkarya.
Suatu sore, ketika sedang duduk di warung kopi Pak Jumari, ia bertemu dengan Pak Darso. Mereka duduk bersama, memesan kopi, dan mengobrol santai.
"Man, gimana kabarnya?" tanya Pak Darso.
"Alhamdulillah, Pak. Baik."
"Masih sedih soal Tani Makmur?"
Arman tersenyum. "Sudah tidak, Pak. Saya sudah move on."
"Bagus. Saya kira kamu masih merenung di rumah."
"Sempat, Pak. Tapi istri saya yang membuat saya sadar."
Pak Darso mengangguk. "Sari itu istri sholehah, Man. Jaga baik-baik."
"Iya, Pak. Saya bersyukur punya dia."
Mereka menyeruput kopi masing-masing. Suasana sore itu tenang. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah dari sawah yang baru dibajak.
"Man," kata Pak Darso tiba-tiba.
"Iya, Pak?"
"Saya mau kasih tahu sesuatu."
"Apa, Pak?"
Pak Darso menatap Arman dengan serius—sesuatu yang jarang terjadi. "Kejadian dengan Tani Makmur itu, jangan dianggap sebagai kegagalan."
"Lalu apa, Pak?"
"Itu adalah bukti bahwa tulisanmu berpengaruh. Orang marah karena mereka peduli. Kalau tulisanmu tidak penting, mereka tidak akan peduli."
Arman merenung.
Pak Darso melanjutkan. "Coba bayangkan, kalau kamu nulis artikel receh, nggak penting, apa ada yang marah? Nggak ada. Orang cuek aja. Tapi karena tulisanmu menyentuh hal sensitif, orang bereaksi. Itu artinya, tulisanmu berbobot."
Arman tersenyum. "Pak Darso, baru kali ini saya lihat Bapak serius."
Pak Darso tertawa. "Saya bisa serius kalau perlu. Tapi lebih sering lucu karena hidup ini sudah terlalu serius."
Mereka berdua tertawa.
"Terima kasih, Pak. Nasihat Bapak berarti buat saya."
"Sama-sama, Man. Sekarang, traktir saya kopi lagi."
"Loh, kan baru satu."
"Itu kopi pertama. Sekarang kopi kedua. Namanya traktiran berantai."
Arman tertawa. "Baik, Pak. Saya traktir."***
Malam harinya, ketika sedang menulis di rumah, ponsel Arman berdering.
Nomor tidak dikenal.
Dengan ragu, ia mengangkatnya.
"Halo?"
"Assalamualaikum, Pak Arman?"
"Waalaikumsalam. Iya, benar. Ini dengan siapa?"
"Ini Pak Karsono, dari Tani Makmur."
Arman terkejut. Jantungnya berdegup kencang. "Oh, Pak Karsono. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Arman, saya telepon untuk menyampaikan sesuatu."
"Iya, Pak?"
Pak Karsono terdiam sejenak. Lalu ia berkata, "Pak Arman, saya minta maaf."
Arman bingung. "Minta maaf? Bapak? Untuk apa?"
"Beberapa minggu lalu, saya mungkin terlalu keras. Saya menarik akses Bapak tanpa banyak diskusi. Saya mohon maaf."
Arman terharu. "Pak Karsono, tidak usah minta maaf. Saya yang harus minta maaf. Artikel saya yang membuat masalah."
"Tidak, Pak Arman. Setelah saya pikir-pikir, artikel Bapak itu benar. Warga desa saya jadi lebih kritis, lebih banyak bertanya. Dan ternyata, itu baik."
Arman tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Pak Karsono melanjutkan. "Sekarang, setelah situasi tenang, saya lihat warga lebih paham tentang anggaran desa. Mereka tidak lagi hanya menerima, tapi juga bertanya. Dan kami, pemerintah desa, jadi lebih hati-hati dan transparan."
"Alhamdulillah, Pak. Saya senang mendengarnya."
"Karena itu, Pak Arman, saya ingin menawarkan kembali kerja sama. Apakah Bapak bersedia kembali mengelola website kami?"
Arman hampir tidak percaya. "Bersedia, Pak. Sangat bersedia."
"Terima kasih, Pak Arman. Dan sekali lagi, maaf atas kejadian kemarin."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga belajar banyak."
"Baiklah, besok aksesnya saya kirimkan lagi. Terima kasih, Pak Arman."
"Terima kasih kembali, Pak Karsono."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan haru.
Sari yang sedari tadi mendengarkan dari dapur, keluar dan bertanya. "Mas, itu tadi Pak Karsono?"
Arman mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Iya, Ni. Dia minta maaf. Dan dia minta saya kembali."
Sari tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Mas. Lihat? Mas tidak perlu sedih. Yang benar akan menang pada waktunya."
Arman memeluk istrinya erat-erat. "Terima kasih, Ni. Tanpa kamu, saya mungkin sudah menyerah."
"Mas, saya hanya mengingatkan. Yang berjuang kan Mas sendiri."
Malam itu, Arman menulis catatan di buku hariannya:
*15 Agustus 2021*
Hari ini adalah hari yang luar biasa.
Pak Karsono dari Desa Tani Makmur menelepon. Ia minta maaf dan meminta saya kembali.
Saya tidak menyangka. Saya kira hubungan kami sudah putus selamanya.
Tapi ternyata, waktu menyembuhkan luka. Dan kebenaran, pada akhirnya, akan diakui.
Kejadian ini mengajarkan saya banyak hal:
- Menulis itu bukan sekadar menuangkan kata. Ada tanggung jawab besar di dalamnya.
- Konflik itu tidak selalu buruk. Kadang ia membersihkan, kadang ia menguatkan.
- Orang bisa berubah. Dari marah menjadi paham. Dari menolak menjadi menerima.
- Kesabaran itu penting. Jika saya dulu marah balik, mungkin tidak akan ada rekonsiliasi.
- Dukungan keluarga adalah segalanya. Sari, istriku, adalah malaikat tanpa sayap.
Sekarang, saya kembali memiliki sepuluh desa.
Sepuluh desa yang percaya bahwa saya bisa membantu mereka bercerita kepada dunia.
Dan saya tidak akan mengecewakan mereka.***
Keesokan harinya, akses ke website Desa Tani Makmur kembali aktif.
Arman membuka halaman admin, melihat dashboard yang sudah dua minggu tidak ia sentuh. Semuanya masih sama. Artikel-artikel lama masih terpajang rapi.
Ia mulai menulis artikel pertama setelah "kembali". Judulnya sederhana:
"Desa Tani Makmur Kembali Aktif: Warga Diajak Lebih Peduli Anggaran Desa"
Dalam artikel itu, ia tidak hanya menceritakan kegiatan desa, tapi juga mengajak warga untuk terus aktif mengawasi dan bertanya. Dengan gaya khasnya, ia menulis:
"Transparansi bukan tugas pemerintah desa saja. Masyarakat juga punya peran untuk bertanya, mengawasi, dan memberi masukan. Dengan saling bekerja sama, anggaran desa bisa digunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama."
Ia membaca ulang tulisannya. Kali ini, ia yakin tidak ada yang salah.
Lalu ia mengklik tombol Publikasikan.
Artikel itu tayang.
Dan untuk pertama kalinya setelah dua minggu, website Desa Tani Makmur kembali memiliki berita baru.
BAB VII
STRATEGI PARA KEPALA DESA
Ketika Sepuluh Kepala Desa Duduk Bersama Membahas Masa Depan
Pagi itu udara di Kecamatan terasa segar setelah hujan semalam.
Awan tipis masih menggantung di langit, seperti kapas yang diurai lembut, sementara halaman kantor kecamatan mulai ramai oleh kendaraan para kepala desa yang datang menghadiri rapat koordinasi bulanan. Motor-motor tua berjajar tidak rapi di halaman, bercampur dengan beberapa mobil dinas dan satu-dua mobil pribadi milik kepala desa yang cukup beruntung memiliki kendaraan roda empat.
Di ruang rapat yang cukup luas, meja panjang telah disusun membentuk huruf U—formasi klasik rapat-rapat pemerintahan. Di tengah meja terdapat beberapa teko kopi, puluhan gelas kaca, dan sepiring pisang goreng yang masih hangat, mengeluarkan aroma manis yang menggoda. Di sudut ruangan, sebuah dispenser air minum berdiri tegak, ditemani kotak kardus berisi gelas plastik.
Para kepala desa duduk santai sambil menunggu rapat dimulai. Ada yang membuka map laporan, ada yang sibuk memeriksa ponsel, ada pula yang sudah menyeruput kopi sejak awal, seolah kopi adalah syarat mutlak untuk bisa bertahan dalam rapat yang biasanya berlangsung lama dan membosankan.
Di antara mereka, duduk beberapa kepala desa yang selama ini bekerja sama dengan Arman: Pak Hadi dari Desa Sungai Harapan, Pak Suroto dari Desa Bukit Lestari, Pak Rahman dari Desa Karya Mandiri, Pak Bambang dari Desa Maju Bersama, Bu Dewi dari Desa Mekar Sari, dan Pak Karsono dari Desa Tani Makmur—yang kini kembali akrab dengan Arman setelah insiden beberapa waktu lalu.
Mereka duduk berkelompok di salah satu sisi meja, membentuk kluster informal yang tidak tercantum dalam susunan acara. Di seberang mereka, duduk kepala desa dari kecamatan lain yang juga memiliki agenda masing-masing.
Rapat sebenarnya sudah hampir selesai. Pembahasan tentang program pembangunan, alokasi anggaran, dan evaluasi kegiatan sudah ditutup oleh pihak kecamatan. Camat—seorang pria paruh baya berkacamata dengan perut agak buncit—sudah meninggalkan ruangan setelah memberikan sambutan penutup yang klise: "Mari kita sukseskan program pembangunan demi kesejahteraan masyarakat."
Namun sebelum semua orang pulang, Pak Hadi—yang di antara mereka dianggap paling senior—tiba-tiba membuka pembicaraan baru dengan suara yang cukup keras untuk didengar kelompoknya.
"Bapak-bapak, sebelum pulang, kita ngobrol bentar ya," katanya sambil menyandarkan tubuh di kursi dan melipat tangan di atas perut.
Pak Suroto yang duduk di sampingnya menoleh. "Ngobrol apa, Hadi? Saya sudah kangen sama istri."
Pak Hadi tersenyum. "Sebentar saja. Ini penting."
Pak Rahman ikut penasaran. "Apa sih, Hadi? Misterius amat."
Pak Hadi menatap satu per satu teman-temannya. "Ngomong-ngomong soal website desa... bagaimana perkembangan di desa masing-masing?"
Beberapa kepala desa langsung tertawa kecil. Pak Bambang mengangkat tangan, seperti murid di sekolah.
"Kalau di desa saya, sekarang website sudah mulai ramai pengunjungnya. Bahkan minggu kemarin ada 500 orang lebih yang baca."
Pak Suroto menimpali dengan nada bangga. "Di desa saya juga. Malah ada warga yang protes kalau website telat update."
Bu Dewi ikut bersuara. "Iya, saya juga ngalamin. Warga saya sekarang pada kritis. Kalau ada kegiatan, mereka tanya, 'Bu, ini sudah diupload belum?'"
Semua orang tertawa. Suasana ruangan yang tadinya mulai sepi karena rapat selesai, kini kembali hangat dengan obrolan mereka.
Pak Hadi kemudian berkata dengan nada sedikit misterius. "Bapak-bu, kalian sadar tidak...?"
"Sadar apa?" tanya Pak Rahman.
Pak Hadi tersenyum tipis. "Kita ini sebenarnya sedang menjalankan strategi."
Pak Suroto mengangkat alis, matanya menyipit penuh selidik. "Strategi apa? Saya tidak tahu apa-apa."
Pak Hadi menjawab pelan, seperti orang yang membagikan rahasia negara. "Strategi mendidik admin desa."
Beberapa kepala desa langsung tertawa keras. Pak Rahman bahkan hampir menumpahkan kopi yang baru saja ia seruput.
"Wah... berarti kita ini diam-diam sedang jadi guru?" tanya Pak Bambang sambil menyeka tisu di bajunya yang terkena percikan kopi.
Pak Hadi mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Guru yang tidak terlihat. Guru yang muridnya tidak tahu kalau sedang diajar."
Bu Dewi menggeleng-geleng. "Hadi ini, kalau ngomong selalu filosofis."
Pak Hadi mengangkat bahu. "Bukan filosofis. Cuma ngamati."
Pak Suroto kemudian berkata sambil menepuk meja pelan, mengeluarkan suara dug yang cukup keras. "Makanya kita menggunakan Arman."
Semua kepala desa mengangguk setuju.
Pak Rahman, yang paling vokal di antara mereka, menjelaskan dengan nada sedikit berguru. "Kalau kita hanya menyuruh admin desa menulis, mereka sering bingung mulai dari mana. Apalagi yang muda-muda, pada sibuk main game."
Pak Bambang menambahkan. "Betul. Admin saya itu anak muda, umur 23 tahun. Katanya bisa komputer, tapi kalau disuruh nulis, cuma bisa nulis caption Instagram."
Bu Dewi tertawa. "Sama. Admin saya juga gitu. Dulu waktu saya suruh bikin berita desa, dia tanya, 'Bu, ini pakai hastag apa?'"
Semua tertawa lagi. Cerita-cerita lucu tentang admin desa selalu bisa mencairkan suasana.
Pak Hadi, yang memulai diskusi ini, kembali bicara dengan nada lebih serius. "Karena itulah kita menggunakan kontributor luar. Arman."
Pak Suroto, yang duduk di sampingnya, menimpali. "Biar admin desa kita belajar sambil melihat."
Pak Karsono, yang sejak tadi diam—mungkin masih malu dengan insiden sebelumnya—akhirnya buka suara. "Saya setuju. Di desa saya, admin yang dulu sempat saya tarik aksesnya karena saya marah, sekarang malah jadi lebih rajin belajar."
Pak Hadi menatap Pak Karsono dengan rasa ingin tahu. "Ceritakan, Karsono. Biar kami tahu."
Pak Karsono menghela napas, lalu mulai bercerita. "Dulu, waktu saya tarik akses Arman, admin desa saya, namanya Budi, disuruh nulis sendiri. Awalnya dia panik. Katanya, 'Pak, saya tidak bisa nulis kayak Pak Arman.'"
Bu Dewi menyela. "Lalu?"
Pak Karsono melanjutkan. "Saya bilang, 'Kamu belajar dari artikel-artikel Arman yang sudah ada. Tiru gayanya, tapi jangan plagiat.'"
"Terus?"
"Sekarang, Budi sudah bisa nulis sendiri. Memang belum sebagus Arman, tapi sudah lumayan. Dia juga lebih percaya diri."
Pak Hadi mengangguk puas. "Nah, itu dia. Itulah yang saya maksud. Arman tidak hanya menulis untuk kita, tapi juga secara tidak langsung mengajari admin kita."
Pak Rahman menambahkan. "Jadi, uang yang kita bayar ke Arman itu bukan cuma untuk artikel, tapi juga untuk biaya kursus tidak langsung buat admin kita."
Semua tertawa lagi.
Setelah tawa mereda, Pak Suroto berbicara dengan nada lebih serius. "Bapak-bapak, sekarang zaman sudah berubah."
Ia melanjutkan sambil menatap semua orang di ruangan itu, matanya berbinar-binar seperti pendakwah yang baru menemukan ayat inspiratif. "Desa tidak bisa lagi hanya mengandalkan papan pengumuman di kantor desa."
Pak Rahman mengangguk dengan mantap. "Betul. Sekarang masyarakat mencari informasi dari internet. Anak muda lihat YouTube, ibu-ibu lihat Facebook, bapak-bapak lihat WhatsApp. Kalau desa tidak ada di situ, kita ketinggalan."
Pak Bambang menambahkan. "Bahkan warga saya lebih cepat tahu berita desa dari Google daripada dari kantor desa. Kadang mereka baca di website, baru nanya ke saya, 'Pak, ini bener ya desa kita dapat bantuan?'"
Semua tertawa lagi, tapi kali ini tawanya lebih pendek, karena mereka tahu ini masalah serius.
Pak Hadi lalu berkata dengan nada filosofis. "Website desa itu seperti jendela."
"Jendela?" tanya Pak Rahman, pura-pura tidak paham padahal sudah sering mendengar analogi ini.
Pak Hadi menjelaskan dengan penuh kesabaran. "Iya, jendela. Melalui website, orang luar bisa melihat bagaimana desa kita bekerja. Investor, dinas, masyarakat umum, semuanya bisa lihat."
Pak Suroto menambahkan. "Kalau website kosong, orang mengira desa kita tidak punya kegiatan."
Pak Bambang langsung menyahut dengan nada bercanda. "Padahal kegiatan banyak, hanya malas menulis."
Semua tertawa lagi. Ini adalah lelucon lama yang selalu muncul setiap kali mereka membahas website desa.
Bu Dewi, yang sejak tadi hanya tersenyum, akhirnya bicara. "Bapak-bapak, saya mau tanya serius."
