Etika Relasi Atasan dan Bawahan dalam Pemerintahan Desa

Meta Deskripsi: Artikel opini tentang pentingnya etika antara atasan dan bawahan dalam pemerintahan desa, khususnya relasi Kepala Desa dengan Sekretaris Desa, Kasi, dan Kaur, disertai pandangan Kepala Desa Dabulon, Anuar Sadat, mengenai peran etika dalam mewujudkan pemerintahan desa yang harmonis dan profesional.
Oleh: Tim Redaksi Desa Dabulon
Etika dalam hubungan kerja antara atasan dan bawahan menjadi fondasi penting dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Kepala desa sebagai pemimpin tertinggi di tingkat desa, bersama sekretaris desa, kepala seksi (Kasi), maupun kepala urusan (Kaur), perlu membangun komunikasi yang harmonis, transparan, dan saling menghargai. Tanpa adanya etika yang baik, pelayanan kepada masyarakat berpotensi tersendat, bahkan bisa menimbulkan konflik internal.
Dalam sistem pemerintahan desa, Kepala Desa berperan sebagai pengambil kebijakan utama, sedangkan sekretaris desa dan perangkat lainnya menjadi pelaksana administrasi, teknis, dan pelayanan. Relasi ini harus dijalankan dengan prinsip profesionalitas, kejujuran, dan loyalitas.
Kepala Desa Dabulon, Anuar Sadat, menegaskan pentingnya etika ini.
“Pemerintah desa harus bekerja sebagai sebuah tim. Kepala desa memang pemimpin, tetapi tanpa dukungan sekretaris, Kasi, dan Kaur, pelayanan masyarakat tidak akan optimal. Etika menghargai, mendengar, dan membimbing itu wajib kita jaga,” ungkap Anuar Sadat.
Lebih jauh, etika antara atasan dan bawahan bukan sekadar persoalan sopan santun, tetapi menyangkut integritas dan tanggung jawab. Sekretaris desa, misalnya, harus mampu menyampaikan administrasi secara jujur tanpa menutupi masalah. Begitu juga Kepala Desa harus membuka ruang komunikasi yang sehat tanpa otoriter.
Menurut Anuar Sadat, hubungan yang baik akan menciptakan budaya kerja yang produktif.
“Saya selalu menekankan agar perangkat desa bekerja dengan hati. Saya tidak ingin ada rasa takut, tetapi rasa tanggung jawab dan kesadaran. Kalau ada masalah, lebih baik disampaikan terbuka. Inilah yang membangun kepercayaan,” tambahnya.
Etika kerja yang harmonis juga berdampak pada kepercayaan masyarakat. Pemerintahan desa yang solid akan lebih mudah menjalankan program pembangunan, pengelolaan keuangan desa, maupun pelayanan administrasi. Dengan demikian, etika antara atasan dan bawahan bukan hanya kepentingan internal, tetapi menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Dalam konteks pemerintahan desa, Kepala Desa dan seluruh perangkatnya harus memahami bahwa etika adalah jembatan yang menyatukan visi dan kerja nyata. Hubungan yang sehat antara atasan dan bawahan akan melahirkan pelayanan publik yang lebih profesional, transparan, dan berkeadilan. Desa membutuhkan pemimpin yang bijak sekaligus perangkat yang loyal dan berintegritas, sehingga roda pemerintahan berjalan sesuai tujuan pembangunan desa.
Slamet Riyadi
28 Juli 2025 20:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...