Aktivitasku di Hari Libur; Berkebun Sawit Untuk Menopang Ekonomi Keluarga
Meta Deskripsi: Narasi jurnalistik mengenai aktivitas Kepala Desa Dabulon, Anuar Sadat, yang memanfaatkan hari Minggu dengan berkebun sawit di lahan seluas 1 hektare miliknya. Dari kebun tersebut ia mampu menghasilkan 3 ton TBS setiap bulannya, menambah pendapatan keluarga hingga Rp 7,5 juta, belum termasuk biaya upah panen , sekaligus memberi teladan kemandirian ekonomi bagi masyarakat.
Di tengah kesibukannya sebagai pemimpin pemerintahan Desa Dabulon, Anuar Sadat tetap menyisihkan waktu untuk urusan keluarga dan tanah kelahirannya. Hari Minggu, yang bagi sebagian orang menjadi momen beristirahat penuh, justru ia manfaatkan untuk turun langsung ke kebun sawit miliknya. Lahan pribadi seluas satu hektare itu telah ia kelola bertahun-tahun, menjadi sumber tambahan ekonomi keluarga yang sederhana namun berarti.
Dari kebun tersebut, setiap bulannya Anuar mampu memanen rata-rata 3 ton Tandan Buah Segar (TBS. Panen dilakukan tiga kali dalam sebulan, ) dengan interval waktu panen selama 20 hari sekali dapat menghasilkan 1 ton buah Sawit, kemudian hasilnya dijual ke tengkulak dengan harga sekitar dua ribu lima ratus rupiah per kilogramnya. Dari situ, keluarga Anuar memperoleh tambahan penghasilan sekitar tujuh juta lima ratus ribu rupiah per bulan, belum termasuk biaya upah panen. Angka yang cukup untuk menopang kebutuhan sehari-hari dan menambah kestabilan finansial keluarganya.
“Alhamdulillah, hasil kebun ini bisa membantu ekonomi keluarga. Walaupun tidak besar, setidaknya bisa menjadi tambahan yang bermanfaat,” ungkapnya dengan senyum sederhana saat dikomfirmasi oleh Kontributor Sriwidadi melalui via WhatsApp di sela-sela kesibukannya.
Namun, berkebun sawit bukan tanpa biaya. Setiap tiga bulan sekali, ia harus merogoh kocek sekitar satu juta rupiah untuk keperluan pupuk dan tebas rumput. Menurut Anuar, pengeluaran itu bukan sekadar beban, melainkan bentuk investasi. Ia percaya, dengan perawatan yang konsisten, sawit akan terus menghasilkan secara stabil dan memberi manfaat jangka panjang.
“Kalau kita rawat baik-baik, hasilnya juga akan mengikuti. Biaya pupuk dan tebas rumput itu wajar, yang penting jangan dibiarkan terbengkalai,” ujarnya sambil meninjau barisan pohon sawit di lahannya.
Yang menarik, aktivitas berkebun di hari libur ini bukan sekadar urusan menambah pendapatan. Bagi Anuar, itu juga bagian dari keseimbangan peran antara dirinya sebagai kepala desa dan sebagai kepala keluarga. Ia ingin memberi teladan kepada masyarakat bahwa seorang pemimpin tidak hanya duduk di belakang meja, tetapi juga merasakan langsung bagaimana masyarakat bekerja keras mengelola tanah dan sumber penghasilan mereka.
“Bagi saya, ini juga jadi pembelajaran. Dengan ikut berkebun, saya bisa lebih memahami bagaimana perjuangan warga sehari-hari. Sehingga saat membuat kebijakan, saya tidak hanya melihat dari sisi pemerintahan, tapi juga dari sisi warga,” tuturnya.
Kisah hari Minggu Anuar Sadat di kebun sawit memberikan pesan edukatif yang mendalam. Ia menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi keluarga tetap penting meskipun seseorang memegang jabatan publik. Ia juga menegaskan bahwa waktu luang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, sekaligus menjaga keterhubungan dengan akar kehidupan masyarakat desa yang masih bertumpu pada pertanian dan perkebunan.
Dari balik keringatnya di kebun sawit, tampak keteladanan seorang pemimpin desa yang tidak hanya membangun warganya lewat program pemerintah, tetapi juga lewat contoh nyata kerja keras dan kemandirian. Di balik jabatannya sebagai Kepala Desa Dabulon, Anuar tetaplah seorang petani sawit yang rendah hati, menjadikan hari Minggunya sebagai ruang untuk menyatu dengan alam, tanah, keluarga, dan semangat kehidupan desa.
Slamet Riyadi
28 Juli 2025 20:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...