Mereka semua menatapnya.
"Menurut Bapak-bapak, apa yang membuat website desa kita bisa bertahan? Padahal banyak desa lain yang websitenya mati."
Pak Hadi berpikir sejenak. "Menurut saya, ada tiga faktor."
"Apa saja?" tanya Bu Dewi.
Pak Hadi menjawab dengan nada seperti dosen. "Pertama, komitmen kepala desa. Kalau kepala desanya tidak peduli, website pasti mati."
Semua mengangguk.
"Kedua, konten yang berkualitas. Ini peran Arman. Dia yang membuat orang mau baca."
Pak Karsono menimpali. "Ketiga, keterlibatan admin desa. Mereka harus belajar, tidak bisa selamanya bergantung ke Arman."
Pak Hadi mengangguk setuju. "Tepat. Jadi kita harus menjaga keseimbangan. Gunakan Arman untuk mengisi konten dan mendidik admin. Tapi pastikan admin juga berkembang."
Pak Rahman kemudian berkata dengan nada lebih serius. "Selain itu, website juga penting untuk transparansi."
Pak Suroto mengangguk. "Ya. Sekarang masyarakat semakin kritis. Mereka tidak bisa dibohongi."
Pak Hadi menambahkan. "Kalau kita terbuka sejak awal, masyarakat justru akan percaya. Mereka tidak akan curiga."
Pak Bambang lalu berkata dengan nada sedikit humor. "Kalau tidak transparan, nanti yang transparan malah rumor."
Semua tertawa lagi. Pak Bambang memang terkenal dengan guyonan-guyonan segar yang selalu pas waktunya.
Pak Rahman melanjutkan. "Makanya saya tidak pernah takut kalau kegiatan desa dipublikasikan. Biar semua orang tahu."
Pak Suroto menatapnya sambil tersenyum. "Selama kegiatan kita benar, kenapa harus takut?"
Pak Rahman menjawab santai. "Kalau takut, berarti ada yang disembunyikan."
Ruangan kembali dipenuhi tawa. Ini adalah kebenaran yang dikemas dalam canda.
Bu Dewi, yang biasanya lebih serius dari yang lain, ikut berkomentar. "Di desa saya, dulu ada isu macam-macam soal anggaran. Setelah saya rutin publikasikan laporan di website, isu itu hilang dengan sendirinya."
Pak Hadi mengangguk. "Nah, itu bukti. Transparansi itu obat paling ampuh untuk isu negatif."
Di tengah percakapan yang serius itu, Pak Bambang tiba-tiba berkata dengan nada penuh keheranan. "Ngomong-ngomong soal Arman..."
Semua kepala desa langsung menoleh, seperti burung yang serempak memutar kepala.
Pak Bambang melanjutkan. "Saya kira dia punya kantor besar."
Pak Hadi tertawa, sudah pernah mendengar ini. "Saya juga dulu mengira begitu."
Pak Rahman menambahkan. "Saya bahkan pernah bertanya, 'Timnya berapa orang?'"
"Lalu dia jawab apa?" tanya Pak Suroto yang belum pernah mendengar cerita ini.
Pak Rahman tertawa keras, mengingat kejadian itu. "Dia bilang... timnya satu orang."
Semua kepala desa langsung tertawa. Pak Bambang bahkan menepuk meja.
"Satu orang mengurus sepuluh desa!" seru Pak Bambang.
Pak Karsono ikut heran. "Satu orang? Dengan laptop apa?"
Pak Rahman menjawab. "Laptop tua. Katanya kipasnya bunyi kayak helikopter."
Semua tertawa lagi. Bayangan Arman dengan laptop berisiknya membuat mereka terhibur.
Pak Hadi menggeleng sambil tersenyum. "Anak itu memang luar biasa. Kerjanya dari rumah, pakai laptop seadanya, tapi hasilnya bagus."
Bu Dewi menambahkan. "Saya pernah lihat videonya waktu ngetik. Dia pakai dua jari."
"Serius?" tanya Pak Karsono.
"Iya. Jari telunjuk kiri sama kanan. Tapi hasil tulisannya rapi."
Pak Hadi menghela napas. "Itulah yang membuat saya segan sama dia. Bukan kemampuan teknisnya, tapi semangatnya."
Pak Rahman mengangguk setuju. "Betul. Dia tidak pernah mengeluh. Padahal kita semua tahu, ngurus sepuluh desa itu berat."
Setelah obrolan tentang Arman mereda, Pak Hadi kembali ke topik utama.
"Bapak-bapak, kita harus pikirkan masa depan. Nanti suatu saat, admin desa harus bisa mengelola website sendiri."
Pak Suroto mengangguk serius. "Benar. Arman hanya membantu memulai. Tapi jangan sampai kita bergantung terus."
Pak Rahman menambahkan. "Yang penting sekarang budaya menulis sudah mulai tumbuh. Admin desa kita mulai terbiasa."
Pak Bambang berkata dengan nada optimis. "Kalau setiap desa punya website aktif, informasi pembangunan akan lebih terbuka."
Pak Hadi menatap semua orang di ruangan itu. "Dan masyarakat akan tahu bahwa desa bekerja. Bekerja untuk mereka."
Semua kepala desa mengangguk, setuju dengan pernyataan itu.
Bu Dewi, yang biasanya pendiam, tiba-tiba mengusulkan. "Bagaimana kalau kita buat semacam pelatihan untuk admin desa?"
Pak Hadi menatapnya dengan rasa tertarik. "Maksudnya?"
"Kita kumpulkan semua admin desa, lalu undang Arman jadi pelatih. Diajarin cara nulis berita yang baik."
Pak Suroto langsung setuju. "Ide bagus. Biar mereka belajar langsung dari ahlinya."
Pak Rahman menambahkan. "Dan kita bisa bareng-bareng, biayanya ditanggung bersama."
Pak Karsono mengangkat tangan. "Saya setuju. Ini penting untuk keberlanjutan."
Pak Hadi berpikir sejenak. "Tapi apa Arman mau? Dia kan orangnya pemalu."
Pak Bambang tertawa. "Itu tugas kita. Kita harus yakinkan dia."
Bu Dewi tersenyum. "Saya yakin dia mau. Arman itu orangnya baik. Pasti mau berbagi."
Pak Hadi mengambil keputusan. "Baiklah. Nanti setelah ini, kita hubungi Arman. Tawarkan ide ini. Kalau dia setuju, kita rencanakan lebih lanjut."
Rapat sebenarnya sudah selesai sejak lama. Para kepala desa dari kelompok lain sudah lama pulang. Ruangan kini hanya berisi mereka berenam, plus beberapa staf kecamatan yang sibuk membereskan kursi.
Tapi mereka masih duduk santai sambil menikmati kopi yang sudah dingin dan pisang goreng yang tinggal remah-remah.
Sebelum pulang, Pak Hadi berkata sambil tersenyum lebar. "Bapak-bapak... jangan lupa kirim data kegiatan ke Arman."
Pak Rahman langsung tertawa. "Kalau tidak, besok Arman yang menelepon kita."
Pak Bambang menambahkan. "Dia lebih rajin daripada admin desa kita. Kadang saya lupa kirim data, dia yang nanyain."
Semua orang tertawa keras. Suasana hangat itu terasa seperti keluarga, bukan sekadar kolega kerja.
Pak Hadi berdiri, merapikan kemejanya. "Baiklah, saya pamit dulu. Istri sudah menunggu."
Pak Suroto ikut berdiri. "Saya juga. Nanti kalau ada perkembangan tentang pelatihan, kabari ya."
Pak Hadi mengangguk. "Pasti. Kita koordinasikan lewat grup."
Mereka beranjak satu per satu, meninggalkan ruangan dengan perasaan puas. Bukan puas karena rapat selesai, tapi puas karena mereka telah membicarakan sesuatu yang penting untuk masa depan desa mereka.***
Malam harinya, Pak Hadi menelepon Arman.
"Assalamualaikum, Pak Arman. Selamat malam."
"Waalaikumsalam, Pak Hadi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Arman, saya mau tanya. Apa Bapak punya waktu dalam waktu dekat?"
Arman di seberang sana terdengar ragu. "Waktu untuk apa, Pak?"
Pak Hadi menjelaskan. "Kami, para kepala desa, ingin mengadakan pelatihan untuk admin desa. Dan kami ingin Bapak jadi pelatihnya."
Arman terdiam cukup lama. Pak Hadi bisa mendengar napasnya yang sedikit tersengal.
"Pak Hadi... saya jadi pelatih?"
"Iya. Siapa lagi kalau bukan Bapak?"
"Tapi Pak, saya tidak punya pengalaman ngajar."
Pak Hadi tersenyum, meskipun Arman tidak bisa melihatnya. "Pak Arman, Bapak sudah mengajar tanpa sadar. Selama ini, admin desa kami belajar dari tulisan Bapak. Sekarang waktunya belajar langsung."
Arman masih ragu. "Saya takut tidak bisa, Pak."
"Tidak apa-apa. Nanti kita siapkan bersama. Yang penting Bapak mau berbagi pengalaman."
Arman berpikir sejenak. "Boleh saya pikir dulu, Pak?"
"Tentu. Tapi tolong jangan lama-lama. Admin desa kami sudah tidak sabar."
"Baik, Pak. Terima kasih tawarannya."
Setelah telepon itu, Arman duduk merenung.
Sari yang sejak tadi mendengarkan dari samping, bertanya. "Mas, ditawarin jadi pelatih?"
Arman mengangguk lesu. "Iya, Ni. Tapi saya takut."
"Takut apa?"
"Takut tidak bisa. Saya ini cuma lulusan SMA, ngomong depan orang banyak aja grogi."
Sari tersenyum. "Mas, ingat waktu pertama kali jadi admin website?"
Arman mengingat-ingat. "Iya."
"Waktu itu Mas takut juga kan?"
"Iya."
"Sekarang? Mas sudah mengelola sepuluh desa."
Arman menghela napas. "Iya, tapi itu beda."
"Tidak beda, Mas. Semua butuh keberanian. Dan Mas sudah punya modal: pengalaman."
Arman menatap istrinya. "Kamu yakin saya bisa?"
Sari mengangguk mantap. "Saya yakin. Dan saya akan selalu dukung Mas."
Arman tersenyum. "Terima kasih, Ni."
Malam itu, Arman mengambil keputusan. Ia akan menerima tawaran menjadi pelatih.
Ia akan berbagi pengalaman.
Ia akan menjadi guru, meskipun ia sendiri masih merasa sebagai murid yang terus belajar.
BAB VIII
SANG LEGENDA KONTRIBUTOR
Ketika Sebutan Itu Muncul dari Mereka yang Pernah Belajar
Tiga bulan telah berlalu sejak pertemuan para kepala desa di kantor kecamatan.
Tiga bulan sejak Pak Hadi menelepon Arman dan menawarinya menjadi pelatih.
Tiga bulan yang penuh dengan persiapan, kegugupan, dan akhirnya—keberhasilan.
Malam itu, rumah Arman kembali menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang seorang pria sederhana yang tidak pernah menyangka akan sampai di titik ini.
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 23.47. Sebagian besar warga desa telah tertidur lelap. Jalan kampung sepi, hanya suara jangkrik yang terdengar bersahutan dari semak-semak di belakang rumah, ditemani sesekali suara burung malam yang terbang rendah mencari mangsa.
Namun di dalam rumah sederhana itu, Arman masih duduk di depan laptop.
Layar komputer memancarkan cahaya kebiruan yang memantul di wajahnya yang mulai lelah. Kantung mata hitam menghiasi bagian bawah matanya—tanda bahwa ia sudah berhari-hari kurang tidur. Rambutnya sedikit berantakan, tidak sesisir biasanya. Kemeja yang ia kenakan sejak pagi masih melekat di tubuhnya, kusut di beberapa bagian.
Di meja kayu tua itu berserakan beberapa catatan, secarik kertas berisi jadwal pelatihan, sebuah buku tentang teknik menulis berita yang baru ia beli secara online, secangkir kopi yang sudah dingin sejak dua jam lalu, dan ponsel yang sejak sore tidak berhenti berbunyi.
Pesan WhatsApp terus berdatangan.
Dari sepuluh desa yang berbeda.
Dari para admin desa yang kini mulai aktif bertanya.
Dari para kepala desa yang terus memberi semangat.
Asal Mula Sebutan "Legenda"
Semua itu berawal dari sebuah pelatihan sederhana.
Dua minggu setelah Pak Hadi menelepon, pelatihan admin desa akhirnya terlaksana. Bertempat di Aula Kecamatan yang cukup besar, acara itu dihadiri oleh 25 peserta—admin website dari sepuluh desa mitra Arman, plus beberapa desa lain yang mendengar kabar dan meminta izin untuk ikut.
Arman berdiri di depan ruangan dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdebar kencang, hampir seperti mau melompat keluar dari dada. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Ia memandangi wajah-wajah muda di hadapannya—rata-rata berusia 20-30 tahun, lebih muda darinya—yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Pak Hadi membuka acara dengan sambutan singkat.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, khususnya para admin website desa. Hari ini kita akan belajar dari seorang yang luar biasa. Beliau adalah orang yang selama ini menulis artikel di website desa kita. Beliau adalah Arman, dari Desa Sido Mukti."
Beberapa peserta bertepuk tangan. Arman tersenyum canggung.
Pak Hadi melanjutkan. "Saya ingin bercerita sedikit. Dulu, website desa kami kosong melompong. Tidak ada berita, tidak ada kegiatan, tidak ada apa-apa. Lalu saya kenal Pak Arman. Dengan kemampuan sederhana, beliau mulai menulis untuk desa kami. Kini, website kami penuh dengan berita. Dan yang lebih penting, Pak Arman tidak hanya menulis, tapi juga secara tidak langsung mengajari admin kami."
Arman menunduk malu. Pujian seperti ini selalu membuatnya tidak nyaman.
"Karena itu, saya minta kepada Bapak Arman, sudilah kiranya berbagi pengalaman dengan para admin desa kita. Silakan, Pak Arman."
Arman berjalan ke depan, berdiri di samping podium sederhana. Ia membuka laptopnya, menyambungkannya ke proyektor, lalu mulai berbicara dengan suara yang agak bergetar.
"Assalamualaikum... selamat pagi semuanya."
"Waalaikumsalam," jawab para peserta kompak.
Arman menarik napas dalam-dalam. "Saya mau jujur dari awal. Saya ini bukan siapa-siapa. Saya cuma lulusan SMA. Saya tidak pernah sekolah jurnalistik. Saya bahkan tidak bisa mengetik dengan cepat."
Beberapa peserta tersenyum, ada yang saling berpandangan.
"Yang bisa saya lakukan hanya satu: mengetik di Microsoft Word. Itu pun pakai dua jari."
Arman menunjukkan tangannya, menggerakkan dua jari telunjuk seperti sedang mengetik. Peserta tertawa.
"Tapi dari situlah semuanya dimulai. Saya belajar dari nol. Saya membaca artikel orang lain. Saya belajar dari kesalahan. Saya terus menulis, meskipun awalnya jelek."
Seorang peserta, perempuan muda berjilbab, mengangkat tangan. "Pak Arman, berapa lama Bapak belajar sampai bisa menulis seperti sekarang?"
Arman berpikir sejenak. "Saya masih belajar sampai sekarang. Setiap artikel adalah proses belajar. Tapi kalau ditanya kapan mulai bisa... mungkin setelah setahun menulis rutin."
"Setahun?" seru beberapa peserta.
Arman mengangguk. "Iya. Setahun. Selama setahun itu, saya menulis hampir setiap hari. Kadang bagus, kadang jelek, kadang banyak yang baca, kadang sepi. Tapi saya tidak berhenti."
Pak Hadi dari kursi paling depan ikut berkomentar. "Itulah kuncinya, teman-teman. Konsistensi."
Pelatihan itu berlangsung selama tiga jam. Arman mengajarkan dasar-dasar menulis berita: 5W+1H, cara membuat judul yang menarik, cara memilih foto yang bagus, cara menyusun paragraf yang enak dibaca.
Sesi tanya jawab berlangsung meriah. Para admin desa bertanya macam-macam:
- "Pak, kalau bingung mulai nulis dari mana?"
- "Pak, foto yang bagus itu yang seperti apa?"
- "Pak, bagaimana cara biar artikelnya banyak yang baca?"
- "Pak, kalau kepala desa minta nulis berita yang tidak benar, gimana?"
Arman menjawab satu per satu dengan sabar, dengan gaya khasnya yang sederhana dan jujur.
Di akhir sesi, seorang peserta, pemuda bernama Riko dari Desa Bukit Lestari, berdiri dan berkata dengan suara lantang.
"Pak Arman, saya mau bilang sesuatu."
Arman menatapnya, agak tegang. "Silakan."
Riko tersenyum lebar. "Pak Arman, Bapak ini legenda."
Ruangan langsung riuh. Beberapa peserta bertepuk tangan, yang lain bersorak.
"Legenda kontributor website desa!" teriak yang lain.
Arman tersipu malu. "Waduh, jangan begitu. Saya biasa saja."
Tapi para peserta tidak peduli. Mereka terus bersorak, meneriakkan "Legenda! Legenda! Legenda!"
Sejak saat itu, sebutan "Sang Legenda Kontributor Desa" melekat pada diri Arman.
Sejak pelatihan itu, nama Arman mulai dikenal lebih luas.
Bukan hanya di kalangan sepuluh desa mitranya, tetapi juga di desa-desa lain yang adminnya ikut pelatihan. Mereka pulang ke desa masing-masing dengan semangat baru, dan mereka selalu menyebut-nyebut nama Arman sebagai inspirasi.
Artikel-artikel yang ditulis Arman semakin banyak dibaca orang.
Berita tentang:
- musyawarah desa
- pembangunan jalan desa
- penyaluran Dana Desa
- penggunaan Alokasi Dana Desa
- kegiatan posyandu
- pelatihan kelompok tani
- hingga kisah-kisah inspiratif warga desa
menjadi bahan bacaan banyak orang.
Tidak hanya warga desa, tetapi juga:
- perangkat desa dari daerah lain
- pendamping desa dari kabupaten
- mahasiswa yang melakukan penelitian
- akademisi yang tertarik dengan isu-isu desa
- bahkan beberapa pejabat di dinas pemberdayaan masyarakat.
Suatu hari, Arman menerima telepon dari seorang dosen di sebuah universitas ternama di Kalimantan.
"Selamat pagi, Pak Arman. Saya Dr. Supriyadi dari Universitas Mulawarman. Saya dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik."
Arman yang menerima telepon itu hampir salah tingkah. "I-iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya membaca artikel Bapak tentang partisipasi masyarakat dalam musyawarah desa. Sangat menarik. Analisis Bapak cukup tajam."
Arman tersenyum gugup. "Terima kasih, Pak. Itu hanya tulisan sederhana."
"Tidak, tidak. Saya serius. Saya ingin mengundang Bapak menjadi pembicara dalam seminar nasional kami bulan depan."
Arman terkejut. "Seminar nasional? Saya?"
"Iya. Temanya 'Digitalisasi Desa dan Partisipasi Masyarakat'. Saya rasa pengalaman Bapak sangat relevan."
Arman terdiam cukup lama. Pikirannya berkecamuk. Seminar nasional? Berbicara di depan dosen-dosen dan mahasiswa? Ia, lulusan SMA?
"Pak... saya hanya lulusan SMA," katanya jujur.
Dr. Supriyadi tertawa di seberang sana. "Pak Arman, ijazah tidak menentukan segalanya. Pengalaman Bapak lebih berharga dari sekadar gelar. Bapak praktisi langsung, bukan teoritisi. Itu yang kami butuhkan."
Arman masih ragu. "Boleh saya pikir dulu, Pak?"
"Tentu. Tapi tolong jangan terlalu lama. Acaranya sudah dekat."
Setelah telepon itu, Arman menceritakan semuanya kepada Sari.
Sari yang sedang menyiapkan makan malam, berhenti sejenak dan menatap suaminya dengan bangga.
"Mas, ini luar biasa."
"Luar biasa atau menakutkan?"
"Dua-duanya. Tapi lebih banyak luar biasanya."
Arman menghela napas. "Saya takut tidak bisa, Ni. Seminar nasional, isinya orang-orang pintar."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, ingat waktu pelatihan admin desa dulu? Mas juga takut. Tapi ternyata bisa."
"Iya, tapi itu beda."
"Tidak beda, Mas. Sama-sama bicara di depan orang. Hanya skalanya yang lebih besar."
Arman merenung.
Sari melanjutkan. "Mas, ini kesempatan. Mas bisa berbagi pengalaman dengan lebih banyak orang. Mungkin ada yang terinspirasi seperti Mas dulu."
Arman tersenyum. "Kamu ini selalu bisa membesarkan hati saya."
"Itu tugas istri, Mas."
Malam itu, Arman mengambil keputusan. Ia akan menerima undangan seminar nasional.***
Di balik semua kesibukan dan popularitas yang mulai datang, ada perubahan besar yang mulai dirasakan keluarganya.
Suatu malam, ketika Arman sedang asyik menulis, Sari masuk ke ruang kerja kecil di sudut rumah dengan membawa secangkir teh hangat.
"Mas, masih menulis?"
Arman mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Iya, Ni. Ini berita pembangunan jembatan Desa Harapan Jaya."
Sari meletakkan teh di samping laptop. Ia duduk di kursi kecil di sebelah Arman.
"Mas, saya mau ngomong."
Arman menoleh. "Ada apa, Ni?"
Sari tersenyum. "Mas tahu, uang yang dari desa-desa itu kemarin sudah masuk lagi."
"Oh iya? Berapa?"
"Lumayan. Bulan ini lebih besar dari biasanya."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah."
Sari memandangi suaminya dengan penuh rasa sayang. "Mas, dulu kita susah banget. Mas ingat? Waktu anak pertama mau masuk SD, kita bingung cari uang untuk beli seragam."
Arman mengangguk, matanya sedikit berkaca-kaca. "Iya, saya ingat."
"Sekarang, alhamdulillah, semuanya tercukupi. Anak bisa sekolah, rumah bisa diperbaiki sedikit-sedikit, kita bisa makan enak setiap hari."
Arman meraih tangan istrinya. "Itu semua berkat kamu juga, Ni. Kamu yang selalu mendukung saya."
Sari menggeleng. "Bukan, Mas. Itu berkat kerja keras Mas. Saya cuma di belakang, masak, nyuci, jaga anak."
"Tanpa kamu di belakang, saya tidak akan bisa maju."
Mereka berdua diam sejenak, menikmati kebersamaan di tengah malam yang sunyi.
Sari kemudian berkata, "Mas, saya bangga sama Mas."
"Bangga kenapa?"
"Mas tidak berubah. Mas tetap Arman yang sederhana, meskipun sekarang sudah dikenal orang."
Arman tersenyum. "Saya memang tidak berubah, Ni. Saya tetaplah Arman yang hanya bisa ngetik dua jari."
"Itu yang membuat saya bangga."
Namun di balik keberhasilan itu, ada sesuatu yang perlahan mulai terasa berat.
Rutinitas Arman semakin padat.
Setiap hari, ia harus menulis berita dari sepuluh desa.
Pagi hari, pukul 05.30, ia sudah bangun. Setelah shalat Subuh, ia langsung membuka ponsel, membaca pesan-pesan yang masuk semalam. Biasanya sudah ada 10-15 pesan menunggu.
Pukul 06.30, ia mulai menulis artikel pertama. Biasanya untuk desa yang paling pagi mengirim data.
Pukul 07.30, ia mandi, sarapan, lalu berangkat ke kantor desa.
Pukul 08.00-12.00, ia bekerja di kantor desa Sido Mukti. Di sela-sela pekerjaan, ia menyempatkan membuka laptop dan melanjutkan menulis jika ada waktu luang.
Pukul 12.00-13.00, istirahat, shalat Dzuhur, makan siang. Kadang sambil makan, ia masih membaca pesan.
Pukul 13.00-16.00, kembali bekerja di kantor. Setelah jam kantor selesai, ia biasanya masih bertahan 1-2 jam untuk menyelesaikan artikel.
Pukul 16.00, pulang, shalat Ashar, istirahat sejenak.
Pukul 17.00-19.00, waktu untuk keluarga. Bermain dengan anak, ngobrol dengan Sari, membantu pekerjaan rumah.
Pukul 19.00-20.00, shalat Maghrib dan Isya, makan malam.
Pukul 20.00-23.00, waktu utama menulis artikel. Ini adalah jam-jam paling produktif. Biasanya ia bisa menyelesaikan 3-5 artikel dalam rentang waktu ini.
Pukul 23.00-00.00, menyelesaikan artikel yang belum selesai, membalas pesan, merencanakan jadwal besok.
Pukul 00.00, tidur (jika tidak ada keperluan mendesak).
Rutinitas ini ia jalani hampir setiap hari, tujuh hari seminggu, tanpa libur.
Suatu malam, ketika sedang menulis, Arman tiba-tiba merasakan pusing yang luar biasa. Pandangannya berkunang-kunang. Ia memegangi kepalanya, mencoba menenangkan diri.
Sari yang kebetulan lewat melihat kejadian itu. "Mas, kenapa? Kok pucat?"
Arman menggeleng lemah. "Pusing, Ni. Tiba-tiba."
Sari segera mengambil air minum. "Minum dulu, Mas. Istirahat."
Arman minum, lalu merebahkan diri di kursi. Matanya terpejam.
Sari memijat pelipis suaminya dengan lembut. "Mas, kamu terlalu capek. Setiap hari nulis terus, begadang terus."
Arman membuka matanya. "Tidak apa-apa, Ni. Ini tanggung jawab."
"Tanggung jawab boleh, tapi kesehatan nomor satu. Kalau Mas sakit, sepuluh desa itu bagaimana?"
Arman tersenyum lemah. "Kamu benar."
"Mas, tolong kurangi sedikit. Mungkin nggak usah nulis sampai tengah malam setiap hari."
Arman menghela napas. "Tapi kalau tidak selesai malam, besok numpuk."
"Ya diatur. Yang penting Mas istirahat cukup."
Arman memegang tangan istrinya. "Baik, Ni. Saya usahakan."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Arman tidur sebelum pukul 22.00.
Seiring dengan popularitas yang meningkat, tuntutan terhadap Arman juga semakin tinggi.
Setiap desa ingin websitenya selalu update.
Setiap kepala desa ingin desanya terlihat aktif.
Setiap admin desa ingin artikelnya segera tayang.
Jika dua hari saja tidak ada berita baru di suatu desa, pesan akan datang.
"Pak Arman, website kami kok sepi?"
"Pak Arman, tolong segera update."
"Pak Arman, ada kegiatan baru hari ini."
"Pak Arman, artikel kemarin sudah dibaca berapa orang?"
Arman hanya bisa tersenyum setiap kali membaca pesan-pesan itu. Kadang ia bercanda pada dirinya sendiri.
"Sepertinya saya sudah jadi wartawan desa keliling... hanya saja kelilingnya lewat laptop."
Suatu hari, ia menerima telepon dari Pak Suroto, Kepala Desa Bukit Lestari.
"Pak Arman, selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak Suroto. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Arman, saya mau minta tolong. Minggu depan desa kami kedatangan tim verifikasi lomba desa. Tolong website kami dibuat ramai seminggu ini."
Arman mengerutkan dahi. "Ramai bagaimana, Pak?"
"Ya, artikelnya banyak. Setiap hari minimal satu. Biar kelihatan desa kami aktif."
Arman menghela napas dalam hati. Tuntutan seperti ini semakin sering ia terima.
"Baik, Pak. Saya usahakan."
"Terima kasih, Pak Arman. Saya percaya sama Bapak."
Telepon ditutup. Arman menatap laptopnya dengan perasaan campur aduk. Ia senang dipercaya, tapi juga lelah dengan tuntutan yang semakin tinggi.
Di tengah tekanan itu, Arman selalu bisa mengandalkan teman-temannya.
Pak Darso, sahabat sejati di kantor desa, selalu ada dengan candaan-candaannya yang menghibur.
Suatu siang, ketika Arman sedang lelah menulis, Pak Darso mendekat dengan cangkir kopinya.
"Man, lagi stres?"
Arman tersenyum lelah. "Sedikit, Pak."
"Stres karena apa?"
"Banyak tuntutan. Setiap desa minta ini-itu."
Pak Darso mengangguk-angguk. "Man, kamu ini seperti kue lapis."
Arman bingung. "Maksudnya, Pak?"
"Kue lapis itu makin lama makin laris. Kalau sudah laris, banyak yang minta. Tapi kalau kebanyakan minta, bisa hancur."
Arman tertawa. "Jadi saya harus jaga diri?"
"Iya. Jangan sampai hancur karena kebanyakan permintaan."
"Terima kasih, Pak. Nasihat Bapak selalu unik."
"Makanya saya jadi Pak Darso. Kalau jadi orang lain, nasihatnya biasa-biasa aja."
Mereka berdua tertawa.***
Suatu sore, Arman kedatangan tamu tak terduga.
Tiga orang pemuda datang ke rumahnya. Mereka adalah Riko dari Bukit Lestari, Lina dari Mekar Sari, dan Budi dari Maju Bersama—tiga admin desa yang pernah ikut pelatihannya.
"Wah, kalian? Ada apa?" sapa Arman heran.
Riko tersenyum lebar. "Kami sowan, Pak. Ingin silaturahmi."
Arman mempersilakan mereka masuk. Sari menyuguhkan minuman.
Setelah basa-basi, Riko berkata, "Pak Arman, kami mau ngomong sesuatu."
"Silakan."
Riko menatap dua temannya, lalu kembali ke Arman. "Pak Arman, kami mau berterima kasih."
"Terima kasih? Untuk apa?"
Lina menjawab. "Untuk pelatihan kemarin. Kami jadi lebih paham cara nulis berita."
Budi menambahkan. "Sekarang saya sudah berani nulis sendiri, Pak. Nggak selalu minta bantuan Bapak."
Arman tersenyum bangga. "Wah, bagus dong. Itu yang saya harapkan."
Riko melanjutkan. "Pak Arman, kami juga mau bilang, Bapak itu inspirasi buat kami."
Arman tersipu. "Ah, masa?"
"Iya. Bapak memulai dari nol, dari yang tidak bisa apa-apa, sekarang jadi legenda. Itu luar biasa."
Arman menghela napas. "Dengar, nak. Saya bukan legenda. Saya cuma orang biasa yang kebetulan suka menulis."
"Tapi Bapak menginspirasi banyak orang, Pak."
"Itu bukan saya. Itu Allah yang menggerakkan hati orang. Saya cuma alat."
Mereka mengobrol panjang lebar. Tentang desa, tentang website, tentang mimpi-mimpi masa depan.
Sebelum pulang, Riko berkata, "Pak Arman, doakan kami ya. Semoga bisa seperti Bapak."
Arman meletakkan tangannya di bahu Riko. "Kalian akan lebih baik dari saya. Saya yakin itu."
Hari-hari berlalu. Nama Arman semakin dikenal.
Di berbagai pertemuan desa, di berbagai diskusi kelompok, namanya sering disebut.
"Kamu tahu Arman? Kontributor website desa itu?"
"Yang nulis artikel di mana-mana?"
"Iya, itu. Dia hebat."
Tapi di rumahnya yang sederhana, Arman tetaplah orang yang sama.
Ia masih duduk di kursi kayu yang sama.
Masih menulis di laptop lama yang sama.
Masih minum kopi dari gelas keramik yang sama.
Masih ditemani Sari yang setia.
Hanya saja sekarang, tanggung jawabnya jauh lebih besar.***
Malam semakin larut.
Arman kembali membuka laptopnya setelah shalat Isya. Sebuah pesan baru masuk di WhatsApp.
Dari kepala desa lain—desa yang belum pernah bekerja sama dengannya.
"Assalamualaikum Pak Arman. Saya Kepala Desa Sumber Makmur dari kabupaten tetangga. Saya mendengar nama Bapak dari teman-teman. Apakah Bapak bersedia membantu website desa kami?"
Arman membaca pesan itu. Ini adalah desa ke-11 yang menawarkan kerja sama.
Ia menarik napas panjang.
Sebelas desa.
Bisakah ia menangani sebanyak itu?
Lalu ia teringat kata-kata Pak Darso: "Kue lapis makin laris, tapi jangan sampai hancur."
Ia harus bijak. Ia harus menjaga keseimbangan.
Arman mulai mengetik balasan.
"Waalaikumsalam. Terima kasih atas tawarannya. Sebelum saya memutuskan, boleh saya tahu dulu kondisi website desa Bapak dan apa saja yang Bapak butuhkan?"
Ia kirim pesan itu, lalu menatap layar laptopnya.
Perjalanan sebagai Sang Legenda Kontributor Website Desa masih jauh dari selesai.
Dan tantangan yang lebih besar mungkin sudah menunggu di depan.
Tapi Arman siap.
Karena ia tahu, di belakangnya ada Sari yang selalu mendukung, ada Pak Darso yang selalu menghibur, ada para kepala desa yang percaya, dan ada generasi baru admin desa yang mulai belajar.
Ia tidak sendiri.
Dan dengan keyakinan itu, ia terus melangkah.
BAB IX
GENERASI BARU ADMIN DESA
Ketika Murid-Murid Mulai Melampaui Gurunya
Pagi itu, suasana Balai Desa Sido Mukti terlihat berbeda dari biasanya.
Matahari baru saja naik di ufuk timur, menyinari halaman balai desa dengan cahaya keemasan yang hangat. Embun pagi masih membasahi dedaunan di sekitar halaman, dan burung-burung berkicau riang di pohon mangga besar yang tumbuh di pojok halaman.
Di ruang pertemuan yang biasanya digunakan untuk musyawarah desa, kini duduk belasan anak muda desa dengan membawa laptop, buku catatan, tablet, dan ponsel pintar di tangan mereka. Suara ketukan keyboard, dering ponsel, dan bisik-bisik percakapan bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang hidup dan penuh semangat.
Sebagian dari mereka terlihat antusias, matanya berbinar-binar menanti apa yang akan disampaikan. Sebagian lagi terlihat gugup, jari-jari mereka gelisah memainkan pulpen atau menggulung ujung kertas catatan.
Di dinding ruangan, terpampang spanduk sederhana namun cukup besar, bertuliskan:
"PELATIHAN LANJUTAN ADMIN WEBSITE DESA
Meningkatkan Kualitas Konten dan Manajemen Website
Desa Sido Mukti, 15-16 Februari 2023"
Di sudut ruangan, sebuah meja panjang dilengkapi dengan dua termos besar berisi kopi dan teh, lengkap dengan gelas-gelas plastik dan camilan tradisional seperti pisang goreng, ubi rebus, dan kue lapis.
Di depan ruangan berdiri seorang pria sederhana dengan kemeja lengan panjang batik warna coklat muda, dipadukan celana bahan hitam, dan sepatu pantofel yang sudah agak usang namun tetap kinclong karena rutin disemir.
Dialah Arman.
Sang legenda kontributor yang selama ini mengisi berita untuk sepuluh website desa.
Namun pagi itu, perannya tidak lagi hanya sebagai penulis atau kontributor. Ia berdiri di depan mereka sebagai mentor, sebagai guru, sebagai inspirasi.
Ini adalah pelatihan lanjutan yang kedua. Jika pelatihan pertama setahun lalu lebih fokus pada dasar-dasar menulis berita, pelatihan kali ini lebih mendalam: teknik wawancara, fotografi jurnalistik, manajemen website, dan yang terpenting—bagaimana membangun kepercayaan masyarakat melalui website desa.
Program regenerasi admin desa sebenarnya sudah dirancang sejak setahun lalu, setelah pelatihan pertama yang sukses besar.
Para kepala desa, dalam pertemuan rutin mereka, menyadari bahwa ketergantungan pada Arman terlalu besar. Jika suatu saat Arman berhenti atau sakit, website desa mereka bisa lumpuh total.
"Kita tidak bisa selamanya bergantung pada Arman," kata Pak Hadi dalam pertemuan itu. "Dia membantu kita memulai, tapi desa harus bisa mandiri."
Pak Suroto mengangguk setuju. "Betul. Kita harus siapkan generasi penerus."
Pak Rahman menimpali. "Website desa harus dikelola oleh orang desa sendiri. Mereka yang paling tahu kondisi desa."
Pak Bambang menambahkan sambil tersenyum. "Apalagi sekarang banyak anak muda yang pintar teknologi. Mereka lebih cepat belajar daripada kita-kita ini."
Bu Dewi ikut bicara. "Tapi mereka perlu bimbingan. Mereka punya semangat, tapi belum punya pengalaman."
Dari diskusi itulah muncul keputusan penting: setiap desa harus memiliki minimal dua admin website yang aktif. Mereka akan direkrut dari kalangan pemuda-pemudi desa, dilatih secara intensif, dan didampingi hingga benar-benar siap mandiri.
Dan orang yang diminta menjadi pembimbing utama mereka, tentu saja, Arman.
"Kamu yang paling tahu soal ini, Man," kata Pak Rahmat ketika menyampaikan keputusan itu. "Kamu yang memulai semuanya. Sekarang waktunya kamu melahirkan generasi penerus."
Arman yang mendengar itu sempat ragu. "Tapi Pak, saya sendiri masih belajar."
"Justru itu. Kamu yang paling tahu proses belajar. Kamu bisa membimbing mereka melewati apa yang sudah kamu lalui."
Akhirnya, Arman menerima tugas baru itu dengan perasaan campur aduk. Bangga karena dipercaya, tapi juga berat karena ini tanggung jawab besar.
Arman berdiri di depan ruangan sambil memandang para peserta pelatihan.
Ada sekitar dua puluh anak muda dari sepuluh desa mitra—masing-masing desa mengirim dua orang. Usia mereka rata-rata antara 18 sampai 28 tahun. Beberapa di antaranya masih mahasiswa semester akhir, beberapa sudah bekerja, dan beberapa lainnya fresh graduate yang belum mendapat pekerjaan tetap.
Mereka datang dengan latar belakang pendidikan yang beragam: ada yang lulusan SMK jurusan multimedia, ada yang kuliah di jurusan komunikasi, ada yang belajar otodidak tentang desain grafis, dan ada pula yang benar-benar awam tentang dunia tulis-menulis.
Namun mereka punya satu kesamaan: semangat untuk memajukan desa mereka melalui teknologi informasi.
Arman tersenyum. "Selamat pagi semuanya."
"Selamat pagi, Mas Arman!" jawab mereka hampir bersamaan, dengan suara kompak yang membuat Arman terkejut.
Arman tertawa kecil. "Wah... kompak sekali. Kalian sudah latihan sebelumnya?"
Seorang pemuda di barisan depan, yang tidak lain adalah Riko dari Desa Bukit Lestari, menjawab dengan semangat. "Kami sudah siap, Mas! Kami sudah tidak sabar belajar dari legenda!"
Arman menggeleng-geleng sambil tersenyum. "Riko, kamu ini... sudah saya bilang jangan panggil saya legenda."
Riko tetap bergeming. "Tapi Mas Arman legenda bagi kami. Mau tidak mau, itu fakta."
Peserta lain tertawa. Suasana ruangan langsung hangat.
Arman menghela napas pasrah. "Baiklah, terserah kalian. Yang penting kita belajar bersama."
Sebelum memulai materi, Arman meminta semua peserta memperkenalkan diri. Bukan sekadar nama dan asal desa, tapi juga alasan mereka tertarik menjadi admin website desa.
Giliran pertama, seorang pemuda berkacamata tebal dengan kemeja flanel berdiri.
"Nama saya Andi, dari Desa Karya Mandiri. Saya lulusan SMK Multimedia. Alasan saya ikut pelatihan ini karena saya ingin desa saya dikenal banyak orang lewat internet. Selama ini, potensi desa kami besar, tapi tidak banyak yang tahu."
Arman mengangguk. "Bagus, Andi. Semangat."
Giliran kedua, seorang perempuan muda berjilbab pink dengan senyum manis.
"Nama saya Lina, dari Desa Mekar Sari. Saya mahasiswa semester akhir jurusan Komunikasi. Saya ingin belajar menulis berita yang baik, karena selama ini di kampus lebih banyak teori. Saya ingin praktik langsung."
Arman tersenyum. "Lina, ini kesempatan bagus buat kamu. Praktik langsung di desa itu pengalaman berharga."
Giliran ketiga, seorang pemuda bertubuh agak gemuk dengan rambut agak panjang.
"Nama saya Budi, dari Desa Maju Bersama. Saya... jujur saja, saya tidak punya latar belakang menulis. Saya lulusan SMA, kerja serabutan. Tapi kepala desa saya menyuruh saya ikut pelatihan ini. Katanya, 'Kamu muda, harus belajar.'"
Beberapa peserta tertawa. Budi tersenyum malu.
Arman menatap Budi dengan hangat. "Budi, kamu tahu? Dulu saya juga tidak punya latar belakang menulis. Saya cuma lulusan SMA, kerja biasa. Tapi saya belajar. Dan sekarang saya bisa menulis untuk sepuluh desa."
Budi menatap Arman dengan mata berbinar. "Serius, Mas?"
"Serius. Jadi jangan berkecil hati. Yang penting mau belajar."
Budi mengangguk semangat. "Siap, Mas! Saya akan belajar sungguh-sungguh."
Perkenalan berlanjut. Satu per satu peserta bercerita tentang latar belakang dan mimpi mereka. Arman mendengarkan dengan saksama, sesekali memberi komentar atau semangat.
Ada cerita tentang Rina dari Desa Harapan Jaya yang ingin membuat majalah desa digital. Ada cerita tentang Joko dari Desa Tani Makmur yang bercita-cita menjadi wartawan. Ada cerita tentang Siti dari Desa Sungai Harapan yang ingin mempromosikan produk UMKM desanya lewat website.
Setelah semua memperkenalkan diri, Arman berdiri di depan dengan perasaan haru.
"Kalian tahu?" katanya. "Mendengar cerita kalian, saya jadi ingat diri saya dulu. Saya juga punya mimpi, tapi tidak tahu cara mewujudkannya. Saya juga pernah bingung, takut, ragu."
Semua peserta diam, memperhatikan.
"Tapi saya bersyukur, ada orang-orang yang membantu saya. Pak Rahmat yang memberi kepercayaan, Pak Darso yang selalu menyemangati dengan candaannya, Pak Hadi yang merekomendasikan saya ke desa lain, dan yang paling penting, istri saya yang selalu mendukung."
Arman berhenti sejenak, mengatur emosi.
"Sekarang, giliran saya untuk membantu kalian. Saya akan berbagi apa yang saya tahu. Tapi ingat, pada akhirnya, kalian sendiri yang harus berjuang. Saya hanya membuka pintu. Kalian yang harus melangkah masuk."
Ruangan hening beberapa detik. Lina, peserta dari Mekar Sari, tiba-tiba bertepuk tangan. Yang lain mengikuti. Tepuk tangan menggema di ruangan itu, penuh semangat dan haru.
Setelah sesi perkenalan, Arman memulai materi pertama: dasar-dasar menulis berita yang menarik.
Ia menyalakan proyektor, menampilkan slide sederhana yang ia buat sendiri dengan bantuan Sari. Tidak ada animasi canggih, tidak ada desain grafis yang memukau. Hanya tulisan hitam di atas latar putih, dengan beberapa gambar ilustrasi.
"Menulis berita desa itu sebenarnya sederhana," kata Arman sambil menunjuk layar. "Kalian hanya perlu menjawab enam pertanyaan dasar."
Di layar muncul:
5W + 1H
- What(Apa)
- Who(Siapa)
- When(Kapan)
- Where(Di mana)
- Why(Mengapa)
- How(Bagaimana)
Arman menjelaskan satu per satu dengan bahasa sederhana dan contoh-contoh konkret dari pengalamannya.
"Misalnya, kita mau nulis berita tentang gotong royong. Kita harus jawab: Apa kegiatannya? Gotong royong. Siapa yang ikut? Warga RT 02. Kapan dilaksanakan? Hari Minggu kemarin. Di mana? Di lingkungan RT 02. Mengapa diadakan? Karena banyak selokan tersumbat. Bagaimana pelaksanaannya? Lancar, diikuti 50 orang, selesai jam 12 siang."
Riko mengangkat tangan. "Mas, kalau sudah dapat semua jawabannya, bagaimana cara merangkainya jadi berita?"
Arman tersenyum. "Nah, itu pertanyaan bagus. Kalian rangkai seperti bercerita. Mulai dari yang paling penting."
Ia menampilkan contoh struktur berita:
Piramida Terbalik
- Paragraf 1: Informasi paling penting (apa, siapa, kapan, di mana)
- Paragraf 2-3: Informasi pendukung (mengapa, bagaimana, detail kegiatan)
- Paragraf 4: Informasi tambahan (kesan pesan, rencana ke depan)
"Bayangkan kalian punya beras satu karung. Kalian tumpahkan ke lantai. Yang paling besar dan berat akan jatuh paling bawah? Salah. Dalam berita, yang paling penting justru di atas."
Semua peserta tertawa dengan analogi sederhana itu.
Budi, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berseru. "Oh, jadi gitu! Saya baru paham sekarang. Dulu saya bingung, kok artikel Mas Arman enak dibaca. Ternyata ada triknya."
Arman tertawa. "Bukan trik, Budi. Ini teknik dasar jurnalistik. Tapi saya juga belajar dari membaca."
Setelah teori, Arman memberikan sesi praktik. Ia membagikan data mentah berupa foto-foto kegiatan dan catatan singkat tentang sebuah acara di Desa Sido Mukti: peresmian sumur bor untuk warga RT 05.
"Kalian punya waktu 30 menit. Buatlah artikel berita dari data ini. Boleh diskusi dengan teman sebangku. Setelah selesai, kita bahas bersama."
Suasana ruangan langsung berubah. Peserta sibuk membuka laptop, memilih foto, dan mulai mengetik. Ada yang serius menatap layar, ada yang berbisik-bisik dengan teman, ada yang mengernyitkan dahi kebingungan.
Arman berkeliling, mengamati satu per satu. Sesekali ia berhenti di belakang peserta, melihat tulisannya, lalu memberi komentar pelan.
"Bagus, sudah mulai."
"Judulnya coba buat lebih menarik."
"Foto itu bagus, dipakai saja."
"Jangan lupa caption fotonya."
Ketika sampai di belakang Budi, Arman melihat layar laptop peserta itu. Budi baru menulis dua kalimat. Tangannya gemetar di atas keyboard.
"Budi, kenapa?" tanya Arman lembut.
Budi menoleh dengan wajah cemas. "Mas, saya bingung. Saya tidak bisa."
Arman duduk di sampingnya. "Coba ceritakan, apa yang membuat bingung?"
Budi menghela napas. "Saya takut tulisannya jelek. Takut salah."
Arman tersenyum. "Budi, dengar. Saya juga dulu begitu. Takut salah, takut jelek. Tapi kalau terus takut, kapan bisanya?"
Budi diam.
"Coba tulis saja dulu. Jelek tidak apa-apa. Nanti kita perbaiki bersama. Yang penting ada dulu tulisannya."
Budi mengangguk, lalu mulai mengetik lagi. Perlahan, kalimat demi kalimat mulai terbentuk.
Arman mengamati dari samping, sesekali membisikkan saran. "Bagus. Terus. Tambahin foto itu."
30 menit berlalu. Arman meminta beberapa peserta membacakan hasil tulisannya.
Riko maju lebih dulu. Ia membacakan artikelnya dengan percaya diri:
"Warga RT 05 Bersyukur, Sumur Bor Resmi Beroperasi"
*SIDO MUKTI - Warga RT 05 Desa Sido Mukti kini tidak perlu lagi khawatir kekurangan air di musim kemarau. Sumur bor yang dibangun menggunakan Dana Desa tahap kedua resmi beroperasi, Minggu (12/2/2023).*
Peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Kepala Desa Sido Mukti, Rahmat, di lokasi sumur bor. Acara dihadiri oleh perangkat desa, BPD, dan puluhan warga RT 05.
"Kami sangat bersyukur. Selama ini, kalau musim kemarau, kami harus antre ambil air di sungai yang jaraknya cukup jauh. Sekarang, air bisa diambil di sini," ujar Karjo, salah satu warga RT 05.
Pembangunan sumur bor menelan anggaran Rp 45 juta dan dikerjakan selama dua bulan. Ke depan, desa berencana menambah dua sumur bor lagi di lokasi lain.
Semua peserta bertepuk tangan. Arman tersenyum bangga.
"Bagus, Riko. Strukturnya benar, informasinya lengkap. Ada kutipan warga, ada data anggaran. Ini berita yang baik."
Riko tersenyum lebar. "Terima kasih, Mas. Ini berkat bimbingan Mas."
Giliran Budi. Dengan gugup, ia maju ke depan. Tangannya sedikit gemetar memegang kertas print out tulisannya.
Ia membaca dengan suara pelan, tapi cukup jelas:
"Sumur Bor Baru di RT 05"
Hari Minggu kemarin, warga RT 05 senang sekali. Ada acara peresmian sumur bor baru. Acaranya ramai, banyak yang datang. Pak Kades juga datang, potong tumpeng. Warga bernama Pak Karjo bilang, selama ini susah air kalau kemarau. Sekarang sudah ada sumur bor, jadi tidak susah lagi. Sumur bor ini dibangun pakai uang desa, Rp 45 juta. Semoga desa bisa buat sumur lagi di tempat lain.
Budi selesai membaca. Ruangan hening beberapa detik. Lalu Arman mulai bertepuk tangan. Yang lain mengikuti.
"Budi, ini bagus," kata Arman.
Budi terkejut. "Bagus, Mas? Tapi saya lihat tulisan saya kacau."
"Tidak kacau. Informasinya lengkap. Hanya susunannya yang perlu diperbaiki. Tapi untuk pertama kali, ini luar biasa."
Budi tersenyum lega. "Terima kasih, Mas."
Arman kemudian membahas bersama-sama, bagaimana memperbaiki tulisan Budi agar lebih terstruktur. Semua peserta ikut memberi masukan. Suasana belajar yang hangat dan saling mendukung terasa sekali.
Sesi kedua diisi oleh Heru, admin Desa Karya Mandiri yang kini sudah cukup mahir fotografi. Arman sengaja mengundangnya untuk berbagi ilmu, karena ia sadar, dirinya bukan ahli foto.
Heru maju dengan percaya diri. Di tangannya, sebuah kamera DSLR semi-profesional.
"Teman-teman, foto itu penting. Orang lebih tertarik melihat gambar daripada membaca teks panjang. Tapi foto juga harus berkualitas."
Ia menjelaskan dasar-dasar fotografi sederhana:
- Pencahayaan yang cukup
- Komposisi yang baik (rule of thirds)
- Fokus pada subjek utama
- Hindari foto goyang
- Ambil dari berbagai sudut
"Yang paling penting, tangkap momen. Bukan hanya foto seremoni, tapi juga foto orang sedang bekerja, sedang tersenyum, sedang berinteraksi."
Peserta antusias. Mereka bertanya macam-macam, dari teknik dasar hingga cara mengedit foto dengan ponsel.
Sesi foto berlangsung seru. Heru mempraktikkan cara mengambil foto yang baik, lalu meminta peserta mempraktikkan dengan ponsel masing-masing.
Budi, yang tadi kesulitan menulis, ternyata punya bakat fotografi. Foto-foto yang ia hasilkan cukup bagus, dengan komposisi yang menarik.
"Wah, Budi, ini bagus!" puji Heru. "Kamu punya bakat."
Budi tersipu. "Ah, biasa aja."
"Serius. Kalau menulis masih perlu belajar, fotomu udah oke."
Arman yang mendengar itu tersenyum. Setiap orang punya kelebihan masing-masing.
Sesi terakhir hari pertama diisi oleh Arman sendiri. Kali ini tentang manajemen website dan bagaimana berinteraksi dengan masyarakat melalui kolom komentar.
"Website desa bukan cuma tempat nulis berita," kata Arman. "Ini juga ruang interaksi dengan masyarakat. Kalian harus siap dengan berbagai respons."
Ia bercerita tentang pengalamannya dengan artikel transparansi anggaran yang sempat menimbulkan kontroversi.
"Ada yang marah, ada yang protes, ada yang minta artikel ditarik. Itu semua saya hadapi. Yang penting, kita tetap tenang, tetap profesional."
Lina mengangkat tangan. "Mas, kalau ada komentar negatif, bagaimana menyikapinya?"
Arman menjawab dengan bijak. "Pertama, jangan langsung marah. Kedua, baca dengan kepala dingin. Ketiga, lihat apakah komentar itu membangun atau hanya provokasi. Keempat, balas dengan sopan, jelaskan fakta, tapi jangan terlibat debat kusir."
"Kalau komentarnya sangat kasar?"
"Kalau sangat kasar, bisa diabaikan. Atau kalau mengandung fitnah, bisa dilaporkan ke admin. Yang penting, jangan terpancing emosi."
Riko bertanya lagi. "Mas, bagaimana menjaga konsistensi? Supaya website tetap update?"
Arman tersenyum. "Ini yang paling sulit. Kuncinya cuma satu: disiplin. Buat jadwal, tetapkan target, dan jalankan. Misalnya, setiap Senin harus ada satu artikel. Lama-lama jadi kebiasaan."
Ia melanjutkan. "Saya dulu juga susah konsisten. Tapi setelah punya target dan jadwal, jadi lebih mudah. Apalagi kalau sudah lihat respons positif dari pembaca, itu jadi semangat tambahan."
Setelah sesi materi selesai, Arman mengajak semua peserta makan malam bersama di halaman balai desa. Sari dan beberapa ibu-ibu PKK menyiapkan hidangan sederhana: nasi liwet, ayam goreng, ikan asin, sambal, dan lalapan.
Suasana santai. Mereka duduk lesehan di atas tikar pandan yang digelar di halaman. Lampu-lampu hias sederhana menerangi area makan, menciptakan suasana hangat dan akrab.
Malam itu, tidak ada lagi pembicaraan serius tentang materi pelatihan. Mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing, tentang mimpi-mimpi, tentang desa mereka.
Riko bercerita tentang perjuangannya meyakinkan orang tua bahwa menjadi admin desa adalah pekerjaan yang membanggakan. Lina bercerita tentang pacarnya yang kurang setuju ia sering lembur di kantor desa. Budi bercerita tentang usahanya berjualan online yang bangkrut, dan bagaimana ia kini menemukan semangat baru di dunia website desa.
Arman mendengarkan semua cerita itu dengan penuh perhatian. Di matanya, anak-anak muda ini adalah masa depan desa. Mereka yang akan melanjutkan apa yang sudah ia mulai.
Di sela-sela obrolan, Riko tiba-tiba berkata, "Mas Arman, saya mau ngomong serius."
Semua menoleh. Riko berdiri, mengambil gelas plastik berisi teh manis.
"Mas Arman, saya mewakili teman-teman, mau mengucapkan terima kasih."
Arman tersenyum, agak malu.
Riko melanjutkan. "Mas Arman, tanpa Mas, kami mungkin tidak akan pernah tahu cara menulis berita. Tanpa Mas, website desa kami mungkin masih kosong. Tanpa Mas, kami mungkin tidak akan pernah bertemu dan akrab seperti ini."
Beberapa peserta mengangguk, terharu.
"Mas Arman, terima kasih sudah menjadi guru yang sabar. Terima kasih sudah berbagi ilmu dengan tulus. Kami berjanji, ilmu ini tidak akan kami sia-siakan. Kami akan terus belajar, terus menulis, terus memajukan desa kami."
Semua bertepuk tangan. Arman berdiri, matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, teman-teman. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa. Ilmu ini bukan milik saya. Ini milik kita bersama. Saya senang kalian mau belajar. Karena pada akhirnya, desa kalian yang akan maju."
Mereka bersulang dengan gelas masing-masing. Malam itu, di bawah langit desa yang bertabur bintang, terjalin ikatan yang lebih dari sekadar guru dan murid. Mereka adalah keluarga baru, keluarga digital desa.***
Pagi harinya, mereka praktik langsung ke lapangan. Arman membagi peserta menjadi lima kelompok, masing-masing ditugaskan meliput kegiatan di lima lokasi berbeda di Desa Sido Mukti:
- Kelompok 1: Kegiatan posyandu di dusun Krajan
- Kelompok 2: Pembangunan drainase di RT 03
- Kelompok 3: Pelatihan kelompok tani di balai pertemuan
- Kelompok 4: Kegiatan belajar mengajar di PAUD desa
- Kelompok 5: Persiapan lomba desa di kantor desa
Mereka diberi waktu dua jam untuk mengambil foto, mewawancarai narasumber, dan mengumpulkan data. Setelah itu, kembali ke balai desa untuk menulis artikel.
Arman berkeliling dari satu lokasi ke lokasi lain, mengamati, memberi arahan, dan sesekali membantu jika ada kesulitan.
Di posyandu, ia melihat Lina dengan sabar mewawancarai seorang kader tentang perkembangan balita. Di pembangunan drainase, ia melihat Riko sibuk mengambil foto dari berbagai sudut, bahkan sampai jongkok di selokan. Di pelatihan kelompok tani, ia melihat Budi—yang kemarin kesulitan menulis—dengan percaya diri mewawancarai ketua kelompok tani.
Arman tersenyum. Anak-anak ini cepat belajar.
Dua jam kemudian, mereka kembali ke balai desa. Masing-masing kelompok sibuk menulis artikel, memilih foto, dan menyusun laporan.
Arman berkeliling lagi, memberi masukan. Tapi kali ini, ia lebih banyak diam dan membiarkan mereka bekerja. Sesekali ia hanya mengangguk atau tersenyum melihat hasil kerja mereka.
Pukul 15.00, semua artikel selesai. Arman meminta setiap kelompok mempresentasikan hasilnya.
Hasilnya luar biasa.
Kelompok 1 menulis artikel tentang posyandu dengan sangat informatif, lengkap dengan data jumlah balita dan jenis imunisasi. Kelompok 2 menulis tentang pembangunan drainase dengan foto-foto yang dramatis, menunjukkan kontras antara kondisi sebelum dan sesudah. Kelompok 3 menulis tentang pelatihan kelompok tani dengan kutipan-kutipan menarik dari para petani. Kelompok 4 menulis tentang PAUD desa dengan gaya yang hangat dan menyentuh. Kelompok 5 menulis tentang persiapan lomba desa dengan sangat terstruktur dan profesional.
Arman berdiri di depan, memandangi mereka dengan bangga.
"Teman-teman, saya tidak punya kata-kata. Kalian luar biasa. Dalam dua hari, kalian sudah menunjukkan kemajuan yang luar biasa."
Semua tersenyum bangga.
Arman melanjutkan. "Saya hanya bisa berkata, teruslah belajar, teruslah menulis. Jangan pernah puas dengan apa yang sudah kalian capai. Karena selalu ada yang bisa diperbaiki, selalu ada yang bisa dipelajari."
"Dan ingat, kalian bukan hanya admin website. Kalian adalah penjaga cerita desa kalian. Kalian adalah saksi sejarah pembangunan desa. Lewat tulisan kalian, anak cucu kalian nanti akan tahu bagaimana desa ini dibangun."
Ruangan hening. Haru menyelimuti semua yang hadir.
Riko berdiri. "Mas Arman, satu pertanyaan terakhir."
"Iya, Riko."
Riko tersenyum lebar. "Mas Arman, setelah ini, apakah kami sudah bisa disebut legenda seperti Mas?"
Semua tertawa. Arman ikut tertawa.
"Belum, Riko. Masih panjang perjalanan kalian. Tapi kalau kalian terus belajar dan konsisten, suatu hari nanti, kalian akan melampaui saya."
"Kami akan buktikan, Mas!"
Sore harinya, acara pelatihan resmi ditutup. Pak Rahmat datang memberikan sambutan singkat, mewakili para kepala desa yang mendukung program ini.
"Anak-anakku," kata Pak Rahmat dengan suara beratnya yang khas. "Kalian adalah harapan desa. Pemerintah desa tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh kalian, butuh anak-anak muda seperti kalian, untuk membantu desa maju."
"Website desa adalah salah satu alatnya. Lewat website, desa kita bisa dikenal. Lewat website, kita bisa transparan. Lewat website, kita bisa menginspirasi desa lain."
Ia menunjuk Arman. "Lihat Mas Arman. Dulu dia juga tidak bisa apa-apa. Tapi sekarang, dia sudah menjadi legenda. Bukan karena dia hebat, tapi karena dia mau belajar dan tidak pernah menyerah."
"Ikuti jejaknya. Jadilah legenda bagi desa kalian masing-masing."
Tepuk tangan bergemuruh.
Setelah sambutan, Arman membagikan sertifikat kepada semua peserta. Bukan sertifikat formal, tapi selembar kertas yang ia cetak sendiri, dengan desain sederhana namun penuh makna.
Di sertifikat itu tertulis:
"Diberikan kepada: [Nama Peserta]
Sebagai Bukti Keikutsertaan dalam Pelatihan Lanjutan Admin Website Desa
dan Pengakuan atas Dedikasi untuk Memajukan Desa Melalui Informasi Digital"
Ditandatangani: Arman, Kontributor Website Desa
Satu per satu peserta maju menerima sertifikat. Beberapa dari mereka memeluk Arman, terharu. Lina menangis haru ketika menerima sertifikatnya.
"Terima kasih, Mas Arman," bisiknya.
Arman tersenyum. "Terima kasih kembali, Lina. Teruslah menulis."
Acara ditutup dengan foto bersama. Semua peserta berjejer di teras balai desa, dengan latar belakang spanduk pelatihan. Arman duduk di tengah, dikelilingi oleh generasi baru admin desa yang siap melanjutkan perjuangannya.
Sari, yang sejak tadi membantu di dapur, ikut berfoto. Pak Darso juga ikut, dengan cangkir kopi setianya.
"Pak Darso, kopinya difoto dong," goda Riko.
Pak Darso mengangkat cangkirnya. "Ini identitas saya. Tanpa kopi, foto saya tidak sah."
Semua tertawa. Flash kamera menyala, mengabadikan momen berharga itu.***
Enam bulan setelah pelatihan, perubahan mulai terlihat.
Website desa yang dulu sangat bergantung pada Arman, kini mulai diisi oleh admin desa masing-masing. Riko di Bukit Lestari sudah bisa menulis 2-3 artikel per minggu tanpa bantuan Arman. Lina di Mekar Sari bahkan menciptakan rubrik baru "Profil Warga" yang sangat diminati pembaca. Budi di Maju Bersama, meskipun tulisannya masih perlu banyak perbaikan, sudah lebih percaya diri dan rutin mengirim artikel.
Arman masih menulis, tapi tidak lagi sebanyak dulu. Ia lebih banyak menjadi editor, membaca artikel para admin, memberi masukan, dan sesekali menulis jika ada kegiatan besar.
Suatu sore, Arman duduk di teras rumahnya sambil membuka laptop. Ia membuka satu per satu website desa yang dulu ia kelola hampir sendirian.
Di Desa Sungai Harapan, artikel terbaru ditulis oleh Rudi. Judulnya: "Warga Sungai Harapan Gotong Royong Bangun Jalan Lingkungan."
Arman membaca. Tulisannya sudah jauh lebih baik dari setahun lalu. Strukturnya rapi, fotonya bagus, informasinya lengkap.
"Bagus, Rudi," gumamnya.
Di Desa Bukit Lestari, artikel terbaru ditulis oleh Riko. Judulnya: "Pemuda Bukit Lestari Gelar Turnamen Sepak Bola Antar RT."
Arman tersenyum. Riko memang paling cepat perkembangannya. Ia bahkan mulai berani membuat liputan olahraga, yang notabene cukup sulit karena harus menangkap momen-momen cepat.
Di Desa Mekar Sari, artikel terbaru ditulis oleh Lina. Judulnya: "Kisah Mbah Karjo, Petani Karet yang Sukses Biayai Kuliah Tiga Anaknya."
Arman terkesima. Ini artikel feature, bukan sekadar berita kegiatan. Lina mulai berani menulis kisah inspiratif. Gaya tulisannya hangat dan menyentuh.
"Mantap, Lina," pujinya dalam hati.
Di Desa Maju Bersama, artikel terbaru ditulis oleh Budi. Judulnya: "Budi Daya Ikan Lele di Lahan Sempena, Solusi Ketahanan Pangan Keluarga."
Arman membaca. Tulisannya masih sederhana, tapi jauh lebih baik dari dulu. Ejaannya sudah benar, strukturnya lumayan, dan fotonya—foto Budi selalu bagus.
"Budi, kamu hebat. Fotografimu menyelamatkan tulisammu," gumam Arman sambil tersenyum.
Satu per satu website desa ia buka. Hampir semuanya sudah aktif dengan artikel dari admin masing-masing. Beberapa masih perlu bimbingan, tapi secara umum, kemajuan sangat signifikan.
Sari keluar membawa teh hangat. Melihat suaminya tersenyum-senyum sendiri, ia bertanya.
"Mas, senyum-senyum sendiri? Ada apa?"
Arman menunjuk layar laptop. "Lihat, Ni. Ini artikel dari Riko, ini dari Lina, ini dari Budi. Mereka sudah bisa nulis sendiri."
Sari membaca beberapa artikel. Ia tersenyum.
"Wah, bagus-bagus. Mas pasti bangga ya?"
Arman mengangguk. "Bangga sekali, Ni. Rasanya... seperti melihat anak-anak kita tumbuh."
Sari duduk di sampingnya. "Mas, saya juga bangga sama Mas."
"Bangga kenapa?"
"Mas tidak hanya menulis, tapi juga melahirkan penulis-penulis baru. Itu lebih berharga."
Arman meraih tangan istrinya. "Terima kasih, Ni. Tanpa dukunganmu, saya tidak akan sampai di sini."
Mereka berdua diam, menikmati sore yang tenang.***
Hari-hari berikutnya, peran Arman perlahan bergeser.
Jika dulu ia adalah penulis utama untuk sepuluh desa, kini ia lebih banyak menjadi supervisor, editor, dan motivator.
Setiap hari, ia menerima artikel dari para admin desa melalui WhatsApp atau email. Ia membaca, memberi masukan, kadang mengedit jika perlu. Tapi ia selalu berusaha untuk tidak mengubah terlalu banyak. Ia ingin mereka belajar dari kesalahan, bukan hanya menerima hasil jadi.
Suatu hari, Riko mengirim artikel dengan judul yang agak bombastis: "Bupati Terkesima dengan Pembangunan Desa Bukit Lestari!"
Arman membaca artikel itu. Isinya sebenarnya biasa saja, hanya kunjungan biasa. Tapi judulnya terlalu berlebihan.
Ia membalas pesan Riko: "Riko, judulnya terlalu heboh. Cukup 'Bupati Kunjungi Desa Bukit Lestari, Apresiasi Pembangunan Infrastruktur'. Yang penting sesuai isi."
Riko membalas cepat. "Iya, Mas. Saya perbaiki. Maaf, masih suka kelebihan semangat."
Arman tersenyum. "Semangat bagus, tapi tetap proporsional."
Lain waktu, Lina mengirim artikel tentang kegiatan posyandu. Isinya bagus, tapi lupa mencantumkan tanggal kejadian.
Arman membalas: "Lina, kapan kegiatannya? Tanggalnya jangan lupa."
Lina membalas dengan malu-malu. "Aduh, lupa Mas. Nanti saya tambahkan. Makasih koreksinya."
Budi, yang paling lemah dalam menulis, sering mengirim artikel dengan ejaan yang kacau. Tapi Arman selalu sabar membetulkan, sambil memberi penjelasan.
"Budi, ini kata 'di' pisah kalau menunjukkan tempat. 'Di rumah', 'di kantor'. Tapi digabung kalau menunjukkan pasif. 'Dimakan', 'diminum'. Paham?"
Budi membalas. "Paham, Mas. Tapi kadang masih bingung."
"Tidak apa-apa, pelan-pelan. Yang penting terus menulis."***
Suatu malam, Arman menerima telepon dari Pak Hadi.
"Pak Arman, selamat malam."
"Selamat malam, Pak Hadi. Ada apa?"
"Pak Arman, saya mau lapor. Admin desa kami, Rudi, sekarang sudah bisa nulis sendiri. Bahkan minggu ini dia nulis tiga artikel tanpa bantuan siapa pun."
Arman tersenyum. "Alhamdulillah, Pak. Saya senang mendengarnya."
"Saya telepon bukan cuma lapor, Pak. Saya mau mengucapkan terima kasih. Atas nama Desa Sungai Harapan, terima kasih sudah membimbing anak buah kami."
Arman terharu. "Pak Hadi, itu berkat kemauan Rudi belajar. Saya cuma membantu sedikit."
"Jangan merendah, Pak Arman. Tanpa bimbingan Bapak, mana mungkin mereka bisa."
Telepon dari Pak Hadi disusul telepon dari Pak Suroto, Pak Rahman, Bu Dewi, dan kepala desa lainnya. Semua melaporkan kemajuan admin desa mereka, semua mengucapkan terima kasih.
Arman merasa dadanya hangat. Ini adalah kebahagiaan yang berbeda. Kebahagiaan karena melihat orang lain berkembang, karena ilmu yang ia bagikan bermanfaat.
Malam itu, ia menulis di buku hariannya:
*17 Agustus 2023*
Hari ini saya menerima banyak telepon dari para kepala desa. Mereka melaporkan kemajuan admin desa masing-masing. Rudi, Riko, Lina, Budi, dan yang lainnya, sudah mulai mandiri.
Saya tidak menyangka. Dulu saya hanya ingin membantu desa-desa ini punya website aktif. Sekarang, lebih dari itu. Saya telah melahirkan penulis-penulis baru.
Ini perasaan yang sulit dijelaskan. Bangga, haru, bahagia, semuanya campur aduk.
Saya ingat kata Pak Darso: "Man, kamu ini seperti kue lapis. Makin lama makin laris." Mungkin benar. Tapi saya bukan kue lapis. Saya lebih suka disebut sebagai pohon.
Pohon yang berbuah. Dan buahnya jatuh ke tanah, tumbuh menjadi pohon baru.
Riko, Lina, Budi, dan yang lainnya adalah pohon-pohon baru itu. Mereka akan tumbuh, mungkin lebih besar dari saya. Mereka akan menulis lebih baik, mengambil foto lebih bagus, mengelola website lebih profesional.
Dan saya? Saya akan tetap di sini, menjadi pohon tua yang rindang, tempat mereka berteduh jika lelah, tempat mereka bertanya jika bingung.
Karena itulah arti menjadi guru. Bukan untuk membuat murid bergantung, tapi untuk membuat mereka mandiri.
Terima kasih, Allah, telah memberi saya kesempatan ini.
BAB X
PENUTUP
Ketika Desa Mulai Menulis Ceritanya Sendiri
Dua tahun telah berlalu sejak Arman pertama kali duduk di depan laptop tua itu, dengan dua jari yang malu-malu mengetik artikel pertama untuk website Desa Sido Mukti.
Dua tahun yang penuh dengan perjuangan, air mata, tawa, dan pelajaran berharga.
Dua tahun yang mengubah seorang pria sederhana menjadi legenda, dan melahirkan generasi baru penulis desa yang siap melanjutkan perjuangannya.***
Sore itu, langit Desa Sido Mukti cerah sekali.
Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di sawah-sawah yang menguning menunggu panen. Burung-burung beterbangan riang, mencari tempat berteduh di pepohonan rindang. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan dedaunan, menciptakan suasana damai yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Arman duduk santai di kursi kayu tua di teras rumahnya, seperti biasa. Di depannya, laptop kesayangannya masih terbuka, namun kali ini ia tidak sedang mengetik.
Ia hanya menatap layar dengan senyum kecil yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
Di layar itu, terbuka sepuluh tab website desa yang dulu ia kelola hampir sendirian. Satu per satu ia buka, membaca artikel-artikel terbaru, mengamati foto-foto yang terpajang, dan merasakan kebanggaan yang sulit dijelaskan.
Website Desa Sungai Harapan menampilkan artikel tentang panen raya padi yang ditulis oleh Rudi. Tulisannya rapi, informasinya lengkap, fotonya juga bagus. Di bagian bawah artikel, puluhan komentar warga membanjiri, sebagian besar mengucapkan selamat dan bangga dengan desanya.
Website Desa Bukit Lestari menampilkan liputan khusus tentang festival budaya tahunan. Artikelnya panjang dan mendalam, ditulis oleh Riko dengan gaya yang semakin matang. Ada video pendek yang disematkan, wawancara dengan sesepuh desa, dan galeri foto yang memukau.
Website Desa Mekar Sari menampilkan rubrik "Wirausaha Muda" yang digagas Lina. Kali ini ia menulis tentang seorang pemuda yang sukses dengan budidaya jamur tiram. Kisahnya inspiratif, ditulis dengan gaya feature yang hangat.
Website Desa Maju Bersama menampilkan artikel tentang pembangunan irigasi. Tulisannya sederhana, tapi fotonya—foto Budi—luar biasa. Ada foto petani yang sedang bersyukur, ada foto air yang mengalir di sawah-sawah kering, ada foto anak-anak yang bermain di dekat irigasi baru.
Dan seterusnya, dari desa satu ke desa lain, semua menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Arman menghela napas panjang. Ada perasaan haru yang mengganjal di dadanya.
"Lihat, Ni," katanya kepada Sari yang sedang duduk di sampingnya sambil merajut. "Mereka sudah bisa semua."
Sari menoleh, melihat layar laptop, lalu tersenyum. "Mas pasti bangga ya?"
Arman mengangguk. "Bangga sekali, Ni. Rasanya... seperti melihat anak-anak kita sendiri tumbuh dan mandiri."
Sari meletakkan rajutannya, meraih tangan suaminya. "Mas, saya juga bangga sama Mas."
"Bangga kenapa?"
"Karena Mas tidak egois. Mas mau berbagi ilmu. Mas mau melahirkan generasi penerus. Tidak semua orang bisa begitu."
Arman merenung sejenak. "Awalnya saya juga ragu, Ni. Takut mereka akan menggantikan saya, takut saya tidak dibutuhkan lagi."
"Lalu?"
"Tapi saya sadar, ini bukan tentang saya. Ini tentang desa-desa itu. Mereka butuh banyak orang yang bisa menulis, bukan cuma satu."
Sari tersenyum bangga. "Itulah yang membuat Mas berbeda, Mas. Mas tidak pernah berpikir untuk diri sendiri."***
Sore itu, tiba-tiba beberapa kendaraan berhenti di depan rumah Arman. Tiga motor dan satu mobil pick-up terparkir tidak rapi di pinggir jalan.
Dari kendaraan itu turun wajah-wajah yang sudah sangat akrab bagi Arman: Riko, Lina, Budi, Rudi, Andi, dan beberapa admin desa lainnya. Mereka datang bersama, membawa berbagai bingkisan dan kue.
"Wah, ada apa ini?" sapa Arman heran.
Riko, yang bertindak sebagai juru bicara, menjawab dengan semangat. "Mas Arman, kami sowan. Ada acara khusus."
Arman mempersilakan mereka masuk. Rumahnya yang sederhana itu tiba-tiba penuh oleh anak-anak muda yang ceria. Sari sibuk menyiapkan minuman dan camilan.
Setelah semua duduk lesehan di ruang tamu, Riko berdiri dan membuka suara.
"Mas Arman, Ibu Sari, terima kasih sudah menerima kami."
Arman tersenyum. "Ada apa ini, Riko? Serius amat."
Riko mengambil napas. "Mas Arman, hari ini kami datang untuk menyampaikan sesuatu."
Semua peserta diam, menanti.
Riko melanjutkan. "Mas Arman, dua tahun lalu, kami tidak tahu apa-apa tentang menulis berita. Kami cuma anak muda biasa, dengan mimpi-mimpi yang abstrak."
Arman mendengarkan dengan saksama.
"Tapi Mas Arman, dengan sabar, Mas mengajari kami. Mas tidak pernah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang kadang bodoh. Mas tidak pernah marah ketika kami salah. Mas selalu memberi semangat ketika kami putus asa."
Lina, yang duduk di samping Riko, matanya mulai berkaca-kaca.
Riko melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Sekarang, lihat kami. Rudi sudah jadi admin andalan di Sungai Harapan. Lina punya rubrik sendiri di Mekar Sari. Budi, yang dulu takut nulis, sekarang fotonya sering dipuji orang. Dan saya, Alhamdulillah, sudah bisa nulis liputan khusus."
Ia berhenti sejenak, mengatur emosi.
"Semua ini, Mas, berkat Mas Arman. Mas adalah guru kami. Mas adalah inspirasi kami."
Arman terharu. Matanya juga mulai basah.
Riko mengambil sebuah bingkisan besar yang dibungkus kado. "Mas, ini tanda terima kasih dari kami semua. Tidak seberapa, tapi ini dari hati."
Arman menerima bingkisan itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia membukanya. Di dalamnya, terdapat sebuah plakat kayu yang diukir indah. Di plakat itu tertulis:
"UNTUK SANG LEGENDA KONTRIBUTOR DESA
Terima kasih telah menyalakan api literasi di desa-desa kami
Dari anak didikmu yang bangga
Riko, Lina, Budi, Rudi, Andi, Siti, Joko, Rina, Heru, dan semua admin desa yang terinspirasi
Agustus 2023"*
Arman membaca tulisan itu berulang-ulang. Air matanya akhirnya tumpah. Ia tidak bisa menahan haru.
"Ini... ini terlalu berlebihan," katanya terbata-bata.
Riko memeluknya. "Tidak berlebihan, Mas. Ini hanya sebagian kecil dari rasa terima kasih kami."
Satu per satu, mereka memeluk Arman. Sari, yang menyaksikan dari samping, juga tidak kuasa menahan haru. Iapun menangis, tapi tangis bahagia.
Malam itu, rumah sederhana Arman berubah menjadi panggung kebahagiaan. Mereka makan bersama, bernyanyi bersama, bercerita bersama. Suara tawa memenuhi ruangan, mengusir sepi yang biasa menyelimuti malam-malam Arman.
Di tengah kebersamaan itu, Arman memandangi mereka satu per satu. Riko yang penuh semangat, Lina yang lembut tapi tegas, Budi yang polos tapi berbakat, Rudi yang kini lebih percaya diri, dan yang lainnya.
Ia tersenyum.
Ini lebih berharga dari apa pun, pikirnya. Melihat mereka tumbuh, melihat mereka sukses, itulah hadiah terbesar.
Setelah semua tamu pulang, Arman duduk sendirian di teras. Langit malam cerah, bertabur bintang. Bulan sabit menggantung rendah, menerangi halaman dengan cahaya perak.
Sari keluar, membawa dua cangkir kopi. Ia duduk di samping Arman, memberikan satu cangkir.
"Mas, capek?"
Arman menggeleng. "Tidak capek, Ni. Malah senang."
Mereka menyeruput kopi bersama, menikmati keheningan malam.
"Mas, saya mau tanya," kata Sari.
"Apa, Ni?"
"Mas bahagia nggak dengan semua ini?"
Arman merenung sejenak. "Bahagia, Ni. Sangat bahagia."
"Bahagianya karena apa? Karena terkenal? Karena banyak uang?"
Arman menggeleng. "Bukan. Bahagia karena saya bisa bermanfaat. Saya bisa membantu orang lain."
Sari tersenyum. "Itulah yang membuat saya cinta sama Mas."
Arman memeluk istrinya. "Dan saya cinta kamu karena selalu mendukung, apa pun yang terjadi."
Mereka berdua diam, menikmati kebersamaan di bawah langit malam.
Arman kemudian berkata, "Ni, saya mau cerita."
"Iya, Mas."
"Dulu, waktu pertama kali disuruh jadi admin website, saya takut sekali. Saya pikir, apa yang bisa saya lakukan? Saya cuma lulusan SMA, tidak bisa apa-apa."
Sari mendengarkan.
"Tapi Pak Rahmat bilang, 'Yang penting kamu mau belajar.' Pak Darso selalu nyemangatin dengan candaannya. Kamu selalu di belakang, mendukung diam-diam."
Arman berhenti sejenak.
"Sekarang, saya lihat anak-anak itu. Mereka dulunya sama seperti saya. Takut, ragu, bingung. Tapi sekarang mereka sudah bisa. Mereka bahkan lebih baik dari saya."
"Itu karena Mas mau berbagi."
"Mungkin. Tapi lebih dari itu, karena mereka mau berjuang. Saya cuma menunjukkan jalan. Mereka yang memilih untuk berjalan."
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, kamu adalah orang terbaik yang pernah saya kenal."
Arman tersenyum. "Karena kamu belum kenal Pak Darso."
Sari tertawa. "Pak Darso lain lagi. Dia unik."
Mereka berdua tertawa, memecah kesunyian malam.***
Keesokan harinya, di kantor desa, Arman bertemu dengan Pak Darso. Seperti biasa, Pak Darso sudah duduk dengan cangkir kopinya.
"Man, selamat pagi. Wajahmu cerah sekali. Ada angin apa?"
Arman tersenyum. "Tidak ada angin, Pak. Cuma senang aja."
"Senang karena kemarin dikunjungi anak-anak muda itu?"
Arman mengangguk. "Iya, Pak. Mereka memberi saya plakat. Bilang saya legenda."
Pak Darso tertawa. "Legenda? Itu sudah saya bilang dari dulu. Sekarang baru percaya?"
Arman tertawa. "Pak Darso ini, selalu saja."
Pak Darso menyeruput kopinya. "Man, saya mau tanya serius."
"Iya, Pak."
"Sekarang admin desa sudah pada bisa. Apa kamu tidak khawatir? Khawatir tidak dibutuhkan lagi?"
Arman berpikir sejenak. "Dulu sempat khawatir, Pak. Tapi sekarang tidak."
"Kenapa?"
"Karena saya sadar, ini bukan tentang saya. Ini tentang desa-desa itu. Kalau mereka sudah bisa mandiri, itu lebih baik. Berarti misi saya berhasil."
Pak Darso mengangguk. "Bagus. Itu jawaban seorang guru sejati."
Arman tersenyum. "Saya bukan guru, Pak. Saya cuma..."
"Jangan 'cuma-cuma' lagi, Man. Kamu sudah membuktikan. Kamu bukan 'cuma' apa-apa. Kamu adalah seseorang yang menginspirasi banyak orang."
Arman terdiam, merenungkan kata-kata Pak Darso.
"Pak Darso, terima kasih."
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk semua dukungan Bapak. Untuk candaan-candaan Bapak yang selalu menghibur. Untuk kopi-kopi yang Bapak traktir."
Pak Darso tertawa. "Wah, kalau urusan kopi, jangan salah. Saya yang paling banyak ditraktir kamu."
Mereka berdua tertawa. Kehangatan persahabatan mereka tidak pernah pudar, meskipun waktu terus berjalan.***
Hari-hari berlalu. Perubahan di sepuluh desa mitra Arman semakin terasa.
Di Desa Sungai Harapan, Rudi tidak hanya menjadi admin website, tapi juga dipercaya menjadi koordinator informasi desa. Ia rutin mengadakan pelatihan kecil untuk pemuda-pemuda desa yang ingin belajar menulis. Website desa kini tidak hanya berisi berita, tapi juga artikel-artikel ringan tentang kehidupan sehari-hari, resep masakan khas, dan cerita rakyat setempat.
Di Desa Bukit Lestari, Riko menjadi tokoh muda yang disegani. Ia sering diundang ke desa-desa lain untuk berbagi pengalaman tentang pengelolaan website desa. Artikel-artikelnya tentang budaya lokal menjadi referensi bagi mahasiswa yang melakukan penelitian. Ia bahkan mulai menulis buku tentang kearifan lokal masyarakat Dayak di desanya.
Di Desa Mekar Sari, Lina berhasil menggerakkan ibu-ibu PKK untuk aktif menulis. Mereka menulis tentang kegiatan kelompok, tentang resep masakan, tentang kisah sukses berjualan online. Rubrik "Wirausaha Wanita" yang digagas Lina menjadi rubrik terpopuler di website desa.
Di Desa Maju Bersama, Budi menemukan panggilannya sebagai fotografer. Ia tidak hanya memotret untuk website desa, tapi juga mulai menerima pesanan foto pernikahan dan acara-acara lain. Tapi ia tidak pernah lupa, setiap ada kegiatan desa, ia selalu ada dengan kameranya.
Di desa-desa lain, admin-administrator baru juga menunjukkan perkembangan masing-masing. Mereka saling mendukung, saling berbagi ilmu, saling menginspirasi. Sebuah komunitas kecil telah terbentuk—komunitas penulis desa yang lahir dari bimbingan Arman.
Arman memantau semua perkembangan itu dari jauh. Kadang melalui WhatsApp, kadang melalui telepon, kadang dengan membaca artikel-artikel mereka. Ia tidak lagi banyak campur tangan. Ia lebih suka membiarkan mereka berkembang dengan gaya masing-masing.
Tapi ia selalu ada ketika dibutuhkan. Jika ada yang bertanya, ia akan menjawab. Jika ada yang minta masukan, ia akan memberi. Jika ada yang putus asa, ia akan menyemangati.
Perannya kini adalah sebagai penjaga api—api semangat menulis yang telah ia nyalakan.***
Suatu sore, Arman menerima telepon dari Pak Hadi.
"Assalamualaikum, Pak Arman. Selamat sore."
"Waalaikumsalam, Pak Hadi. Ada apa?"
"Pak Arman, ada undangan istimewa nih."
"Undangan dari mana, Pak?"
"Dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi. Mereka mengadakan seminar nasional tentang digitalisasi desa. Mereka minta Bapak jadi pembicara utama."
Arman terkejut. "Pembicara utama? Saya?"
"Iya. Katanya, mereka sudah mendengar tentang Bapak. Tentang perjuangan Bapak mengelola website desa, tentang bagaimana Bapak membina admin-admin desa. Mereka ingin Bapak berbagi di tingkat provinsi."
Arman terdiam. Ini level yang berbeda. Sebelumnya ia hanya bicara di seminar universitas. Sekarang di seminar tingkat provinsi, dengan peserta dari seluruh Kalimantan.
"Pak, saya... saya takut."
Pak Hadi tertawa. "Pak Arman, sudah berapa kali Bapak bilang takut? Tapi setiap kali, Bapak bisa melewatinya."
Arman tersenyum. "Iya, Pak. Tapi ini levelnya beda."
"Tidak beda, Pak Arman. Ceritanya sama. Yang berubah hanya jumlah pendengarnya."
Arman berpikir sejenak. "Boleh saya pikir dulu, Pak?"
"Tentu. Tapi tolong cepat. Acaranya bulan depan."
Telepon ditutup. Arman menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk.
Malam harinya, ia menceritakan hal itu kepada Sari.
Sari tersenyum. "Mas, ini kesempatan."
"Kesempatan atau tantangan?"
"Dua-duanya. Tapi lebih banyak kesempatannya."
"Kamu yakin saya bisa?"
Sari memegang tangan suaminya. "Mas, sudah berapa banyak orang yang terinspirasi oleh Mas? Riko, Lina, Budi, dan yang lainnya. Sekarang waktunya Mas menginspirasi lebih banyak orang."
Arman merenung.
"Mas, ingat pesan Pak Darso? 'Kue lapis makin laris, tapi jangan sampai hancur.' Mas tidak akan hancur. Mas akan semakin besar."
Arman tersenyum. "Kamu ini selalu bisa meyakinkan saya."
"Itu tugas istri, Mas."
Malam itu, Arman mengambil keputusan. Ia akan menerima undangan itu.
Seminar Nasional di Samarinda
Sebulan kemudian, Arman berdiri di sebuah hotel berbintang di Samarinda. Di depannya, ratusan peserta dari berbagai kabupaten di Kalimantan duduk rapi, siap mendengarkan paparannya.
Ia mengenakan kemeja batik baru—hadiah dari Sari untuk acara ini. Celana bahan hitam, sepatu pantofel yang sudah disemir mengilap. Penampilannya sederhana, tapi rapi.
Di belakang layar, ia sempat gugup. Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin membasahi telapak tangan.
Tapi ia ingat pesan Sari: "Mas, kamu sudah melalui banyak hal. Ini hanya salah satunya."
Ia ingat pesan Pak Darso: "Man, anggap saja mereka itu perangkat desa. Yang penting ngomong aja."
Ia ingat pesan Riko: "Mas Arman, kami semua mendoakan Mas. Semoga lancar."
Dengan menguatkan hati, ia melangkah ke podium.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua."
"Waalaikumsalam," jawab peserta serempak.
Arman menarik napas. "Perkenalkan, saya Arman. Saya dari Desa Sido Mukti, sebuah desa kecil di kabupaten tetangga. Saya hanya lulusan SMA. Saya tidak punya gelar, tidak punya sertifikat, tidak punya pelatihan formal apa pun."
Beberapa peserta tersenyum. Ada yang saling berpandangan.
"Yang saya punya hanya satu: kemauan untuk belajar. Dua tahun lalu, saya tidak tahu apa-apa tentang website. Saya bahkan tidak bisa mengetik dengan cepat. Tapi kepala desa saya meminta saya mengelola website desa."
Arman mulai bercerita. Tentang awal yang sulit, tentang laptop tua dengan kipas berisik, tentang mengetik dengan dua jari, tentang artikel pertama yang sangat sederhana.
Peserta mendengarkan dengan antusias. Banyak yang tersenyum, banyak yang mengangguk, banyak yang terinspirasi.
"Saya tidak hebat," kata Arman di tengah ceramahnya. "Saya hanya konsisten. Saya menulis setiap hari, meskipun kadang hanya satu paragraf. Saya belajar dari kesalahan. Saya terus mencoba, meskipun gagal berkali-kali."
Ia bercerita tentang bagaimana satu desa berkembang menjadi sepuluh desa. Tentang konflik yang harus dihadapi. Tentang tekanan dan tuntutan. Tentang dukungan keluarga dan teman-teman.
Dan yang paling menginspirasi, ia bercerita tentang generasi baru admin desa yang kini telah mandiri.
"Saya bukan lagi penulis utama untuk desa-desa itu. Sekarang mereka menulis sendiri. Saya hanya menjadi editor, menjadi motivator, menjadi teman diskusi. Dan itu membuat saya lebih bahagia daripada menulis sendiri."
Arman mengakhiri presentasinya dengan pesan sederhana.
"Teman-teman, siapa pun kalian, apa pun latar belakang kalian, kalian bisa melakukan apa yang saya lakukan. Bahkan bisa lebih baik. Kuncinya hanya satu: mau belajar dan tidak menyerah."
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Beberapa peserta berdiri, memberi standing ovation.
Arman tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Ia telah melakukannya.***
Dua hari kemudian, Arman kembali ke desanya. Ia disambut oleh Sari, Pak Darso, dan beberapa perangkat desa di halaman kantor desa.
"Selamat datang, pembicara nasional!" sapa Pak Darso dengan nada bercanda.
Arman tertawa. "Pak Darso, jangan begitu."
"Bagaimana? Hebat kan? Dari admin desa biasa, jadi pembicara di hotel bintang lima."
Arman menggeleng. "Bukan hotel bintang lima, Pak. Hotel biasa."
"Ya, pokoknya hotel. Yang penting naik pangkat."
Semua tertawa.
Pak Rahmat menjabat tangan Arman. "Selamat, Man. Kamu sudah mengharumkan nama desa kita."
Arman tersenyum malu. "Alhamdulillah, Pak. Ini semua berkat dukungan Bapak-bapak semua."
Malam harinya, Arman duduk di teras rumah, ditemani Sari. Mereka menikmati kopi, menikmati keheningan, menikmati kebersamaan.
"Mas, capek?" tanya Sari.
"Tidak capek, Ni. Senang."
"Besok istirahat dulu ya. Jangan langsung nulis."
Arman tersenyum. "Iya, Ni. Besok saya libur."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua diam, menikmati malam.
Arman memandang langit. Bintang-bintang bertaburan, lebih indah dari lampu-lampu kota di Samarina.
"Ni," katanya pelan.
"Apa, Mas?"
"Saya bersyukur."
"Bersyukur apa?"
Arman meraih tangan istrinya. "Bersyukur punya kamu. Bersyukur punya teman-teman seperti Pak Darso, Pak Rahmat, dan yang lainnya. Bersyukur bisa bertemu dengan anak-anak muda itu. Bersyukur bisa bermanfaat."
Sari memeluk suaminya. "Mas, saya juga bersyukur punya Mas."
Malam itu, di bawah langit desa yang bertabur bintang, Arman merasa damai.
Perjalanan panjangnya telah membuahkan hasil yang tak terduga.
Dan ia tahu, ini bukan akhir.
Ini adalah awal dari babak baru.***
Waktu terus berjalan.
Satu tahun setelah seminar di Samarinda, banyak hal berubah.
Arman kini tidak lagi menulis untuk sepuluh desa. Perannya telah bergeser total menjadi fasilitator, mentor, dan inspirator.
Ia sering diundang ke berbagai tempat: seminar, pelatihan, diskusi kelompok, bahkan acara televisi lokal. Ia berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi semangat.
Tapi ia selalu kembali ke desanya. Ke rumah kayu sederhana itu. Ke meja tua yang penuh catatan. Ke laptop dengan kipas berisik. Ke Sari yang setia menemaninya.
Suatu sore, ia duduk di teras, membuka laptop seperti biasa.
Ia membuka satu per satu website desa yang dulu ia kelola.
Desa Sungai Harapan: Rudi kini menjadi redaktur pelaksana website desa. Ia telah melatih tiga orang admin baru. Artikel-artikelnya semakin berkualitas. Bahkan ada rubrik khusus tentang pariwisata desa.
Desa Bukit Lestari: Riko menjadi tokoh inspiratif. Ia menerbitkan buku kumpulan artikel tentang budaya Dayak. Bukunya laris di pasaran, bahkan dibahas di koran nasional.
Desa Mekar Sari: Lina berhasil menggerakkan puluhan ibu-ibu untuk menulis. Mereka kini punya majalah desa digital yang terbit setiap bulan. Ibu-ibu itu bangga melihat nama mereka terpampang sebagai penulis.
Desa Maju Bersama: Budi kini menjadi fotografer terkenal. Fotonya tentang kehidupan desa sering muncul di media sosial dan mendapat ribuan like. Tapi ia tidak pernah sombong. Ia selalu berkata, "Saya belajar dari Mas Arman."
Desa Karya Mandiri: Andi dan timnya berhasil membuat website desa yang sangat interaktif. Ada fitur pengaduan warga, layanan administrasi online, bahkan pasar digital untuk produk UMKM.
Desa Tani Makmur: Admin baru yang dilatih oleh Budi (bukan Budi dari Maju Bersama, tapi Budi yang berbeda) kini aktif menulis tentang inovasi pertanian. Artikel-artikelnya sering dijadikan referensi oleh penyuluh pertanian.
Desa Harapan Jaya: Tim admin desa berhasil membuat dokumentasi lengkap tentang sejarah desa. Mereka mewawancarai para sesepuh, mengumpulkan foto-foto lama, menuliskan cerita rakyat. Website mereka kini menjadi arsip digital yang berharga.
Dan seterusnya. Semua desa menunjukkan kemajuan yang membanggakan.
Arman membaca semua itu dengan senyum yang tidak pernah pudar.
Sari keluar membawa teh hangat. Melihat suaminya tersenyum-senyum, ia bertanya.
"Mas, lihat apa?"
Arman menunjuk layar. "Lihat, Ni. Mereka sudah pada hebat semua."
Sari membaca beberapa artikel. "Wah, bagus-bagus. Mas pasti bangga."
Arman mengangguk. "Bangga sekali, Ni. Lebih bangga daripada dapat penghargaan apa pun."
Sari duduk di sampingnya. "Mas, saya mau tanya."
"Apa, Ni?"
"Mas pernah menyesal nggak, memulai semua ini?"
Arman merenung sejenak. "Tidak pernah, Ni. Sama sekali tidak pernah."
"Meskipun capek? Meskipun banyak tekanan?"
"Justru capek dan tekanan itu yang membuat saya kuat. Justru itu yang membuat saya menghargai semua ini."
Sari tersenyum. "Mas, saya juga tidak pernah menyesal."
"Menyesal apa?"
"Menyesal menikah dengan Mas. Menyesal mendukung Mas. Menyesal jadi istri Mas."
Arman terharu. "Ni..."
Sari melanjutkan. "Saya lihat Mas berjuang dari nol. Saya lihat Mas nangis karena konflik. Saya lihat Mas begadang sampai pagi. Tapi saya juga lihat Mas tersenyum bangga melihat anak-anak didik Mas sukses."
"Itu semua karena kamu, Ni. Kamu yang selalu mendukung."
Mereka berpelukan, menikmati sore yang damai.***
Malam harinya, Arman duduk sendirian di mejanya. Di depannya, laptop terbuka, siap untuk menulis.
Ia ingin menulis sesuatu. Bukan artikel berita, bukan laporan kegiatan. Tapi catatan pribadi, untuk dirinya sendiri.
Ia mulai mengetik dengan dua jarinya yang setia.
Desa Sido Mukti, 17 Agustus 2024
Tiga tahun sudah saya menjalani peran sebagai kontributor website desa.
Tiga tahun yang penuh dengan suka dan duka. Tiga tahun yang mengubah hidup saya.
Dari seorang yang tidak tahu apa-apa tentang website, saya kini telah membantu sepuluh desa memiliki website aktif.
Dari seorang yang takut menulis, saya kini telah menulis ratusan artikel.
Dari seorang yang bekerja sendiri, saya kini telah melahirkan puluhan penulis baru.
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya Arman, warga biasa Desa Sido Mukti.
Tapi saya percaya, setiap orang punya potensi untuk menjadi sesuatu.
Yang dibutuhkan hanya kemauan untuk belajar, ketekunan untuk berusaha, dan keberanian untuk menghadapi tantangan.
Saya bersyukur kepada Allah yang telah memberi saya jalan ini.
Saya bersyukur kepada istri saya, Sari, yang selalu mendukung tanpa pamrih.
Saya bersyukur kepada Pak Rahmat yang telah memberi kepercayaan.
Saya bersyukur kepada Pak Darso yang selalu menghibur dengan candaannya.
Saya bersyukur kepada para kepala desa yang percaya pada kemampuan saya.
Saya bersyukur kepada Riko, Lina, Budi, Rudi, dan semua anak didik saya, yang telah membuktikan bahwa mereka bisa lebih baik dari saya.
Dan saya bersyukur kepada pembaca semua, yang telah meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya.
Perjalanan ini masih panjang. Masih banyak desa yang butuh bantuan. Masih banyak anak muda yang butuh bimbingan. Masih banyak cerita yang perlu ditulis.
Tapi saya tidak sendiri. Kini ada banyak tangan yang siap membantu. Ada banyak hati yang siap berbagi. Ada banyak semangat yang siap menyala.
Saya hanya pemicu. Mereka adalah apinya.
Dan api itu, Insya Allah, tidak akan padam.
Terima kasih untuk semuanya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Arman
Sang Legenda Kontributor Desa
Arman selesai menulis. Ia membaca ulang tulisannya, lalu menyimpannya di folder khusus berjudul "Catatan Pribadi."
Ia mematikan laptop, membereskan meja, lalu berjalan menuju kamar.
Sari sudah terlelap. Arman mengecup kening istrinya, lalu berbaring di sampingnya.
Di luar, malam semakin larut. Suara jangkrik masih setia menemani. Angin berhembus pelan, membawa wangi tanah dan dedaunan.
Arman memejamkan mata.
Pikirannya tenang.
Hatinya damai.
Perjalanan panjangnya sebagai kontributor desa telah membawanya ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Dan ia tahu, ini bukan akhir.
Ini adalah awal dari petualangan baru.
Petualangan di mana desa-desa kini bisa menulis cerita mereka sendiri.
Dan ia, Sang Legenda, akan selalu ada di sana—bukan sebagai penulis utama, tapi sebagai saksi, sebagai penyemangat, sebagai penjaga api yang tak pernah padam.
EPILOG
Ketika Desa Bisa Bercerita Sendiri
Beberapa tahun telah berlalu sejak perjalanan panjang itu dimulai.
Waktu berjalan perlahan, seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti. Banyak hal berubah, banyak pula yang berkembang. Anak-anak desa yang dulu masih kecil kini sudah remaja. Remaja yang dulu baru belajar menulis kini sudah menjadi penulis handal. Para kepala desa yang dulu baru mulai mengenal teknologi kini sudah mahir mengakses internet.
Di berbagai wilayah di Pulau Kalimantan, sepuluh desa yang dulu pernah bekerja sama dengan Arman kini telah memiliki website desa yang hidup dan aktif.
Bukan lagi sekadar halaman kosong yang hanya menampilkan profil desa.
Kini website desa itu telah menjadi ruang cerita desa.
Setiap minggu selalu ada artikel baru. Berita tentang kegiatan masyarakat, pembangunan desa, musyawarah desa, pelatihan kelompok tani, hingga kisah-kisah kecil tentang kehidupan warga.
Semua ditulis oleh anak-anak muda desa sendiri.***
Di Desa Sungai Harapan, Rudi kini menjadi kepala seksi informasi dan komunikasi desa—sebuah jabatan baru yang sengaja dibuat untuk mengakomodasi peran penting website desa. Ia tidak bekerja sendiri. Tiga orang admin muda membantunya mengelola website, media sosial, dan kanal YouTube desa.
Setiap bulan, mereka menerbitkan majalah digital yang bisa diunduh gratis oleh warga. Majalah itu berisi ringkasan kegiatan desa, profil warga berprestasi, resep masakan lokal, dan cerita rakyat setempat.
Suatu pagi, Rudi duduk di kantor desa sambil mengetik artikel tentang persiapan lomba desa. Di belakangnya, seorang staf bertanya.
"Pak Rudi, nanti lomba desa, kita siapkan apa saja?"
Rudi menjawab tanpa berhenti mengetik. "Siapkan dokumentasi yang bagus. Foto, video, wawancara. Semua harus lengkap."
"Seperti biasa, Pak?"
"Lebih. Kita harus lebih baik dari tahun lalu."
Staf itu mengangguk, lalu pergi bersiap.
Rudi tersenyum sendiri. Dulu, ia bahkan tidak tahu cara menulis berita. Sekarang, ia yang memimpin tim.***
Di Desa Bukit Lestari, Riko kini menjadi tokoh yang cukup dikenal di kabupatennya. Bukan hanya karena artikel-artikelnya, tapi karena bukunya tentang budaya Dayak yang mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan.
Buku itu, "Menyapa Lebatnya Hutan: Kisah dan Kearifan Lokal Dayak di Bukit Lestari," adalah kumpulan artikel yang pernah ia tulis di website desa, ditambah dengan hasil wawancara mendalam dengan para tetua adat.
Suatu sore, Riko menerima telepon dari seorang penerbit nasional. Mereka tertarik menerbitkan bukunya secara nasional.
"Mas Riko, kami lihat buku Mas punya potensi besar. Apakah Mas tertarik bekerja sama?"
Riko hampir tidak percaya. "Tertarik, Pak. Sangat tertarik."
"Bagus. Nanti kita bicarakan lebih lanjut."
Setelah telepon itu, Riko menangis. Ia teringat Arman, gurunya, yang pernah berkata, "Teruslah menulis, Riko. Suatu hari, tulisammu akan dibaca banyak orang."***
Di Desa Mekar Sari, Lina kini menjadi koordinator program literasi desa. Ia tidak hanya fokus pada website, tapi juga menggerakkan perpustakaan desa, taman baca, dan klub menulis untuk ibu-ibu dan remaja.
Setiap hari Minggu, puluhan anak berkumpul di balai desa untuk belajar menulis. Lina mengajari mereka dengan sabar, persis seperti Arman dulu mengajarinya.
Seorang anak perempuan, mungkin usia 10 tahun, menunjukkan tulisannya.
"Kak Lina, ini bagus nggak?"
Lina membaca tulisan anak itu tentang kucing kesayangannya. Sederhana, tapi jujur dan menggemaskan.
"Ini bagus sekali. Teruslah menulis, ya."
Anak itu tersenyum senang.
Lina tersenyum. Ia melihat dirinya sendiri di masa lalu. Dan ia bersyukur bisa menjadi seperti Arman bagi anak-anak ini.***
Di Desa Maju Bersama, Budi kini menjadi fotografer yang cukup sibuk. Ia sering dipanggil ke berbagai acara: pernikahan, ulang tahun, bahkan acara resmi pemerintah. Tapi ia tidak pernah lupa dengan desanya.
Setiap kali ada kegiatan desa, ia selalu ada dengan kameranya. Foto-fotonya memperindah website desa, membuat orang betah membaca.
Suatu hari, ada pameran fotografi di ibu kota provinsi. Budi diundang untuk memamerkan fotonya.
Temanya: "Wajah Desa."
Foto-foto Budi tentang petani, anak-anak bermain, pasar tradisional, dan kehidupan sehari-hari di desa mendapat banyak pujian.
Seorang pengunjung bertanya, "Mas, ini foto di mana?"
Budi menjawab bangga. "Di desa saya, Maju Bersama."
"Wah, indah sekali desanya."
Budi tersenyum. Ia berhasil memperkenalkan desanya lewat foto.***
Di desa-desa lain, cerita serupa juga terjadi.
Andi di Karya Mandiri kini menjadi konsultan website desa untuk beberapa desa tetangga.
Siti di Harapan Jaya berhasil membuat kanal YouTube desa yang punya ribuan subscriber.
Joko di Tani Makmur mulai menulis artikel tentang pertanian organik yang dijadikan referensi oleh penyuluh pertanian.
Rina di Sumber Rejeki menjadi penulis tetap untuk majalah desa yang terbit setiap bulan.
Mereka semua adalah generasi baru penulis desa, yang lahir dari bimbingan Arman.
Dan mereka semua, di setiap kesempatan, selalu menyebut nama Arman.
"Guru kami, Mas Arman."
"Beliau yang mengajari kami menulis."
"Tanpa beliau, kami tidak akan bisa."
Sementara itu, di rumah sederhana yang sama seperti beberapa tahun lalu, Arman duduk santai di teras rumahnya.
Laptopnya masih ada di meja kayu tua. Tapi kini jarang terbuka sepanjang malam seperti dulu.
Sesekali ia masih menulis artikel. Biasanya jika ada kegiatan besar di desanya sendiri. Atau jika salah satu admin desa memintanya menulis sesuatu yang spesial.
Tapi lebih sering, ia hanya membaca. Membaca artikel-artikel karya anak didiknya. Memberi komentar, memberi semangat, memberi masukan jika diminta.
Suatu sore, Riko mengirim pesan.
"Mas Arman, saya mau kasih kabar."
"Kabar apa, Riko?"
"Buku saya mau diterbitkan penerbit nasional, Mas!"
Arman tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Riko. Selamat ya!"
"Terima kasih, Mas. Ini semua berkat Mas."
"Bukan, Riko. Ini berkat kerja kerasmu sendiri. Saya cuma membantu sedikit."
"Mas Arman selalu merendah. Tapi saya tahu, tanpa Mas, saya tidak akan pernah sampai di sini."
Arman terharu membaca pesan itu.
Tak lama, Lina juga mengirim pesan.
"Mas Arman, program literasi saya dapat penghargaan dari bupati!"
Arman membalas. "Wah, selamat Lina! Luar biasa!"
"Terima kasih, Mas. Mas adalah inspirasi saya."
Budi juga mengirim kabar.
"Mas Arman, foto saya dipamerkan di Samarinda!"
Arman membalas. "Selamat Budi! Bangga sama kamu."
Budi membalas dengan emoji menangis. "Mas, saya tidak akan bisa tanpa Mas."
Satu per satu pesan masuk. Dari Rudi, Andi, Siti, dan yang lainnya. Semua berbagi kabar baik, semua berterima kasih.
Arman membaca semua pesan itu dengan perasaan haru.
Sari yang duduk di sampingnya bertanya. "Mas, pada ngapain?"
Arman menunjukkan ponselnya. "Lihat, Ni. Mereka semua pada kirim kabar baik."
Sari membaca satu per satu. Ia tersenyum.
"Mas pasti bangga ya?"
Arman mengangguk. "Bangga sekali, Ni. Ini lebih berharga dari apa pun."***
Suatu sore, ketika Arman sedang duduk di teras, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.
Dari mobil itu turun puluhan orang. Wajah-wajah yang dikenalnya.
Riko, Lina, Budi, Rudi, Andi, Siti, Joko, Rina, dan semua admin desa yang pernah ia bimbing. Mereka datang bersama, membawa berbagai makanan dan kue.
"Wah, ada apa ini?" sapa Arman heran.
Riko tersenyum. "Mas Arman, kami sowan. Mau rayain sesuatu."
"Rayain apa?"
Lina menjawab. "Hari ini, genap lima tahun Mas Arman mulai menulis."
Arman terkejut. "Kalian ingat?"
"Tentu, Mas. Kami semua ingat. 17 Maret 2020, Mas menulis artikel pertama."
Arman terharu. Ia sendiri lupa tanggal persisnya. Tapi anak-anak ini mengingatnya.
Mereka duduk lesehan di halaman rumah. Sari sibuk menyiapkan minuman. Suasana hangat dan akrab seperti keluarga.
Riko berdiri, membuka suara. "Mas Arman, lima tahun lalu, Mas memulai sesuatu yang sederhana. Mas hanya ingin mengisi website desa. Tapi lihat sekarang..."
Ia menunjuk teman-temannya. "Kami semua ada di sini, bisa menulis, bisa berkarya, berkat Mas."
Lina menambahkan. "Mas, kami tidak akan pernah bisa melupakan jasa Mas. Mas adalah guru kami, inspirasi kami, legenda bagi kami."
Budi, yang biasanya pendiam, tiba-tiba bicara. "Mas, dulu saya paling bodoh di antara yang lain. Saya takut nulis, tulisan saya jelek. Tapi Mas tidak pernah marah. Mas selalu sabar membimbing."
Matanya berkaca-kaca. "Sekarang, saya bisa. Foto saya dipamerkan. Saya dapat uang dari fotografi. Semua berkat Mas."
Arman memeluk Budi. "Budi, kamu tidak bodoh. Kamu punya bakat yang berbeda. Dan bakatmu itu luar biasa."
Yang lain ikut terharu. Suasana haru menyelimuti pertemuan itu.
Mereka makan bersama, bernyanyi bersama, bercerita bersama. Seperti keluarga besar yang sedang berkumpul.
Malam harinya, sebelum pulang, Riko menyerahkan sebuah bingkisan.
"Mas, ini dari kami semua."
Arman membukanya. Di dalamnya, sebuah album foto tebal. Setiap halaman berisi foto-foto kegiatan mereka selama ini, lengkap dengan catatan tangan masing-masing.
Di halaman terakhir, tertulis:
"UNTUK SANG LEGENDA
Dari anak-anakmu yang bangga
Terima kasih telah menyalakan api literasi di desa-desa kami
Kami tidak akan pernah melupakanmu
Selamat ulang tahun kelima, Mas Arman"*
Arman menangis. Tidak bisa menahan haru.
"Terima kasih, anak-anak. Terima kasih untuk semuanya."
Malam itu, di bawah langit desa yang cerah, Arman merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia.***
Tahun-tahun berikutnya, apa yang dimulai Arman terus berkembang.
Website desa tidak lagi menjadi hal asing. Hampir semua desa di kabupatennya memiliki website aktif. Bahkan beberapa desa mulai mengembangkan aplikasi mobile untuk layanan publik.
Para admin desa yang pernah dilatih Arman, langsung atau tidak langsung, kini tersebar di berbagai desa. Mereka menjadi agen perubahan, menjadi motor penggerak literasi digital di desa masing-masing.
Riko menjadi kepala dinas pemberdayaan masyarakat di kabupatennya, setelah sukses memimpin program digitalisasi desa.
Lina mendirikan yayasan yang fokus pada literasi desa. Yayasannya sudah melatih ribuan admin desa di berbagai provinsi.
Budi menjadi fotografer profesional yang karyanya sering muncul di media nasional. Tapi ia selalu menyempatkan diri memotret desanya.
Rudi menjadi dosen di universitas negeri, mengajar mata kuliah komunikasi pembangunan. Ia sering mengundang Arman sebagai dosen tamu.
Yang lainnya juga sukses di bidang masing-masing. Tapi mereka semua tetap terhubung, tetap saling mendukung, tetap menyebut Arman sebagai guru.
Arman sendiri? Ia tetap tinggal di desanya, di rumah sederhana itu. Ia masih sesekali menulis, masih sesekali memberi masukan, masih sesekali menjadi narasumber.
Tapi ia lebih banyak menikmati masa tuanya bersama Sari. Berkebun, bercocok tanam, mengunjungi anak-anak mereka yang sudah bekerja di kota.
Namun di setiap kesempatan, ketika ditanya tentang apa yang paling ia banggakan, jawabannya selalu sama:
"Bukan artikel-artikel saya. Bukan penghargaan yang saya terima. Tapi anak-anak muda itu. Mereka yang kini meneruskan perjuangan. Mereka adalah warisan saya yang abadi."***
Suatu pagi, Arman didatangi oleh seorang pemuda. Usianya mungkin 20 tahun, membawa laptop dan buku catatan.
"Selamat pagi, Pak Arman. Saya pengagum Bapak. Saya mau belajar menulis seperti Bapak."
Arman tersenyum. Wajah pemuda ini mengingatkannya pada Riko, Lina, Budi, dan yang lainnya, beberapa tahun lalu.
"Silakan duduk, Nak. Mau minum apa?"
"Kopi saja, Pak."
Arman memanggil Sari untuk menyiapkan kopi. Lalu ia duduk berhadapan dengan pemuda itu.
"Nak, saya hanya bisa mengajari dasar-dasarnya. Tapi yang paling penting, kemauan belajar ada di diri kamu sendiri."
Pemuda itu mengangguk. "Saya siap belajar, Pak."
Arman membuka laptopnya, yang masih sama—laptop tua dengan kipas berisik.
"Kamu lihat laptop ini?"
"Iya, Pak."
"Ini laptop yang sama yang saya gunakan sejak pertama kali menulis. Sudah 10 tahun. Kipasnya berisik, baterainya cepat habis, tapi masih setia."
Pemuda itu tersenyum.
"Menulis itu tidak butuh alat mahal, Nak. Yang butuh cuma kemauan. Dan konsistensi."
Arman mulai mengajari pemuda itu. Tentang 5W+1H, tentang piramida terbalik, tentang memilih foto yang bagus.
Sari keluar membawa kopi. Melihat suaminya mengajar, ia tersenyum.
Masih sama seperti dulu, pikirnya. Tidak pernah lelah berbagi.
Matahari semakin tinggi. Suara ayam dan burung terdengar dari kejauhan. Angin desa berhembus pelan.
Di teras rumah sederhana itu, seorang legenda sedang menyalakan api baru.
Api literasi desa.
Api yang akan terus menyala, dari generasi ke generasi.
Selesai
CATATAN PENULIS
Novel ini adalah karya fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata ribuan pengelola website desa di berbagai daerah di Indonesia. Tokoh Arman adalah representasi dari mereka—para pejuang literasi digital yang bekerja diam-diam namun memberi dampak besar bagi desa-desa di tanah air.
Kisah ini ingin menyampaikan beberapa pesan:
- Setiap orang bisa memulai dari nol. Arman memulai perjalanannya hanya dengan kemampuan mengetik dua jari. Tidak ada bakat istimewa, tidak ada pendidikan khusus. Yang ada hanyalah kemauan belajar dan konsistensi.
- Perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Artikel pertama Arman sangat sederhana. Tapi dari situlah semuanya bermula. Satu langkah kecil, jika dilakukan konsisten, bisa membawa perubahan besar.
- Berbagi ilmu adalah investasi terbaik. Arman tidak menyimpan ilmunya sendiri. Ia berbagi dengan siapa pun yang mau belajar. Dan hasilnya, ia melahirkan generasi baru penulis desa yang akan terus melanjutkan perjuangannya.
- Keluarga adalah fondasi utama. Di balik kesuksesan Arman, ada Sari yang selalu mendukung. Dukungan keluarga adalah bahan bakar yang membuatnya terus bertahan di saat-saat sulit.
- Desa punya cerita yang layak didengar. Selama ini, cerita tentang desa sering terpinggirkan. Padahal, desa menyimpan kekayaan budaya, kearifan lokal, dan kisah inspiratif yang tak kalah menarik dari cerita kota.
- Teknologi hanyalah alat. Yang terpenting bukan kecanggihan teknologi, tapi bagaimana teknologi itu digunakan. Website desa yang sederhana namun aktif lebih bermanfaat daripada website canggih yang kosong.
- Konflik adalah bagian dari proses. Arman menghadapi berbagai konflik: kritik, tuduhan, bahkan penarikan kepercayaan. Tapi ia tidak menyerah. Ia belajar dari setiap konflik dan menjadi lebih baik.
- Keberhasilan sejati adalah ketika orang lain sukses berkat kita. Arman mencapai puncak kebahagiaannya bukan saat menerima penghargaan, tapi saat melihat anak didiknya sukses.
Semoga kisah ini menginspirasi para pembaca, terutama yang tinggal di desa atau berkecimpung dalam pemerintahan desa, untuk mulai menulis dan mendokumentasikan kegiatan desa.
Website desa bukan sekadar kewajiban administratif, tapi jendela yang membuka desa kepada dunia.
Dan setiap orang, dengan segala keterbatasannya, bisa menjadi penjaga jendela itu.
Selamat menulis, selamat berkarya, selamat menjadi penjaga cerita desa!
Slamet Riyadi
Penulis, pegiat literasi desa, admin website desa sejak 2023.
Desa Sriwidadi, 06 Maret 2026
"Ketika desa bisa bercerita sendiri, dunia akan mendengarkan."
"Ketika anak muda desa mulai menulis, masa depan desa akan terang."
"Ketika seorang legenda lahir dari kesederhanaan, inspirasi akan menyebar ke mana-mana."
Slamet Riyadi
28 Juli 2025 20:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...